
Deni sejak tadi sudah pusing dengan pertanyaan Ares. Sejak tadi Ares membahas jantubg uang berdebar-debar membuat Deni yang mendengar bingung.
'' Deni......Deni.......'' Panggil Ares sejak tadi
'' Eh...Iya Pak, ada apa ? '' Jawab Deni.
'' Kamu sejak tadi tak menjawab saya kan? Jawab! '' Ketus Ares.
Deni hanya meringgis pelan, Deni memang sejak tadi tidak memperhatikan, apa yang Ares ucapkan sejak tadi.
'' Iya Pak....'' Jawabnya pelan.
'' Ck...Kamu ini benar-benar, bulan ini gaji kamu saya potong! '' Ucap Ares santai.
'' Loh...Pak...Kok langsung bawa-bawa gaji Pak? '' Protes Deni.
'' Salah sendiri tak mendengar saya. '' Jawaban Ares membuat Deni melonggo.
.................
Denara saat ini masih berada di dalam kamar, Denara sengaja tak keluar sejak pagi untuk memghindari Ares. Menurut Denara, sejak kemarin Ares selalu berperilaku aneh-aneh.
'' Aman, '' Guman Denara, perlahan berjalan keluar kamar.
Denara mulai menjalankan aktivitas seperti biasanya, membersihkan rumah,menggepel,dan aktivitas rumah tangga lainnya.
Tringg....
Ponsel Denara yang berada di saku berbunyi, pertanda ada pesan masuk.
'' Siapa ini? '' Mengerutkan dahi melihat nomor yang tertera di ponselnya tanpa nama.
0812xxxxxxxxxxx
Hai Kara...
Pesan yang tertulis di sana.
^^^siapa?^^^
Aku Tian, ingat
^^^Hai Tian....Ada apa...^^^
Boleh, kita bertemu?
Denara berpikir sebentar, sepertinya Denara perlu rehat sejenak. Untuk menjernihkan pikirannya.
^^^boleh...^^^
Oke, perlu aku jemput...
^^^Tidak, kita bertemu di lokasinya saja nanti.^^^
Oke, nanti aku kirim alamatnya.
Setelah merasa rumah sudah bersih dan semua pekerjaan selesai, Denara bergegas ke kamar untuk bersiap-siap diri. Sebelum berangkat ke tempat yang di janjikkannya bersama Tian.
...................
Tian sudah menjalankan motornya ke arah cafe yang lagi hits di kalangan anak muda, bukan hanya anak muda saja. Pasangan dewasa pun tak mau kalah.
Tian yang sudah memarkirkan mitornya di parkiran, beranjak masuk ke dalam cafe. Nuansa cafe yang di dominasi berwarna pink serta biru, menambah kesan manis bagi yang melihatnya.
'' Mau pesan, mas...? '' Tanya pelayan itu gugup, melihat wajah Tian yang tampan dari jarak dekat.
__ADS_1
'' Nanti saja Mbak....'' Jawab Tian Ramah.
Mendengar jawaban Tian yang ramah, membuat pipi pelayan itu bersemu merah. Lalu neranjak pergi dari sana.
' Jomblo nih, bisalah di pepet..'Batin Pelayan itu.
Tian mulai melirik ke kanan ke kiri mencari seseorang, tak hanya itu Tian juga melirik ponsel miliknya berharap ada jawaban dari sana.
10 menit tak terasa waktu berlalu, hingga lonceng cafe berbunyi.
Perlahan-lahan satu persatu penggunjung datang, memasukki cafe. Sampai mata Tian menangkap, Satu wanita yang memakai pakaian sederhana dan riasan tak terlalu tebal membuat Tian terpaku melihatnya.
Berjalan ke arahnya dengan perlahan, bersamaan dengan lagu cafe menggiringi langkahnya.
Aku tak tau apa yang lain.
Darimu hari ini.
Apa itu karena sepatu flatmu.
Atau kukumu.
Yang baru kau warnai.
Pernahkah kau bertanya.
Seperti apa bentuk air tanpa wadah.
Pernah pernahkah kau mengira.
Seperti apa bentuk cinta.
Rambut warna warni.
Imut lucu walau tak terlalu tinggi.
Pipi chubby dan kulit putih.
Senyum manis.
Gigi kelinci.
Membuatku tersadar.
Bentuk cinta itu.
Ya kamu.
sampai wanita itu duduk di hadapannya, Tian masih menatapnya dengan tatapan suka.
" Maaf yah Tian, aku lama yah.. " Ungkap wanita itu.
" Enggak apa-apa kok, aku suka. " Ceplosnya tanpa sadar.
Membuat Denara yang mendengarnya sedikit malu, lalu memalingkan wajahnya sebentar ke arah lain.
.................
Dari ke jauhan seseorang menatap Denara dengan lekat sejak tapi, bahkan saat memasukki cafe tadi.
Sampai matanya mengalihkan pandangannya ke arah lain, saat tahu Denara sedang duduk bersama laki-laki yang dirinya tak tahu. Karena laki-laki itu sedang duduk dengan posisi membelakanginya. Sehingga dirinya tak tahu.
" Bagaimana Pak Ares, apakah bisa. " Ucap Bapak yang memakai jas itu pada Ares.
Deni yang melihat Ares tak kunjung menjawab membuat Deni menoleh manatap Ares.
__ADS_1
' Pantas saja sejak tadi tak menjawab? Ternyata melamun. ' Batin Deni.
" EKhmm...Pak Ares... " Ucap Deni dengan keras, baru membuat Ares sadar.
" Apakah baik-baik saja Pak Ares... " Tanya Bapak berjas itu.
" Maaf Pak, saya sedikit tak enak badan saat ini. Bisa kita tunda saja perbincangan ini, saya mohon maaf Pak. " Ujar Ares tak enak.
" Baik Pak...Saya memgerti, saya akan hubungi lagi nanti..." Pahamnya.
" Sekali lagi saya minta maaf Pak..." Ucap Ares.
Deni dan Ares sedikit membungkuk, sebagai tanda meminta maaf. Bapak itu mulai berjalan keluar meninggalkan cafe.
.................
Saat ini Ares sedang berada di mobil bersama Deni, memuju rumah.
" Pak...Apa kita tak perlu ke rumah sakit, bukankah tadi sedang tak enak badan? " Tanyanya Deni sembari menyetir mobil.
" Tak perlu.." Jawab Ares cepat.
" Benar Pak....Tak perlu? " Tanya lagi Deni.
Ares menoleh ke arah Deni, lalu menatap tajam. Memberi peringatan jika Deni bersuara lagi, maka gajinya yang akan jadi taruhan.
Itulah yang di tangkap Deni dari tatapan mata Ares. Hal itu tentu saja membuat Deni dengan cepat mengunci mulutnya agar tak bersuara.
...............
'' Kamu....''
'' Kamu...''
Ucap mereka berbarengan, tanpa sadar membuat mereka tertawa.
'' Wanita terlebih dulu...'' Ucap Tian Tersenyum.
'' Kamu sering ke sini.. '' Denara bingung ingin bertanya apa pada Tian, jadi hal inilah yang terucap dari mulutnya.
'' Tidak ini baru pertama kali.....Emmm..Kamu cantik hari ini.. '' Ujar Tian lagi.
Denara hanya tersenyum geli, entah sudah berapa kali Tian memujinya hari ini. Padahal menurut Denara, di sini terdapat wanita yang jauh lebih cantik darinya.
'' Kamu pasti sedang khilaf saat ini, bahkan ada yang lebih cantik dariku... '' Ucapnya tak enak.
Tian dengan cepat menggelengkan kepalanya, dirinya tak ingin membuat Denara berkecil hati. Tapi memang kenyataannya jika Denara sangat cantik baginya.
'' Mataku seketika buram kalau lihat yang lain selain kamu... '' Menatap Denara dengan tatapan lembut.
....................
Ares memasukki rumah dengan langkah gontai, berjalan ke arah kamar. Tubuhnya langsung begitu saja Ares jatuhkan persis di atas ranjangnya yang empuk.
'' Huhhhhh...'' Menghela nafas kasar.
Ingatannya tiba-tiba melayang ke arah Denara yang berada di cafe tadi, mengingat itu membuat Ares tiba-tiba kesal tanpa alasan.
Rasa tak suka tiba-tiba muncul saat melihat Denara bersama laki-laki lain, selain dirinya. Membuat Ares bingung dengan dirinya sendiri, ada apa dengannya sebenarnya.
'' Apa yang terjadi padaku. '' sembari memegang dadanya, pertanyaan itu terterlinyas di kepalanya.
Ares mengambil ponsel miliknya yang berada di saku celana, lalu membukanya. Menekan salah satu ikon aplikasi pencarian.
Jari-jarinya bergerak dengan lincah di layar ponselnya, sampai matanya menatap horor saat hasil pencarian menunjukkan hasilnya pada Ares.
__ADS_1