
...Dilarang plagiat, menjiplak atau pun mengcopy karya ini!!!!...
...Happy Reading🍃....
Ares masih menatap tajam ke arah Tania yang masih mencoba membujuk Denara agar ikut bersamanya, begitu juga dengan Zion, yang memang sedari tadi tidak suka dengan ke datangan Tania ke rumah Ares.
''Ayolah Kak, ikut bersamaku.'' Memegang tangan Denara berharap usahanya akan berhasil.
Ares benar-benar jengkel di buatnya, kenapa pula Tian harus mengirim adikknya datang kemari. Apakah ini juga taktik dari Tian supaya Denara luluh padanya dan menerimanya, begitu??
Jika memang benar begitu, Ares tidak bisa tinggal diam dan menerimanya.
''Ekhhmmm, sepertinya Denara tidak bisa pergi bersamamu.'' Tegur Ares dengan suara yang cukup besar.
''Kenapa tidak bisa??'' Tania menoleh ke arah Ares dengan raut wajah kesal.
''Karena Denara banyak pekerjaan yang belum di selesaikan,'' ucap Ares.
''Apakah Oppa tidak bisa mengizinkan hari ini saja?? Ibuku sangat ingin sekali bertemu dengan Kak Denara.'' Ucapnya dengan raut wajah sedih.
Zion yang melihat aksi Tania, tentu saja tidak bisa tinggal diam. Zion harus membantu Ares, supaya Tania pergi tanpa membawa Denara ikut serta bersamanya.
''Kakak Denara tetap tidak bisa pergi!!!'' Cegah Zion yang mulai melepaskan pegangan tangan Tania yang sejak tadi memegang tangan Denara.
''Eh, jangan gini dong.'' Balas Tania yang semakin memegang tangan Denara suapaya Zion tidak bisa melepaskannya.
''Lepasin Kak Dena,'' menarik tangan Denara yang satunya.
''Enggak, Kakak yang harusnya lepasin tangan Kak Dena.'' Balas Zion sambil melotot.
''Enak aja, pokoknya Kak Denara tetap bakalan ikut aku.'' Jawab Tania membalas ucapan Zion.
Ares yang melihat Denara yang mulai kesakitan akibat bocah-bocah yang menarik tangannya dengan kuat. Merasa tidak tega, Ares lalu maju ke arah mereka dan melepaskan tarikan yang di lakukan oleh Zion dan Tania.
Zion dan Tania otomatis melepaskan tarikkan tangan mereka, saat melihat tatapan membunuh dari Ares. Membuat mereka menjadi ciut dan sedikit menjauh dari Denara.
Denara hanya mengusap tangannya dengan pelan, saat melihat pergelagannya yang memerah akibat tarikkan Zion dan Tania.
''Saya tetap tidak mengizinkan, terlebih lagi hari ini Ibu saya akan datang kemari.'' Jelas Ares.
Membuat Zion menatap ke arah Omnya, begitu juga dengan Denara dan Tania.
Jika begitu, Tania benar-benar tidak bisa lagi membantah atau pun protes pada Ares. Terlebih lagi juka orang tuanya akan datang ke sini.
''Baiklah, lain kali aku akan menghubungi Kak Deanara terlebih dulu dan sebelum membuat janji.'' Ucapnya.
''Aku pulang dulu... Assalamualaikum,'' pamit Tania.
''Wa'alaikumsalam,'' balas mereka kompak.
......................
Zion sejak Tania pulang dari rumah Ares, tidak henti-hentinya Zion mengikuti Ares kesana kemari. Membuat Ares pusing di buatnya.
''Ada apa Zion???'' Setelah membalikan badan menatap Zion.
''Apakah sungguh Oma akan kemari??'' Menatap Ke arah Ares dengan raut wajah serius khas anak-anak.
Ares lalu menoleh ke arah kanan dan kiri, merasa situasi aman. Ares mulai menunduk ke arah Zion dan membisikkan sesuatu.
''Oma tidak akan darang kemari, karena Oma sedang liburan bersama Opa.'' Bisik Ares.
''Jadi Om berbohong,'' balas Zion pelan.
''Ini hanya strategi saja,'' jawab Ares.
__ADS_1
''Baiklah kalau begitu,'' setujunya.
Denara dari ke jauhan melihat Ares serta Zion yang tengah berbisik-bisik di depan sana. Entah apa yang mereka bicara hingga berbisik seperti itu.
Setelah itu,Denara kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
......................
Tian mulai memasukkan beberapa camilan ke dalam keranjang belanjaannya, bebrbagai makanan yang ada di dalam keranjang belanjaan Tian. Mulai dari makanan berat hingga ringan dan tidak lupa beberapa cup es krim yang merupakan pesan Tania sebagai upahnya karena membantunya.
Usai berbelanja, Tian bergegas pulang ke rumah. Di saat Tian melihat Tania yang duduk di teras dengan wajah yang cemberut, Tian yang baru saja tiba dari belanja. Kini mulai mendekat ke arah Tania.
''Bagaimana??'' Tanyanya pada Tania.
Tania langsung menggelengkan kepalanya, membuat Tian mengerti saat melihatnya.
''Aku tidak bisa mengajaknya, karena Oppa itu mencegahnya.''Gerutunya Kesal.
''Ares maksud kamu???''
''Iya, aku benar-benar kesal. Pokoknya, dengan cara apa pun, Abang harus bisa pacaran sama Kak Denara.'' Ucap Tania berapi-api.
''Kamu ini, baiklah aku juga harus semangat untuk mendapatkan Nara untuk menjadi Kakak Iparmu,'' balas Tian.
''Tapi Bang, ada yang aneh dengan tingkah Oppa pada Kak Denara.'' Ketika Tania mengingat kejadian Ares melindungi Denara dari tarikkan tangannya dan juga Zion.
''Aneh??'' Tanya Tian.
''Iya, entah kenapa aku merasa jika Oppa itu bertindak seperti pacar saja kepada Kak Denara.''
''Atau jangan-jangan mereka benar-benar pacaran dan oleh karena itulah Kak Denara tidak bisa menjawab perasaan Abang.'' Pikrnya.
''Mana mungkin,'' ucap Tian tidak yakin.
......................
Apakah ini jugalah, alasannya Denara memghindar dan terkesan enggan untuk berkomunikasi dengannya?? Singguh, Tian benar-benar di buat pusing dengan keadaan ini. Memikirkan Ares dan Denara berpacaran saja kesal, apalagi jika itu terjadi sungguhan.
''Aku benar-benar harus menuntut kepastian dengan semua ini.'' Tian mengambil jaketnya, yang tadi dirinya sampirkan di kursi kamarnya.
'Sepertinya aku akan memastikannya srcara langsung,' batinnya.
......................
Tok.....
Tok....
Tok...
''Tuan.... Tuan....''
Cklek....
''Ada apa??'' Tanya Ares setelah membuka pintu.
''Saya bingung Tuan,'' ungkapnya.
''Bingung kenapa??''
''Tuan bilang, jika Ibu Tuan akan datang kemari.''
''Lalu??''
''Saya sungguh tidak tahu.... Mengenai makanan apa yang di sukai oleh Ibu Tuan untuk menyambutnya datang.''
__ADS_1
'Kenapa bisa, hanya karena melihat wajah Denara yang bingung bisa membuatnya tanpa sadar tersenyum sendiri,' batin Ares.
''Tuan, kenapa anda tersenyum sejak tadi???'' Heran Denara.
''Apakah ada yang lucu???''
''Tidak, tidak ada yang lucu. Dan memgenai Ibuku, Kamu tidak perlu memasak apa-apa untuknya.'' Balasnya.
''Loh, kenapa begitu???''
Ares menunduk, untuk membuat posisi wajahnya benar-benar persis di depan Denara.
''Karena Ibuku tidak akan datang kemari, Denara.'' Sambil menatap lekat wakah Denara.
'Kenapa Tuan melakukan hal ini, apakah Tuan sengaja membuat jantunganya terus berdebar kencang atas perlalukan ini.' Batinnya.
''Apakah kamu berdebar Denara??'' Perkataan Ares membuat Denara tersadar lamunannya.
''Ti-tidak.....'' Lalu berlari dari sana.
Sementara Ares yang melihat itu, hanya tersenyum senang. Entah kenapa menggoda Denara adalah kebiasaan lucu sekaligus membuat moodnya menjadi senang.
......................
Ting nung....
Ting nung...
Ting nung....
Bunyi bel yang terus-memenerus berbunyi, membuat Ares yang sedang menonton tv tentu saja terganggu.
Dengan kesal, Ares berjalan ke arah pintu rumahnya.
Cklek...
Ares hanya menatap datar, saat tahu orang yang datang ke rumahnya. Sambil bersedekap, Ares terus menerus menujukkan rasa tidak sukanya akan ke datangan orang ini.
''Aku ingin bertemu dengan Denara.'' Ujar Orang itu padanya.
''Kenapa aku harus menurutinya,'' balas Ares.
''Aku sungguh perlu bicara dengannya sekarang.'' Sahut Tian menatap Ares marah.
''Jawabanku tetap sama, aku tidak akan menuruti perintahmu, untuk berremi dengan Denara.'' Balas Ares dengan nada tegas.
Tian yang memdengar perkataan Ares, hanya bisa memgepalkan tangannya memahan amarah.
''Apakah begini caramu??? Baiklah, aku akan mrladenianya.'' Kata Tian.
'Meladeni??' Batinya bingung.
Bugghhh....
Tiba-tiba saja Tian memukul wajahnya, membuat Ares terjatuh kelantai atas tindakan Tian itu. Bahkan Ares tidak sempat untuk menghindar sama sekali dari pukulan Tian.
''Kau yang memulainya Ares.'' Ucap Tian menatap ke arah Ares dengan raut wajah dingin.
Bersambung....
......................
Jangan lupa untuk dukung Author, dengan cara like, vote, rate5, favorit dan komennya. Agar Author semangat dalam nulis dan upnya.
Sayonara......
__ADS_1