
"uugghhh" Lily meregangkan badan. Dia merasa badannya ada yang menindih.
Lily membuka mata, dia membolakan mata dan menutup mulut dengan tangan. Dia shock melihat Edward tidur bersama dengan dia.
Deg deg deg deegg
Jantung Lily berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Dia merasa nyaman berada di pelukan Edward.
'Kenapa Tuan Edward tidur di kamarku?' batin Lily. Lily berpikir kalau sekarang di sedang tidur di kamarnya.
"Jangan melihat saya seperti itu Lily. Kenapa saya tampan ya" Edward menbuka mata, saat Lily menatapnya penuh kagum.
"Eh ... tidak-tidak. Tuan kenapa tidur di kamar saya?" tanya Lily.
"Kamu yakin ini kamar kamu?" Edwar balik bertanya.
"Lily melihat-lihat sekitar kamar. Ternyata berbeda dengan kamarnya" Lily sadar kalau sekarang dia berada di kamar Edward.
"Maaf Tuan, saya ti-dak bermaksud menggoda Tuan" Lily mencoba melepas tangan Edward dari pinggangnya.
Lily sekarang sangat malu. Berada seranjang dengan Tuannya. Dia takut dianggap lancang oleh Edward. Lalu Lily memunggungi Edward.
"Kenapa kamu menghadap kesana Lily. Bukankah kamu tadi memandang saya dengan penuh kekaguman" Edward menggoda Lily.
Lily yang mendengar ucapan Edward, mukanya berubah menjadi merah karena malu. Dia menutup mukanya dengan kedua telapak tangan. Meskipun Edward tidak melihat wajahnya tetap saja dia merasa malu karena ketahuan melihat Tuannya.
"Lily, kenapa kamu diam? kamu malu?" Edward semakin menggoda Lily.
Dapat keberanian dari mana, tiba-tiba Edward mencium punggung Lily beberapa kali. Posisi tangan Edward masih melingkar di perut Lily.
Eeeemmmmm
Lily yang mendapat perlakuan seperti itu dari Edward, badan Lily merasa panas. Ini pertama kalinya untuk Lily. Dia tidak tahu harus bagaimana.
"Ada apa Lily?" Edward memancing Lily berbicara.
"Tu-tuan sedang sa-sakit eeemmm" Lily meringkuk seperti kucing. kedua Kakinya dinaikkan sampai perut, karena merasa geli dicium dibagian punggung.
Edward terkekeh melihat Lily meringkuk seperti kucing. Karena Lily menahan rasa panas di dalam tubuhnya.
"Saya sudah sembuh Lily" sekarang tangan Edward mengelus perut Lily.
eeemmm aahhhh
"Kamu kenapa Lily" Edward pura-pura bodoh. Karena perbuatannya Lily semakin meremang, tapi Lily tidak mau kalau sampai Edward tahu.
Setiap sentuhan Edward membuat Lily tersetrum. Selanjutnya Edward meniup tengguk Lily. Menambah Lily bergidik geli. Bulu tangannya berdiri.
'Ada apa dengan diriku, kenapa aku seperti tersetrum' Lily membatin.
Edward semakin iseng mengerjai Lily. Sekarang Edward membuka pengait kaca mata jumbo milik Lily dengan mulutnya.
"Tu-tuan a-pa yang anda laku-kan eemmm?" anehnya Lily menikmati keisengan Edward. Lily tidak menolak sama sekali.
Apa karena Lily memang menginginkannya atau Lily tidak berani menolak karena takut di pecat dari pekerjaan.
__ADS_1
"Lily apa ada laki-laki yang kamu suka?" tanya Edward. Kali ini Edward menghentikan aksinya. Edward ingin mendengar jawaban Lily.
Lily mengangguk. Edward berharap kalau laki-laki yang disukai Lily adalah dia.
"Siapa laki-laki itu Lily?" tanya Edward penasaran.
"Saya malu Tuan" jawab Lily masih membelakangi Edward.
Edward membalik tubuh Lily, sekarang Lily berada di bawah kungkungan Edward. Edward ada diatas Lily.
Lily panik. Dia sampai tidak berani membuka mata. Karena posisi seperti itu membuat posisi mereka sangat dekat.
"Katakan siapa Lily" Edward seolah-olah lupa kalau dirinya yang sedang demam.
"Buka matamu Lily, katakan siapa laki-laki yang kamu suka Lily?" Edward semakin penasaran. Edward berharap Lily menyebut namanya.
"Di-dia pak Le-le-Leon" ucap Lily terbata-bata.
Jeeduuueeeerrrrr!!!
Bagai petir disiang bolong. Gadis yang diam-diam Edward cintai, ternyata mencintai asisten pribadinya sendiri.
Edward yang tadinya bahagia berubah menjadi dingin dalam sekejam. Edward kembali ke pabrikan awal. Wajah dingin dan tanpa ekspresi.
Edward lalu turun dari ranjang menuju kamar mandi. Dia tidak tahu apa yang sekarang dia rasakan. Ingin sekali dia memaki-maki Leon yang sudah berhasil membuat Lily jatuh hati padanya.
Tapi Edward sadar. Edward bukan siapa-siapa Lily. Lily bahkan sudah bicara jujur didepannya, Kalau dia suka dengan Leon.
"Apa aku salah bicara" gumam Lily.
"Bagaimana ini kalau Tuan Edward tambah sakit" Lily mondar mandir di depan pintu kamar mandi
1 jam sudah Edward ada dikamar. Sedangkan Lily mondar-mandir tidak jelas. Sebentar duduk, sebentar berdiri terus mondar mandir karena Tuannya tidak kunjung keluar kamar mandi.
Ceekleeekkk
Edward keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih basah. Edward memakai Bathrobe warna putih dengan handuk menempel dikepala.
"Tuan, Tu-tuan seharusnya jangan mandi dulu. Tuan Edward masih sakit" Lily mengekori Edward mengambil baju ganti.
Edward hanya diam saja. Edward tidak mengubris ucapan Lily. Hatinya masih sakit. Mendengar kejujuran dari mulut Lily.
"Kamu tidak mau keluar? Kamu mau lihat saya ganti baju, haahh" Edward berbicara sambil memilih baju kerja.
Lily langsung keluar dan menunggu di kamar.
"Kamu masih disini? lebih baik sekarang kamu buat sarapan. Saya lapar, saya ingin makan" ucap Edward dingin.
Lily merasa ada perubahan dari sikap Edward. Sekarang Edward seperti awal pertama mereka bertemu, dingin dan cuek.
Lily membuat sereal untuk sarapan Edward. Saat Lily akan membawa sarapan Edward ke kamar, Edward sudah berjalan menuju dapur dengan pakaian kantor.
"Mau dibawa kemana makanannya?" Ucap Edward. Dia bahkan tidak menyebut nama Lily.
__ADS_1
"Maaf Tuan. Saya pikir Tuan Edward akan makan di kamar. Jadi saya membawa sarapan Tuan ke kamar" jawab Lily.
"Letakkan makanannya di meja. Saya akan makan disini" perintah Edward.
Lily lalu meletakkan kembali makanan yang dia bawa di atas meja.
"Tuan, tuan sudah sembuh?" tanya Leon dari depan pintu.
"Heeemmm" jawab Edward malas.
Edward melihat Lily dan Leon bergantian. Edward tiba-tiba merasa panas saat Leon menaruh tangannya di pundak Lily.
Leon ingin melihat reaksi Tuan Mudanya yang punya gengsi selangit, saat melihat gadis yang disukainya dia goda.
Sedangkan Lily sekarang mukanya jadi merah dan menahan senyum, karena sikap Leon.
"Pak Leon sudah makan?" tanya Lily.
Melihat Lily perhatian dengan Leon. Ingin rasanya Edward membunuh Leon saat ini juga.
"Belum Lily, bisakah kamu membuatkanku sarapan seperti tuan Edward" Leon senggaja berbicara dengan suara manja untuk menggoda sang Tuan Muda.
Edward sudah mengeratkan giginya dan mengepalkan tangannya di bawah meja.
Sedangkan Lily tidak tahu kalau sekarang Edward ingin makan orang. Lily malah merasa senang bisa membuatkan makanan untuk Leon.
"Pak Leon duduklah dulu saya akan buatkan sarapan" ucap Lily.
Lily lalu mengambil sereal dan membuatnya seperti yang dimakan Edward. Sedangkan Edward sudah malas dengan mereka berdua.
Saat Lily meletakkan sereal di depan Leon. Edward pergi meninggalkan mereka. Dia mengambil jas, Lalu pergi begitu saja.
Melihat Edward pergi tanpa sepatah katapun, Leon langsung berlari mengejar Edward. Sialnya dia tidak bisa mengejar Edward.
Edward sudah naik Lift. Leon lalu berlari menuruni tangga darurat. Sampai di basemant, Leon melihat Edward sudah naik mobil.
"Ada apa dengan Tuan Muda. Apa dia marah karena aku menggoda Lily?" Leon merasa bersalah.
Akhirnya Leon menggejar Edward dengan mobil sampai kantor.
Sedangkan Lily sendiri masih binggung dengan sikap Edward yang tiba-tiba berubah sangat dingin.
"Aku harus segera mandi. Terus berangkat kekantor membawa obat Tuan Edward" Lily berbicara sendiri.
"Tuan, Tuan ada masalah? kenapa tuan tiba-tiba mendiamkan saya?" Leon memulai pembicaraan.
"Kalau masalah Lily, saya minta maaf Tuan. Saya tidak akan mengulanginya lagi" Leon sangat merasa bersalah.
Sedangkan Edward hanya diam saja. Dia terinngat kata-kata yang diucapkan Lily tadi pagi. Entah kenapa, hati Edward terasa sakit.
"Keluarlah Leon. Kembali ke ruanganmu. Aku mau bekerja" ucap Edward dingin.
Melihat Tuan Mudanya sedang tidak baik-baik saja. Leon akhirnya kembali ke ruangan kerjanya dengan seribu pertanyaanndi benaknya
To be continue ....
__ADS_1
...----------------...