
Sepanjang jalan Lily menangis. Dia sudah mencoba untuk menahan air matanya supaya tidak jatuh. Tapi ternyata sangat sulit, berkali-kali Lily menghapus air mata yang jatuh di pipi mulusnya tersebut.
"Jangan menangis Lily. Jangan menangis!" Lily mengucapkan mantra untuk dirinya sendiri, supaya tidak sedih dan menangis.
Setelah sampai di Apartemen. Lily masuk kamar, dia ingin melepaskan kesedihannya dengan tidur. Lily berharap setelah bangun tidur bisa kembali normal seperti biasa.
Karena kecapekan, Lily akhirnya tertidur. Lily bermimpi bertemu dengan kedua orang tuanya. "Lily, jangan menangis nak. Lily harus kuat sayang" Mama Lily mengusap rambut Lily di dalam pelukannya.
"Mama. Jangan meninggalkan Lily. Lily tidak punya siapa-siapa lagi. Lily sendirian Mama Papa" Lily menangis tersedu-sedu.
"Kamu tidak sendirian Lily. Mama sama Papa selalu bersama Lily, selalu menemani Lily" Papa Lily mencium pucuk kepala Lily yang berada di dalam dekapan sang Mama.
"Kalian jangan pergi lagi. Lily janji, Lily tidak akan nakal dan Lily akan menjadi anak yang baik. huhuuuhuuuu..." Lily tidak henti-hentinya menangis.
Tiba-tiba muncul cahaya putih yang sangat menyilaukan mata berbentuk anak tangga menjulang tinggi.
"Lily sayang, Mama Papa harus pergi. Sudah saatnya kita kembali sayang. Lily jaga diri baik-baik. Jangan menangis lagi ya. Papa sama Mama selalu bersama Lily" Mama dan Papa Lily memeluk erat Lily.
"Mama ... Papa jangan tinggalkan Lily sendiri. Lily tidak punya siapa-siapa lagi. Mamaaaaaa ... Papaaaaaa ... hikss hikss, jangan pergi huhuuu ..." Lily menangis.
Mama dan Papa Lily sudah menghilang dari mimpi Lily. "Mama ... Papa" Lily bangun dari tidur. Lily menangis terisak karena rindu dengan kedua orang tuanya.
Lily di peluk tangan kokoh yang selalu menggodanya. Edward masuk ke kamar Lily, sejak Lily menangis memanggil kedua orang tuanya.
Flashback On
"Kenapa gelap sekali. Kemana Lily? Apa dia belum pulang? ini sudah jam 6 sore" Edward berjalan ke arah kamarnya. Saat melewati depan kamar Lily, Edward mendengar suara tangisan.
__ADS_1
Edward mendekat. Lalu mendekatkan telinganya di pintu kamar Lily. "Lily ... Lily kamu kenapa?" Edward mengetuk pintu Lily. Tapi Lily tidak menjawab panggilan Edward.
Edward kembali mengetuk pintu tapi tetap tidak ada jawaban. Akhirnya Edward masuk kamar Lily. Edward terkejut saat Lily menangis dalam tidurnya. Air matanya keluar dari matanya.
Bahkan isakan tangis Lily saat menyebut kedua orang tuanya, terdengar sangat jelas. Edward melihat ada kesedihan yang mendalam yang dirasakan Lily saat menangis.
Edward tidak berani membangunkan Lily. Dia hanya duduk di pinggiran ranjang. Sampai akhirnya Lily terbangun dan Edaward memeluknya.
Flashback Off
Lily belum sadar kalau yang memeluk dirinya adalah Edward. Lily tidak membalas peluka Edward karena Lily masih sedih dengan mimpinya.
"Lily" Edward memanggil Lily yang ada di dalam pelukannya. Lily lalu mendonggakkan kepalanya. "Tuan Edward" Lily melepas pelukan Edward. "Maaf Tuan. Ini jam berapa? saya belum masak Tuan" Lily terkejut karena Edward sudah pulang. Dia lalu bergegas turun dari ranjang.
"Lily" Edward memanggil Lily sedikit lembut, Lily gugup Kerena belum masak makan malam. Dia bahkan tidak menghiraukan panggilan Edward. Saat Lily akan keluar kamar. Edward memanggil Lily lagi.
"Lilyy" Suara Edward sedikit meninggi. Lily seketika berhenti. Edward berdiri dari pinggiran ranjang. dan menghampiri Lily.
"Ada apa?heemm" Edward jongkok di depan Lily, tanganya berada diatas ranjang mengapit tubuh Lily.
Lily hanya menunduk dan tiba-tiba air matanya menetes. Lily mengusap air matanya dengan punggung tanganya.
Melihat kesedihan Lily Edward lalu berdilri dan memeluk Lily. 'Apa ini ada hubungannya dengan kedua orang tuanya?' batin Edward.
"Berbaringlah. Saya akan pesan makanan dulu. Apa kamu ingin sesuatu?" tanya Edward. Lily hanya mengeleng. Edward membaringkan Lily di ranjang, setelah itu dia keluar mengambil ponselnya di meja luar untuk memesan makanan.
Setelah selesai memesan makanan, Edward kembali ke kamar Lily. Dia merebahkan badannya di samping Lily dan memeluknya dari belakang. Edward ingin menjadi orang pertama, saat Lily membutuhkan bantuan bukan orang lain.
Semarah apapun Edward kepada Lily, Edward tidak bisa mengabaikan Lily, saat sedih dan terluka. Edward tiba-tiba saja melupakan kekesalannya kepada Lily, gara-gara tadi pagi Lily bertanya luka Leon.
__ADS_1
Lily tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Dia senang saat Edward memeluknya dan bersama dia sekarang. Tapi disisi lain, ada perempuan lain yang harus Lily jaga perasaannya. Dia tidak ingin hubungan Edward dan kekasihnya hancur gara-gara dia. Itu yang ada di pikiran Lily.
Lily melepas pelukan Edward. "Mau kemana?" tanya Edward. "Mau ke kamar mandi Tuan" Jawab Lily. Lily masuk ke kamar mandi. Lily menangis di bawah Shower. Dia tidak ingin merasakan jatuh cinta. Kalau ternyata semennyakitkan ini.
"Tuhan, kenapa aku harus jatuh cinta kepada Tuan Edward, KENAPA TUHAN?" Lily menangis terisak. "Cabut perasaanku ini untuk Tuan Edward Tuhan. Kenapa aku sendirian Tuhan. Kenapa tidak ada yang mencintaiku, KENAPA?" huhuhuuuhuuuu.
Lily terus saja menangis. Dia selalu merasa tidak ada yang menyayanginya. Bahkan sang paman yang sudah dianggap sebagai pengganti orang orang tuanya sendiri, menganggap Lily hanya sebagai beban dihidupnya.
Edward sedang mempersiapkan makan malam mereka di meja makan. Edward juga sudah mandi dan ganti pakaian santai. Tapi Lily belum keluar kamar juga.
Hampir 2 jam Lily di kamar mandi. Edward yang menunggu di kamar Lily jadi panik. Lily tidak pernah selama ini di kamar mandi. Akhirnya Edward mengedor pintu kamar mandi tapi tidak ada jawaban.
"LILY BUKA PINTUNYA!! LILY" Edward semakin panik. Mencoba membuka pintu kamar mandi, ternyata tidak dikunci. Edward panik saat Lily tergeletak di bawah shower.
Edward langsung mengendong Lily ke atas ranjang. Edward sudah tidak peduli lagi dengan apapun sekarang. Edward mencari baju hangat untuk Lily, di dalam almari. Alangkah terkejutnya Edward melihat baju-baju lusuh Lily.
Dia pikir baju yang selama ini di pakai dan dilihat Edward hanya dipakai di rumah. Ternyata hanya baju itu yang Lily punya. Bahkan baju hangat saja sudah tidak layak pakai.
Edward lalu menutup kembali almari pakaian Lily. Dia mengambil baju hangat mililiknya. Dia membuka seluruh pakaian Lily yang basah karena terkena air.
Kali ini Edward tidak menutup mata. Dia sedang kalut, jadi tidak pedulikan hal-hal semacam itu. yang penting Lily bisa ganti baju dan tidak kedinginan.
Setelah ganti baju Lily diselimuti dengan Selimut tebal. Edward juga memeluk Lily dari samping. Edward mentransfer energi panas ketubuh Lily.
Diam adalah cara terbaik buat menutupi segalanya. Walaupun sebenarnya saat diam kita merasakan hancur hati yang sesungguhnya.
__ADS_1
To be continue ...