Cinta Untuk Lily

Cinta Untuk Lily
BAB 47. Perkara Celana Dalam


__ADS_3

Ternyata kerjaan kantor selesai lebih cepat. Edward pulang lebih cepat dari biasanya. Dia sudah berjanji dengan Lily, malam ini akan membelikan tas dan parfum untuk Lily.


Lily yang seharian tidur dan baru bangun pukul 2 siang. Merasa badannya segar dan bugar. 2 minggu lagi, kalau Lily lolos seleksi. Dia akan kuliah.


"Lily ... Lily ... dimana kamu?" Edward mencari Lily.


Edward mencari di kamar Lily. Dia juga tidak menemukan Lily. "Kemana Lily pergi" gumam Edward.


Edward akhirnya masuk kedalam kamarnya. Dia ingin segera mandi. Karena setelah makan malam, Edward akan mengajak Lily keluar.


Edward mendengar sayup-sayup perempuan nyanyi dari arah walking closet. Edward lalu mencaritahu suara siapa itu.


Dia melihat perempuan dengan warna hijau dan Rambut messy bun, bersenandung sambil merapikan kemeja-kemeja miliknya.


Edward tersenyum. Baru kali ini, Edward melihat Lily bernyanyi, suaranya juga indah. Edward melipat tangannya di depan dada dan menyandarkan kepala ke pintu sambil memandang gadis yang diklaim menjadi miliknya.


Edward menghampiri Lily lalu memeluknya dari belakang. Lily kaget saat ada tangan yang melingkar di perutnya.


"Tuan! senang sekali mengagetkanku" ucap Lily.


"Suaramu bagus. Aku baru tahu kalau suaramu merdu saat menyanyi" puji Edward.


"Benarkah? aku dulu ikut ekstra nyanyi sewaktu sekolah" ucap Lily.


"Apakah kamu juga ikut lomba menyanyi"? tanya Edward.


"Tidak. Aku tidak diperbolehkan pulang terlambat atau keluar setelah pulang sekolah" Lily tertunduk lesu.


Edward yang menyadari nada bicara Lily berubah sedih, Lalu membalikkan badan Lily dan memeluknya.


"Kamu tidak usah sedih lagi. Mulai sekarang kamu mau apapun bilang sama aku. Aku akan memberikan untukmu. Kamu mengerti Lily?"


"Iya Tuan" Lily mendongakkan kepalanya ke atas melihat wajah Edward.


"Kelinci manis" Edward mengecup bibir Lily.


Lily tersenyum kepada Edward. Dia merasa bahagia karena mendapat kasih sayang dan kenyamanan semenjak bertemu dengan Edward.


"Kamu sudah mandi?" tanya Edward.


"Sudah. Setelah mandi saya kesini. Biasa Tuan pulang jam 6, ini baru pukul 4 sore sudah pulang. Apa pekerjaan kantor sudah selesai?" tanya Lily.

__ADS_1


"Hu'um. Tuhan tahu kalau aku akan mengajakmu belanja makanya dikasih pulang cepat" Edward tertawa ngakak.


"Mungkin. Tuan saya mau masak dulu" ucap Lily.


"Kamu tidak mau makan diluar?" tanya Edward.


"Tidak. Makanan diluar mahal-mahal" jawab Lily.


"Aku tidak menyuruhmu membayar Lily" ucap Edward.


"Iya sih. Tuan sudah terlalu baik selama ini kepada saya. Saya belum bisa membalas apapun kepada Tuan" ucap Lily.


Edward mencium kening, mata, pipi serta mengesek-ngesekkan hidungnya ke hidung Lily dan yang terakhir dia ******* bibir Lily. Lily membalas ciuman Edward dengan perasaan senang.


"Cukup kamu selalu disisiku dan jangan pernah pergi tinggalkan aku, itu sudah cukup Lily. Karena aku benci pengkhianat" ucap Edward.


"Tuan Tidak perlu khawatir. Aku akan selalu bersama Tuan. Aku sudah menyerahkan diriku kepada Tuan Edward, jadi Tuan tidak perlu merasa takut kalau aku akan meninggalkan Tuan. Aku siap melayani Tuan" ucap Lily tegas.


"Kalau begitu, kamu harus menurut dan jangan membantah perintahku. Kamu mengerti Lily?" tanya Edward.


"Iya Tuan. Tapi nanti kalau Tuan menikah bagaimana?" tanya Lily.


"Nanti kalau aku menikah. Kamu aku ajak tinggal bersama. Kita akan tinggal 1 rumah seperti sekarang" ucap Edward.


"Tentu saja. Bahkan kalau kita 1 ranjang dia pasti sangat bahagia" Edward menahan senyum.


Edward ingin aktingnya meyakinkan. Biar Lily tidak curiga, kalau dia ngerjain Lily.


"Mengapa bisa begitu? Nanti kalau aku nikah. Aku hanya ingin bersama suamiku" ucap Lily.


"Memang kamu mau menikah dengan siapa?" tanya Edward.


"Sudah Tuan. Katanya Tuan mau mandi. Saya juga mau masak" Lily mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah. Aku anggap jawaban dari pertanyaanku adalah hutang. Jadi kamu harus membayar hutangmu" ucap Edward.


Lily memasang wajah datar. Dia senyum terpaksa. Edward melepas pelukanya dan pergi ke kamar mandi. Lily langsung berlari keluar, dia takut kalau salah jawab.


Setelah selesai mandi. Edward makan malam bersama Lily di meja makan.


"Lily kenapa kamu belum ganti pakaian. Apa kamu mau pakai pakaian seperti itu ke Mall?" tanya Edward.

__ADS_1


"Nanti Tuan. Setelah selesai makan" Jawab Lily.


"Kalau begitu, nanti aku yang akan pilihkan baju untukmu" ucap Edward.


"Heemm" Jawab Lily singkat.


"Kenapa jawabannya seperti itu" tanya Edward.


"Apa nanti kalau saya akan memakai ****** *****, Tuan juga yang akan memilihkannya" Jawab Lily.


Uhuukkk ... Edward tersedak. Karena ucapan Lily membuatnya geli. Edward meminum air putih di samping tangan kanannya.


"Ya. Kalau kamu mau. Aku akan memilihkannya untukmu" Edward meletakkan gelas di atas meja.


"Tuan, ****** ***** yang Tuan pilihkan untuk saya, semuanya tidak bisa dipakai. Modelnya aneh. Cuma tali dibagian belakang depannya cuma kain segitiga. Apa yang ditutupi Tuan" Lily kesal karena dia tidak bisa memakai ****** ***** yang dipilihkan Edward.


"Ya sudah nanti sekalian beli lagi. Mau beli apa lagi?" tanya Edward.


"Kalau saya beli lagi. ****** ***** yang Tuan beli tidak terpakai dong. Tuan buang-buang saja" Lily kesal.


"Katanya tidak mau di pakai. Disuruh beli lagi, malah dikatai buang-buang uang. Maunya bagaimana Lily?"


"Kenapa Tuan tidak bertanya dulu kemarin waktu mau beli ****** *****. Asal beli saja. Ujung-ujungnya tidak terpakai" Lily mencebik.


"Kenapa kamu sewot Lily? aku membeli ****** ***** pakai uangku, bukan uangmu. Harusnya aku yang marah karena kamu tidak mau memakainya dan membuang uangku" Edward meledek Lily.


"Tuan lupa atau bagaimana? belanjaan itu hasil hutang saya kepada Tuan. Kalau ****** ***** yang Tuan pilihkan untuk saya tidak dipakai dan saya membeli yang baru, hutang saya nambah lagi. Hutang saya bertambah banyak" Lily memasukkan sendok kosong kemulutnya.


"Kalau begitu, Malam ini aku yang bayar. Anggap saja sebagai ganti ****** ***** yang kemarin, bagaimana?" Edward menawarkan kesepakatan.


"Orang kaya selalu menghambur-hamburkan uang, untuk membeli sesuatu yang tidak perlu" Lily berdiri membersihkan meja makan.


"Kenapa kamu mesti marah perkara ****** ***** Lily" Edward menepuk jidatnya.


"Bukan karena ****** ***** Tuan tapi karena uangnya. Harusnya uangnya bisa dibuat yang lebih berguna" Lily membawa piring kotor ke wastafel.


"Cepat selesaikan mencuci piringmu Lily. Aku akan pilihkan baju untukmu" Edward masuk ke kamar Lily.


Lily ngomel-ngomel sendiri sambil mencuci piring. Setelah selesai Lily masuk kamar. Edward sibuk memilih baju untuk dipakai Lily. Dia padu-padankan setelan celana jeans atau memakai dress saja.


Lily geleng-geleng kepala. Biasanya, Lily kalau pergi tinggal pergi saja tidak perlu ribet seperti yang dilakukan Edward.

__ADS_1


"Ini saja Lily"


To be continue ....


__ADS_2