Cinta Untuk Tuan

Cinta Untuk Tuan
49 part 1


__ADS_3

...Dilarang plagiat, menjiplak, atau pun mengcopy karya ini!!!!!...


...Happy reading🍃....


Denara menatap ke arah kanan dan kiri sambil menaruh pesanan di meja makan. Ternyata hal itu tidak terlepas dari pandangan Lili yang sejak tadi memperhatikannya.


Denara kembali ke meja dan Lili yang melihat itu segera saja menghampirinya.


''Denara, kamu mau jadi mata-mata??''


''Hah??''


''Sejak tadi aku memperhatikan kamu loh.... Yang tadi cuman lihat kanan sama lihat kiri.'' Papar Lili.


Denara lalu menarik tangan Lili dan mengajaknya pergi ke belakang. Setelah itu, barulah Denara bicara.


''Lili kamu ngerasa ada yang memperhatikan aku gak??'' Tanya Denara.


Membuat Lili yang mendengarnya mengerutkan dahinya. Spontan saja, Lili menggeleng.


''Enggak, emang siapa yang memperhatikan kamu??''


''Aku juga gak tahu siapa, tapi aku bener-bener merasa ada yang memperhatikan aku akhir-akhir ini.''


''Mungkin bener apa yang kamu bilang.'' Kata Lili, srtelah mengingat-ingat kembali.


Beberapa hari yang lalu, memang ada orang yang mencari Denara dan menanyakan alamatnya. Tapi Lili tidak befitu daja percaya, Lili hanya bilang pada oramg itu, jika dia tidak tahu. Dan juga dirinya cukup baru mengenal Denara.


''Kan bener, orang yang nanya itu laki-laki??''


Lili mengangguk.


''Pakai masker??''


Lili mengangguk lagi.


''Pake topi juga??''


Lili kembali mengangguk.


Denara benar-benar harus hati-hati. Dirinya tidak menyangka, jika benar-benar ada yang mengawasi atau lebih tepatnya ada yang menguntit dirinya.


''Kamu harus hati-hati Denara.'' Ucap Lili.


......................


Ares harus menjemput Jesi di salah satu mall ternama, ini bukanlah kemauan Ares. Tetapi ini adalah perintah Mamanya yang menyuruhnya untuk melakukan itu.


Jujur saja Ares cukup menjaga jarak dengan orang tuanya, sejak kejadian itu, tapi walau pun begitu. Ares tetap tidak lupa, jika berbakti pada orang tua itu penting. Terlepas bagaimana masalah yang terjadi di antara orang tuanya.


''Kamu dateng, aku seneng banget.'' Setelah itu, Jesi ingin memeluknya dan Ares spontan saja menghindarinya.

__ADS_1


''Jangan berpikir aku yang menginginkannya, karena itu adalah hal yang paling mustahil bagiku.'' Ares menekankan dengan tegas, semua kata-kata yang dirinya ucapkan pada Jesi.


Senyum di wajah Jesi seketika luntur, benar Ares tidak akan melakukan hal ini atas kemauannya. Tetapi ini semua di lakukan oleh orang tuanya yang pasti menyuruh Ares melakukannya.


''Tidak bisakan berbohong untuk ke bahagiaanku sedikit saja??''


Kata-kata Jesi, membuat Ares tersenyum menyeringai. Apa Jesi seegois ini?? Sungguh Ares benar-benar muak dengan semua yang terjadi padanya.


''Kau terlalu egois memikirkan dirimu sendiri.... Apa kau pernah berpikir tentang orang-orang yang telah kau sakiti??''


Jesi diam, Ares benar-benar tahu bagaimana melawannya. Ares benar-benar bisa membuatnya diam dan bungkam secara bersamaan.


''Jadi jangan minta orang lain untuk memikirkanmu, jika kau sendiri tidak pernah memikirkan orang lain.''


Ares lalu berjalan kembali ke mobilnya dan menatap Jesi yang masih berdiri di sana.


......................


''Perlakuanmu padaku, aku akan benar-benar membalasnya.'' Mengengam erat foto yang ada di tangannya.


''Aku benar-benar tidak tahan lagi,'' Dia mulai berdiri dan berjalan ke arah kamarnya untuk mengambil ponsel miliknya.


Setelah itu, dia menelpon seseorang.


''Aku ingin mengetahui alamatanya dengan segera. Karena aku benar-benar muak sekarang.''


Setelah mendapatkan apa yang dirinya inginkan, dia langsung bergegas pergi dan berjalan keluar rumah tak lupa kunci mobil yang berada di tangannya.


''Aku akan membalaskan semuanya, lihat saja.''


......................


Dua kantong yang sudah terisi sampah, langsung saja Denara lempar ke tempat sampah yang berada di depannya saat ini.


''Menemukamu ternyata mudah, kau sungguh tidak pandai bersembunyi.''


Denara sangat mengenali suara ini, dengan perlahan Denara berbalik menatap ke arah irang yang saat ini berada di belakangnya.


''Aku benar-benar membencimu...'' Kata-kata yang di ucapkan, setelah Denara berbalik menatapnya.


......................


''Ares, kenapa kamu tinggalkan Jesi sendirian!!!'' Marah Mamanya yang saat ini mendatangi kantornya.


''Mah, aku sedang bekerja.'' Jawab Ares.


''Kamu lebih milih bekerja dari pada Mama, iya??''


Ares lalu menatap Mamanya yang saat ini duduk di depannya.


''Mah, Jesi sendiri yang tidak mau pergi bersama Ares.''

__ADS_1


Bu Eni tentu saja tidak percaya begitu saja, dia hafal betul. Bagaimnaa Ares memperlakukan orang yang tidak di sukainya terlebih lagi orang seperti Jesi.


''Mama hafal betul bagaimana kamu Ares, jadi jangan buat Mama marah.'''


Ares benar-benar heran, kenapa Mamanya bersikeras sekali dengan perjodohan ini. Sebenarnya apa yang di lakukan oleh Jesi, hingga orang tuanya begitu menuntut dirinya.


''Ma, ada apa sebenarnya dengan Mama?? Ares benar-benar tidak mau bersama dengannya, kenapa Mama masih memaksa??''


''Mama hanya ingin yang terbaik untukmu.''


''Mama sama sekali tidak tahu, Ares benar-bebar tidak menyukai Jesi.''


Bu Eni mulai berdiri sambil membawa tasnya.


''Sudah cukup bicaranya, Mama akan pergi.''


''Mama, Ares belum selesai.''


''Mama yang sudah selesai urusannya denganmu.''


......................


''Kenapa, bukanya kamu sudah mendapatkan semuanya??''


Dia tersenyum manis mendengar itu, berselang beberapa menit. Senyum yang terhias di wajahnya perlahan-lahan hilang dan berganti dengan senyum sinis.


''Ya aku sudah mendalatkan semuanya, tapi aku sangat tidak puas dengan itu.''


''Kenapa?? Apalagi yang kamu inginkan sekarang??''


Dia mulai melangkah dengan perlahan, lalu mendorong orang yang ada di depannya dengan kasar, tapi untung saja orang yang mendorongnya bisa menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.


''Aku belum puas, jika tidak menghancurkanmu dengan sehancur-hancurnya.''


''Kamu pasti tahu, bagaimana jika sampai orang tuanya tahu. Jika kamu masih berada di kota kecil yang jaraknya sangat dekat dari kota besar. Apa yang terjadi.''


''Jangan.. Jangan beritahu, aku sudah benar-benar tidak ada urusan lagi dengan kalian. Tapi kenapa kamu selalu saja mengusikku.''


''Karena kamu memang harus di perlakukan seperti ini.''


Denara sudah mulai habis ke sabarannya, dengan kepala yang tegap dan menatap balik orang yabg ada di hadapannya saat ini.


''Jika anda melakukan hal-hal yang anda pikirkan saat ini. Saya akan mengancam anda dengan mengadukan semua hal yang anda lakukan termasuk, penguntit yang anda tugaskan untuk mengawasi saya.'' Denara mulai berbicara formal.


''Laporkan saja, kamu pikir saya tidak mampu membayar agar bisa bebas.''


''Jika begitu, bagaimana jadinya. Jika percakapan ini saya sebar luaskan ke seluruh media massa dan juga media sosial.''


Orang itu mulai melihat ponsel yang ada di gengaman Denara yang berisikan percakapan seseorang. Percakapan pengakuan yang di lakukan oleh orang suruhannya pada Denara. Dan orang itu, cukup jelaa menyebutkan namanya.


''Bagaimana??'' Tanya Denara dengan berani.

__ADS_1


...Bersambung.......


''


__ADS_2