Cinta Untuk Tuan

Cinta Untuk Tuan
29 part 1


__ADS_3

...Dilarang memplagiat, mengcopy, atau pun menjiplak karya ini!!!...


...Terimah kasih bagi yang sudah membaca cerita ini:)....


...Happy Reading❤....


Aku punya niat yang baik.


Cobaku ungkapan padamu.


Berharap kamu kan menjadi...


Rencana besar di hidupku, tapi kau bilang pergi sana...


Kamu tak mau melihat diri ini, selamanya....


Awas, nanti jatuh cinta. Cinta kepada diriku....


Jangan-jangan ku jodohmu....


Alunan lagu dari earphone milik Tania, tiba-tiba terhenti. Itu terjadi karena Budi dengan seenaknya melepaskannya. Membuat Tania menatap ke arah Budi kesal.


"Kerja Tan, lagi gotong royong malah duduk-duduk di sini." Omel Budi.


Membuat Tania yang menatapnya jengah, dengan kesal dia mengambil kembali earphone miliknya. Lalu memasukkannya, ke dalam tas kecil miliknya.


"Jangan suka ngomongin orang, kalau kamu aja gak sadar diri Budi." Jawab Tania.


Sedangkan Budi serta Gandi hanya tersenyum kaku mendengar ucapan Tania. Mereka saat ini, sedang berada di pohon besar yang ada di sekolah mereka. Salah satu tempat mereka nongkrong.


Tania sebenarnya tadi ikut gotong royong di sekolahnya, tapi teman-teman sekelasnya khususnya perempuan sedikit ogah-ogahan untuk membersihkan sampah yang ada di taman mereka.


Bukannya ikut membantu, mereka malah asik mengobrol dan bermain ponsel. Mrmbuat Tania yang sejak tadi membersihkan melihatnya geram.


Tania lalu mengambil cacing tanah yang tak sengaja dia lihat dan melemparkannya ke arah mereka.


Dan yang terjadi....


"AAHHHHH... CACING..."


"IHHHHH.... JIJIK...."


"WOYYY... JANGAN KAYAK GINI DONG."


Teriakan mereka, membuat Tania melihatnya tersenyum miring. Mereka berlari ke sana kemari untuk menghindari cacing itu, cuman cacing tanah saja. Kenapa mereka bisa selebay itu, pikir Tania.


"Makanya kerja, jangan cuman duduk doang!!! Emang kalian pikir kita babu apa!!! Cabut." Ucap ketus Tania.


Dan berakhirlah dia beristirahat di sini, sebelum Gandi serta Budi memgacaukannya. Kedua temannya ini, bahkan baru saja datang. Setelah semuanya telah bersih.


"Kita tuh datengnya tadi pagi Tan, cuman dasar Budi aja yang ngajak nongkrong di warung buat makan." Jelas Gandi.


"Kalian tuh sama aja gak ada bedanya. Minggir sana!!" Tania mulai berjalan pergi.


......................


''Denara, udah kerja lagi?? Katanya kemarin di pecat??'' Tanya Mang Eko.


''Iya Ra.... Kapan datengnya??'' Tanya Minah.


''Iya aku udah kerja lagi, kemarin sih datengnya.'' Jawab Denara.


''Emang kemarin masalahnya kenapa Ra??'' Tanya Ijah.


'' Ada sedikit kesalah pahaman aja Jah....''


''Kita kangen tahu Ra, ngobrol sama kamu.'' Jujur Neni.


Ucapan Neni, tentu saja di anggap setuju oleh Minah dan Ijah.


''Aku tahu kok, kalo aku tuh orangnya ngangenin.'' Celetuk Denara.


''Nyesel aku tuh bilang kangen ke kamu Ra...''


Membuat mereka yang ada di dekat gerobak Mang Eko tertawa.


''Kalau laki-laki suka ngomong yang aneh ke kita, itu tandanya apa??'' Ujar Denara.


''Aneh gimana?? Bukannya kamu juga aneh...'' Jawab Neni.

__ADS_1


Membuat Denara cemberut. ''Ck, aku nanyanya serius yah Ni...''


''Emang aneh yang kayak gimana??'' Tanya Ijah.


Denara lalu menatap Ijah, yang berada di depannya. ''Dia itu suka marah-marah tiba-tiba, terus gak marah lagi, terus nanti ketus lah, sinis lah pokoknya gak bisa di tebak.'' Papar Denara.


''Sebabnya dia gitu kenapa??'' Tanya Minah.


''Karena dia gak suka liat aku temenan sama orang lain.'' Jawab Denara.


''Temen yang kamu maksud itu, laki-laki juga??''


''Iya..'' Angguknya.


''Itu tandanya cemburu Ra, dan cemburu itu tanda dia suka sama kamu, masa gitu aja gak paham sih.'' Jelas Minah.


''Betul, tapi patut aja sih Denara gak paham. orang dia absurd gitu.'' Ceplos Neni.


''Ck... Ejek terusss, nanti aku masukin cabe mulutnya.'' Ancam Denara pada Neni.


''Tapi Nah, gak mungkin banget kalo dia suka sama aku. Aku kalo di bandingin sama dia, gak pantes banget.'' Gelengnya.


''Lah kalo dia tetap suka dengan tampilan kamu kayak gini, kamu mau bisa apa??'' Ucap Ijah.


''Tahu, syukuri aja Ra, mungkin dia lagi khilaf aja suka sama kamu.'' Balas Neni.


''Ihhh... Neni, mulutnya..'' Geram Denara.


''Tapi aku masih gak percaya, mustahil banget tahu Nah..'' Sambung Denara.


''Kalo kamu gak percaya, coba tes aja Ra.''


''Tes?? Emang ujian.'' Balas Denara.


''Ya ampum Ra, malah mikir ujian. Maksudnya Minah, bukan tes pake soal-soal tapi tes yang di maksud itu, untuk membuktikan apakah dia itu bener-bener suka atau enggak sama kamu, gitu.'' Jelas Neni.


''Owhh... Caranya??''


''Gini.....''


......................


''Pak Ares.... Pak Ares....'' Panggil Deni, yang sejak tadi berdiri di depan Ares, tapi tak di gubris sama sekali.


''Oh, Kau sudah di sini.'' Setelah lima menit Deni berdiri membawa fotocopy dokumen yang di perintahkan Ares.


''Iya Pak, tapi apa baik-baik saja??''


''Tentu, sudah sana pergi.'' Ucap Ares.


''Deni..'' Panggil Ares saat dirinya sudah berjalan mendekat ke arah pintu.


'Katanya tadi di suruh pergi, sekarang di panggil lagi.' Batin Deni.


''Apakah kamu sedang suka seseorang??'' Tanya Random Ares.


''Tidak Pak,'' Jawab Deni.


''Pasti kamu jomblo.'' Ceplos Ares.


''Ekhmm, tolong di koreksi Pak. Saya single bukan jomblo.'' Papar Deni.


"Sama-sama sendiri, lalu apa bedanya??" Tanya Ares.


"Begini Pak, sebutan single itu lebih tinggi dari pada jomblo Pak."


"Ada-ada aja kamu," Ucap Ares terkekeh.


"Bapak lagi suka sama orang??"


"Mana mungkin," Ujar Ares tak yakin.


Deni menatap Ares dengan tatapan meneliti, karena Deni sedikit yakin jika Ares sedang suka seseorang. Apalagi tingkah Ares yang terlihat labil baginya.


"Sayakan nanya Pak, kalo bener juga gak apa-apa. Malah baguskan Pak. Hati Bapak ada yang jaga gitu." Goda Deni.


"Emang kamu pikir dia satpam apa."


"Aciee.... Bapak ngaku kalo lagi suka..."

__ADS_1


"Gaji kamu saya potong bulan ini Deni!!!!"


Jedarrr....


Seketika Deni diam, lalu menundukkan kepalanya sembari berjalan keluar daru ruangan Ares.


"Nasib.... Nasib..." Guman Deni lesu.


......................


Tian saat ini sedang berada di perjalanan menuju rumah Ares, lebih tepatnya untuk melihat Denara tentunya. Dan kebetulan juga, dia membawa beberapa makanan yang d bawa Ibunya dari kampung kemarin.


Ini hanya sekedar basa-basi yang di lakukan Tian, agar dekat dengan Denara tentu saja. Tian membawa sekitar dua kantung besar untuk Denara saja.


''Assalamualaikum, Pak.''


''Wa'alaikumsalam, Mas ini siapa??'' Tanya Pak Tejo, yang masih belum membuka gerbangnya.


''Saya temannya Denara Pak, yang kemarin nganter kesini naik motor.'' Jelas Tian.


''Oh, Mas yang kemarin.... Bentar saya panggil Denara dulu.'' Ucap Pak Tejo, karena dia tak bisa membuka pintu ini untuk orang asing, seperti perintah Ares padanya.


Menunggu beberapa saat, hingga Tian melihat Denara yang berjalan mendekat ke arahnya, Pak Tejo membuka sedikit pintu gerbang itu. Lalu Denara keluar dan berdiri di depan Tian.


''Kenapa Tian, tumben gak kasih kabar dulu??'' Bingung Denara.


''Memangnya gak boleh??'' Tanya Tian.


''Boleh Kok,'' Ucap Denara.


''Ini..''


Memberikan dua kantung yang berada di tangannya pada Denara, Denara tak langsung mengambilnya.


''Apaa??''


''Oleh-oleh dari kampung, ambil''


''Aduh, Tian.... Aku gak enak.'' Jawab Denara.


''Cepat Denara ambil, tanganku sudah pegal.'' Keluh Tian.


Melihat itu, akhirnya Denara mengambil dan kantung-kantung itu berpindah ke tangan Denara.


''Makasih yah Tian,'' Ucap Denara tak enak.


''Nah gitu dong, aku kan jadi senang.''


''Denara, kamu ada waktu???'' Sambung Tian.


''Emang kenapa??'' Menatap Tian.


''Aku mau ajak kamu jalan sore ini,'' Mendengar itu membuat Denara kaget.


'Sebenarnya, ada apa dengan orang-orang di sekitarnya.' Batin Denara.


''Emang kamu gak sibuk??'' Tanyanya.


''Kebetulan hari cutiku tinggal satu hari lagi.''


''Mau pergi??'' Tawar Tian.


Suara mobil yang datang ke arah mereka, membuat Denara belum sempat menjawab pandangannya langsung teralih membuat Tian otomatis ikut melihatnya.


Orang yang ada di dalam mobil itu, turun dan menghampiri mereka. Hingga posisi Denara saat ini benar-benar persis di tengah-tengah mereka.


Sementara Tian, menatap tak suka orang yang baru saja datang ini. Kenapa di saat seperti ini, dia harus muncul. Pikir Tian.


''Sepertinya, kau suka sekali berkunjung ke rumahku,Tian.'' Ucap Ares serius, menatap Tian dengan raut wajah tak bersahabat.


''Kau pasti tahu, alasannya Ares.'' Balas Tian.


Bersambung........


......................


Apa yang akan kalian bilang, jika berada di posisi Denara saat ini??


Jangan lupa berikan dukungannya yah, berupa like, favorit, rate 5 dan votenya yah biar Dao tambah semangat buat nulis dan upnya☻.

__ADS_1


IG : dindao.18


Sayonara👋🏻.


__ADS_2