Cinta Untuk Lily

Cinta Untuk Lily
BAB 107. Lily ke Kantor


__ADS_3

Edward Lega akhirnya masalah Peter sudah selesai. Lily tidak perlu berurusan dengan mereka lagi. Sekarang Lily sudah bisa tenang. Tanpa ada gangguan dari Peter dan Keluarganya.


"Terima kasih Paman. Sudah membantuku" ucap Edward kepada Edgar.


"Tidak perlu berterima kasih Edward. Kamu adalah suami keponakanku. Jadi sudah seharusnya aku membantumu. Apa lagi ini menyangkut Lily. Aku tidak akan pernah tinggal diam kalau ada yang mengusiknya" ucap Edgar.


"Aku juga tidak akan membiarkan mereka menganggu Lily lagi Paman. Sudah cukup mereka menyakiti dan mengambil milik Lily" ucap Edward.


"Kalau mereka masih mengusik kalian. Kamu telpon saja aku Edward. Aku akan mengatasi mereka. Lily jangan sampai tahu hal ini. Biarkan saja dia bahagia dengan hidupnya yang sekarang bersamamu" Edgar menepuk bahu Edward.


"Iya Paman. Saya mengerti" jawab Edward.


"Kalau begitu aku permisi dulu. Aku akan bertemu Arthur di kantor" ucap Edgar.


"Iya Paman aku antar sampai depan" ucap Edward.


Edward menelpon Edgar saat berada di dalam mobil. Dia memberitahu kalau Peter datang ke kantornya hari ini. Sebelumnya Edgar sudah di telpon Arthur saat Edward bulan madu soal Peter datang ke rumah Edward. Besoknya Edgar langsung tebang ke Hamburg, karena khawatir Peter bikin ulah kepada kepada Lily.


Setelah Edward mengantar Edgar. Edward kembali ke ruang kerjanya. Dia sebenarnya masih capek, akhirnya Edward tidur di kamar pribadi yang ada di ruangannya.


Lily menunggu telpon dari Edward sampai siang. Tapi tidak ada telpon maupun pesan singkat dari Edward. Akhirnya Lily pergi kantor Edward membawa makan siang.


"Apa ada meeting penting, sampai Edward tidak mengangkat telponku" ucap Lily.


Setelah sampai di kantor Lily bertemu dengan Leon di tempat parkir. Lily baru selesai membantu Arthur di perusahaan Lily.


"Pak Leon!" Sapa Lily.


"Lily kamu di sini?" Tanya Leon.


"Iya. Aku mengantar makan siang untuk Edward. Apa Edward tidak bersama kamu?" Tanya Lily.


"Tidak. Aku baru saja datang dari perusahaanmu membantu Arthur. Apa kamu sudah menelpon Tuan?" Tanya Leon.


"Tidak dijawab. Apa dia ada urusan di luar?" Tanya Lily.


"Tidak. Setahuku Tuan ada di kantor waktu aku pergi ke kantormu" Jawab Leon.


"Aku mau masuk saja. Siapa tahu Edward masih bekerja" ucap Lily.


Lily dan Leon masuk ke dalam kantor. Lily masuk ke dalam ruangan Edward bersama Leon. Tapi ruangannya kosong. Lily meletakan makanannya di atas meja.


"Kosong. Kemana Edward pergi?" gumam Lily.


"Kemana Tuan. Coba kamu telpon Lily" saran Leon.

__ADS_1


Lily mengambil ponselnya di tas. Dia menekan nama Edward di ponselnya. Lily dan Leon mendengar ponsel berbunyi. Mereka mencari sumber suara. Leon mengambilnya dari laci.


"Ponselnya di sini" Leon menunjukkan ponsel Leon yang dia ambil dari laci.


"Pantas saja tidak di angkat" ucap Lily.


Leon meletakkan kembali ponsel Edward di laci.


"Aku akan mencarinya di kamar Leon" ucap Lily. Lily membuka pintu kamar pribadi Edward. Lily tersenyum melihat suaminya tidur pulas.


"Edward tidur Pak Leon" ucap Lily.


"Kalau begitu, aku akan kembali ke ruanganku" ucap Leon.


"Apa Pak Leon sudah makan?" Tanya Lily.


"Sudah Lily. Aku sudah makan bersama Arthur tadi setelah meeting" jawab Leon.


Leon keluar ruangan Edward. Lily mengunci ruangan Edward setelah Leon kembali keruangannya.


Lily masuk ke dalam kamar pribadi Edward. Lily merebahkan tubuhnya di samping Edward, lalu memeluknya dari samping.


"Kamu pasti kecapekan sayang. Baru datang langsung ke kantor" Lily mengelus lengan Edward.


Lama kelamaan Lily ikut tidur disamping Edward masih dalam keadaan memeluk tubuh Edward. Edward terbangun terkejut ada yang memeluk tubuhnya. Tangan Lily sampai di lepas dengan kasar.


"Ada apa sayang?" Tanya Lily.


"Lily. Maafkan aku sayang. Aku pikir bukan kamu" Edward memeluk Lily sambil duduk di atas tempat tidur.


"Siapa kalau bukan aku?" Tanya Lily.


"Bukan siapa-siapa sayang. Kapan kamu ke sini?" Tanya Edward merapikan rambut Lily.


"Tadi waktu makan siang. Aku menelponmu berkali-kali tapi kamu tidak mengangkatnya. Kamu juga tidak mengabariku, aku khawatir. Makanya aku ke sini sayang" Lily memeluk pinggang Edward.


"Maafkan Aku sayang. Aku capek sekali.Setelah urusan selesai. Aku langsung tidur" Edward mengecup dahi Lily.


"Kamu tidur tidak mengunci pintu kamar. Kalau ada yang masuk bagaimana? Heemm" Lily memonyongkan bibirnya.


"Tidak ada yang berani masuk sayang. Kecuali kamu dan Leon" jawab Edward.


"Siapa tahu ada perempuan penggoda yang menyukaimu. Terus dia nekad masuk ke dalam kamar kamu" ucap Lily manyun.


"Baiklah lain kali akan aku kunci pintunya. Biar tidak ada yang masuk. Sudah jangan manyun seperti itu nanti aku khilaf" Edward tersenyum kepada Lily.

__ADS_1


"Ih dasar mesum" Lily memukul dada Edward.


"Hahahaaa" Edward tertawa.


"Ayo makan. Kamu belum makan sayang. Ini sudah hampir jam 3. Tidurmu lama sekali sayang" Lily beranjak dari tempat tidur.


Edward mengikuti Lily berdiri dari tempat tidur. Mereka berdua keluar dari kamar pribadi Edward. Edward dan Lily duduk di sofa.


"Aku akan ambilkan makanan untukmu sayang" Lily mengambil makanan di meja.


"Kamu bawa makan siang apa sayang?" Tanya Edward.


"Nasi keju Tuna dan sandwich mentimun. Aku bawakan juga jus apel" jawab Lily.


"Kamu memang istri terbaik sayang" Edward mencium pipi Lily.


"Sudah diamlah dulu sayang. Nanti makanannya tumpah" Lily mengomel kepada Edward.


"Baiklah istriku yang paling cantik" Edward tersenyum memandang wajah Lily.


"Jangan memandangku seperti itu sayang. Aku malu" Lily menahan senyumnya.


"Kenapa malu. Aku kan suamimu sayang dan kamu istriku. Tidak usah malu, kita ini satu sayang" Edward menyenderkan punggungnya di sofa.


"Ini makan dulu sayang. Kamu sudah telat makan" Lily menyerahkan tempat makan ke tangan Edward.


Lily mengambilkan air minum Edward di pantry. Saat keluar Lily berpapasan dengan Kimberly.


"Hai Lily" Sapa Kimberly


"Hallo Kimberly. Bagaimana kabarmu?" Tanya Lily.


"Aku baik. Selamat ya atas pernikahan kamu dengan Tuan Edward" Ucap Kimberly tulus.


"Terima kasih Kimberly" ucap Lily.


"Maafkan aku ya Lily. Soal sikapku yang tidak baik kepadamu dulu" Kimberly mengulurkan tangannya.


"Tidak masalah Kimberly. Aku juga minta maaf kalau aku punya salah denganmu" Lily menyambut uluran tangan Lily.


"Mau aku buatkan kopi?" Tanya Kimberly.


"Boleh" jawab Lily.


Kimberly membuat 2 kopi untuk dirinya dan Lily. Kimberly sudah berubah. Dia tidak lagi membenci Lily, karena bukan Leon yang di cintai Lily.

__ADS_1


Meskipun begitu. Kimberly sudah move on dari Leon dan sekarang dia sudah memiliki kekasih yang sangat mencintai dirinya dan memperlakukan dia dengan sangat baik.


To be continue ....


__ADS_2