
Edward pulang ke apartemen dengan muka penuh amarah. Dia langsung masuk kedalam kamar. Lily yang melihat Edward dalam keadaan emosi, langsung menghampiri kekasihnya.
"Aku ingin sendiri sayang" ucap Edward.
"Baiklah aku akan membiarkan kamu sendiri sayang. Kalau kamu butuh aku, aku ada di luar. Aku akan menghangatkan makanan untukmu" Lily memeluk Edward dan mencium pucuk kepala Edward.
Lily meninggalkan kamar Edward. Dia duduk di sofa dengan perasaan tidak tenang. Tidak biasanya Edward semarah itu. Bahkan saat Edward marah kepadanya, wajahnya tidak se mengerikan itu.
Lily mencoba mengusir kecemasannya dengan menonton TV. Tapi tetap saja tidak bisa tenang. Akhirnya Lily masuk ke dalam kamar.
Dia mencoba untuk belajar dan mengerjakan tugas kuliah. Siapa tahu, bisa sedikit mengusir kegelisahaanya.
Lily takut kalau Edward sampai sakit. Edward juga belum makan seharian. Saat Lily menelpon tadi siang Edward belum makan. Edward tidak ingin makan.
Saat Lily mencoba fokus belajar. Edward masuk ke dalam kamar Lily. Lily menghampiri Edward yang sedang berjalan ke arahnya.
Edward memeluk Lily sangat erat. Edward menangis di pelukan Lily. Lily mengajak Edward untuk duduk di sofa.
Lily membiarkan Edward menangis sampai tenang. Dia tidak akan bertanya apapun, karena Edward sedang membutuhkan bahu untuk bersandar.
Lily mengelus punggung Edward. Meskipun Lily tidak tahu apa masalah yang sedang di hadapi Edward, Lily mencoba menjadi kekasih yang baik.
"Lily. Apa kamu juga akan meninggalkanku sendiri?" tanya Edward.
"Kenapa aku harus meninggalkanmu sayang. Aku tidak seperti itu. Aku sangat mencintaimu sayang" Lily menangkup wajah Edward.
Lily lalu menghapus air mata di wajah Edward. Lily mencium kedua mata Edward, kedua pipi, mengecup dahi dan bibir Edward.
"Ayo kita makan sayang. Setelah itu kita tidur. Aku tidak mau kamu sakit" Lily menarik tangan Edward supaya berdiri.
Edward mengikuti Lily keluar kamar. Lily mengambilkan makan Edward dan diletakkan di depan Edward. Karena Edward masih lemas, Lily akhirnya menyuapi Edward.
Lily sangat telaten menyuapi Edward. Edward juga sangat lahap dan menghabiskan makanannya.
Edward menarik tangan Lily. Lily jatuh di pangkuan Edward. Edward memeluk Liky darki belakang.
"Tetaplah seperti ini sayang. Jangan bergerak" Ucap Edward.
Lily hanya diam. Saat ini yang di butuhkan Edward adalah pelukan hangat Lily. Dia tidak membutuhkan yang lainnya.
Sekitar 5 menit Edward melepas Pelukannya. Lily lalu membereskan piring kotor ke tempat cuci piring.
__ADS_1
Setelah selesai membereskan semuanya. Edward mengajak Lily duduk di sofa ruang santai.
"Lily maukah kamu hidup denganku berdua. Kita tinggalkan kota ini. Dan mencari tempat yang baru untuk kita bertahan hidup?" tanya Edward.
"Ada apa sayang? Apa masalahmu cukup berat?" Lily memegang tangan Edward dan tangan satunya mengelus pipi Edward.
"Kita sama-sama tidak punya keluarga sayang. Kita sama-sama di tinggal pergi oleh orang tua kita. Siapa lagi yang kita punya?" Edward berkaca-kaca.
Hari ini Edward memperlihatkan sisi lemahnya kepada Lily. Gadis muda yang sangat dia cintai. Edward yang biasanya terlihat cool dan todak mau terlihat lemah. Sekarang sedang hancur karena pertengkaran dengan kakeknya, Gabriel.
"Kenapa kamu bicara seperti itu sayang. Kamu masih punya Tuan besar dan Leon serta orang-orang di rumah utama. Mereka sangat menyayangimu" Lily mencoba membuat Edward sadar akan kehadiran mereka semua.
"Aku hanya punya kamu Lily. Aku membutuhkanmu selalu ada di sisiku" ucap Leon .
"Aku akan selalu ada untukmu sayang. Kamu tidak perlu khawatir. Kamu sudah membuatku memiliki kehidupan baru, kamu yang memberiku semangat untuk tetap belajar. Aku hanya akan menyerahkan hidupku padamu sayang. Kamu berhak atas diriku" Lili mencium pundak Edward yang sedang memeluknya.
"Ayo kita liburan sayang. Sekalian merayakan ulang tahun kamu yang tinggal 1 minggu lagi" ucap Edward.
"Kita kemana sayang. Aku akan mengajakmu ke Maldive. Tempat surga dunia untuk pasangan yang bahagia. Kita bisa menghabiskan waktu kita berdua di sana selama 2 minggu di sana" ucap Edward.
"Bagaimana dengan kuliahku sayang?" tanya Lily.
"Kamu bisa kuliah online sayang. Kampus kamu memiliki sistem dua cara pengajaran. Sistem online dan kuliah tatap muka langsung" jawab Edward.
"Besok siang. Aku akan mengurus semua keberangkatan kita" ucap Edward.
"Kalau begitu sekarang kita harus tidur sayang. Supaya besok kita tidak kesiangan" ucap Lily.
"Pasti kesiangan karena kamu malam ini harus melakukan tugas malammu sayang" Edward tersenyum devil.
"Masih saja kepikiran hal seperti itu. Menyebalkan" Liky meninju dada Edward pelan.
"Pakai lingeri yang aku belikan sayang. Kamu sudah lama tidak memakainya" Edward menarik choco chip Lily.
"Aaaahhh ... Sakit sayang. Kencang sekali kamu menariknya" Lily memegangi dadanya.
"Aku gemas sekali sayang. Ingin cepat-cepat menyentuhnya" ucap Edward.
"Setiap hari kamu juga selalu menyentuh dan meremasnya. Apa masih kurang?" Lily mencebik.
"Aku ingin sekali mengeksekusimu nanti saat di Maldive sayang. Aku ingin melihatmu benar-benar tidak bisa turun dari ranjang"ucap Edward sedikit tersenyum.
__ADS_1
"Kalau itu bisa membuatmu tersenyum seperti itu. Aku mau melakukannya untukmu sayang. Aku lebih suka kamu tersenyum" Lily menarik bibir Edward seperti tersenyum.
"Kamu ingin melihatku selalu tersenyum?" tanya Edward.
"Tentu saja. Wajahmu lebih tampan kalau tersenyum. Tapi kalau kamu marah sangat menyeramkan" ucap Lily.
"Kalau kamu ingin selalu melihat aku tersenyum. Kalau begitu, kamu harus pakai lingeri yang aku belikan setiap malam. Saat kita berdua seperti ini" ucap Edward memeluk Lily dari belakang dengan posisi duduk.
"Itu maunya kamu sayang" Lily mencolek hidung Edward yang dagunya berada di pundaknya.
"Heheheeee" Edward terkekeh.
"Kalau kamu tertawa seperti itu. Aku lebih suka sayang" ucap Lily.
"Kalau diatas tempat tidur suka tidak?" Edward menggoda Lily.
"Ih kamu itu bicara apa sih sayang. Aku bicara aku suka kamu tertawa malah ujung-ujungnya ketempat tidur" Lily menapuk tangan Edward yang melingkar di perutnya.
"Suka tidak?" Edward meremas Squishy.
Shhhhhh eeeeemmm. Lily mengigit bibir bawahnya. Tangannya memegang tangan Edward yang masih melingkar di perutnya.
"Kamu belum menjawabnya sayang" Bisik Edward di telinga Lily.
Eeeemmmm aahhhh "su-sukaa" aaaahhhhh.
Sayang pelan-pelan aaaaahhhh Lily merancau.
Aaaaahhhhhhhh Lily nggos-nggosan saat mendapat pelepasan.
Edward membersihkan jarinya dengan tisu. Lily masih lemas bersandar di dadanya.
Edward mengendong Lily ke dalam kamar. Seperti biasa Edward tidak mau kalau cuma Lily yang puas. Edward juga menginginkannya.
Setelah sekitar 2 jam tanpa henti. Dan mendapat beberapa kali pelepasan. Lily menyerah, dia sudah tidak kuat, kakinya gemetar dan badannya sudah tidak punya tenaga. Suaranya juga sudah seperti kodok, serak.
Edward memeluk Lily didalam dekapannya. Mereka akhirnya tidur tanpa membersihkan diri, karena sudah terlalu capek Lily langsung tidur.
Mereka berdua tidur di bawah selimut yang sama tanpa tertutupi sehelai benangpun yang melekat di tubuh mereka. Kecuali selimut yang menutupi tubuh mereka.
*Untuk Readers setia CINTA UNTUK LILY. Saya mengucapkan terima kasih banyak, telah membaca sampai di BAB ini. Saya usahakan setiap hari update 2 bab, tapi mohon maaf kalau ada 1 sampai 2 hari tidak muncul update di buku saya, itu di karena proses reviewnya lama.
__ADS_1
Saya mencoba update bab selanjutnya, tapi tidak bisa. Harus menunggu bab sebelumnya lolos review dulu. Saya mohon pengertiannya dan semoga readers masih tetap setia membaca CINTA UNTUK LILY sampai tamat. Terima kasih🙏
To be continue ....