
"Ashley"
Edward kaget melihat Ashley datang keruangannya. Dia tidak mau kalau Lily melihat Ashley di ruangannya sekarang. Apalagi Lily akan ke kantornya.
"Kenapa Edward? Sepertinya kamu tidak suka aku datang" tanya Ashley.
"Tidak. Aku heran saja, kenapa kamu akhir-akhir ini ke sini. Memangnya kamu tidak ada kerjaan?" sindir Edward.
"Aku hanya ingin bertemu dengan sahabatku. Sudah lama kita tidak keluar bareng Edward. Ayo kita makan siang bersama" Ajak Ashley.
"Tidak Ashley. Aku sudah menyuruh Kimberly membelikanku makanan. Aku akan makan di sini" jawab Edward.
"Baiklah aku juga akan makan siang di sini. Suruh Sekretarismu membelikanku makanan juga" ucap Ashley.
"Dia sekretarisku Ashley. Bukan OB yang disuruh membeli makanan" ucap Edward sedikit kesal.
"Apa bedanya. Mereka sama-sama pegawai kamu Edward" Ashley mulai melunjak.
"Kalau kamu kesini hanya untuk membuatku kesal lebih baik kamu pergi dari sini Ashley. Aku masih banyak kerjaan" ucap Edward mencari alasan.
Tok tok Tok
"Masuk" ucap Edward dari dalam ruangan.
"Ini Pak Makan siang bapak" Kimberly meletakkan 2 porsi makan siang di atas meja.
"Letakkan di atas meja Kim. Terima kasih, kamu boleh pergi Kimberly" ucap Edward.
"Sama-sama Pak" Kimberli meninggalkan ruangan Edward.
"Kamu beli makan 2 porsi. Kamu tahu kalau aku akan kesini. Terima kasih Edward" ucap Ashley.
"Itu bukan untuk kamu Ashley. Aku nanti ada tamu. Makanan itu untuknya" ucap Edward langsung to the poin.
"Siapa?" tanya Ashley.
"Itu bukan urusanmu Ashley. Tidak semua tamuku harus kamu tahu" jawab Edward tegas.
Edward ingin mengusir Ashley dengan cara halus. Dia tidak ingin mengusir secara kasar karena Edward tahu Ashley orangnya sangat keras.
"Jadi sekarang kamu sudah mulai rahasia-rahasiaan denganku honey" ucap Ashley.
"Tidak ada rahasia Ashley. Kita hanya teman, jadi kita harus tahu batasn masing-masing" ucap Edward.
"Edward kita sudah berteman sudah lama. Kenapa kamu menganggapku seperti orang asing" ucap Ashley.
"Aku tidak pernah menganggapmu orang asing Ashley. Tapi tolong jangan campuri urusan pribadiku. Tetaplah pada batasanmu" ucap Edward.
"Aku tidak mengerti. Sekarang kamu berubah Edward. Tidak seperti yang dulu. Apa kamu menyimpan suatu rahasia dadiku?" tanya Ashley.
"Tidak ada Rahasia Ashley. Itu hanya pikiranmu saja" ucap Edward.
__ADS_1
Cekleeekk
Perempuan muda berusia 18 tahun memakai celana jeans dan kemeja masuk ke dalam ruangan Edward.
"Lily" ucap Edward.
"Maaf Tuan kalau saya menganggu. Sepertinya Tuan sedang ada tamu. Saya keluar dulu" ucap Lily.
"Tidak perlu Lily. Duduklah! bukannya kamu pulang masih 1 jam lagi. Kenapa kamu sudah pulang?" tanya Edward.
"Profesor James tidak berangkat. Anaknya sakit, kita hanya di kasih tugas saja" jawab Lily.
"Kirain kamu bolos Lily" ucap Edward.
"Tidak Tuan. mana mungkin saya bolos. Saya ingin lulus cepat. biar cepat dapat kerja" jawab Lily.
"Kamu siapa?" tanya Ashley.
"Sa ..."
"Kekasihku" jawab Edward.
Belum selesai Lily bicara. Edward sudah menjawab lebih dulu. Lily melebarkan matanya. Dia tidak percaya kalau Edward mengakui dirinya sebagai kekasih di depan orang lain.
"APA!!" kamu tidak bercanda kan Edward?" Ashley kaget mendengar ucapan Edward.
"Tidak. Dia memang kekasihku" Edward mendekati Lily.
"Dia bukan anak kecil Ashley. Sebentar lagi usianya 19 tahun" jawab Edward.
"Aku tidak percaya" ucap Ashley.
"Terserah kalau kamu tidak percaya. Aku akan buktikan kepadamu" Edward menarik dagu Lily.
Edward lalu mencium bibir Lily. Bukan hanya ciuman biasa tapi sudah ******* dan saling bertukar saliva.
Melihat Adegan panas di depannya. Ashley merasa muak. Dia ingin muntah, dia sudah lama suka sama Edward tapi tidak pernah bisa menyentuh Edward. Sedangkan perempuan kecil didepannya yang masih berciuman panas dengan Edward sangat mudah memasuki hati Edward.
"MENJIJIKKAN SEKALI KALIAN"ucap Ashley dengan nada tinggi.
Edward melepas ******* di bibir Lily. Dan membersikan bibir lili dengan tisu, bekas dari bibirnya.
"Tapi aku menyukainya Ashley. Rasanya sangat nikmat. Kamu bisa mencoba dengan Robert kalau kamu mau. Sepertinya dia sangat tergila-gila denganmu" ucap Edward dengan tenang.
Edward ingin Ashley segera pergi. Karena dia tidak nyaman kalau sedang berdua dengan Lily ada yang menganggu dirinya.
"Oh ... jadi yang kamu bilang tamu itu dia" tebak Lily.
"Iya. Tamuku adalah kekasihku. Aku membelikan makanan karena di lapar setelah pulang kuliah" jawab Edward.
Ashley semakin panas. Dia saja selama berteman dengan Edward tidak pernah diperlakukan seperti itu.
__ADS_1
'Awas kamu gadis kecil. Tunggu pembalasanku, karena berani mengambil Edward dariku' batin Ashley dengan sangat emosi.
Dengan wajah penuh emosi, Ashley keluar ruangan Edward. Dia tidak terima di permalukan seperti itu. Edward yang dia puja ternyata memilih perempuan lain. Bahkan tidak sebanding dengan dirinya yang model super modis.
"Dia siapa sayang?" tanya Lily.
"Ashley. Bukannya kamu pernah melihatnya sayang" jawab Edward.
"Iya. Dia sangat cantik" ucap Lily.
"Kamu lebih cantik. Apalagi kalau sedang mendesah, kamu lebih cantik lagi" goda Edward.
Lily mencubit Pinggang Edward. Karena ngomong tidak di filter.
"Auuww ... aauuwww sakit sayang. Jangan di cubit. Di cium saja dan di sayang-sayang" Edward memegangi pinggangnya.
"Makanya kalau bicara jangan sembarangan. Kalau di dengar orang bagaimana. Aku malu" Lily memukul lengan Edward.
"Sayang ini namanya kekerasan dalam berpacaran. Tidak boleh sayang" ucap Edward.
"Bodo" Lily melipat tangannya dan membelakangi Edward.
Edward memeluk Lily dari belakang. Edward meniup-niup belakang telinga Lily. Dia tahu kalau belakang telinga termasuk titik sensitif Lily.
"Sayang ah. Kamu membuatku merinding" Lily meletakkan kepalanya di pundak Edward.
"Mau lanjut sekarang apa nanti malam?" Tangan Edward masuk ke dalam kemeja Lily.
"Tidak sekarang sayang. Aku lapar, kita makan saja" Lily mengalihkan perbuatan Edward.
Lily takut kalau ada yang memergoki mereka. Lily sepertinya lupa kalau Edward adalah CEO perusahaan. Jadi tidak akan ada yang berani masuk ruangan kecuali atas izin.
"Kita lakukan sebentar sayang" ucap Edward.
"Aku lapar sayang" balas Lily.
"Setelah makan ya" Edward membujuk Lily.
"Tidak. Kita makan atau kamu tidak dapat sama sekali termasuk nanti malam" Ancam Lily.
"Ya sudah iya. Ayo kita makan. Daripada nanti malam tidak dapat desahanmu. Bisa gila aku" ucap Edward.
"Dasar overdosis" ucap Lily.
"Kamu suka kan. Semalam minta tambah sampai pagi" goda Edward.
Lily membungkam mulut Edward. Lily benar-benar di telanjangi Edward di kantornya. Edward selalu membicarakan soal desah mendesah terus.
Edward melepas tangan Lily. Dia tersenyum saat Lily panik saat dia mengodanya. Lily masih belum terbiasa dengan kenakalan Edward soal bicara hal dewasa.
To be continue ....
__ADS_1