
"Sebenarnya ada apa dengan Tuan Edward. Sikapnya mendadak berubah pagi ini. Tuan Edward juga tidak berbicara denganku" Leon berbicara sendiri di ruang kerjanya.
"Biarkan saja seperti itu. Nanti pasti Tuan Edward, akan bicara denganku lagi. Tuan Edward seperti orang patah hati" Leon memutar-mutar kursinya. Dia tidak menemukan jawaban perubahan sikap Edward.
tok ... tok ... tok ...
"Masuk" ucap Edward dari dalam ruangan.
"Tuan" ucap Lily.
"Heeeemmm" jawab Edward singkat.
Edward menatap lurus ke arah layar laptopnya. Edward hanya diam. Dia sama sekali tidak bergeming.
Lily sedikit takut untuk bicara. Dia takut kalau Edward akan tambah marah. Melihat muka Edward dingin seperti itu membuat Lily, takut memulai pembicaraan.
"Tuan, saya bawakan obat Tuan Edward yang ketinggalan. Tuan juga belum minum obat pagi ini" Lily mencoba berbicara sehalus mungkin. Supaya Edward tidak marah.
"Saya tidak sakit. Jadi saya tidak perlu minum obat" ucap Edward dengan nada dingin.
"Ta-tapi tuan. Tolong di minum obatnya, nanti Pak Leon marah sama saya, karena tidak bisa menjaga Tuan Edward" Lily berbicara penuh kehati-hatian.
"Kalau kamu takut dimarahi Leon, suruh Leon yang minum obatnya, bukan saya" ucap Edward sedikit menyentil hati Lily.
"Bu-bukan begitu Tuan. Maksud sa-"
"Stop!! Keluar dari ruangan saya. Kamu sudah tidak perlu lagi datang ke Apartemen saya. Kemasi semua barang-barang kamu" Edward menatap dingin Lily.
Kecemburuan Edward membuat dia tidakbisa berpikir jernih. Edward mengambil keputusan saat emosi menguasai dia.
"Tu-tuan apa salah saya? Maafkan sa-saya kalau saya berbuat salah selama ini. Tapi saya mohon, jangan pecat sa-saya Tuan" Lily menangkupkan kedua tangannya kedepan, matanya sudah berkaca-kaca.
"Saya mohon Tuan Edward, saya butuh pekerjaan ini. Untuk biasa kuliah dan makan sehari-hari" Lily bersujud di lantai.
Bertepatan dengan itu. Leon masuk ke ruangan Edward untuk membahas kerja sama dengan perusahaan Peter.
"Lily apa yang kamu lakukan? ayo bangun" Leon mengangkat badan Lily supaya berdiri.
"Tidak Pak Leon, saya tidak akan berdiri sebelum Tuan Edward membatalkan pemecatan saya" ucap Lily disela isak tangisannya.
Edward menatap dingin kearah Lily dan Leon. Edward tidak bergeming sama sekali. Sebenarnya Edward ingin sekali memeluk Lily seperti waktu itu, tapi dia sadar bukan dia yang dibutuhkan Lily melainkan Leon.
"Tuan, apa yang sebenarnya terjadi? kenapa kamu memecat Lily?" tanya Leon.
__ADS_1
Lily masih duduk dilantai dengan menangis. Karena dia tidak mau dipecat.
"Saya tidak memecat Lily. Saya cuma bilang, mulai dari sekarang Lily tidak perlu kerja mengurus saya. Saya hanya menyuruh dia untuk mengemasi barang-barang yang ada di apartemen saya. Hanya itu yang aku katakan kepada Lily" Edward berbicara dengan nada dingin. Pandangannya mengarah ke laptop.
"Itu sama saja tuan sudah memecat Lily. Kalau Lily tidak lagi mengurus tuan, terus Lily kerja apa tuan?" Leon binggung dengan sikap Edward.
"Dia bisa kerja seperti dulu, pertama kali masuk di perusahaan ini. Atau kamu mau, kamu bisa memberi dia pekerjaan yang lebih bagus, Leon" Edward masih menatap layar laptop.
"Lily kamu masuklah ke ruangan saya, nanti kita bicara setelah saya bicara dengan Tuan Edward" Leon membantu Lily berdiri.
"Tu-tuan, ma hikss hiks maafkan sa-saya" Lily menangis tersedu-sedu.
"Sudah Lily, sekarang pergilah keruangan saya" Leon membukakan pintu untuk Lily.
'Ciiihh malas sekali aku melihat drama mereka' batin Edward.
Leon menutup pintu. Lalu berdiri didepan Edward.
"Kali ini aku akan bicara sebagai sahabat bukan sebagai partner kerja, Edward" Leon berbicara serius di depan Edward.
"Kenapa?" Edward menatap dingin kepada Leon.
"Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa sikapmu seperti anak kecil Edward? Lily masih muda. Dia masih kecil belum tahu kejahatan dunia terhadapnya" Leon mencoba bersikap bijaksana.
"Urusanku dengan Lily, tidak ada urusannya denganmu, Leon. Jangan ikut campur" Edward masih bernada dingin.
"Sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk berbicara denganmu soal Mr. Smith. Kita akan bahas disaat hatimu sudah mulai tenang" ucap Leon.
Leon lalu pergi, sebelum pergi Leon mengingatkan Edward supaya minum obat yang di bawa Lily.
"Breng sek" Edward membuang dokumen-dokumen yang ada di mejanya. Dia mengacak-acak rambutnya dan menatap langit-langit ruangannya.
Pikirannya menerawang jauh. Dia tidak fokus bekerja. Edward mengambil kunci mobil dan keluar ruangan.
***
Sementara di ruangan Leon, Lily menangis terisak. Dia tidak tahu kesalahannya apa, sampai membuat Edward marah besar kepadanya.
"Lily ceritakan kepadaku, apa sebenarnya yang terjadi. Kenapa Tuan Edward sangat marah kepadamu?" tanya Leon.
"Saya tidak tahu pak. Saat saya membawa obat keruangan Tuan Edward, Tuan Edward hanya diam. Terus saya mengingatkan Tuan Edward untuk minum obat, Tuan Edward langsung marah. Tuan Edward menyuruh saya mengemasi barang-barang saya. Tuan Edward juga bilang kalau saya sudah tidak perlu lagi mengurus Tuan Edward" Lily menjelaskan semua dengan menangis tersedu-sedu.
"Saya mengerti, sekarang berhentilah menangis. Tetaplah disini jangan kemana-mana" Leon menghapus air mata Lily.
__ADS_1
Leon lalu duduk di kursi mejanya. Meninggalkan Lily yang duduk di sofa sedang minum air putih.
'Sepertinya kemarahan Tuan Edward bukan karena cemburu. Sebenarnya Tuan Edward marah karena apa?' Leon membatin.
"Lily saya harus bertemu dengan klien. Kamu tidak apa-apa saya tinggal?" Leon duduk di samping Lily.
"Iya Pak Leon. Saya tidak apa-apa" ucap Lily.
Leon lalu pergi meninggalkan Lily di ruangannya.
"Kim kamu sudah memberi tahu Leon kalau ada pertemuan dengan klien?" Leon bertanya kepada Kimberly, sekretaris Edward.
"Tuan Edward tadi pergi pak. Tapi Tuan Edward tidak memberi tahu saya, kemana Tuan Edward pergi" jawab Kimberly.
"Ya sudah, nanti saya yang akan memberitahu Tuan Edward" Leon lalu pergi dari hadapan Kimberly.
Sedangkan Lily masih berpikir mencari-cari kesalahan apa yang sebenarnya dia lakukan sampai Edward marah seperti itu.
"Aku harus bagaimana sekarang? Apa yang harus aku lakukan agar Tuan Edward tidak marah lagi. Tuan Edward sudah baik sama Aku, mau menerima aku bekerja tanpa ijasah dan mengizinkan aku untuk kuliah" gumam Lily.
"Aku harus minta maaf dengan Tuan Edward, Mungkin aku berbuat salah tapi aku tidak sadar. Sekarang aku harus menunggu di ruangan Tuan Edward. Pak Leon pergi bertemu klien berarti Tuan Edward bersama dengan Pak Leon" Lily keluar ruangan Leon.
Cekleekkk
Lily membolakan matanya, melihat ruangan Edward berantakan seperti kapal pecah. Kertas bertebaran di lantai.
"Ada apa ini, kenapa ruangan Tuan Edward berantakan seperti ini. Aku akan membersihkannya. Supaya nanti saat Tuan Edward kembali sudah bersih"
Lily sedang mengambil kertas-kertas yang tercecer di lantai. Di susun dimeja supaya rapi. Lily memilih satu demi satu, diurutkan sesuai dengan tulisan di map.
Karena kecapekan Lily tertidur duduk di kursi CEO sedangakan tanganyan dijadikan batal di atas meja.
Edward masuk ke ruangannya disaat Lily sedang tidur di kursi kebesarannya. Melihat Ruangan sudah rapi, Edward menuju meja kerjanya.
Edward menatap Lily dengan mata sembab sedang tidur pulas. Edward merapikan rambut Lily yang menutupi wajahnya kebelakang telinga.
"Maafkan aku Lily, bukannya aku kejam kepadamu. tapi aku tidak bisa melihatmu terus saat bersamaku, sedangkan hatimu untuk orang lain. Bahagialah Lily, pilihanmu sudah tepat. Leon orang yang baik. Dia tidak akan menyakitimu, Leon akan menjagamu. Aku akan segera mengembalikan hak kamu. Setelah itu kamu kamu tidak perlu lagi soal pekerjaan dan uang" Edward mencium kening Lily.
Edward lalu keluar ruangan. Dia tidak akan bisa mengendalikan perasaannya saat terus bersama Lily, sedangkan di tahu kalau dia bukan pilihan Lily.
Saat kita mencintai seseorang tapi kita bukan pilihannya, jalan terbaik adalah kita harus mundur dan merelakan orang yang kita cintai bahagia dengan pilihannya.
__ADS_1
To be continue ....
...----------------...