Cinta Untuk Lily

Cinta Untuk Lily
BAB 26. Hati Yang Terluka


__ADS_3

Lily terkejut saat melihat gambar tanda merah di leher seorang perempuan yang mirip denganya. Bedanya punya Lily lebih banyak.


Lily membaca dengan teliti artikel yang menampilkan gambar perempuan itu. Lily membolakan matanya, saat tahu kalau warna merah di leher dan dada atas yang sekarang di klaim Edward karena gigitan serangga ternyata gigitan manusia.


Lily tidak percaya. Kalau Edward membohonginya tentang warna merah tersebut. "Apa yang harus lakukan sekarang?" Bagaimana cara menghilangkanya?" Lily mondar mandir di depan tempat tidur.


Lily teringat yang dilakukan Edward semalam. "Ternyata ciuman semalam bersama Tuan Edward menjadi merah seperti ini. Mengerikan sekali. Tapi kenapa orang-orang berpasangan suka berciuman kalau meninggalkan bekas tidak enak dilihat seperti ini. Leherku jadi totol-totol seperti ini. Hhaahhh terpaksa harus pakai syal dan baju yang menutupi leher. Untung musim dingin jadi orang-orang tidak akan ada yang tahu karena tertutup" gumam Lily.


Saat Edward keluar kamar, Lily juga keluar kamar. Mereka berpapasan saat akan keluar apartemen. Edward melihat Lily dengan pakaian yang sangat tebal. Leher juga di tutupi syal tebal sehingga, tanda merah di tidak akan terlihat.


"Kamu naik apa Lily" tanya Edward. Lily jadi kikuk dengan Edward setelah kejadian semalam. "Saya naik bus Tuan" Jawab Lily. " Kamu berangkat bareng saya saja. Nanti saya antar sebelum masuk kantor" ucap Edward.


"Tidak usah Tuan. Saya tidak mau merepotkan Tuan Edward" ucap Lily. "Ayo berangkat Lily. Nanti saya telambat ke kantor" Edward menarik tangan Lily.


Leon sudah menunggu bosnya di parkiran depan Gedung apartemen. "Pagi Lily. Kamu cantik sekali hari ini. Kamu mau kemana Lily?" tanya Leon saat melihat Lily dan Edward jalan berdua.


"Antarkan Lily ke kampus, baru kita pergi ke kantor" ucap Edward. Lily belum sempat menjawab sudah, dijawab Edward duluan.


"Baik Tuan. Ayo Lily masuk" Leon membuka pintu depan untuk Lily. Lily berjalan ke arah Leon, saat akan masuk mobil, Edward menghentikannya. "Lily kamu duduk dibelakang denganku" ucap Edward dengan tatapan tajam ke arah Leon.


"Tapi Tuan ..."


"LILY TURUTI PERINTAHKU. JANGAN MEMBANTAH!!" Edward bericara dengan nada tinggi. Leon mengangguk ke arah Lily. Lily lalu duduk di kursi belakang. Setelah Lily masuk mobil, Edward menyusul masuk ke dalam mobil.


Leon yang masih di luar mobil, mengurut dadanya. "Sabar, sabar. Posesif sekali" gumam Leon. Leon lalu masuk ke dalam mobil. Mereka bertiga menuju kampus Lily terlebih dahulu, baru pergi ke kantor.


Selama di perjalanan mereka bertiga tidak ada yang berbicara. Ketiganya sibuk dengan pikiran masing-masing. Edward juga masih males berbicara kepada Leon, karena masih marah kepada Leon.


Tiba-tiba Leon memecah keheningan, dan bertanya kepada Lily. "Lily, kamu sudah mulai kuliah?" tanya Leon. "Belum pak Leon. Saya hanya melihat tempat untuk tes seleksi akhir saja" jawab Lily.


"Semoga lulus Lily. Kamu harus rajin belajar, agar bisa meraih cita-citamu" ucap Leon bijak. "Iya Pak Leon. Saya akan rajin belajar" ucap Lily.

__ADS_1


Lily dan Leon tidak tahu kalau ada satu laki-laki yang sedari tadi menahan emosinya. Telinganya gerah mendengar percakapan mereka berdua. Tangannya sudah mengepal, ingin menghajar orang.


"Pak Leon, kenapa bibirnya di plaster?" Lily sedikit memajukan badannya ke depan. Melihat Lily memperhatikan Leon, rasa panas di dalam tubuh Edward telah mendidih.


Edward sangat benci kalau Lily memperdulikan laki-laki lain. Rasa dikhianati yang dulu pernah dialami Edward, membuatnya emosi. 'Apa semua perempuan itu sama saja. Tidak cukup dengan 1 laki-laki' batin Edward


"Sudah sampai Nona Lily" Leon mengalihkan pembicaraan, dia tidak mau kena amarah Tuan Mudanya karena cemburu. "Terima kasih Pak Leon" ucap Lily.


"Tuan Edward, Terima kasih. Saya turun dulu" Lily lalu turun dari mobil. Edward masih memandang suasana di luar kaca jendela mobilnya. Edward bahkan tidak mengubris ucapan Lily. Karena masih emosi.


"Tuan, kita langsung ke kantor?" tanya Leon. Sedangkan yang di tanya hanya diam, masih setia memandang pemandangan di luar jendela. Entah apa yang di pikirkan Edward. Dia sepertinya tidak mendengarkan ucapan orang-orang disekitarnya.


'Kenapa lagi dia. Kenapa dari tadi diam seribu bahasa' Leon membatin. Akhirnya Leon melajukan mobilnya ke arah kantor karena sang Tuan sedang mogok bicara.


Mereka berdua telah tiba di kantor. Edward segera membuka pintu, sebelum Leon membukakan pintu untuk dirinya. Leon garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal, karena kalah cepet membuka pintu dari Edward.


"Salah saya apa lagi? Apa Tuan Muda masih marah denganku. Apa dia kurang puas telah menghajarku" gumam Leon. Leon lalu mengekori Edward dengan berlari kecil karena langkah Edward cepat sekali.


"Ashley. Kamu kenapa disini? kamu tidak kerja?" Tanya Edward. Leon hanya diam disamping Edward.


"Aku sengaja kesini. Ingin memastikan sesuatu" ucap Ashley. "Ayo keruanganku" lengan Edward di gandeng Ashley. Leon yang ada di belakang Edward dan Ashley tersenyum kecut.


Mereka bertiga menuju lantai paling atas. Lantai yang dikhususkan untuk pimpinan perusahaan. Lantai dan ruangan mereka terpisah dengan karyawan yang lain.


"Apa yang ingin kamu katakan Ashley" Edward duduk di sofa dengan Ashley. Sedangkan Leon langsung masuk keruangan kerjanya. Dia harus menyiapkan dokumen-dokumen untuk pertemuan Peter dan Edward lusa.


"Apa benar Kylie kembali ke Humburg?" tanya Ashley. "Benar" Jawab Edward singkat. "Apa dia sudah menemuimu?" Ashley sangat penasaran. "Iya. Kemarin dia kesini" Jawab Edward.


"Ah ... perempuan ular itu memang sangat menyebalkan. Aku harap kamu tidak terjebak dengan rayuan mautnya lagi Edward" Ashley membuang nafas kasar.


"Aku sudah tidak tertarik lagi dengannya. Dulu memang aku masih ingin bersama dia. Tapi sekarang, Aku tidak ingin ada bayang-bayang dia lagi" Edward berdiri menuju kursi kebanggaannya.

__ADS_1


"Baguslah. Kalau kamu sudah menutup hatimu untuknya. Ashley tersenyum smirk. "Sebaiknya aku pergi saja. Sepertinya kamu banyak kerjaan, bye honey" Ashley mencium pipi Edward lalu pergi keluar ruangan.


"Perempuan aneh, kalau hanya menanyakan hal sepele seperti itu harusnya lewat telpon juga bisa. Kenapa harus datang kekantor. Oh ... iya ponselku kan rusak. Nanti siang aku akan membeli yang baru" Edward menepuk jidatnya.


Karena terlalu fokus kerja, Edward sampai lupa kalau sudah waktunya makan siang. "Tuan, sudah waktunya makan siang. Mau makan siang dimana?" tanya Leon.


"Antar aku beli ponsel dulu Leon. Baru kita cari tempat makan" Edward menutup laptopnya di atas meja. "Baik Tuan" ucap Leon.


Mereka berdua lalu pergi ke toko ponsel. Edward membeli ponsel keluaran terbaru yang paling canggih. Setelah itu mereka pergi mencari restoran untuk mengisi perut mereka. Kebetulan restoran yang dipilih tidak jauh dari kampus Lily.


Waktu Edward keluar dari mobil. Tiba-tiba lengan Edward di gandeng perempuan cantik bermanik hijau dan berambut panjang warna coklat.


"Hai sayang" Perempuan itu sangat bahagia saat mengandeng tangan Edward. Edward dan Leon membolakan matanya. "Kylie" Edward dan Leon bersamaan saat menyebut nama kylie.


"Kamu ngikutin kita?" tanya Leon. Edward melepas tangan Kylie dari lengannya. Bersamaan dengan itu Lily lewat depan restoran yang di kunjungi Edward dan Leon.


Lily harusnya tidak lewat depan restoran itu. Tapi karena dia harus ke Bank. Jadi dia harus lewat Restoran tersebut.


Melihat Edward digandeng perempuan lagi. membuat hati Lily sakit. Apalagi perempuan itu penampilannya 360 derajat berbeda dengan dirinya. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki semua yang di pakai bermerk. Harganya bisa mencapai ratusan juta.



Sedangkan Lily, pakaiannya sudah berubah warna semua. Mana mungkin dia bisa membuat Edward jatuh cinta kepadanya. Sudah pasti yang dipilih perempuan-perempuan cantik dengan pakaian mahal. Melihat pemandangan yang menyakiti hatinya. Lily urung ke Bank. Akhirnya Lily kembali ke halte bus untuk pulang ke apartemen.


Luka terdalam adalah ketika kamu tak mampu melihat dengan mata, dan kesedihan terpendam adalah ketika kamu tak mampu mengucapkan dengan kata-kata.


Terluka itulah yang dirasakan Lily saat ini. Dia sadar siapa dirinya dan siapa Edward. Padahal dia baru saja merasakan jatuh cinta tapi saat ini juga langsung di patahkan hatinya.



Padahal hujan belum sempat menyambangi bumi, namun rintiknya telah membasahi pipi, hingga menusuk dalam relung hati.

__ADS_1


To be continue ...


__ADS_2