
"Kenapa Lily" Edward pura-pura tidak tahu. " "Aaahh Tuan ja-ngan di Pe-rut aahh aahh" Lily merasa badannya panas.
"Maunya dimana Lily, heemm" Edward menyatukan darinya ke dahi Lily. Sedangkan Lily nafasnya nggos-nggosan. Lily menggigit bibir bawahnya.
"Jangan digigit sayang. Nanti terluka dan berdarah. Saya saja yang mengigitnya boleh?" Edward ingin sekali merasakan bibir merah di depannya itu.
Edward tidak rela kalau ada yang menikmati bibir Lily selain dirinya. Meskipun Edward sudah pernah merasakan sekali, saat Lily tidur. Rasanya akan jauh lebih berbeda kalau melakukannya saat sama-sama sadar.
"A-pa maksud Tuan. Kenapa Tuan Edward ingin mengigit bibir saya?" tanya Lily benar-benar polos.
Lily merasakan jantungnya akan meledak sekarang. Karena Edward sangat dekat dengan dirinya. Bahkan dahi mereka saling menempel. 'Tuhan, perasaan apa ini? kenapa aku sangat deg-degan sekali" batin Lily.
'Ingin sekali aku melu mat bibir yang ada di depanku ini. Aku sudah tidak tahan lagi' batin Edward.
Edward dan Lily sibuk berbicara dalam hati mereka masing-masing. Dua insan yang saling cinta tapi belum sadar dengan perasaan yang mereka miliki.
Edward lalu melepaskan diri dari Lily. Edward takut kalau di lanjutkan akan sangat berbahaya dan dia tidak akan bisa mengontrol dirinya sendiri.
"Lily sekarang aku lapar, aku mau makan" Edward berdiri dari ranjang. Lily yang masih shock dengan sejadian yang dialaminya bersama Edward, tidak mendengar ucapan Edward.
"Lily ... hallo Lily. Kamu baik-baik saja?" Edward menggerak-gerakkan tangannya di wajah Lily.
"Ah ... iya Tuan. Kenapa?" Tanya Lily gugup. Muncul ide dari Edward untuk mengerjai Lily. "Lily saya mau mandi sebelum makan. Tolong siapkan air di buthtub, untuk saya mandi" Edward membuka kemeja di depan Lily.
Lily yang melihat dada bidang Edward, langsung lari kekamar mandi. Dia malu melihat Edward telanjang dada, sedangkan Edward sengaja melakukannya untuk menggoda Lily.
"Sungguh menggemaskan sekali kamu Lily. Ingin sekali aku menerkammu tadi" Edward terkekeh sendiri saat membayangkan wajah Lily gugup saat dia menatapnya.
"Tuan airnya sudah siap. Apa ada yang bisa saya bantu lagi?" Lily menundukkan kepalanya, dia terlalu malu.
"Ok. Terima kasih Lily" Edward tersenyum melihat tingkah Lily malam ini. "Sama-sama Tuan, bisa saya keluar sekarang? Saya ingin menyiapkan makan malam untuk Tuan Edward" Lily bertanya kepada Edward.
"Iya kamu boleh keluar Lily" Edward berjalan ke dalam kamar mandi. Lily keluar dari kamar Edward. Setelah diluar kamar Lily menepuk-nepuk pipinya.
__ADS_1
"Ayo Lily jangan berpikiran yang tidak-tidak, Tuan Edward hanya menggodamu. Dia tidak mungkin menyukaimu" Lily berbicara sendiri menuju dapur.
Tiba-tiba Lily teringat nama yang menelpon Edward. "Siapa Kylie? Apa hubungannya dengan Tuan? Kenapa dia menelpon ..."
"Siapa yang menelpon? Dia siapa Lily" Edward berbicara dengan nada tidak suka. Edward sempat mendengar ucapan Lily yang terakhir, sehingga dia merasa curiga kepada Lily.
"Eh ... Tuan. I-itu Tu-an. Bukan siapa-siapa Tuan" Lily berbohong. "Jangan bohong Lily, kamu tidak pandai berbohong, jadi jangan mencoba berbohong denganku" Edward menangkup pipi Lily dengan kedua tangannya.
"Ta-di saya ti-tidak senggaja melihat ponsel Tuan Edward waktu Tu-Tuan tidur. Ponsel Tu-an berbunyi terus, jadi saya melihat si-siapa yang menelpon. Siapa tahu itu telpon penting dari pak Leon. Ternyata bukan pak Leon. Tapi saya tidak mengangkatnya Tu-Tuan. Saya hanya melihatnya saja. Ma-maafkan saya Tuan Edward" Lily memejamkan matanya. Takut kalau Edward marah.
"Terus siapa yang menelpon saya?" Tanya Edward. "Ky-Kylie Tuan" Jawab Lily. Edward lalu melepas tangannya dari pipi Lily. Ekspresinya berubah menjadi mendung.
"Ayo kita makan. Saya lapar" Edward mengalihkan pembicaraan. Edward lalu duduk sambil melihat menu makan malam yang disiapkan Lily.
"Heemm kelihatannya enak. Sudah lama saya tidak makan shabu-shabu. Apa kamu juga suka Shabu-shabu Lily?" Edward mengambil sayur mayur diletakan di mangkok yang sudah disiapkan oleh Lily.
"Iya Tuan. Sangat cocok musim hujan makan makanan yang berkuah, rasanya nikmat" Lily menambahi.
"Iya Tuan. Nanti kalau saya menemui kesulitan saya akan bertanya kepada Tuan" Lily menyudahi makannya.
Setelah selesai makan mereka kembali ke kamar masing-masing. Lily mandi dulu sebelum tidur. Sedangkan Edward saat akan merebahkan diri diatas Ranjang, ponselnya berdering.
Edward mengambil ponselnya. Banyak sekali ada panggilan tidak terjawab dan pesan masuk yang belum di baca Edward.
Edward membaca satu persatu pesan yang masuk dari nomer yang sama.
"Apa maksudnya dia mengirim semua ini. Aku bahkan sudah muak dengan dirinya, dasar perempuan tidak tahu diri" Edward membanting ponselnya ke lantai.
Edward yang tadinya akan istrirahat. Malah menjadi emosi saat mendapat pesan dari perempuan di masalalunya.
Edward lalu keluar kamar. Dia mencari minuman beralkohol, mungkin bisa sedikit membantu melupakan masalahnya saat ini. Kebetulan dia juga sudah lama tidak minum minuman beralkohol semenjak tangannya sakit.
__ADS_1
Edward mengambil botol minuman Billionaire Vodka. Minuman keras termahal di dunial 1 botol nya dibandrol US$3,7 Juta, sekitar 55 Milyar. Bagi Edward uang segitu tidak ada artinya.
Namanya saja sudah Billionaire Vodka, berarti minuman ini memang dikhususkan untuk para milyader kaya di luar sana.
Minuman ini dibuat dengan resep rahasia asal Rusia yang keaslian rasanya sudah teruji oleh banyak kritikus minuman dan makanan dunia!
Selain rasanya yang enak, tampilan Billionaire Vodka juga sangat mewah dan elegan.
Botolnya ditempeli 3,000 berlian Swarovski yang dirancang oleh Leon Verre, seorang desainer terkenal asal Roma.
Leon mematok harga sebesar Rp55 milyar untuk satu botol Billionaire Vodka.
Edward minum sendiri di ruang santai. Baru minum 3 gelas kepala Edward terasa berat dan pusing. Edward berjalan ke kamar Lily. Dia pikir itu kamarnya.
Saat membuka pintu kamar Lily baru selesai mandi dan hanya menggunakan handuk bukan bathrobe. Melihat Lily hanya memakai handuk sebatas paha, Edward menelan saliva berkali-kali.
Sedangkan Lily tidak tahu kalau Edward ada di dalam kamarnya. Posisi Lily membelakangi Edward, karena Lily sedang mengeringkan rambut menggunakan hairdryer.
Suara pengering rambut yang bising, membuat Lily tidak mendengar pintu kamarnya terbuka. "Aaaaaa..." Lily menjerit saat melihat Edward ada di dalam kamarnya. Sangking kencangnya teriakan Lily Edward sampai kaget.
Dengan setengah sadar Edward berjalan menghampiri Lily. "Kenapa kamu berteriak? dan kenapa kamu berada di kamar saya?" Edward berbicara dengan nada setengah mabuk.
"Tuan ... Tuan Edward mabuk?" Lily memegangi handuknya dengan erat. "Siapa yang mabuk. Heemm" Edward memegang pipi kepala Lily dengan kedua tangannya.
Lily gugup dia takut karena Edward sedang mabuk. Edward menempelkan dahinya ke dahi Lily. Ibu jari Edward mengelus-elus bibir Lily.
Lily merasakan panas saat bibirnya disentuh oleh Edward. Lily ingin merasakan lebih. Entah kenapa, Lily juga tidak tahu. Sentuhan Edward, kali ini membuat Lily terbuai.
Terjadilah ciuman panas antara Edward dan Lily. Edward banyak meninggalkan bekas merah di laher dan dada atas Lily.
__ADS_1
Lily sempat menolak tapi kenikmatan ciuman yang diberikan Edward tidak bisa dia tolak. Akhirnya mereka tidur saling berpelukan di ranjang Lily.
To be continue ....