Cinta Untuk Lily

Cinta Untuk Lily
BAB 50. Posesif


__ADS_3

"Tuan tunggu. Sebenarnya ada apa? kita ada meeting dengan siapa Tuan?" Leon bingung. Leon berpikir kalau dia melewatkan jadwal meeting hari ini.


"Diamlah Leon. Nanti aku jelaskan di ruanganku" jawab Edward.


Leon mangguk-mangguk seperti anak ayam. Leon hanya diam sampai ruang kerja Edward. Edward menjelaskan semuanya kepada Leon alasan dia melakukan itu semua.


Sekarang Leon mengerti kenapa Bosnya jadi aneh pagi ini. " Dasar laki-laki bucin" gumam Leon.


Leon kembali keruangannya dan Edward kembali berkerja seperti biasa. Dia ingin sekali menelpon Lily. Padahal baru sebentar dia pisah dengan Lily.


"Aku jadi was-was melepas Lily dikampus" gumam Edward.


Edward memutuskan keluar ruang kerja. Edward akan masuk ke kampus Lily. Sebelumnya dia akan memastikan jam berapa nanti akan meeting. Dia masuk ke ruangan Leon.


"Leon, aku mau keluar. Nanti kamu kabari aku kalau ada meeting" ucap Edward.


"Tuan mau kemana?" tanya Leon.


"Aku akan kekampus Lily" jawab Edward.


"Tuan mau ngapain kesana?" tanya Leon.


"Aku tidak tenang kalau Lily dikampus Leon" jawab Edward.


"Tuan. Lily dikampus belajar bukan untuk main-main" ucap Leon.


"Lily sudah berkenalan dengan laki-laki di kampusnya Leon. Aku tidak mau dia didekati mahasiswa laki-laki" ucap Edward.


"Apa salahnya Lily punya teman laki-laki Tuan. Lily juga butuh teman. Bagaimana dia bergaul kalaunTuan selalu melarangnya" Leon menjelaskan kepada Edward.


"Pokoknya Lily tidak boleh punya teman laki-laki titik" Edward masih ngeyel.


"Kenapa Tuan posesif sekali. Kalau begitu kenapa Tuan tidak menyuruh Lily kuliah online saja. Bukankah itu akan lebih aman Tuan" Leon menyindir Edward.


"Leon hubungi rektor Universitas Humburg. Aku akan mengajar disana sebagai dosen praktisi selama Lily kuliah disana" perintah Edward.


"Apa!! Apa Tuan sudah gila. Bagaimana kalau Grandpa tahu Tuan. Terus yang mengurus perusahaan siapa?" Leon benar-benar frustasi dengan kelakuan Edward.


Edward sudah dibuat gila oleh cinta Lily. Leon belum pernah melihat Tuan mudanya se gila dan se nekad seperti sekarang.


"Jangan kasih tahu ke grandpa. Nanti aku disuruh kembali ke rumah utama dan tidak bisa pergi kemana-mana" ucap Edward.


"Kamu hubungi rektor UH sekarang. Aku akan tunggu kabar baik darimu Leon. Aku akan kekampus Lily dulu. Byeee Leon" Edward meninggalkan Leon yang sedang pusing dengan kelakuannya sekarang.

__ADS_1


"Apa Tuan Edward sebucin itu sama Lily, sampai dia mau menjadi dosen disana" gumam Leon.


Leon lalu menghubungi rektor UH seperti yang diperintahkan oleh Edward. Leon lupa kalau Rektor UH adalah teman baik kakek Edward.


Sedangkan Edward menyetir mobil menuju kampus Lily. Edward sebegitu cintanya dengan Lily, sampai dia nekad ingin menjadi dosen di kampus Lily.


Edward sampai diparkiran kampus Lily. Dia tidak turun. Edward hanya ingin melihat Liy saja dari dalam mobil.


"Ada apa denganku. Apa aku sudah jantuh cinta kepada Lily sedalam itu. Kenapa aku jadi murahan sekali didepan Lily. Aku tidak punya harga diri kalau dengan Lily" gumam Edward.


baru saja Edward berbicara sendiri dia melihat Lily bersama 3 mahasiswa perempuan dan 2 mahasiswa laki-laki di duduk ditaman kampus.


Mereka saling bercanda dan tertawa. Sepertinya mereka sedang bercerita sangat seru. Edward yang ada didalam mobil sangat serius mengamati mereka berenam.


"Apa yang mereka bicarakan sampai mereka tertawa bahagia seperti itu. Lily memang manis sekali kalau sedang tertawa" gumam Edward.


Edward melihat Lily ditarik salah satu teman laki-laki. Laki-laki itu berlutut di depan Lily seperti seseorang yang melamar kekasihnya depan teman-temannya.


Lily tersenyum bahagia. Seperti perempuan yang sedang dilamar sang kekasih. Melihat itu Edward mengepalkan tangan, penuh Emosi.


Edward keluar mobil dan menghampiri Lily. Wajahnya penuh emosi dan ingin meninju orang.


"Lilyy" Teriak Edward. Semua teman-teman Lily menenggok ke arah suara yang memanggil nama Lily. Wajah Lily pucat pasi, dia tahu Edward sedang marah.


Lily mendekati Edward. Lily memegang tangan Edward. Tapi dihempaskan oleh Edward. Lily sampai mundur beberapa langkah ke belakang.


Tapi Edward sudah melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan Area kampus. Cemburunya membuat otak Edward tidak bekerja dengan baik.


Edward melajukan mobilnya ke jalan raya dengan kecepatan tinggi. Aaaaaarrrrrggghhhh ... Edward berteriak. Dia malampiaskan amarahnya dengan berteriak di mobil.


"Harusnya aku tahu kalau semua ini akan terjadi. Lily masih muda dan cantik jadi pasti banyak yang suka. Kamu bodoh Edward" Edward memukul stir berkali-kali.


Edward kembali kekantor dengan wajah penuh emosi. Edward masuk ke dalam kamar pribadinya. Dia tidak mau di ganggu oleh siapapun.


Leon yang melihat bosnya seperti itu. Memilih untuk masuk ruangan daripada kena semprot Tuan Mudanya tersebut.


"Kalau sedang marah seperti itu, pasti karena Lily. Entah apa yang dilakukan Lily sampai Tuan semarah Itu" Leon geleng-geleng.


"Padahal aku mau memberi tahu kabar baik. Kalau Tuan bisa mengajar sebagai dosen praktisi mulai besok. Lebih baik aku tunda dulu, sampai Tuan mereda" gumam Leon.


Tok tok tookk


"Masuk" ucap Leon dari dalam ruangan.

__ADS_1


"Selamat siang Pak Leon. Ini ada berkas yang harus Tuan Edward tanda tangani" ucap Kimberly.


"Bawa sini Kim. Nanti aku berikan kepada Tuan Muda" ucap Leon.


"Kim aku minta tolong buatkan aku kopi" perintah Leon.


"Siap Pak Leon" Kimberly langsung keluar ruangan Leon.


Hatinya berbunga-bunga saat Leon menyuruhnya membuat kopi. Dia jadi punya alasan berlama-lama dengan Leon.


Setelah selesai membuat kopi. Kimberly masuk keruangan Leon. Leon menatap Kimberly dengan tajam.


"Kunci pintunya Kim" perintah Leon.


Kimberly menuruti perintah Leon. Dia sedikit cemas. Karena Leon tidak pernah seperti itu.


"Duduk Kim" perintah Leon.


Leon berdiri dan menghampiri Kimberly yang duduk di sofa. Sedangkan Kimberly takut, kalau dia akan kena tegur dari Leon karena pekerjaann.


"Katakan kepadaku Kim, kenapa kemarin kamu menyebut namaku dengan desahanmu di ruang kerjamu waktu jam pulang kantor?" tanya Leon.


Kimberly terbelalak saat Leon memergoki dirinya, saat bermain sambil membayangkan Leon.


"Jawab Kim. Apa kamu membayangkan diriku bermain denganmu?" tanya Leon kembali.


"Ma-maafkan sa-saayaa Pak"


Aahhh ssshhhhh suara desisan Kimberly keluar dari mulutnya.


"Apa seperti ini Kim, Heemm??" Leon mempraktekkan.


Aahhh eemmm aaaahhh Paak aaahhh ssssshhhhh


"Enak Kim?" Leon masih berlanjut.


I-iyaaa Paakkk aaahh aaahhh aahhhh eemmmm enak paak aaahhh aahhhh


"Apa kamu suka padaku Kim?" Tanya Leon.


"I-iyaa Pakk" aaahh eemm aaahhhh Pakk Leonn aahhh aaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhh Kimberly mengejang membuang mayones dari dalam.


Leon tersenyum smirk. Sisi liar Leon keluar. Dia tidak pernah percaya perempuan setelah ibunya sakit karena perselingkuhan ayahnya.

__ADS_1


Gara-gara perempuan itu. Dia harus dibuang oleh ayah kandungnya sendiri. Sedangkan Kimberly tidak tertarik dengan namanya pernikahan atau hubungan yang serius, setelah kedua orang tuanya bercerai dan menikah lagi dengan pasangan barunya masing-masing.


To be continue ....


__ADS_2