Cinta Untuk Lily

Cinta Untuk Lily
BAB 19. Hujan Romantis


__ADS_3

"Kenapa, kamu takut petir Lily?" Edward membenarkan selimut untuk menutupi tubuh Lily.


"Sa-saya hanya ka-kaget Tuan" Lily masih memeluk Edward. Lily sepertinya sudah mulai terbiasa dengan pelukan Edward. Bahkan sekarang Lily enggan melepas tangannya dipinggang Edward.


"Tuan, apa saya masih boleh kerja disini? Lily mendonggakkan kepalanya. Mata hijau Lily bertemu dengan mata biru Edward. Lily seperti terhipnotis oleh ketampanan laki-laki bermata biru tersebut.


"Eheemm" Edward berdehem membuyarkan lamunan Lily.


Lily lalu melepas tangannya dari pinggang Edward. "Maaf Tuan" Lily merasa malu karena menatap Edward terlalu lama.


"Saya akan pertimbangkan, kamu masih boleh kerja di apartemen saya atau tidak" Jawab Edward dengan senyum tersembunyi.


Mimik muka Lily berubah. Sekarang Lily hanya menunduk. Dia harus bersiap-siap untuk pindah dari apartemen mewah Edward.


"Tuan saya permisi mau ke kamar" Lily bangkit dari sofa menuju kamar.


"Kenapa? kepala kamu masih pusing?" Edward terlihat mengkhawatirkan keadaan Lily.


"Saya mau istirahat Tuan, saya takut mengganggu Tuan Edward" jawab Lily.


"Tidak ... tidak mengganggu sama sekali" ucap Edward.


"Sini temani saya nonton film. Saya bosen nonton sendiri" Edward menepuk-nepuk sofa di sebelahnya.


"Tapi Tu-"


Greepp


Aaaahhh ... bruuukkkk.


Edward menarik tangan Lily, dengan posisi berdiri. Lily yang belum siap jatuh di atas dada bidang Edward.


Mereka saling menatap tanpa berkedip. Edward tidak tahan dengan bibir ranum Lily. Jakun Edward naik turun, dia ingin sekali mencicipi bibir merah itu.


"Maaf Tuan" Lily bangkit dari atas dada Edward. Edward kembali duduk seperti semula. Mereka terlihat canggung.


Akhirnya Lily duduk di samping Edward. Edward menghadap kedepan. Baru kali ini dia merasa malu dengan gadis kecil bernama Lily.

__ADS_1


"Kamu mau nonton film apa Lily?"Edward bertanya kepada Lily. Sedangkan Lily mengipas-ngipas mukanya dengan tangan.


"Kamu kenapa Lily?" Edward memegang kepala Lily dengan kedua tanganya.


"Tidak apa-apa Tuan" jawab Lily. Muka Lily menjadi merah karena malu.


"Muka kamu merah Lily" Edward meletakkan punggung tanganya ke dahi Lily. Dia mengecek keadaan Lily panas atau tidak.


Lily menutup wajahnya dengan selimut. Edward yang melihat tingkah Lily, langsung menarik selimut yang menutupi wajah Lily.


"Kamu kenapa?"Edward binggung. Dia tidak tahu kalau Lily sekarang sedang malu melihat Edward. Laki-laki yang sudah membuat jantungnya selalu tidak aman kalau berdekatan dengan Edward.


"Kemarilah, lebih dekat dengan saya. Jangan berjauhan seperti ini. Mungkin saya bisa pertimbangkan lagi pekerjaan kamu" Edward menatap Lily.


Lily tiba-tiba jadi salah tingkah saat sang Tuan menatapnya dengan penuh kasih sayang. Lily tidak tahu harus berbuat apa. Lily hanya menunduk takut melihat Edward. Kalau Lily melihat Edward, maka jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Kenapa kamu menunduk Lily. Filmnya ada di depan bukan di bawah, Sayang" Edward mencoba menggoda Lily. Edward ingin tahu reaksi Lily saat dia memanggil panggilan sayang kepada Lily.


Edward tahu sekarang Lily sedang malu dan menghindari tatapan matanya. Sikap yang sangat lucu menurut Edward, sungguh sangat menggemaskan.


'Apa aku jatuh cinta dengan gadis muda ini?' batin Edward.


Edward menggantin posisi duduknya jadi menghadap ke samping Lily. Edward menarik tubuh Lily tepat di depannya. Tangan Kanan Edward berada di pinggang Lily. Tangan kiri merapikan rambut Lily ke belakang telingga.


Duukdukddukdukdukdukk


Jantung Lily semakin cepat saat wajah Edward semakin dekat dengan wajahnya. 'Kenapa Tuan Edward menatapku seperti ini, aku benar-benar malu sekarang. Apa yang harus aku lakukan sekarang' Lily berbicara dalam hati.


"Kenapa kamu gugup Lily? ada apa?" Edward semakin senang saat melihat ekspresi gugup Lily karena tatapannya.


"Lily jawab dengan jujur" perintah Edward masih dengan menatap wajah Lily dengan intens.


"A-apa Tu-an" Lily berbicara dengan terbata-bata karena gugup.


"Bagaimana kalau kamu kerja di rumah kakek saya? Nanti saya akan bicara dengan kakek, kalau kamu juga harus kuliah. Selain itu kamu bisa bertemu dengan Leon setiap hari" ucap Edward.


"Kenapa Tuan Edward bicara seperti itu, apa Tuan Edward benar-benar mengusir saya dari sini. Kalau Tuan memang sudah tidak ingin saya disini, saya akan pergi. Tuan Edward tidak perlu mencarikan pekerjaan untuk saya. Saya bisa mencari pekerjaan sendiri, permisi Tuan" Lily pergi ke dalam kamar dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Lily menggemasi semua baju-bajunya ke dalam tas sambil menangis. Lily juga sudah berganti pakaian memakai celana jeans dan kaos oblong. Baju Lily cuma sedikit jadi cepat saat memasukkan baju ke dalam tas.


Saat Lily akan keluar kamar, Edward masuk kedalam kamar Lily. Edward melihat Lily menangis dan membawa tas besar berisi pakaian dan barang-barang Lily.


"Kamu mau kemana Lily?" Edward bertanya dengan suara lembut.


"Bukankah Tuan Edward tidak mau kalau saya berada di sini, jadi saya akan pergi Tuan" Lily berbicara dengan terisak.


"Siapa yang bilang kalau saya tidak ingin kamu disini Lily?" Edward mendekati Lily yang masih menangis


"Tuan sendiri yang bilang, kalau tuan menyuruh saya untuk kerja di rumah kakek Tuan Edward. Itu berarti Tuan ingin saya pergi dari sini. Lily mengusap air matanya.


Edward mengambil tas yang dibawa Lily dan meletakkan di atas lantai. Sedangkan Edward memeluk Lily dalam dekapannya. Lily membalas pelukan Edward.


Lily menanggis dalam pelukan Edward. Edward lalu menggendong Lily ke ranjang, dan merebahkan Lily di atas ranjang. Edward menyelimuti Lily dan merapikan Rambut Lily yang menutupi wajahnya serta menghapus air mata Lily.


"Tidurlah, kamu masih harus banyak istirahat, Lily. Aku akan menemanimu tidur disini" Edward mencium pucuk Lily, lalu memeluk Lily biar cepat tidur.


"Kenapa masih menangis Lily" Edward mengusap-usap punggung Lily.


"Huuuhuuuu saya tidak mau pergi dari sini Tuan. Saya mau kerja dengan Tuan Edward. Tuan Edward sudah baik sama saya. Jangan usir saya Tuan, saya akan melakukan apa saja, asalkan saya masih bisa merawat Tuan Edward. Saya janji, saya akan menurut dengan Tuan Edward" Lily mendonggakan wajahnya.


"Ya sudah ... ya sudah, sekarang kamu istirahat dulu, nanti kita bahas setelah makan malam, heemm" Edward memeluk Lily.


"Saya menyuruh kamu tidur Lily, bukan untuk melihatin saya, mau aku cium heemmm" Edward memonyongkan bibirnya.


Lily menyembunyikan wajahnya di dada Edward. Edward tertawa melihat tingkah Lily, sekaligus senang saat Lily memeluk dirinya.


'Semoga suatu hari kamu bisa mencintaiku Lily' batin Edward.


Bahagia itu sederhana, sesederhana kamu bisa tersenyum saat bersama dengan orang yang kamu cinta.


To be continue ....


Selamat malam semua. Terima kasih sudah mampir di novel baruku.


Novel ini aku ikutkan lomba 'You Are A Writer Season 8' jadi kalian pasti sudah bisa membayangkan bagaimana alurnya.

__ADS_1


Jangan lupa berikan apresiasi pada author yah agar selalu semangat update novel ini. Jangan lupa like, komen, vote poin, koin dan vocher agar author terus update. Terima kasih.


Salam sayang, Deluna.


__ADS_2