
Setelah Edward dan Lily tidur siang. Mereka bersiap-siap untuk berbelanja keperluan Lily kuliah nanti. Seperti yang diucapkan Edward, saat mereka tidur siang. Edward membuang semua pakaian Lily dan pakaian dalam Lily. Semuanya dia bakar di tong besar dekat pembuangan sampah.
Lily awalnya tidak setuju. Dengan pengertian yang diberikan Edward, akhirnya dia merelakan baju-baju lusuhnya di bakar oleh Edward. Lily hanya melonggo tidak bisa berbuat apa-apa.
"Sudah selesai. Ayo kita pergi belanja" Edward mengandeng tanga Lily menuju garasi mobil apartemen. Lily merasa nyaman. Dia berharap dia tidak bermimpi dan terus seperti ini dengan Edward.
"Kenapa Tuan senang sekali memberi tanda ini dileher saya" Lily membenarkan syalnya di dalam mobil.
"Tanda apa?" Edward pura-pura tidak tahu.
"Ini" Lily menunjuk tanda merah di leher Lily.
"Bukannya itu digigit serangga?" Edward masih tidak mau mengaku.
"Serangga apa, ini bekas ciuman Tuan tadi siang. Aku jadi tidak bisa memakai pakaian terbuka. Apa Tuan itu vampire suka mengigit leher manusia" Lily mencebik.
"Aku tidak melakukan itu" Edward mengelak.
"Saya sudah tahu Tuan, saya pernah membaca artikel tentang tanda merah ini di mesin pencarian. Ini buka digigit serangga tapi digigit manusia" ucap Lily.
"Hahaaaa ... mau aku gigit lagi tidak?" Edward menggoda Lily.
"Tidak. Ini lama hilangnya Tuan. Aku jadi tidak bebas memakai baju. Aku harus memakai syal dan baju turtleneck" ucap Lily.
"Mulai hari ini, aku akan selalu memberi tanda itu di lehermu. Kalau sudah mulai pudah aku akan membuatnya lagi dan lagi. Kamu mengerti Lily" Edward menaik-naikan Alisnya.
"Isshh ... Tuan. Aku jadi tidak bebas memakai baju. Saya ingin memakai baju sexy, bibir merah merona, saya juga ingin seperti Kim Kardashian" ucap Lily dengan perkataan jujurnya.
"Tidak boleh. Apa-apaan kamu, kayak Kim Kardashian. Tidak boleh seperti itu, kalau di luar harus pakai pakaian tertutup, kalau diapartemen hanya kita berdua boleh pakai-pakaian sexy. Paham Lily" Edward menatap Lily mengintimidasi.
"Kenapa seperti itu Tuan. Mahasiswa dikampusku cantik-cantik pakai pakaian terbuka. Kenapa saya tidak boleh. Saya juga ingin terlihat cantik seperti mereka" ucap Lily.
"Ayo turun. Nanti aku yang pilihkan baju buat kamu untuk kekampus dan dirumah" Edward membuka pintu mobil.
Lily juga membuka pintu mobil. Edward lalu mengengam tangan Lily masuk kedalam mall.
"Wahh ... bajunya bagus-bagus tuan. Tapi saya tidak punya uang untuk membeli baju bagus-bagus ini. Uang saya hanya bisa membeli 2 atau 3 pasang baju saja" Lily cemberut.
__ADS_1
"Kamu bisa membeli semuanya. Nanti aku akan potong separuh dari gaji kamu tiap bulan" ucap Edward.
"Serius Tuan" Lily terlihat bahagia. Matanya sudah berbinar-binar melihat baju-baju didepannya.
"Ambil semaumu" ucap Edward.
Edward mengawasi Lily yang sedang memilih baju. Saat Lily mengambil dress selutut dengan tali spagheti bagian punggung dengan tali jaring-jaring. Edward mengembalikan ke gantungan baju.
"Jangan beli yang itu. Ganti yang lain" ucap Edward tidak suka dengan pilihan baju pilihan Lily.
"Tapi itu bagus Tuan, aku menyukainya" ucap Lily.
"Kamu boleh membelinya tapi kamu harus memakainya kalau dirumah saja, tidak boleh diluar rumah" ucap Edward memperingatkan Lily.
"Asikk Terima kasih Tuan" Lily mencium pipi Edward.
Edward kaget saat Lily tiba-tiba menciumnya. Apalagi ditempat umum. Lily menutup mulutnya, lalu menepuk-nepuk bibirnya. Dia sangat malu. Sangking senangnya dia malah mencium pipi Edward.
"Lanjutkan pilih bajunya, setelah ini kita makan malam" Edward menutupi perasaan bahagianya karena di cium Lily.
Edward senyum-senyum sendiri melihat pakaian dalam berbahan tipis tersebut. 'Kalau dipakai Lily pasti sexy sekali' batin Edward.
Edward mengambil 10 buah lingerie dengan model dan warna yang berbeda. Tidak lupa Edward juga membelikan Lily segitiga dan penutup dada.
Lingerie adalah pakaian dalam yang biasanya dipakai untuk menonjolkan kesan lebih seksi. Berbeda dengan pakaian dalam biasa, baju lingerie biasanya terbuat dari bahan lace, sutra, dan bahkan kawat dengan desain yang lebih rumit.
Semua yang dipilih Edward adalah yang menyenangkan matanya saat di dalam apartemen. Edward ingin melihat keseksian tubuh Lily hanya dinikmati dirinya sendiri.
Karena Lily terlalu lama memilih-milih baju dan perutnya juga sudah keroncongan. Akhirnya Edward memilih 20 kaos polos, 10 celana jeans, 15 dress selutut, 5 pasang sepatu flat shoes, 5 sweater, 3 mantel tebal musim dingin dan 7 baju hangat.
"Tolong bungkus ini semua Nona. Sekalian yang tadi saya pilih dan yang dibawa Nona Lily" Edward memberikan black card kepada pelayan toko.
Lily yang melihat semua barang yang dibeli Edward melonggo dan hanya menelan saliva. Berapa tahun dia bisa melunasi barang-barang yang dibeli Edward untuknya. Belanjaan yang dibeli Edward sekitar 10.000 Euro kalau dirupiahkan kira-kira 154 juta.
"Tuan belanjanya banyak sekali. Saya tidak punya uang sebanyak itu. Nona tolong bungkus yang saya pilih saja ya. Barang-barang ini tidak usah" Lily menyingkirkan barang-baramg yang dipilih Edward.
"Kamu ini apa-apaan Lily. Bungkus semua Nona tidak usah pedulikan gadis Ini" Edward mengeser baju pilihannya.
__ADS_1
"Tuan, jangan seperti ini. Saya tidak mampu untuk membayar semuanya. Barang-barang ini terlalu mahal. Bahkan gaji saya sebulan saja tidak bisa membeli 1 barang ini" Lily memohon kepada Edward supaya tidak membeli semua baju-baju di depannya itu.
"Lily diam! atau aku cium kamu disini" Edward mengancam Lily.
Pelayan toko sampai berhenti menghitung belanjaan mereka. Karena mereka bertengkar. Lily yang mendengar ancaman Edward langsung diam. Dia pasrah saja. Walau harus membayar seumur hidup karena baju-baju ini juga tidak apa-apa. Daripada Edward marah, malah lebih mengerikan.
"Bagaimana ini jadinya Tuan, Nona?" tanya pelayan toko.
"Hitung dan bungkus semua Nona" jawab Edward. Lily melihat dengan tatapan nanar.
Setelah barang belanjaan Edward dibungkus semua. Pelayan toko mengembalikan kartu Edward.
"Ini Tuan kartunya. Terima kasih dan selamat datang kembali" pelayan itu memberikan kartu dan beberapa paper bag barang belanjaan.
Lily membawa barang belanjaan sedikit kesusahan karena ada sekitar 15 paper bag yang dia bawa. Melihat Lily sempoyongan membawa barang belanjaan, Edward mengambil separo dari paper bag yang dibawa Lily.
"Lily berhenti" perintah Edward.
"Ada apa Tuan" Lily berhenti dengan nafas sedikit capek.
"Sini, aku bantu bawa separo barang belanjaannya" Edward mengambil paper bag dari tangan kiri Lily.
"Tidak usah Tuan, saya bisa membawanya sendiri" Lily mencoba mengambil paper bag dari tangan Edward tapi disembunyikan Edward dibelakang badanya.
"Ssstttttt ... jangan berisik malu dilihat orang" Edward menunjuk ke orang-orang yang lalu lalang di mall.
"Cepetan jalan, aku sudah lapar Lily" Edward berjalan mendahului Lily.
"Ihh ...Tuan kakinya lebar jadi bisa berjalan cepat" Lily mengomel.
Edward yang mendengar suara mengomel Lily hanya tersenyum. Dia melanjutkan jalannya. Sedangkan Lily harus berlari kecil untuk mengejar kaki lebarnya Edward.
Buughhhh
"Aduh"
To be continue ...
__ADS_1