
Happy Reading ❤.
Ares menatap ponselnya dengan raut wajah tak percaya, semenjak beberapa hari Ares menunggu jawaban dari Denara. Akhirnya Ares mendapatkan balasan juga. Bahkan saat ini Ares terlihat senyum-senyum tak jelas sembari menatap ponsel, membuat Deni yang menatapnya heran.
''Pak... Apakah hari ini bapak sedang senang??'' Tanya Deni.
Membuat Ares yang tadi tersenyum, langsung berubah ekspresi menjadi biasa.
''Tidak... Biasa saja.'' Jawaban Ares, tak sesuai sama sekali dengan apa yang di lihat oleh Deni tadi.
''Baiklah Pak, mungkin saya saja yang salah lihat.'' Kilah Deni, dari pada memancing singa mengamuk.
Deni mulai menyusun berkas-berkas milik Ares, dan mulai membawanya ke ruang meeting bersama klien.
''Deni...'' Panggil Ares, saat akan membuka pintu.
''Iya, Pak Ares?'' Sahutnya.
''Saat selesai meeting nanti, saya minta kamu siapkan mobil serta masukkan beberapa berkas yang ada di lemari itu.'' Terang Ares, membuat Deni menatap Ares bingung.
''Bapak mau pergi???'' Tanya Deni, yang masih berada di depan pintu.
''Yah, menyelesaikan sesuatu.'' Ucap Ares menatap Deni dengan senyum tipis.
......................
Tian mengendarai motor miliknya dengan kecepatan sedang, jalanan kampumg cukup sepi membuat Tian cukup bersantai membawa kendaraan sembari menikmati semilir angin yang menerpanya.
Tian berkendara sekitar 20 menit dari rumahnya di kampung, menuju rumah seseorang.
Rumah yang beberapa hari lalu Tian kunjungi untuk mengantar pemilik rumah.
Tian mulai memarkirkan motornya di depan rumah orang itu, lalu turun dari motor miliknya. Dan berjalan ke arah rumah, sembari membawakan makanan.
Tok...
Tok...
Cukup lama Tian mengetuk pintu, hingga beberapa saat pintu mulai terbuka.
''Loh, Tian. Ngapain ke sini??'' Tanyanya herannya.
''Aku ingin berkunjung saja.'' Ucapnya tersenyum manis.
......................
Ares sejak tadi merasa kesal, dirinya merasa jika meeting kali ini lebih lama dari biasanya. Padahal dirinya sedang terburu-buru.
Bahkan terlihat dengan jelas, selama beberapa saat matanya selalu menatap jam miliknya, untuk melihat jam yang selalu bergerak cepat. Tapi kenapa meetingnya tak kunjung usai juga.
Dan hal itu juga tak lepas dari amatan Deni, yang sejak tadi memperhatikan Ares. Dari awal meeting Deni memperhatikan Ares yang terlihat gelisah dan tak fokus dengan apa yang di sampaikan dalam meetingnya.
''Ekhm... Pak Ares.'' Panggil Deni pelan, agar tak menimbulkan kecurigaan orang-orang yang berada di ruangan itu.
__ADS_1
Membuat Ares menoleh, menatap Deni.
''Apa?'' Balas Ares.
''Bapak sejak tadi terlihat sibuk melihat jam, sebenarnya ada apa Pak.'' Tanya Deni.
''Apakah meeting ini masih lama Deni? Saya sudah kesal menunggu meeting ini berakhir, apakah tidak bisa mereka menerangkan dengan cepat.''
Mendengarkan omongan Ares, membuat Deni sedikit mengerutkan dahinya. Deni merasa Ares seperti orang yang berbeda, jika biasanya Ares akan tenang-tenang saja saat meeting, maka kali ini. Hanya kali ini, Ares protes. Selama bekerja dengan Ares, baru kali ini Ares bertingkah seperti ini.
''Maaf, Pak. Meetingnya sebentar lagi, akan berakhir.'' Ucap Deni dengan masih berbisik.
''Awas jika ini tak cepat selesai Deni, gajimu akan jadi taruhannya.'' Ucap Ares santai.
Sedangkan Deni yang mendengarnya cemas, padahal dia hanya diam saja. Kenapa gajinya yang selalu jadi korban.
''Baik Pak.'' Ucap Deni meringgis.
......................
''Wah ini teman Nara dari kota yah...'' Ucap Ibunya Denara sembari meletakan teh hangat dan pisang goreng di atas meja.
''Iya Tante, gak usah repot-repot. Saya jadi gak enak.'' Ujar Tian.
''Gak apa-apa kok, lagian jarang sekali teman Nara datang ke rumah.'' Katanya lembut.
''Loh kenapa Tante?'' Herannya.
''Nara selalu bilang pada teman-temannya saat sekolah dulu, jika saat bertamu ke rumah. Maka mereka harus membawa makanan sendiri.'' Jelas ibunya tersenyum, mengingat Denara kala itu.
''Ibu.... Jangan suka gibahin Nara yah, nanti dosa.''
Denara mulai berjalan mendekat, dan duduk di tempat yang bersebrangan dengan Tian.
''Enggak kok, orang Ibu bilang kalau Nara anak yang baik. Benarkan Tian?'' Ucap ibunya.
''Benar Tante,'' dukung Tian.
''Aaa... Ibu mah, Nara kan malu.'' Menutup wajahnya dengan menggunakan kedua tangannya.
Tian yang melihat itu, tersenyum geli. Entah kenapa melihat Denara seperti itu, hatinya merasa senang.
'Lucu.' Batin Tian.
Dari arah pintu, tiba-tiba ada 3 orang yang menyelonong masuk ke dalam rumah Denara tanpa permisi.
"SANTOSO.... KELUAR KAMU..." Panggilnya.
Denara dengan cepat menghampiri Pamannya. Karena kebetulan Ayahnya saat ini sedang tak ada di rumah.
"Paman, bisa salam dulu tidak. Jangan lansung nyelonong aja." Tegur Denara berani. Denara sudah, benar-benar geram dengan Pamannya ini.
Melihat itu, dengan cepat Pamannya Beni mendorong kasar Denara hingga terjatuh.
__ADS_1
Bugh...
"NARA...." Ucap Tian dan Ibu kompak.
"Agh..." Ringgis Denara merasakan sakit.
Tian dengan cepat menghampiri Denara, dan membantunya berdiri.
"Dengarnya anak kecil, saya gak ada urusan sama kamu. Saya hanya berurusan dengan adik saya, paham kamu!!" Ujar Paman Beni tajam.
"Maaf yah Pak, jika anda bertamu ke rumah orang. Harap beretika sedikit." Ucap Tian tegas, yang semenjak tadi diam menahan geram.
"Oh... Apakah ini oleh-olehmu dari kota, membawa laki-laki ke rumah??? Kau pasti kaya kan. Hati-hati, keluarga ini akan mengeruk habis uang mu." Kata Paman Beni tak berperasaan.
Denara yang mendengar itu hanya bisa mengepalkan tangan menahan amarah, Ibunya Denara bahkan terlihat hampir menanggis. Tian sudah benar-benar tak bisa menahan amarahnya lagi.
Bughh....
Tian memukul wajah Paman Beni dengan satu pukulan tepat di wajahnya.
"Maaf, tangan saya suka gak bisa di kontrol kalau bertemu orang tak tahu diri seperti anda." Ujar Tian santai.
Melihat Bosnya yang di pukul dengan cepat 2 preman yang bekerja bersama dengan pamannya menyerang Tian.
Bugh...
Bugh...
Pertarungan 2 lawan 1, tak membuat Tian takut sama sekali. Bahkan mungkin ini sudah waktunya melemaskan otot-otot tangannya yang sudah lama tak bekerja.
Denara serta Ibunya yang melihat itu, tentu saja takut. Melihat preman yang di sewanya babak belur di hajar oleh Tian, membuat Paman Beni menarik tangan Denara tiba-tiba.
"Lepaskan!! Lepaskan Anakku..." Ucap Ibu Denara.
"Tidak akan aku lepaskan dia, sebelum kalian memberikan hakku." Ucap Paman Beni, mulai menyeret Denara keluar rumah.
Bahkan Ibu Denara sampai terjatuh, memgejar Peman Beni yang membawa Denara. Denara berusaha untuk berontak, tapi cengkaram tangan dari Paman Beni sangat kuat. Membuat Denara sulit untuk melepaskan tanganya.
Tian yang melihat itu, langsung berhenti memukuli preman itu, dan berusaha membantu Ibu Denara yang menanggis.
"Bu... Ibu sebaiknya di dalam saja, Biar saya yang mengejar Denara." Ujar Tian.
"To-tolong Nara Nak..."
"Pasti.." Jawab Tian.
Bersambung.....
......................
Hola pembaca, jangan lupa berikan dukungannya yah😊. Like, rate 5, favorit, vote dan share.
Dengan kalian memberikan dukungan, itu akan sangat membantu Dao buat semangat dan gaspol upnya☻.
__ADS_1
IG : dindao.18
Sayonara👋🏻.