Cinta Untuk Lily

Cinta Untuk Lily
BAB 12. Kesedihan Edward


__ADS_3

"Selamat siang Tuan Pieter White. Maaf saya terlambat" Edward menyapa orang yang bernama Pieter.


"Selamat siang Tuan Edward. Tidak masalah Tuan" ucap Peter.


Peter berdiri dan menjabat tanga Edward dan Leon untuk melakukan jabat tangan, sebagai tanda penghormatan.


"Silahkan duduk Tuan Edward, Pak Leon" Peter mempersilahkan mereka duduk.


"Bagaimana kalau kita makan siang dulu, selanjutnya kita baru membahas masalah kerjasama kita. Bagaimana menurutmu Tuan Edward?" Peter meminta persetujuan dari Edward.


"Boleh. Itu bukan ide yang buruk Tuan Peter" ucap Edward.


"Pelayan" Peter memanggil pelayan restoran.


Pelayan yang dipanggil Peter, berjalan menuju meja Peter.


"Silahkan Tuan, mau pesan apa?" pelayan itu memberikan buku menu kepada Peter, Edward, Leon dan sekretaris Peter.


Mereka memilih-milih menu makanan dan minuman yang akan mereka makan untuk makan siang.


Sedangkan sedari tadi ada perempuan di sebelah Peter terus memperhatikan Edward.


'Tuan Edward memang sangat tampan. Pantas saja banyak perempuan tergila-gila kepadanya dan rela tidur dengan dirinya' batin perempuan itu.


"Bella, Bella kamu mau makan apa?" Peter bertanya kepada sekretarisnya itu.


Bella yang sedang terpesona dengan ketampanan Edward, kelabakan saat Peter memanggil namanya berkali-kali.


"I-iya pak. Pak Peter bicara apa?" Bella gugup saat Peter menatap tajam ke arah Bella.


"Kamu pesan makan apa?" Peter menekan suaranya supaya tidak terlihat marah di depan Edward dan Leon.


Sikap yang ramah dan sopan harus diperlihatkan Peter kepada Edward, supaya peter mendapat suntikan dana dari perusahaan Edward.


Hanya perusahaan Edward yang bisa dia andalkan. Karena perusahaan Edward selalu stabil dalam hal Keuangan.


Peter tidak mau kehilangan kerjasama dengan Edward, karena kerjasama ini satu-satunya jalan untuk menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan.


Makan siang berjalan dengan normal. Tidak ada pembicaraan apapun selama mereka makan. hanya suara dentingan sendok dari piring mereka.


"Saya sudah membaca surat kerjasama yang anda kirimkan lewat sekretaris anda beberapa minggu yang lalu. Saya setuju dengan tawaran kerjasama Anda, Tuan Peter" ucap Edward.


"Minggu depan saya undang Anda untuk datang ke Amaris Hotel jam 7 malam. Untuk peresmian kerjasama perusahaan kita Tuan Peter" ucap Edward.


"Baik, Tuan Edward saya akan datang tepat waktu" ucap Peter.

__ADS_1


"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan Peter. Saya masih ada urusan" Edward berdiri dan menjabat tangan Peter.


Leon juga melakukan hal yang sama. Leon menjabat tangan Peter.


"Jaga sekretaris anda, kalau tidak ingin dia bepaling dari anda" Edward berbisik ditelinga Peter.


Edward sebenarnya tahu kalau sekretaris Peter memperhatikan dirinya. Edward punya rencana lain dengan menggunakan perempuan yang bernama Bella tersebut.


Edward dan Leon pergi meninggalkan Peter dan Sekretarisnya. Edward punya rencana baru setelah pertemuannya dengan Peter hari ini.


"Apa rencana bos selanjutnya?" Tanya Leon saat mereka masuk kedalam mobil.


"Kita akan selesaikan satu per satu Leon. Aku akan mengurus pengalihan perusahaan atas nama Lily terlebih dahulu. Setelah itu, aku akan selesaikan urusanku sendiri" Edward mengepalkan tangan, sedangkan matanya menerawang kedepan dengan amarah.


"Tapi dalam perjanjian hak asuh Lily harus berusia 20 tahun Tuan, sedangkan usia Lily 2 bulan lagi baru berusia 19 tahun" masih ada 1 tahun perusahaan itu jadi milik Lily" tutur Leon.


"Kamu lupa Leon, kalau ada pengecualian dalam surat hak asuh itu. Kalau kita bisa manfaatkan pengecualian itu, maka secepatnya Lily akan mendapatkan haknya. Bukan laki-laki tidak tahu diri itu" Edward tersenyum smirk kepada Leon.


"Oh iya bos aku lupa, dan kita sudah mendapat kartu As itu bos. Jadi tinggal selangkah lagi rencana kita sukses bos" Leon tertawa bahagia.


"Jangan senang dulu Leon. Orang itu sangat Licik. Dia bisa melakukan segala cara untuk mendapatkan ambisinya itu. Bahkan dia tidak segan-segan menghabisi nyawa orang" Edward matanya berkaca-kaca, mengingat kecelakaan orang tuanya.


"Aku mengerti bos. Kita akan hati-hati menghadapi orang itu. Aku akan selalu bersamamu bos" Leon mengusap pundak Edward agar dia tenang.


"Ayo kita kembali ke kantor Leon. Masih banyak hal yang harus kita lakukan kedepannya" Edward memberi perintah kepada Leon.


Sepanjang jalan Edward teringat akan kedua orang tuanya. Keluarga Edward sangat bahagia. Sampai terjadi kecelakaan naas yang mengakibatkan kematian kedua orang tuanya.


Kehidupan Edward berubah. Edward menjadi anak pemurung dan suka menyendiri. Sampai akhirnya, Gabriel membawa Leon ke rumah utama. Mereka akhirnya berteman sampai sekarang.


"Bos kita sudah sampai" Leon melambatkan suaranya.


Leon melihat Edward meneteskan air mata, saat dia menoleh ke arah Edward. Leon tahu, bosnya itu pasti teringat akan kedua orang tuanya.


Leon hanya diam di dalam mobil. Dia tidak berani bicara apapun. Leon bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Edward. Karena dia juga kehilangan seorang ibu.


"Leon kita pergi ke makam orang tuaku"


"Baik, Tuan"


Leon menghidupkan mesin mobil lalu keluar dari halaman kantor menuju pemakaman keluarga Eugenio.


Leon berhenti di pinggir jalan dekat makam untuk membeli bunga yang akan dibawa ke makam.


Setelah sampai di pemakaman keluarga. Edward turun dari mobil dan membawa bungan yang dibeli oleh Leon.

__ADS_1


"Leon kamu kembali ke kantor saja. Aku mau disini sedikit lebih lama. Kalau ada kerjaan penting kamu handle dulu" Edward lalu menutup pintu mobil.


Belum sempat Leon bicara. Edward melangkah menuju tempat peristirahatan terakhir kedua orang tuanya.


bertahun-tahun Edward menyalahkan Gabriel atas kematian kedua orang tuanya. Sampai akhirnya dia tahu kebenaran penyebab kematian kedua orang tuanya dari Gabriel beberapa hari yang lalu.


"Mama, Papa Edward datang menjengguk kalian. Mama, papa apa kabar hari ini? Edward kangen ma, pa hikss..hiksss" Edward menangis di pusaran kedua orang tuanya.


Edward mencurahkan segala perasaan rindu diatas pusaran kedua orang tuanya. Air mata tiada henti menetes dari kedua matanya. Kerinduan yang sangat mendalam dirasakan oleh Edward terhadap kedua orang tuanya.


Sampai tidak terasa Edward ketiduran di atas makam kedua orang tuanya. Saat terbangun hari sudah gelap hanya ada lampu penerangan di sekitar makam.


"Mama, Papa Edward pulang dulu. Besok Edward kembali lagi. Restui Edward, supaya Edward bisa menghukum orang yang telah memisahkan kita. Saya berjanji dia akan membalas apa yang sudah dia lakukan kepada keluarga kita" Edward mengepalkan tangan, matanya penuh dengan amarah.


Edward mencium nisan mama dan papanya secara bergantian sebelum dia pergi dari makam


"Bye .... Mama, papa" Edward melambaikan tangannya ke makam kedua orang tuanya. Dia berjalan keluar jalan raya mencari taksi.


Leon panik karena Tuannya tidak kunjung balik ke kantor. Hari juga sudah semakin gelap. Akhirnya Leon kembali kemakam untuk menjeput Tuannya.


Saat sampai di makam Leon tidak menemuka Edward. Dia hanya melihat bunga yang dibelinya tadi. Leon semakin cemas dan panik.


Leon menyususuri seluruh jalan makam dengan mobil tapi tidak menemukan Edward.


"Kemana kamu bos?" Leon tambah cemas. Diambilnya benda pipih dari dalam sakunya. dipencetlah tombol hijau setelah menemukan nama Edward.


Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. "Kenapa nomornya juga tidak aktif" Leon memukul setir yang ada didepannya.


Leon mencoba menelpon Lily. Dering pertama langsung diangkat. Lily senang saat melihat nama yang ada di layar ponselnya.


[Hallo, Pak Leon]


[Hallo, Lily. Apa Tuan Edward sudah pulang]


[Belum, pak. Tuan Edward tidak bersama pak Leon]


[Tidak. Lily nanti hubungi saya kalau Tuan Edward sudah pulang]


[Iya pak]


[Terima kasih Lily]


tut ... tut ... tut


Leon menutup telponnya. "Kemana lagi aku harus mencari. Tuan tidak mungkin pulang ke rumah tuan besar" Leon berpikir mencari kemana perginya Edward.

__ADS_1


To be continue...


...----------------...


__ADS_2