
...Dilarang keras memplagiat, menjiplak, dan mengcopy karya ini!!!...
Happy Reading❤.
Deni melihat Ares yang tengah duduk di belakang melalui kaca, dia sama sekali tak menyangka jika orang yang membuat Ares selalu resah setiap ki menunggu balasan pesan dari seseorang ternyata adalah Denara.
Deni benar-benar tak percaya akan hal ini tapi ada yang aneh semenjak Ares masuk ke dalam mobil. Ares sama sekali tak berbicara sepatah kata apa pun. Membuat Deni sedikit bingung.
......................
Denara masih tak menyangka jika Ares akan meminta maaf secara langsung padanya seperti tadi, Denara hanya bingung dengan apa yang terjadi.
''Kak Nara kenapa sih???'' Nero yang sejak tadi melihat Denara yang terlihat bingung dan melamun.
''Gak, Kakak gak apa-apa. Ibu udah tidur??'' Ujar Denara.
''Iya tadi setelah makan, Ayah menyuruh ibu langsung tidur.'' Jelasnya.
''Kau juga harus tidur Nero, ini sudah malam.'' Perintahnya.
''Nanti, ketika Ayah pulang dari warung baru aku akan tidur.''
''Memangnya kenapa harus menunggu Ayah???'' Tanya Denara.
''Karena aku tak ingin kejadian ini terjadi lagi, saat tak ada yang menjaga Kak Nara serta Ibu.'' Perkataan dewasa yang di ucapkan Denara mumbuatnya tertawa geli.
''Hahah.... Nero.... Nero, kau sudah besar ternyata.'' Mengelus kepala adikknya.
''Ck... Jangan seperti ini Kak, aku tak suka.'' Memalingkan wajahnya yang memerah.
''Aduh Nero kamu sweet banget sih,'' goda Denara.
''Ihhh.... Kak Nara.....'' Ujarnya.
''Loh anak Ayah belum pada tidur.'' Ucap Ayahnya berdiri di depan mereka.
''Nero yah, di suruh tidur gak mau. Katanya mau nungguin Ayah aja bia----'' Nero langsung menutup mulut Denara menggunakan tangannya agar Denara tak memberitahu tentang hal tadi.
''Nero ada apa???''
''Enggak Yah.'' Jelas Nero.
''Nero tangan kamu bau terasi,'' Saat tangan Nero terlepas.
''Oh iya Kak, tadi Nero makan ikan panggang pake sambel terasi,'' cengirnya membuat Denara menatap geram.
''Nerooooo....''
''Kabur.....''
Sedangkan Santoso yang melihat itu tersenyum, ini adalah salah satu hal yang paling dia rindukkan saat Denara tak ada di kampung waktu itu.
''Ayah, aku ingin membicarakan sesuatu.'' Ucap Denara.
Santoso lalu duduk di samping Denara, mendengarkan dengan apa yang akan di katakannya.
''Tuan Ares akan membantu kita untuk menyelesaikan masalah ini.''
''Lalu kenapa Nara terlihat gusar,'' kata Santoso.
''Ehmmm.... Se-sebenarnya, Nara itu ada sedikit masalah dengan Tuan Ares.'' Ujarnya.
''Masalah???''
Denara mengangguk pelan.
''Terjadi kesalah pahaman antara Nara dan Tuan Ares. Dan hal itu juga salah satu faktor Denara di pecat.''
''Tuan Ares mengatakan hal yang membuat Nara cukup sakit, dan itu adalah faktor terbesar Yah...'' Sambungnya.
''Tapi sebelum pulang Tuan membicarakan hal ini, dan meminta maaf serta ingin Nara kembali bekerja.'' Ujarnya menunduk.
Membuat Santoso paham, jika putrinya ini sedang bimbang dan bingung dengan situasi ini.
__ADS_1
''Lalu jawaban Nara bagaimana???''
''Nara bilang, jika masalah dengan Paman selesai baru Nara akan memutuskannya.''
''Jika ini usai, apa yang akan Nara katakan??''
''Nara tak tahu Yah...''
''Apakah Nara ingin kembali bekerja??''
Mengangguk pelan, tapi kemudian menggelengkan kepalanya.
''Kenapa Nara bingung.''
''Nara masih bimbang Yah...''
''Jika Nara ingin kembali bekerja, maka lakukan saja. Bukankah dia sudah meminta maaf.''
''Iya Yah, tapi bagaimana jika kejadian itu terulang lagi.'' Takut Denara.
''Nara, Ayah tak bisa memutuskannya. Nara tahukan pada siapa Nara meminta Tolong.'' Ucap Ayahnya.
''Allah.'' Jawaban Denara membuat Santoso tersenyum.
''Nara, Ayah ingin meminta satu hal padamu,'' ucap Ayahnya.
''Apa???''
''Jangan bawa perkara Pamanmu ke jalur hukum.''
''Tapi Kenapa Yah??? Bukankah itu hal yang pantas untuk di terima oleh Paman.'' Protes Denara tak terima.
''Ayah tak ingin membuat Kakek dan Nenekmu sedih di sana.''
Perkataan Ayahnya membuat Denara terdiam.
''Ayah tak mau menyesal melakukan kesalahan dan membuat Pamanmu bertambah parah keadaanya.''
''Ayah tahu dari siapa??''
''Bibimu, Denara semua orang bisa berubah seiring waktu. Dan Ayah bersyukur akan itu. Ayah akan menolong Pamanmu jadi bilang pada Ares untuk tak melaporkan Pamanmu.'' Ucap Ayahnya tersenyum.
......................
Drtt....
Drttt...
Ponsel Ares berbunyi dengan kencang, membuatnya baru saja tertudur kembali bangun.
''Siapa yang menelpon larut malam begini??'' Kesal Ares.
Denara Absurd.
Nama yang tertera di sana, membuat Ares langsung bangkit dari tempat tidurnya.
''Asalamualaikum...''
''Wa'alaikumsalam...''
''Tuan, aku ingin mengatakan sesuatu...''
Membuat Ares tentu saja cukup penasaran dengan apa yang akan di katakan oleh Denara, apalagi ini sudah larut malam Denara menelponnya. Pasti hal penting yang akan di bicarakan oleh Denara.
''Mengatakan apa??''
''Ayahku meminta Tuan untuk tak melaporkan Paman Beni.''
''APA.... Tapi kenapa.''
''Tuan, ngomongnya selow aja dong.'' Balas Denara sewot.
''Maaf, tapi kenapa??''
__ADS_1
''Ayahku ingin menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan saja Tuan.''
''Tuan belum melaporkannya kan??''
''Belum, rencananya besok. Tapi jika Ayahmu berkata seperti itu, saya tak bisa berbuat apa-apa.''
''Maaf dan terima kasih, atas bantuan kemarin.''
''Jadi kau sudah punya jawaban untuk tawaran saya, Denara??''
Hening Denara tak menjawab.
''Baiklah saya tak bisa memaksa ji--'' Ares tak melanjutkan kata-katanya karena Denara memotong pembicaraannya.
''Aku mau bekerja kembali pada Tuan.''
Tut....
Panggil terputus, membuat Ares menatap ponsel miliknya dengan senyum yang melebar mendengar jawaban Denara.
......................
Pagi mulai menyapa, Denara mulai bangun dari tidur akibat ketukkan pintu kamar yang cukup kuat.
''KAKAK...''
Cklek...
''Ada apa???'' Tanyanya.
''Ada Paman Beni, di ruang tamu.''
Mendengar itu, membuat Denara langsung berlari ke arah ruang tamu. Terlihat di sana Pamannya berjongkok di depan Ayahnya sembari menunduk.
''Maaf, atas keserakahanku dan maaf juga atas perlakuan kasarmu terhadap keluargamu.''
''Tak perlu Kak, aku sudah memaafkan atas kejadian yang terjadi.'' Balas Ayahnya.
''Aku sudah memustuskan tak akan lagi menuntutmu atas apa yang bukan milikku.''
Membuat Ayah dan Ibunya bingung tentu saja, pasalnya kemarin terlihat jelas jika Pamannya ini sangat menginginkan tanah milik ayahnya. Tapi kenapa pagi ini terlihat berbeda.
Apa jangan-jangan ini hanya akal-akalan saja, yang di lakukan Pamannya untuk melakukan sesuatu pada keluarganya.
''Kemarin malam, aku bermimpi Ayah serta Ibu datang. Mereka menatapku dengan sedih bahkan mereka menanggis, membuatku menatap mereka bersalah. Dalam mimpi Ayah berpesan jika apa yang kulakukan sekarang adalah hal yang tak semestinya. Dia sedih dengan apa yang kulakukan padamu. Dia tak ingin melihat anak-anaknya yang tak akur hanya karena harta.''
Bahkan dari sini, Denara melihat jelas jika Pamannya menanggis saat mengatakannya.
''Dia bilang, jika aku sebagai Kakak harusnya menjagamu. Dia memintaku berhenti melakukan hal ini padamu. Bahkan dalam mimpi itu mereka memohon. Membuat hatiku teriris melihatnya. Karena itulah aku datang ke sini untuk menyelesaikan semuanya.''
''Maafkan aku Santoso dan terima kasih sudah membantu biaya pengobatan anakku.''
''Sama-sama Kak, kita sebagai saudara sudah sepatutnya saling membantu.'' Ucap Ayahnya, mengajak Beni untuk berdiri.
''Terima kasih Santoso, terima kasih...'' Ucap Paman Beni haru den memeluk Santosos erat.
'Syukurlah masalah sudah selesai.' Batin Denara lega.
...''Keluarga adalah orang pertama yang akan selalu menerimamu dalam keadaan baik maupun burukmu.'' Dao_Sea...
......................
Hola Pembaca👋🏻.
Jangan lupa berikan dukungannya yah😊, like, favorit, rate 5, vote serta share cerita ini.
Makasih atas dukungan yang kalian berikan❤.
Terima kasih telah singgah, dan nungguin cerita ini.
Sayonara🤗.
IG : dindao.18
__ADS_1