
...Dilarang plagiat, menjiplak atau pun memgcopy karya ini!!!...
...Happy reading🍃....
...Typo bertebaran.....
Satu tahun kemudian....
Satu tahun telah berlalu, waktu terasa begitu vepat bergerak bagi Denara. Satu tahu belakang, Denara merasa hal itu adalah hal yang paling berat yang pernah di alaminya dalam hidup.
Masalah, hubungan yang kandas dan beberapa hal yang terjadi lainnya dalam hidup. Sekarang semua sudah jauh lebih baik.
Kalian pasti tahu, bagaimana hubungan Denara yang kandas karena orang tua Ares yang menentang. Sekarang, hal itu berbeda. Keluarga Ares sudah menerimanya bahkan hal itu masih terasa mimpi baginya.
Flashback on.
Beberapa bulan yang lalu...
Ares mengajaknya untuk berkunjung kerumah orang tuanya, hal itu membuat Denara sedikit takut awalnya. Meskipun mereka sudah bersikap baik padanya, tapi hal itu tidak menutup kemungkinan jika perlakuan yang lalu akan terjadi lagi.
''Sebaiknya aku tidak ikut saja...'' Ucap Denara menunduk.
Ares tahu, mungkin Denara masih meraskan hal yang tidak menyenangkan pada masa itu akan terulang kembali. Ares lalu mengambil tangan Denara dan menggengamnya.
''Apa kamu merasa takut??''
Denara tidak menjawab atau pun mengangguk.
''Sayang, kamu harus percaya... Jika Mama dan Papa sekarang sudah berbeda.'' Ujar Ares.
''Aku tahu, ta-tapi.. Ba-gaimana... Ji-ka...''
''Kamu tidak perlu berpikir negatif, Mama dan Papa sudah berubah. Kamu percaya padaku kan??''
Denara mengangguk dan mengengam balik tangan Ares.
''Iya, percaya...''
''Lalu, apa yang kamu takutkan sekarang?? Jika kamu sudah percaya padaku.''
''Aku.. Aku masih ragu pada mereka saja bukan padamu..'' Ucapnya pelan dan takut.
''Denara, kamu tahukan.. Setiap orang akan mengalami fase berubah ke arah yang lebih baik.''
Denara mengangguk.
''Dan hal itu, juga di alami oleh orang tuaku. Jadi, apakah kamu masih merasakan takut.''
''Sedikit..''
Ares lalu menarik Denara pelan, ke dalam pelukannya. Membuat Denara dapat merasakan parfum mahal yang selalu Ares kenakan.
''Kamu harus menghilangkan rasa takut, jika ingin melangkah bersamaku, Bisa??''
Denara lantas memgangguk.
__ADS_1
......................
Baju dress panjang berwarna pink yang lembut, melekat sempurna di tubuh Denara. Wajahnya yang di poles dengan riasan natural, tampak pas di wajahnya.
Sepatu hak yang tidak terlalu tinggi, melekat sempurna di kaki kecilnya. Denara tidak tahu, kenapa Ares menyuruhnya untuk memakai semua ini.
Tapi sepertinya, akan ada acara yang akan di langsungkan di rumah orang tua Ares. Ares hanya bilang, jika akan hanyak keluarganya yang datang. Karena hari ini adalah acara keluaraga yang selalu di adakan di keluarga Ares, bisa di bilang hal ini adalah tradisi turun-temurun yang sudah berlangsung sejak kakek serta Nenek Ares.
''Keluarlah, kamu tampak cantik.. Kakak yakin jika Ares akan kagum melihatmu.'' Ujar Resa.
Yap, semua ini adalah hasil karya Resa. Resa yang mendapatkan telpin dari sang adik untuk mendandani Denara. Tentu saja, hal itu tidak di tolak oleh Resa.
Resa serta suami dan juga anaknya langsung saja datang ke kediaman Ares untuk merias Debara sekaligus pergi bersama.
''Kakak jauh lebih cantik.'' Ungkap Denara.
Memang benar apa yang di katakan oleh Denara, Resa benar-benar cantik meskipun sudah memiliki anak, tapi wajah serta postur tubuhnya tidak berubah sama sekali.
''Jangan memujiku Denara, kamu juga cantik. Lihatlah ke arah cermin.''
Di cermin, terlihat pantulan dirunya yang sangat berbeda dari Denara yang biasanya. Apqkah ini sungguh dirinya?? tapi kenapa tampak berbeda??
''Lihatkan?? Kamu saja kagum pada dirimu sendiri, apalagi orang lain.'' Papar Resa.
''Sungguh ini aku??'' Menunjuk dirinya sendiri.
''Tentu, kamu memang sudah cantik Denara terlebuh lagi jika wajahmu di poles.'' Balas Resa.
''Kakak pandai dalam merubah penampilan seseorang..'' Puju Denara kagum.
......................
''Apakah wanita memang lama saat berdandan??''
Pertanyaaan yang Ares tanyakan pada Dion yang merupakan Suami Kakaknya.
''Wanita memang seperti itu...'' Ujar Dion sambil tersenyum.
''Padahal hanya memoles bedak-bedak itu saja, tapi kenapa lama sekali...'' Keluhnya.
''Om mungkin akan protes saat ini, tapi nanti saat Kaka Dena keluar bersama Mami. Om Pasti tidak bisa protes lagi...'' Ujar Zion.
''Memangnya kenapa?? Om akan protes pada Mamimu yang terlalu lama berdandan dan membuat Om menunggu untuk melihat Kak Dena.''' Balas Ares.
''Lihat saja...''
Cklek...
Denara keluar bersama Kakaknya, dan kalian bisa bayangkan bagaimana ekpsresi Ares yang tampak kagum serta kaget.
Ini pertama kali bagi Ares, melihat Denara yang tampak cantik serta manis yang berlebihan. Ares merasa tidak rela jika Denara harus pergi bersama di tengah orang banyak.
''Lihatkan, sudah ku bilang.. Jika Om tidak bisa protes..'' Ucapan Zion malah mengundang tawa dari mereka terkecuali Ares yang terlihat malu.
......................
__ADS_1
Rumah orang tuanya tampak ramai, seluruh keluarga tampak hadir di sini. Denara tampak minder, meskipun dirinya sudah di dandani. Tapi, statusnya sebagai mantan Art tidak bisa hilang begitu saja.
''Kalian susah datang?? Denara kemarilah..'' Ucap Bu Eni yang menyambutnya hangat.
''Iya Tante...'' Ucap Denara kaku dan melangkah mendekat.
Banyak keluarga Ares yang tampak bingung menatapnya, karena seluruh keluarganya tampak tidak tahu dengan dirinya. Mereka habya tahu, jika Ares sudah sebdiri dan tidak memiliki pasangan setelah putus tunangan bersama Jesi.
Bu Eni mulai menjelaskan semuanya secara jelas, mengenai semua hal dan untuknya semya kelauraga Ares menerimanya terlepas pekerjaannya sebagai Art
dulu. Tapi ada juga keluarga Ares yang memandangannya remeh meskipun sebagiannya tampak setuju-setuju saja.
''Mantan pembantu?? Kakak yakin mau jadiin dia sebagai pasangan Ares.'' Celetuk salah satu Tante Ares.
Denara tentu saja diam.
''Tidak apa-apa, asalkan baik dan tidak bermuka dua, kenapa pula aku melarangnya.'' Balas Bu Eni yang merangkul Denara dan membelanya.
Flashback off.
Setelah kejadian itu, Bu Eni tidak jarang mengajaknya pergi dan memasak bersama dan hal itu juga berlaku bagi Arlon yang sering berbicara padanya mengenai Ares meskipun terkadang Denara suka canggung saat berhadapan dengan mereka.
Denara tentu saja bersyukur dengan keadaannya saat ini. Rasanya yang kemarin di anggapnya adalah mimpi dan mustahil, sekarang adalah hal yang nyata yang di rasakannya sendiri.
''Sayang...'' Ujar Ares yang baru saja pulang dari kantor.
Dan mengenai Denara, dia sekarang tinggal bersama orang tua Ares dan sementara Ares tinggal sendiri di rumahnya.
Hal itu sengaja di lakukan, mengingat mereka bukanlah suami itri yang harus tinggal bersama. Denara tentu saja menerima dengan senang keputusan itu tapi jauh berbanding terbalik dengan Ares yang tampak murung.
Tapi semua itu sudah tampak biasa, mereka mampum melewatinya secara bersama-sama.
''Sudah pulang??'' Tanya Denara.
Ares mengangguk, sambil merentangkan tangannya meminta Denara memeluknya. Tapi hal itu tidak terlaksanakan dengan baik. Karena Bu Eni yang tiba-tiba saja menarik telinga Ares dari belakang.
''Jangan macam-macam kamu, belum muhrim...''
''Mahh... Awss... Sakit Mah, Ares berasa anak tiri ini...''
''Kamu nakal, makanya kena jewer..''
Sungguh Ares benar-benar malu saat ini, Ares meras tidak ada harga dirinya. Bagaimana jika salah satu wartawan melihatnya dalam keadaannya seperti ini, dia sangat yakin, jika pamornya sebagai Pengacara terkenal segan dan di takuti akan hilang setelah mereka membuat berita.
''Ares Ananta yang terkenal segan dan di takuti, ternyata suka di jwer oleh Ibunya ketika nakal.''
Membayangkan hal itu saja Ares sudah sangat malu di tambah lagi, Mamanya selalu melakukan hal inu di depan Denara.
Lihat saja sekarang, Denara sudah terkik melihatnya dengan keadaan seperti ini.
''Yang... Nikah yuk...''
Perkataan yang Ares ucapakan berhasil membuat tawa Denara berhenti, begitupun Bu Eni yang tadi menjewernya sudah melepaskan tangannya dan menatap pada Ares dengan kaget.
''Hah??'' Ucap Kompak Bu Eni dan Denara.
__ADS_1
...Bersambung......