
...Dilarang menjiplak, plagiat, atau pun mengcopy karya ini!!!!...
...Happy reading🍃....
Ares baru saja tiba di rumahnya, tapi ada yang aneh. Di sana ada Mamamya serta Zion yang menanggis sambil menutup matanya. Ares sangat yakin ada yang terjadi saat dirinya belum tiba di rumah.
''Mama, kenapa Zion menanggis??''
Ares berjalan mendekat, mendengar suara Ares. Zion dengan cepat berlari ke arah Ares dan memeluknya demgan erat.
Sepertinya Mamanya kaget akan kedatangan Ares. Ares lalu menunduk menatap Zion yang masih menanggis.
''Hiks.... Hiks..... O-Om.... K-Kak... De-Dena....'' Ucapnya terbata-bata.
Ares lalu melepaskan pelukkannya dan menundukkan sedikit badannya agar bisa melihat Zion dengan jelas.
''Kak Dena kenapa Zion??'' Tanya Ares khawatir.
Zion masih menanggis dan menatap Ares dengan sedih, sunggub Ares tidak mengerti demgan situasi yang sedang terjadi saat ini.
''Katakan Zion, biar Om mengerti..'' Memegang bahu Zion.
''K-Kak De-Dena... Pergi... Hiks... Hiks....'' Tangis Zion pecah saat mengatakan hal itu, bahkan wajahnya tampak memerah serta matanya yang sedikit membengkak.
Ares terdiam terpaku dengan apa yang di katakan Zion. Ares benar-benar berharap itu adalah kebohongan yang sering Zion lakukan padanya.
''Kamu bohongkan?? Jangan coba-coba bohongin Om.'' Ujar Ares tidak percaya.
''Z-Zion.. Ti-tidak bo-bohong, hiks... Hiks.... Nenek memecat Kak Dena.''
''Dan setelah itu... Kak Dena pergi dari sini... Hiks... Hiks.. Sambil membawa tasnya.'' Lanjut Zion.
Ares dengan cepat berlari ke arah kamar Denara, saat mencoba membuka pintu kamarnya. Benar saja, pintu kamar Denara tidak terkunci.
Ares menatap ke arah kamar yang tampak rapih, bahkan poster-poster Artis yang bisanya tepajang di sana kini menghilang. Ares melangkahkan kakinya ke arah lemari pakaian Denara.
Dan saat di buka, semuanya kosong tidak bersisa. Ares melangkah kan kakinya ke kamar mandi dan hasilnya nihil, tidak ada tanda-tanda Denara di kamar itu.
Benar, apa yang di katalan Zion. Denara pergi dari rumah ini. Jika saja di lebih cepat sampai di rumah, mungkin saja Ares bisa menahannya dan Denara tidak akan pergi seperti ini.
Ares berlari keluar dari rumah, mungkin saja Denara belum jauh pergi dari sini.
......................
Bu Eni sebenarnya tidak ingin melakukan ini, tapi dia juga tidak menginginkan jika Ares bersanding dengan orang yang sembarangan seperti Denara.
Karena hal itulah, Bu Eni mengambil jalan ini dengan memecat Denara dan menyuruhnya pergi dari rumah Ares.
__ADS_1
''Mau ke mana kamu Ares??''
Bu Eni melihat raut wajah Ares yang tampak sedih serta marah. Ares sepertinya benar-benar kecewa dengan apa yang di lakukan olehnya.
''Aku ingin mencari Denara.''
''Untuk apa?? Dia sudah pergi jauh, lagi pula sebentar lagi kamu akan bertunangan dengan Jesi!!''
Ares yang mendengar itu hanya diam, sebegitu inginkah Mamanya. Hingga melakukan hal seperti padanya dan juga Denara.
''Ares kecewa, atas apa yang Mama lakukan.'' Ares berlari setelah mengatakan hal itu.
''ARES... BERHENTI KAMU, JANGAN COBA-COBA UNTUK MENCARI PEMBANTU ITU.... ARES...'' Teriak Bu Eni memanggil Ares yang sudah berlari menjauh.
......................
Ares sangat yakin, jika Denara belum jauh dari sini. Ares berlari ke sana kemari, melewati jalan-jalan komplek yang mungkin saja di lewati oleh Denara.
''Kamu di mana Denara??''
Ares lalu mengambil ponsel yang selalu berada di sakunya dan menelpon Denara, mungkin saja Denara akan mengangkatnya.
Tapi nihil, nomor Denara tidak aktif sama sekali. Membuat Ares benar-benar tidak tahu lagi harus bagaimana.
......................
Resa mendapatkan kabar dari Zion, jika Denara pergi dari rumah karena di pecat oleh Mamanya. Resa benar-benar tidak percaya, jika Mamanya akan melakukan hal ini.
''Kamu mau ke rumah Ares aja??''
Dion tahu, jika Istrinya ini khawatir dengan keadaan Ares dan juga Denara.
''Aku benar-benar takut, jika Ares akan melakukan hal yang buruk. Aku masih ingat betul saat Ares pergi mabuk-mabukkan hanya karena Clarissa. Dan sekarang Denara meninggalkannya."
''Kita ke rumah Ares saja sekarang, Zia biarkan saja bersama Mama di rumah.'' Ucap Dion.
Kebetulan hari ini orang tua Dion datang berkunjung, jadi mereka bisa menitipkan Zia. Walaupun ada pengasuh, tetap saja mereka tidak percaya sepenuhnya.
Oleh karena itulah Resa dan Dion selalu mengawasi pengasuh mereka saat berinteraksi dengan Zia.
......................
Ares sudah mencari ke setiap jalan komplek, tapi tidak ada Denara di sana. Rasa lelahnya saat ini, benar-benar tidak sebanding dengan rasa sakit, kecewa, amarah. sedih yang mengangga lebar di hatinya.
Ares terduduk di bangku kayu yang ada di salah saru jalam komplek rumahnya, keringatnya mulai bercucuran. Bajunya tampak acak-acakan. Bahkan dasinya sempat hilang, saat Ares berlari memcari Denara tadi.
Ares benar-benar tampak kacau, nafas Ares masih terenggah-enggah karena berlari tadi.
__ADS_1
''Aku terlambat, harusnya aku datang lebih awal dan menahanmu. Jika saja aku ada di sana tadi, mungkin kamu masih berada di sini.'' Guman Ares lirih.
Ares lalu berjalan demgan gontai ke arah rumahnya, Ares bahkan sudah melupakan rasa lelah kakinya yang sejak tadi berjalan serta berlari ke sana kemari.
Ares benar-benar ingat saat malam kemarin Denara berbicang-bicang dengannya setelah Jesi datang ke rumahnya kemarin.
Flashback on.
Ares menatap Denara yang sedang membuatkan kopi untuknya. Denara yang merasa di tatap, akhirnya menoleh ke belakang dan benar saja. Sejak tadi Ares tidak berhenti menatapnya.
''Ada apa??'' Menyerahkan kopinya pada Ares.
''Tidak ada, aku hanya ingin menatapmu saja.''
''Mas...''
''Hmm... Kenapa??''
''Kamu yakin sama hubungan kita...''
Ares memaruh cangkir kopi yang dirinya minum tadi.
''Kamu meragukan aku?? Aku bahkan sangat bersungguh-sungguh.''
Ares lalu memgambil tangan Denara dan menggengamnya.
''Aku tidak akan melepaskanmu. Bisa berjanji satu hal padaku....''
''Apa??''
''Jangan pernah tinggalkan aku, Denara...''
Tapi, Denara tampak diam dan tidak menjawab Ares. Denara hanya tersenyum sambil menatap ke arahnya.
Flashback off.
......................
Jesi senang dengan kabar yang di dapat dari Mama Ares, jika hari ini, Denara baru saja di pecat dari pekerjaannya. Sungguh Jesi senang sekali, sampai senyumnya tidak pernah luntur dari wajahnya.
''Aku sangat senang, karena pembantu kampung itu di pecat.'' Ucapnya memakai kutek pada jari-jemari tangannya.
''Aku benar-benar bahagia, harapanku bersama Ares akan segera terwujud. Karena si pembantu itu sudah tidak ada lagi di dekat Ares.''
Jesi tidak menyangka, jika Papanya sangat pandai membujuk orang tua Ares agar segera mempercepat rencana perjodohan ini. Bahkan tanggal pertunanggannya suda di tentukan.
''Aku menang, Denara.'' Menatap cermin sambil tersenyum.
__ADS_1
...Bersambung......
......................