Cinta Untuk Lily

Cinta Untuk Lily
BAB 87. Kabar Buruk


__ADS_3

Lily meneteskan air mata saat pusaka Edward masuk memenuhi kue apem Lily. Edwarda hanya diam. Dia mengerakkan pusakanya.


"Aku akan mencabutnya kalau kamu kesakitan sayang" ucap Edward.


"Tidak. Lanjutkan saja. Aku bisa menahan rasa sakitnya sayang" jawab Lily.


"Awalnya sakit dan perih tapi kalau kamu bisa menikmatinya. Akan berganti dengan nikmat sayang"


Lily mengangguk, sekarang diri Lily sepenuhnya di serahkan kepada Edward, Tunangannya.


Eeemmm ssshhhh


Melihat Lily sudah sedikit tenang dan menikmati permainan. Edward menambah tempo permainan.


Aahh aaahhh aahhhh


Eeemm aahh aahh


Edward ******* bibir Lily, untuk mengalihkan rasa sakit yang di rasakannya.


Eeuuggh aaaaaahhh saayaaaaaaangggg aahhh aahhhh.


Lily nggos-nggosan setelah mendapat ******* untuk pertama kalinya dari penyatuan dirinya dan Edward.


Edward merebahkan dirinya di samping Lily. Nafas Edward juga tidak beraturan.


"Terima kasih sayang" Edward mencium kening Lily.


Edward melihat darah merah di seprai. Edward tersenyum, akhirnya Lily menjadi miliknya seutuhnya.


Edward menggendong Lily ke dalam kamar mandi dan menyuruh Lily berendam air hangat di Bathtub, setidaknya air hangat akan mengurangi rasa perih dan sakit yang Lily rasakan.


Edward kembali ke dalam kamar. Dia mengganti seprai yang sudah ternoda dengan Seprai yang baru.


Edward ingin Tunangannya tidur dengan nyenyak malam ini setelah kebobolan. Setelah selesai ganti seprai, Edward kembali ke dalam kamar mandi. Dia mandi di bawah guyuran Shower.


Setelah selesai mandi, Edward mengambil handuk dan Bathrobe untuk Lily. Edward lalu mengendong Lily dan mendudukan di depan meja rias.


Edward membantu Lily mengeringkan rambut dengan hairdryer. Lily hanya duduk manis. Setelah selesai. Edward mengambil Lingeri untuk Lily dan dia hanya memakai boxer.


"Sayang kenapa pakai ini. Aku mau pakai kaos biasa" ucap Lily.


"Kamu harus membiasakan memakai ini mulai dari sekarang sayang" Edward memberikan lingeri kepada Lily.

__ADS_1


"Masih sakit sayang. Aku tidak mau melakukannya lagi malam ini" ucap Lily dengan wajah ketakutan.


"Aku tidak memintanya sayang. Aku hanya menyuruhmu memakai lingeri saja. Kita akan melakukannya lagi kalau kamu sudah tidak sakit lagi, oke" ucap Edward menenangkan Lily.


Mental Lily masih belum siap. Tapi dia penasaran dengan cerita teman-temannya jadi dia penasaran untuk mencoba. Apalagi di tambah dia membaca artikel pasangan bisa pergi mencari perempuan lain karena tidak puas dengan service pasangan.


Menambah Lily semakin takut, kalau Edward akan meninggalkan dirinya. Apalagi Kemarin Mereka bertemu dengan Kylie di Paris. Lily jadi semakin takut, kalau Edward akan memilih Kylie karena sudah dewasa dan berpengalaman.


"Sayang, kenapa melamun? heeemm" Edward jongkok di depan Lily.


"Apa kamu akan meninggalkanku kalau kamu bertemu dengan wanita yang lebih dewasa dariku?" tanya Lily.


"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu sayang. Aku tidak akan meninggalkanmu. Kamu adalah cahaya hidupku, semangat hidupku yang baru dan aku sangat mencintaimu. Apa ini karena kemarin kita bertemu dengan Kylie?" tanya Edward.


Lily menganggukan kepalanya. Edward lalu mengusap rambut Lily dan mengendongnya ke atas tempat tidur.


"Kamu tidak perlu khawatir sayang. Aku sudah tidak ada perasaan apapun dengan Kylie. Dia sudah mati dari hidupku sayang" Edward menyelipkan rambut Lily ke belakang telinga.


"Apa kamu tahu kalau Kylie ada di sini?" tanya Lily.


"Tidak tahu sama sekali sayang. Aku kesini karena keinginanmu. Kamu ingin ke Paris saat kamu ulang tahun" jawab Edward.


"Aku takut kalau nanti kamu meninggalkanku hiks hikss" Lily menangis.


Edward memeluk Lily yang berada di pangkuannya. Edward merebahkan Lily di tempat tidur, dia lalu memeluk Lily.


Sementara Edward dan Lily bahagia karena sudah saling mengikat satu sama lain dengan bertunan secara sederhana.


Di Humburg lebih tepatnya rumah Gabriel, kakek Edward. Sedang berduka karena Gabriel harus dilarikan ke rumah sakit. Serangan jantung mendadak karena mendengar Edward pergi dari Humburg.


Gabriel belum sadarkan diri. Sekarang Gabriel sedang dalam penanganan intensif. Leon berkali-kali menelpon nomer Edward dan nomer Lily tapi tidak tersambung.


Akhirnya Leon mengirim surel kepada Edward. Dia mengabarkan kalau Gabriel masuk rumah sakit karena terkena serangan jantung mendadak dan belum sadarkan diri.


Leon tidak tahu harus mencari Edward di Kota Paris bagian mana. Leon juga tidak mungkin meninggalkan Gabriel dan mencari Edward.


Leon baru teringat kalau Arthur tinggal di Paris. Leon akhirnya menelpon Arthur. Walaupun di sana tengah malam tapi Leon harus mencobanya.


Telpon pertama tidak di angkat. Leon mencoba Menelpon lagi. Tenyata diangkat.


[Hallo Tuan Arthur. Ini saya Leon. Maafkan saya Tuan menganggu istirahat Anda]


[Oh Tuan Leon. Ada apa Tuan Leon?]

__ADS_1


[Tuan saya mau minta tolong. Kalau Tuan Edward menemui Anda. Tolong sampaikan kepada Tuan Edward. Kalau Tuan Gabriel masuk rumah sakit dan belum sadarkan diri sampai sekarang]


[Apa! Kamu tidak bercanda Tuan Leon?]


[Tidak Tuan Arthur. Saya sekarang berada di rumah sakit. Saya tidak bisa menghubungi Tuan Edward maupun Lily. Saya juga sudah mengirim surel kepada Tuan Edward tapi belum di balas]


[Aku akan beritahu Edward. Supaya dia bisa pulang sekarang]


[Terima kasih Tuan Arthur]


[Sama-sama Tuan Leon]


Setelah menutup Telpon Arthur langsung berganti pakaian. Arthur menuju Mansion yang di tinggali Edwarda dan Lily.


Sekitar 15 menit dari kediamannya. Arthur langsung masuk kedalam rumah karena dia memegang kunci serep mansion tersebut.


Tidak ada pelayan di masion Edward. Mereka semua pulang kerumah Arthur. Karena Lily tidak ingin ada orang lain di mansion tersebut.


"Edward, Lily bangun" Arthur mengedor kamar Edward seperti orang kesetanan.


Edward dan Lily sampai kaget. Mereka terbangun dan Edward mengambil kaos untuk dia pakai.


"Kamu jangan turun sayang. Tutupi tubuhmu dengan selimut"Perintah Edward.


Mana mungkin Edward membiarkan Arthur melihat Tunangannya memakai lingeri sexy.


Edward membuka pintu dan melihat Arthur seperti orang habis marathon. Nafasnya nggos-nggosan dan berkerigat padahal malam hari.


"Ada apa Arthur? Kenapa kamu panik sekali?" tanya Edward.


"Ka-mu harus pu-lang sekarang Edward" Arthur bicara dengan nafas tidak beraturan.


"Ada apa? bicara yang jelas Arthur" ucap Edward.


Setelah Arthur mengatur nafas dengan benar. Dia membuang nafas dengan pelan.


"Grandpa masuk rumah sakit dan belum sadarkan diri sampai sekarang. Leon menghubungimu tapi tidak tersambung. Dia juga mengirimimu surel tapi belum kamu balas" jawab Arthur sedikit lancar bicaranya.


"Grandpa" Gumam Edward.


Sekitar 1 menit Edward baru merespon setelah terkejut mendengar Gabriel tidak sadarkan diri.


"GRANDPAAAAAAA!!! INI TIDAK MUNGKIN ARTHUR. INI TIDAK MUNGKIN. GRANDPA TIDAK BOLEH MENINGGALKANKU" Edward berteriak.

__ADS_1


Mendengar Edward berteriak. Lily lalu mengambil baju tidur panjang dan keluar kamar.


To be continue .....


__ADS_2