
...Dilarang menjiplak, plagiat, arau pun mengcopy karya ini!!!...
...Happy reading🍃....
...Typo bertebaran....
Sudah satu minggu Denara berada di rumah sakit, orang tuanya juga sudah berada di rumah sakit sejak 5 hari lalu.
Ares, Tian, Resa dan yang lainnya. Selalu datang untuk menjengguk Denara. Meskipun waktu yang mereka miliki tidak banyak.
Hari ini, Ares menjengguk Denara pada pagi hari. Ared memutuskan untuk libur satu hari. Ares benar-benar merindukan semua yang ada pada Denara.
Sifat konyol, marahnya, kesalnya, malunya saat Ares goda dan hal lainnya. Ares merindukannya.
''Satu minggu telah berlalu, tapi kamu masih saja berbaring di sini.'' Menatap wajah Denara yang tertidur.
''Apakah kamu bermimpi indah, hingga enggan untuk bangun?? Aku rindu padamu. Rindu mendengar suaramu, rindu saat kamu memasak sarapan untuk dan hal-hal kecil yang kamu lakukan untukku.''
''Denara, bangunlah..... Aku sungguh merindukanmu.'' Mata Ares tampak berkaca-kaca.
Ares benar-benar sedih, bagaimana tidak, sudah hampir beberapa bulan mereka tidak bertemu. Tapi saat mereka bertemu karena waktu dan kondisi yang memaksa mereka.
Ares malah melihat Denara dalam kondisi seperti ini.
Laporan mengenai Jesi sudah di proses. Dan hal itu sudah Ares persiapkan agar Jesi tidak bisa lolos. Jesi yang dirinya kenal dulu, kini jauh berbeda.
''Aku akan membuatnya tidak bisa menghirup udara bebas dengan leluasa.'' Menggengam tangan Denara.
......................
''Ra, andai waktu itu aku tetap membujukmu untuk tetap di rumah. Pasti tak akan seperti ini.''
Inem selalu datang pada sore hari, hanya untuk mengobrol bersama Denara. Jujur saja, setelah mendapatkan telpon dari keluarga Denara.
Kaget dan sedih, hal itilah yabg di rasakan oleh Inem saat tahu sahabatnya yang tidak pulang malah mendapatkan kondisi yang memprihatikan seperti ini.
''Ra, kamu masih gak mau bangun.....''
''Ra.... Bangun dong.... Hikss.... Hikss... Denara.....'''
Inem menanggis, mengingat semua hal yang di ceritakan oleh Ares mengenai kejadian yang sebenarnya.
''Jahat banget sih dia nginiin kamu.....''
Cklek....
''Ihhh... Kak Inem cengeng, masa udah gede masih nanggis sih...'' Ejek Nero yang baru saja masuk.
''Eh bocil sembarangan aja kalo ngomong, emang yang nanggis siapa??'' Elak Inem.
''Ra.... Bangun dong.... Hikss.... Hikss... Denara.....''' Tirunya oleh Nero, saat Inem menganggis tadi.
''NEROOO.... Bener kata Denara, kalo kamu nakal!!!''
__ADS_1
Sementara Nero hanya menjulurkan lidahnya untuk mengejek Inem.
......................
Zion membawa satu kantong berisi makanan, dia datang bersama supirnya untuk menjenguk Denara ke rumah sakit.
Hal ini di lakukan oleh oleh Zion setiap hari, meskipun dirinya tahu jika Denara tidak akan memakan-makanannya karena masih belum sadar.
''Kamu selalu datang ke sini, apakah Ibumu tidak marah??'' Tanya Nero.
Yap. setelah di rumah sakit. Zion dan Nero tampak akrab. Mereka cukup memiliki ke samaan yang tanpa di sadari oleh ke duanya.
''Nero, jika nanti Kak Dena bersam dengan Om Ares apakah panggilanku padamu akan berubah??'' Tanyanya polos.
''Tidak, panggil saja aku Nero. Memangnya itu akan terjadi??''
''Tentu saja, kamu tidak tahukan. Jika Nenekku sudah mulai menerima Kak Dena.'' Beritahunya.
''Begitu yah, jika Kakakku menikah berarti dia akan jadi Tantemu dong??''
Zion mengangguk semangat.
''Dan kau jadi Omku...'' Ungkapnya.
''HEIIII..... Aku ini masih muda, masa kamu panggil Om sih...'' Protes Nero.
Teriakan dari Nero, ternyata berhasil membuat beberapa pasien, perawat dan dokter terkikik.
''Mereka sangat mengemaskan...''
''Mereka membuatku ingin mencubit pipinya...''
Beberapa komentar dari orang sekitar mengenai mereka.
''Sssttt... Kamu ini berteriak seperti perempuan.'' Menutup mulut Nero dengan tangannya.
Sementara Nero melotot dengan matanya saat mendengar hal itu.
......................
Ruang rawat Denara tampak sepi, Ibu, Ayah, Nero, semuanya telah tidur. Di atas ranjang, Denara tampak tidur dengan tenang tapi selang beberapa menit.
Jari-jemari Denara mulai bergerak, bahkan matanya yang tertutup kini mulai perlahan-lahan terbuka. Bau obat-obatan sangat menyengat tercium oleh indra penciumannya.
Mata Denara tampak silau, cat putih serta lampu yang pertama kali dirinya lihat.
''Rumah sakit??'' Batin Denara.
Denara mencoba melihat ke arah lainnya, di sana ada Ibu serta Nero dan juga Ayahnya sedang tertidur pulas.
Tampak sadar Denara menanggis, dirinya ingat. Saat itu. Jesi yang menculik, menyekap dan memukulinya hingga seperti ini.
Denara menanggis tanpa suara, sungguh itu adalah hal yabg terberat. Yang pernah Debara rasakan selama ini. Denara benar-benar tidak menyangka, jika Jesi akan melakukan hal itu.
__ADS_1
Tapi yang membawanya kemari siapa?? Kenapa Denara tidak mengingatnya?? Denara hanya ingat, ada seseorang yang masuk ke dalam gudang dan menyelamatkannya.
Tapi Denara tidak ingat siapa??
''I-Ibu....'' Suara Denara yang terucap sangat kecil.
''I-Ibu.... I-Ibu....'' Dengan terbata-bata.
''Ay-Ayah......''
Mereka benar-benar pulas, Denara memcoba untuk bangun. Tapi tubuhnya terlalu lemah serta kaku untuk melakukan hal itu.
Rasa lemas dan sakit masih terasa di tubuhnya. Beberapa perban serta selang yang menempel di tubuhnya, hal itu benar-benar membuktikan betapa parahnya Jesi menyiksanya.
Satu hari penuh, Jesi sama sekali tidak memberinya makan serta minum. Tubuh yang terikat serta sakit yang di rasakannya saat itu, adalah hal yang paling lemah yang pernah Denara alami.
Bayang-bayang Jesi memukulinya, masih terekam jelas di ingatnnya.
''Itu menakutkan...'' Saat dirinya mengingat kembali hal itu.
Denara mencoba menggapai bel yang berada di sampingnya. Setelah itu, Denara menekan tombol merah itu.
Setelah itu, Denara hanya menunggu sampai doketr datang.
......................
Pagi mulai menyapa, Ares selalu mampir ke sini membawa bunga untuk Denara. Bunga itu selalu di bawa setiap Ares datang menjengguk meskipun bunga kemarin belum layu.
''Pagi Denara.... Aku datang lagi..'' Menaruh bunga di dalam vas yang tersedia yang ada di atas meja.
''Kamu masih betah untuk tidur...'' Sambil menyusun bunga, tanpa melihat Denara.
''Kamu selalu datang???''
Suara itu berhasil membuat Ares menoleh, bahkan bunga Ares sampai terjatuh ke lantai karena mendengar suara itu.
''De-De-Na-ra....''
Ares langsung saja meninggalkan bunga itu dan membiarkannya tergeletaj begitu saja dan memeluk Denara yang masih terbaring.
Denara tentu saja kaget, Ares memang selalu melakukan hal yang tidak pernah bisa Denara tebak.
''Kamu tahu, seberapq sakitnya aku melihatmu dalam kondisi itu.''
''Aku sangat marah, sedih, kesal dan sakit... ''
''Maaf, terlambat menemukanmu, maaf terlambat menyelamatkanmu.... Maaf.... Maaf..'' Dengan masih memeluk Denara yang terbaring.
''Terima kasih, telah datang menyelamatkanku...''
''Terima kasih, telah menemukanku....''
''Terima kasih....'' Hal itu yang di ucapkan Denara.
__ADS_1
''Tidak sayang, akulah yang harusnya berterima kasih karena telah kembali....''
...Bersambung......