Cinta Untuk Tuan

Cinta Untuk Tuan
31 part 1


__ADS_3

...Di larang memplagiat, menjiplak, atau pun mengcopy karya ini!!!...


...Happy Reading....


Denara melihat Tian yang berbaring di atas ranjang dengan wajah yang pucat, Tania datang sembari membawa bubur serta obat yang telah di siapkan oleh Denara. Tania lalu membangunkan Tian dengan mengguncang bahunya pelan.


“Eghh... Tania,” Ucap Tian yang telah membuka matanya.


Tian lalu melihat ke arah Denara yang duduk di kursi yang ada di kamarnya.


“Tian, makanlah bubur ini.” Mengambil mangkuk yang ada di nampan yang di taruh di atas meja.


“Aku tak lapar.” Tolak Tian.


“Kak Denara sebaiknya suapi saja Bang Tian,” usul Tania.


“T-tapi...”


“Ayolah Kak, apakah Kakak tidak kasihan melihat Bang Tian yang sejak tadi belum makan sama sekali.” Ucap Tania dengan sedih.


Membuat Denara yang melihatnya tak tega, lalu Denara mulai mendekat ke arah Tian sembari membawa mangkuk berisi bubur. Denara mulai menyodorkan sendok ke pada Tian. Membuat Tian mulai membuka mulutnya, dan menerima suapan yang di lakukan Denara padanya.


Sementara Tania hanya tersenyum-senyum melihat ke arah Denara dan Tian, hingga terlintas satu ide di kepalanya untuk mengabadikan momen ini. Tania mulai mengambil ponselnya dan mengarahkan kepada Tian dan Denara yang sedang bersuap-suapan.


‘Berasa nonton drakor,’ batin Tania.


Dengan iseng, Tania mulai melakukan aksinya. Foto yang dia ambil tadi, kini mulai di posting ke salah satu akun sosial media yang dia miliki.


......................


Ares sejak tadi mulai gelisah, melihat jam yang menunjukkan pukul 5 sore. Zion yang melihat itu, mulai risih dengan tingkah Ares.


“Om kenapa sih??” Tanya Zion yang mulai mengalihkan pandangannya dari ponsel.


“Kenapa apanya??” Tanya Ares balik.


Membuat Zion jengah sendiri mendengarnya.


“Kok tanya balik sih Om, orang Zion dulu yang tanya...”


“Suka-suka Om dong.” Jawab Ares.


Menyesal Zion bertanya pada Ares, lebih baik Zion diam saja dan fokus bermain ponsel saja. Zion mulai membuka satu aplikasi yang sedang di cari saat ini. Beberapa kali jarinya bergerak hingga tanpa sengaja ada satu foto yang membuat Zion bersuara.


“Om, bukannya Kak Dena bilang akan pergi bertemu dengan seseorang??” Tanya Zion dengan pandangannya masih fokus pada ponselnya.


“Tentu, kenapa bertanya.” Balas Ares.


''Apakah seseorang itu, pacarnya??'' Tanya Zion lagi.


''Bukan, mana mungkin Denara berpacaran dengan perempuan.'' Jawab Ares.


''Sungguh, tapi kenapa ini laki-laki.'' Tunjuk Zion pada Ares.


Ares lalu melihat ponsel yang Zion berikan padamya, mata Ares langsung terbelalak seketika saat menatap layar ponsel Zion. Di sana ada dua orang yang sedang bersuap-suapan.


Tangan Ares mulai menggepal, pertanda marah. Ponsel yang berada di tangannya kini mulai terhempas ke bawah. Akibat emosi yang menumpuk.


''OM....'' Teriak Zion, saat melihat ponselnya yang di banting oleh Ares.


''Nanti Om ganti yang lebih mahal,'' ucap Ares datar, lalu mulai beranjak pergi ke kamar.


......................

__ADS_1


Tian dan Denara sedang duduk di depan teras rumah Tian, sebenarnya Denara sudah melarang Tian untuk keluar rumah. Terlebih lagi kondisinya yang sedang sakit.


''Nah, ini minum buat Kak Denara.'' Tania datang sembari membawa jus serta camilan ringan dan menaruhnya di atas meja.


''Seharusnya tak usah repot-repot Tania.'' Ucap Denara.


''Enggak kok Kak, malahan kita yang repotin Kakak.'' Jawab Denara.


''Benar yang di katakan oleh Tania, Nara. Aku yang malah tak enak padamu.'' Tambah Tian.


Denara hanya tersenyum, lalu mulai meminum jus yang telah di sediakan oleh Tania untuknya. Tania lalu menatap ke arah Tian sembari mengedipkan salah satu matanya dan berkata tanpa suara.


'Berhasil.' Ucap Tania pada Tian.


Tian hanya mengangguk dengan senyum, sembari memberi tanda jempol pada Tania.


Tringg...


Tringgg....


Ponsel Denara berbunyi, membuat Denara terhenti meminum jus. Tania dan Tian kini mulai menatap ke arah Denara yang tengah mengangkat telponnya.


'Tuan Pengacara.'


Nama yang tertera di layar ponsel miliknya.


'Ada apa Tuan menelponnya??' Batin Denara.


''Halo,'' Ucap Denara.


''Di mana kau???'' Tanya Ares dengan suara yang dingin serta terkesan marah.


''Di rumah temanku, Tuan.'' Jawab Denara, bahkan sekarang perasaannya mulai tak enak.


''Sudah Tuan.''


''Pulang, sekarang.''


''Ba----''


Sambungan telpon terputus. Tian yang merasa ada yang tak beres pun, mulai bertanya.


''I-iya, aku harus segera pulang.'' Jawab Denara.


''Apakah itu, Bos Kak Denara??'' Tanya Tania.


''Iya, aku harus pulang sekarang. Tian, Tania, aku pamit.'' Denara yang kini mulao berdiri dari duduknya.


''Perlu ku antar???'' Tawar Tian.


Denara menggeleng, lalu berkata. ''Tak perlu, aku akan pulang dengan ojek saja. Assalamualaikum.'' Pamit Denara.


''Wa'alaikumsalam.'' Jawab Tian dan Tania kompak.


......................


Ares berada di dalam kamarnya, sambil menatap ponsel, yang tadi Ares gunakan untuk menelpon Denara. Ares mulai keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah teras rumahnya.


Ares berdiri di depan pintu rumahnya, sambil melihat ke arah gerbang rumahnya.


'Kau berbohong,' batin Ares.


......................

__ADS_1


Zion sedang berada di kamar tamu, sembari menatap ponselnya yang mati akibat bantingan keras yang di lalukan Ares.


Menyesal yang di rasakan Zion, karena menunjukkan foto itu pada Ares. Jika tahu begini, Zion tak akan pernah melakukan hal itu.


''Tapi, siapa laki-laki itu.'' Ujar Zion, saat mengingat hal itu.


''Apakah orang itu, benar pacar Kak Dena.'' Ucapnya lesu.


Zion mulai mengotak-atik ponselnya yabg telah mati, berharap menyala kembali. Tapi hasilnya tetap saja tak berubah, ponselnya masih tetap mati.


''Kau harus mengantinya mahal, Om.'' Geram Zion.


......................


''Ngebut, Pak..'' Ucap Denara, menepuk pundak pengemudi ojek.


''Oke, Mbak.'' Jawab Pengemudi itu.


Denara merasa, jika akan terjadi seusatu jika dirinya sampai di rumah. Perasaannya sungguh tak enak, terlebih lagi saat mendengar suara Ares dari telpon.


'Semoga, baik-baik saja.' Batin Denara.


......................


Ares melihat gerbang rumahnya yang tebuka, di sana ada wanita yang sedang berjalan masuk ke dalam. Mata Ares tak lepas menatap orang yang tengah berjalan. Membuat wanita itu gugup saat sudah berdiri persis di depan Ares.


''Tuan, saya sudah pulang.'' Ucap Denara.


Ares masih menatap ke arah Denara dengan lekat, tanpa bersuara sama sekali. Wajah Ares terlihat sangat jelas, jika Ares sedang marah saat ini.


''Kau benar, bertemu dengan temanmu yang bernama Inem??'' Tanya Ares dingin.


''I-iya, Tu-tuan.'' Jawab Denara mulai gugup.


''Kenapa kau terlihat gugup, saat menjawab pertanyaan saya.'' Kata Ares.


''Benar, kau bertemu dengan Inem??'' Tanya Ares lagi.


Denara hanya menunduk sambil memganggukan kepala perlahan.


''Jawab saya dengan benar Denara.'' Ucap Ares tegas.


Denara mulai mendongakkan kepalanya, untuk menatap Ares.


''Iya Tuan,'' jawab Denara pelan.


Ares hanya tersenyum tipis mendengar ucapan yang di dengar oleh Ares.


''Kau berbohong, Denara.'' Jawab Ares dengan penekanan.


Bersambung....


......................


Hola pembaca👋🏻.


Jangan lupa buat berikan vote, like, komen, favorit dan rate 5.


Hal itu akan sangat membantu Dao buat semangat nulis dan upnya🐣.


Ada yang kesel sama part ini😅.


IG : dindao.18

__ADS_1


Sayonara👋🏻.


__ADS_2