
...Dilarang Plagiat, menjiplak, atau pun mengcopy karya ini!!!!...
...Happy Reading🍃....
Jesi tampak berdandan dengan cantik di depan cermin, hari ini cukup membuat Jesi senang. Ares tiba-tiba saja meminta dirinya untuk bertemu, hal ini tentu saja jarang di lakukan oleh Ares. Bisa di bilang tidak pernah.
Apalagi setelah masalah terakhir, saat dirinya menuduh Denara mencuri dokumen penting milik Ares.
''Tunggu, bagaimana jika hari ini Ares memintanya bertemu hanya karena Denara??''
Memgingat Jesi yang memberitahu perjodohan yang di lakukam oleh orang tua mereka pada Denara.
''Masa bodoh, yang penting bisa bertemu Ares.'' Menyemprotkan parfum mahal miliknya.
Selesai, Jesi segera mengambil tas dan segera berangkat menuju lokasi yang telah di tentukan oleh Ares.
......................
Ares sudah sampai terlebih dulu di lakosi. Ares memilih salah satu kafe yang cukup ternama di kota. Selain itu, tempatnya tidak terlalu ramai karena mahal dan tempatnya cukup privasi untuk berbicara.
Ares memilih tempat di duduk di luar, alasannya karena Ares tidak ingin berlama-lama di sini dan lebih dekat dengan parkiran.
''Ares, kamu nunggu lama.'' Sapa Jesi dengan ramah pada Ares.
''Kamu udah pesan, kalo belum. Biar aku aja yang pesan.'' Mengambil buku menu yang ada di atas meja.
''Pesan saja, aku tidak.'' Ucap Ares datar.
''Mbak, saya pesan jus alpukat satu.'' Ujar Jesi.
Pelayan Kafe dengan cepat mencatat dan melangkah pergi, meninggalkan Ares dan Jesi.
''Apa maksudmu menemui Denara kemarin??'' Bertanya pada Jesi dengan nada marah.
''Jadi dia mengadu padamu, padahal aku hanya menyampaikan pesan Mamamu saja.'' Jawab Jesi dengan santai.
''Mamaku tipikal orang yang jarang menyuruh seseorang untuk melakukan hal yang bisa dirinya lakukan Jesi. Jadi jangan libatkan orang yang tidak ada sangkutannya.''
Jesi sudah menduga, jika Ares bukan orang yang cukup bodoh untuk di tipu olehnya. Hal itulah dalah satu dari sekian banyak faktor uang membuatnya menyukai Ares.
''Baiklah, aku mengaku. Jika aku melakukan hal itu dengan sengaja.''
''Karena aku tahu, kamu tidak akan memberitahukannya pada Denara.'' Lanjut Jesi.
''Kamu terlalu lancang untuk mengatakan hal yang tidak seharusnya kamu katakan pada Denara.'' Geram Ares.
__ADS_1
''Kenapa kamu marah Ares, itu memang faktanya. Kita akan memiliki hubungan dan hal itu juga sudah di restui oleh ke dua orang tua kita.'' Jelas Jesi.
''Aku sudah bilang pada para orang tua. Jika aku menolak perjodohan ini.'' Balas Ares.
''Tapi aku menerimanya, kenapa kamu menolak Ares. Kita bahkan sudah memgenal sejak kecil. Bahkan sebelum kamu berpacaran dengan pembantu itu.'' Kesal Jesi.
''Dia punya nama Jesi, jangan seenaknya berbicara. Meskipun kita kenal dekat, bukan berarti aku akan menerima drimu begitu saja. Aku sudah bilang, jika aku tidak menyukaimu sedikit pun.'' Tegas Ares pada Jesi.
''Apa lebihnya si pembantu kampung itu, bahkan dia sma sekali tidak setara dengan dirimu Ares... Sadarlah, jika hanya aku yang pantas bersanding denganmu.''
''Aku sangat sadar akan hal yang ku pilih, itulah kenapa aku memilih Denara sebagai pasanganku. Dan aku minta padamu untuk tidak mengusik Denara dan datang ke rumahku.'' Ares mulai berdiri.
''Kamu tahu benar, bagaimana diriku jika ada orang yang mengusik kebahagiaanku.'' Lalu pergi.
''Pembantu sialan, aku tidak akan terima hal ini begitu saja. Mungkin kamu bisa menolak, tapi orang tuamu ada berada di pihakku Ares dan aku tidak akan menyerah begitu saja.''
''Kamu hanya cocok bersanding denganku, bukan dengan pembantu kampung itu.'' Ujar Jesi dengan tangan yang mengepal marah.
......................
Jesi pulang ke rumah dengan amarah, hal yang di katakan oleh Ares padanya tidak membuat Jesi menyerah begitu saja.
Baginya, apa yang di lakukan oleh Ares saat itu, tidak lebih dan tidak kurang. Hanya untuk menggertak dan membuatnya menjauh begitu saja.
''Papa benar-benar tidak terima. Ares sudah kelewatan.'' Geram Bima setrlah mendengar anaknya bercerita.
''Papa, ini bukan salah Ares. Tapi salah pembantu kampung itu. Pokoknya, Jesi mau perjodohan ini tetap berlanjut.'' Sahut Jesi.
''Ingin mempercepat perjodohan ini??''
Jesi mengangguk.
''Cukup sulit membujuk Arlon, terlebih lagi saat ini dia sedang sibuk dengan proyek-proyek besarnya.''
''Pah Ares itu calon mantu yang pas untuk Papa dan Mama. Terlebih lagi dia sudah cukup sukses untuk menghidupi Jesi.''
''Benar, Papa setuju akan hal itu. Tapi Papa takut, jika Ares tidak menyukaimu nak.'' Khawatirnya.
''Pah, aku dan Ares sudah kenal srjak kecil. Dan aku paham betul bagaimana Ares, apakah hal itu tidak cukup untuk Papa??''
Bima tahu benar, bagaimana Jesi jika menginginkan sesuatu. Maka itu adalah hal yang harus dirinya dapatkan. Bagaimana pun caranya. Sifat inu sangat menyrun jelas darinya.
''Baiklah, Papa akan coba berunding dengan Arlon nanti. Kamu pulanglah.''
Jesi lalu memeluk papanya dan berpamitan pulang. Sungguh, Jesi senang bukan main mendengar hal itu dari Papanya.
__ADS_1
......................
Zia tampak senang di gendong oleh Ares dan hal itu terlihat jelas dari raut wajahnya.
''Ares, jangan gendong seperti itu. Gendong dengan benar.'' Tegur Resa.
''Kakak, jangan salahkan aku. Ini salah Zia yang tidak bisa diam jika di gendong olehku.'' Balas Ares.
''Kamu menyalahkan Zia?? Padahal kamu yang ingin menggendongnya.''
Ares diam, Ares akan selalu salah jika berdebat dengan Resa.
''Jadi kamu baru saja bertemu dengan Jesi??'' Resa mengambil Zia dari gendongan Ares.
Ares mengangguk dan mengambil cangkir yang berisi kopi.
''Lalu, apa yang dia katakan??'
''Aku malas membahasnya, tapi aku tahu satu hal. Jesi tidak akan melepaskan perjodohan ini dengan mudah.''
Ares sudah paham betul, Jesi orang yang seperti apa terlebih lagi. Dia sudah mengenalnya sejak kecil dan itu adalah hal.yang cukup bagi Ares untuk mengetahui Jesi orang yang bagaimana.
''Jesi memang orang yang ambisius dan yang pastinya dia tidak ingin kamu bersama dengan Denara....''
''Jesi bukan lawan yang mudah, terlebih lagi Mama Papa sangat menyukainya. Ini benar-benar merepotkan.'' Keluh Ares.
''Jadi maksudmu datang ke sini, untuk meminta bantuan pada Kakak begitu??''
''Ya begitulah...'' Ucapnya pelan.
''Hahaha... Haha.... Sejak kapan Ares yang mandiri dan bisa segalanya, meminta bantuan padaku.'' Ejeknya.
Hal inilah yang membuat Ares malas untuk meminta bantuan pada Resa. Resa selalu mengejeknya di setiap kesempatan bahkan saat ini pun di lakukan oleh Ares untuk m3ngejeknya.
''Kak ini masalah yang serius, tapi Kakak sempat-sempatnya mengejekku?? Apakah benar kita saudara kandung??'
Pletakkk....
Ares diam setelah mendapatkan sentilan dari Resa.
''Dasar anak kecil...''
...Bersambung.........
......................
__ADS_1