
...Dilarang plagiat, menjiplak atau pun memgcopy karya ini!!!...
...Happy reading🍃....
...Typo bertebaran.....
Banyak tumpukkan kado yang sudah menunggu untuk mereka buka.
Satu persatu, kado sudah mulai terbuka. Mulai dari baju, tas, cangkir, mangkuk, seprai dan lainnya.
''Ini dari Tian...'' ungkap Denara.
Ares menoleh, lalu mengambil alih kado yang di berikan Tian padanya. Kotak kado itu sangat kecil dari pada yang lain.
''Apakah isinya cangkir??'' Ujar Denara.
''Mungkin saja...'' Tangan mulai membuka bungkus kado yang menghiasi kotak itu.
Saat buka, isi kota bukanlah cangkir seperti dugaan Denara, melainkan sebuah amplop putih yang berukuran besar.
''Amplop??''
''Mungkin saja uang... '' Balas Ares.
Dan duga mereka salah, isi amplop yang sebebarnya adalah tiket liburan ke salah satu kota ternama, kota yang cukup sering di kunjungi oleh para pasangan seperti mereka.
''Tiket liburan..'' Denara tampak senang mendapatkan hal itu.
''Untung saja dia memberi ini..''
''Kenapa??'' Menoleh pada Ares.
''Jika uang aku akan menolaknya..''
''Karena aku sudah kaya..'' Canda Ares.
Tapi Denara sama sekali tidak tertawa.
''Dasar sombong...''
......................
Ares dan Denara sudah berbaring di satu ranjang yang sama, tapi mereka tidak melakukan hal apapun tanpa memeluk atau pun lainnya.
''Ares, apa yang kau lakukan. Harusnya kau memeluknya.''Batin Ares.
''Ini benar-benar terasa aneh, kenapa kami malah menjadi seperti ini.'' Batin Denara.
Ares sedikit mengintip ke arah Denara, lalu tangannya perlahan-lahan mendekat dan mencoba memeluk Denara. Tapi Ares bisa merasakan, tubuh Denara yang tampak menegang.
Merasa tidak ada penolakan, dengan satu kali tarikan Ares berhasil membawa Denara ke dalam pelukkannya.
''Kamu belum tidurkan??'' Ucap Ares, usai berhasil memeluk Denara.
Denara mengeleng.
''Apakah pengantin baru bersikap seperti kita?'' Tanya Ares.
Posisi saat ini, Ares sedang memeluk Denara dari belakang.
''Tidak tahu,'' jawab Denara.
''Sangat menyenangkan saat memelukmu seperti ini.''
''Aku merasa seperti mimpi bisa bersamamu seperti ini.'' Lanjut Ares.
__ADS_1
''Aku juga,'' Setuju Denara.
Ares sedikit menunduk dan menghirup harum rambut Denara yang terasa seperti stroberi.
''Aku suka aromanya.''
Denara sedikit mendongak dan menatap ke arah Ares. Perlahan-lahan Ares menunduk dan mendekat bahkan mereka sudah tampak memejamkan matanya.
Tok...
Tok...
Suara ketukan pintu, berhasil membuat mereka menjauh.
''Denara, makan dulu....'' Suara Ibunya yang memanggil.
Mungkin memang belum waktunya, Mereka beranjak keluar dari kamar menuju ruang makan.
......................
Ares sedikit canggung, bagaimana tidak. Selepas acara, banyak dari keluarga Denara yang menginap di sini dan tidak jarang juga dari mereka mengajak Ares untuk berfoto atau pun mengobrol. Meskipun Ares banyak diam dari pada menanggapi.
Bukan karena Ares sombong atau bagaimana, hanya saja Ares bingung serta gugup.
''Wah Ra, kalo ada temenmu yang kayak calon suamimu ini... Jangan lupa kenalin sama anak Bibi yah..'' Ujar Bibinya Denara.
Dan hal itu, sama seperti yang di ucapakan oleh keluarga Denara yang lain. Terutama orang tua dan anak mereka.
Bagaimana tidak heboh, jika salah satu keluarga mereka menikah dengan orang terkenal dan kaya. Bisa di pastikan seluruh keluarga Denara di kampung kaget mengetahui kabar itu.
''Gak nyangka yah Ra, dari kerja jadi pembantu tiba-tiba jadi nyonya.'' Cibir salah satu keluarga jauhnya.
Denara tidak terlalu menanggapi, karena sudah tahu bagaimana sifat serta wataknya.
''Dek.. Jangan gitu.'' Tegur Denara, mau bagaimana pun Tantenya adalah orang tua.
Sedangkan Tantenya pergi begitu saja meninggalkan mereka.
''Ra, udah ambil makan belum.'' Ibu Denara yang menghampiri mereka.
''Res makan sama Nara di meja sana.'' Ujar Ibu.
''Iya Bu.'' Ares lalu mengandeng tangan Denara dan membawanya pergi.
......................
''Mas mau makan apa??'' Tanya Denara.
Di atas meja sudah banyak makanan yang terhidang. Mulai dari goreng hingga bersantan.
''Aku makan apa aja yang kamu ambil.'' Ucap Ares.
''Bener nih, jangan protes yah...'' Ujar Denara.
Ares mengangguk sambil tersenyum.
''Oke.''
Ares tidak henti-hentinya memandangi Denara, rasanya masih terasa mimpi. Membayangkan jika mereka akan bersama-sama selama 24 jam. Sungguh, Ares masih tidak percaya. Jika hal ini benar-benar terjadi.
''Mas... Mas... Mas Ares.'' Panggil Denara berulang.
''Eh, kenapa sayang??'' Ucap Ares spontan.
''ACIEEEEE PENGANTIN BARU UDAH UWU AJA....'' ujar sepupu-sepupunya heboh.
__ADS_1
Membuat Denara dan Ares malu tentu saja.
......................
Usai makan, Denara dan Ares menuju kamar. Untuk beristirahat. Karena acara mereka yang panjang.
Kamar Denara tidak luas tapi berukuran sedang. Kamar Denara yang awalnya biasa-biasa saja. Kini di sulap menjadi kamar pengantin yang cantik dan indah.
Bahkan kado yang tadi berserakan di atas ranjang mereka saat di tinggalkan. Kini sudah tertata rapih kembali.
''Kamu mau langsung tidur??'' Tanya Ares yang sudah duduk di atas ranjang.
''Belum, aku mau bersih-bersih muka sebentar.''
Tidak butuh waktu yang lama bagi Denara, selesai dengan urusannya. Denara kembali menghampiri Ares dan ikut bergabung.
''Mas Ares lagi apa??'' Saat sudah duduk di samping Ares.
''Cek email dari Deni sebentar.''
5 menit...
''Udah??''
''Iya...''
Hening..
''Tidur yuk...'' Ujar Ares pada Denara.
Denara yang mendengar itu malah terkekeh, entah kenapa hal itu malah mengingatkannya pada Zion.
''Mas lucu..'' Sambil tertawa pelan.
Tapi tawa Denara berhenti seketika, ketika wajah Ares tiba-tiba saja mendekat ke arahnya tanpa aba-aba.
''M-mas.. A-ada apa??'' Tanya Denara gugup.
''Kamu tambah cantik, Setelah jadi istri aku.''
Usai mengatakan hal itu, wajah Denara langsung berubah merah dalam sekejap. Sekarang keadaannya berbalik. Areslah yang tertawa sedangkan Denara hanya bisa menutup wajahnya yang merah karena malu.
''Ya ampun sayang, kamu gemesin banget sih...''
Memcoba membuka pelan tangan Denara yang menutup wajahnya yang memerah.
''Ih... Malu tahu...''
Kamar yang di hias cantik adalah saksi bisu dari kisah mereka yang kini mulai penuh dengan tawa dan canda dari keduanya, berat bagi mereka. Ketika mengingat bagaimana cobaan-cobaan yang menerpa mereka.
Perjuangan Ares yang tetap menyakini Denara sebagai takdirnya dan bagaimana sikap Denara yang tetap kuat, meski pun orang tua Ares tidak menyetujui mereka.
Bagaimana sakitnya, saat mereka harus berjauhan. Tapi semua itu sudah di bayar lunas.
Kini mereka sudah bisa bersama, tanpa satu orang pun yang memisahkan mereka.
''Terima kasih, tetap bertahan bersamaku.'' Ujar Ares menggengam tangan Denara sambil mematap matanya lekat.
''Terima kaaih juga, sudah berjuang untukku mengingat perbedaan kasta antara kita.'' Balas Denara menatap Ares.
''Aku mencintaimu...'' Ujar mereka.
Setelah mengatakan hal itu, Ares mulai memangkas jarak antara mereka dan mendaratkan kecupan hangat dan sayang yang di berikan Ares untuk Denara tepat di keningnya.
... Bersambung......
__ADS_1