Cinta Untuk Lily

Cinta Untuk Lily
BAB 99. Maldive


__ADS_3

Sekitar 15 jam 59 menit perjalanan dari Jerman ke Maldive membuat Lily tidur sangat nyenyak tanpa gangguan dari Edward.


Selama perjalanan Lily hanya makan dan tidur saja. Dia ingin istirahat sebelum malam-malamnya di bantai oleh sang suami tercinta.


"Sayang bangun, kita sudah sampai. Kamu sudah terlalu lama tidur sayang" bisik Edward.


Lily mengerakkan badannya. Lily membuka matanya yang masih ingin tidur.


"Apa kita sudah sampai sayang?" Tanya Lily.


"Huum, kita sudah sampai sayang" jawab Edward.


Lily mengucek matanya. Dia turun dari tempat tidur dan mencuci muka di kamar mandi. Edward sudah keluar kamar duluan.


Setelah mencuci muka, Lily keluar kamar menyusul Edward yang akan turun dari pesawat.


"Ayo turun sayang" Edward mengandeng tangan Lily.


"Barang-barangku sayang" ucap Lily.


"Sudah aku ambil semua sayang. Tinggal turun saja" ucap Edward.


Lily mengikuti Edward berjalan keluar pesawat. Lily merasa bahagia ini kedua kalinya dia pergi ke luar negeri.


"Apa kamu senang sayang?" Tanya Edward.


"Hu'um. Terima kasih sayang. Kamu memang suami terbaik. Kamu selalu membuatku bahagia" Lily mengalungkan tanganya di leher Edward lalu mencium bibir Edward.


Edward membalas ciuman Lily dengan senang hati. Mereka lupa kalau mereka masih ada di bandara. Beruntung tengah malam, jadi sedikit penumpang yang melihat mereka.


"Kita lanjut di resort sayang. Aku tidak akan melepaskamu" Edward menoel hidung mancung mereka.


Lily mengerucutkan bibirnya saat Edward mengandengnya keluar dari bandara.


"Selamat malam Tuan. Selamat datang di Maladewa" ucap laki-laki berusia sekitar 35 tahun.


"Selamat malam Dave. Terima kasih sudah menjemput kami. Perkenalkan ini istriku" ucap Edward.


"Hai Saya Lily" Lily mengulurkan tangannya.


"Saya Dave Nyonya" Dave menyambut uluran tanggan Lily.


Belum sempat menyentuh tangan Lily. Edward menarik tangan Lily dan mengandengnya kembali.

__ADS_1


Dave garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Lalu menyusul Edward menuju mobil. Edward tidak akan membiarkan orang lain menyentuh Lily terutama laki-laki.


"Apa kamu betah tinggal di sini Dave?" tanya Edward di dalam mobil.


"Iya Tuan. Keluarga saya tinggal di sini. Anak dan istri saya juga senang di sini Tuan" ucap Dave.


"Kalau ada apa-apa hubungi aku. Aku akan membantumu selagi aku bisa" ucap Edward.


"Tuan sudah banyak membantu saya selama ini. Saya tidak mau merepotkan Tuan" ucap Dave tulus.


"Kamu yang sudah menyelamatkan aku Dave. Kalau tidak ada kamu. Mungkin aku sekarang tidak disini" ucap Edward.


"Jangan bicara seperti itu Tuan. Saya senang bisa membantu sesama. Setidaknya darahku bisa berguna untuk orang lain" ucap Dave.


Dave adalah pendonor darah untuk Edward saat kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya karena ditinggal pergi oleh Kylie.


Darah Edward sangat langka. Persediaan darah di Rumah sakit tidak cukup. Karena Edward mengeluarkan banyak darah.


Kebetulan saat itu Dave menemani Ayahnya yang sedang Rawat inap di rumah sakit yang sama dengan Edward. Melihat pengumuman yang di tempel di rumah sakit, Dave mencoba tes darah.


Ternyata darah Dave cocok dengan Edward. Saat itu juga Gabriel meminta Ferdinand untuk mencari tahu kehidupan Dave. Dia akan memberikan bayak uang untuk Dave, karena sudah meyumbangkan darahnya secara cuma-cuma untuk cucu kesayangannya Edward.


Disaat yang bersamaan, Dave tidak punya biaya untuk membayar rumah sakit. Uang Dave kurang, Ayahnya harus pulang paksa kalau tidak bisa membayar tagihan Rumah Sakit itu juga.


Ferdinand langsung membayar seluruh tagihan rumah sakit ayah Dave. Setelah kejadian itu Dave dan keluarga Edwaerd memiliki hubungan baik. Setelah Ayahnya sehat, Dave kembali ke Maladewa tempat kelahiran ayahnya.


"Sudah sampai Tuan. Saya akan bantu membawakan koper-kopernya ke dalam" Dave membuka bagasi mobil.


Edward dan Lily masuk me dalam resort mewah yang sudah di booking sejak jauh-jauh hari. Karena resort itu banyak yang menginginkannya untuk bulan madu.



"Wah cantik sekali tempatnya sayang. Aku tidak sabar menunggu pagi. Pasti indah sekali" ucap Lily.


"Kamu suka?" tanya Edward.


"Iya sayang. Terima kasih" ucap Lily.


"Sama-sama sayang" Edward memeluk Lily.


"Tuan kopernya sudah saya masukkan semuanya. Saya permisi pulang, kalau Tuan butuh sesuatu, Tuan bisa hubungi saya. Saya akan datang ke sini" ucap Dave.


"Terima kasih Dave" ucap Edward dan Lily.

__ADS_1


"Sama-sama Tuan dan Nyonya Edward. Selmat menempuh hidup baru dan selamat menikmati honeymoon kalian. Semoga kalian suka dan betah di sini" ucap Dave.


"Terima kasih Dave" ucap Edward.


Dave lalu undur diri dari resort Edward dan Lily. Dia kembali pulang ke rumah.


"Haaahhhh ... Nyamannya tempat tidur ini" ucap Lily merebahkan dirinya di atas tempat tidur.


Air malam masuk ke dalam kamar mereka. Deburan ombak menemani mereka di malam yang syahdu untuk Edward dan Lily.


"Sayang pintunya di tutup saja. Dingin sekali, anginnya masuk ke dalam kamar sayang" ucap Lily.


Edward masuk ke dalam kamar yang tadinya berdiri menatap laut malam di balkon.


"Aku peluk biar hangat" ucap Edward.


"Tidak. Kamu pasti minta yang lain" ucap Lily.


"Hahahaaaa" Edward tertawa.


Liky mengeryitkan alisnya. Dia menatap Edward aneh. Karena tidak ada yang lucu tapi Edward tertawa.


"Kenapa tertawa? Ada yang lucu?" Tanya Lily curiga.


"Kamu yang lucu sayang. Kenapa kamu selalu berpikiran kesana. Apa aku seover itu sayang" Edward tertawa ngakak.


"Berdasarkan kebiasaanmu sayang"ucap Lily.


"Tapi aku tidak pernah memaksamu sayang. Kalau kamu tidak mau ya aku tidak akan melakukannya" jawab Edward.


Lily mencium pipi Edward yang memeluknya. Edward mencium puncuk kepala Lily. Mereka tidur saling berpelukan tanpa melakukan permainan panas seperti biasanya.


Rasa capek yang dirasakan mereka berdua selama hampir 16 jam membuat mereka memilih untuk tidur, supaya besok pagi bisa bangun lebih segar.


Leon bingung akan menghubungi Edward atau tidak. Hari ini Peter datang ke rumah Gabriel mengaku sebagai paman Lily.


Meskipun tidak sampai masuk rumah dan masih di depan gerbang. Ini akan sangat menganggu kebahagiaannya bosnya.


"Besok saja aku akan menghubungi Tuan muda. Sekarang di sana pasti sudah larut malam dan mereka pasti baru istirahat" ucap Adam mondar-mandir di depan tempat tidur.


"Apa sebenarnya yang mereka mau. Mereka pasti melihat berita pernikahan Tuan dan Lily dari TV. Mereka menggunakan kesempatan ini untuk menemui Lily. Lebih baik aku telpon Arthur saja. Mungkin dia bisa memberiku jalan keluar" Leon bicara sendiri sambil mencari nama Arthur di kontak telpon.


To be continue ....

__ADS_1


__ADS_2