Cinta Untuk Tuan

Cinta Untuk Tuan
23 part 2


__ADS_3

Zion sedang menatap tajam Ares, yang saat ini persis duduk di depannya. Tangan yang di lipat di depan dada. Seolah-olah sedang memarahi anak kecil.


''Jadi, Om yang pecat Kak Dena.'' Tanya Zion tajam.


Ares hanya menghela nafas sejenak, lalu menjawab dengan anggukkan. Ares hanya meringgis pelan saat ini. Bagaimana bisa, orang dewasa sepertinya. Di marahi oleh anak nakal seperti Zion.


''Kenapa Om pecat Kak Dena??'' Tanya Zion.


''Karena.... Sesuatu hal. Dan terjadi begitu saja.'' Ucap Ares tak mengucapkan secara detail.


''Apa Om, menyesal telah memecat Kak Dena??''


Ya, sepertinya Ares cukup menyesal dengan hal itu, terlebih lagi kata-kata yang di lontarkan pada Denara.


''Ya.'' Jawab Ares singkat.


......................


Denara sudah mulai turun dari motor Tian, saat ini mereka sudah sampai persis di depan rumah Denara. Awalnya Denara menolak, untuk Tian mengantarkannya sampai depan rumah. Tapi Tian beralasan, jika dirinya tak tega meninggalkan Denara sendirian di sana.


Alhasil, inilah yang terjadi. Denara menyodorkan helm pink itu, pada Tian. Yah saat mereka akan pergi, tiba-tiba Tian berhenti di salah satu toko helm di pinggir jalan. Dan membelikan helm pink ini untuknya.


''Makasih sudah mengantarku sampai sini.''


Helm itu, sudah di terima oleh Tian dengan tersenyum.


''Sama-sama Nara, helm ini seharusnya kau bawa pulang saja.'' Ujar Tian, yang masih duduk di atas motor.


''Tidak Tian, ini milikmu. Lagian helm ini juga bisa di pakai oleh Taniakan.'' Jelas Denara.


Denara salah, Tania itu sangat tidak suka dengan warna pink seperti ini. Baginya, pink itu terlalu perempuan dan Tania tak suka.


Oleh karena itu, saat Ibunya membelikan baju berwarna pink. Maka, Tania dengan senang hati akan memotong-motong bajunya dan memakaikannya pada robot-robotan miliknya.


Sejak kecil saja, bahkan Tania sangat suka dengan robot-robotan dari pada boneka. Semenjak itu, Ibunya tak pernah lagi membelikan Tania baju atau apapun yang berwarna pink untuk Tania.


''Bukan ide yang bagus untuk di berikan pada Tania.'' Sembari Tertawa.


''Kenapa??'' Tanyanya.


''Karena Tania, tak menyukainya.'' Jawab Tian.


''Nara, sebaiknya kamu segera masuk. Aku akan pergi sekarang.'' Sambung Tian.


''Baiklah, terima kasih Tian. Hati-hati,'' ucap Denara.


......................


''Zion, apakah Om harus melakukan ini.'' Ucap Ares tak yakin.

__ADS_1


Zion yang mendengar itu, melototkan matanya pada Ares. Membuat Ares diam.


''Katanya, Om mau minta tolong sama Zion. Giliran di tolongin, eh malah enggak mau.'' Jawab Zion.


''Zion, Om sangat tidak yakin, bisa melakukan hal ini.'' Ujar Ares lagi.


''Om, apa susahnya berbicara di depan kamera, sembari meminta maaf.'' Kesal Zion dengan mengembungkan serta matanya yang melotot.


Ares yang melihat itu, hampir saja tertawa. Baginya Zion tak sama sekali menakutkan, malah Zion terlihat seperti badut baginya.


''Jangan coba-coba tertawa Om.'' Marah Zion lagi.


''Siapa yang tertawa?? Om hanya diam saja.'' Elak Ares.


''Wajah Om sangat jelek saat menahan tertawa, jadi jangan lakukan hal itu lagi. Apalagi di depan wanita,'' Uvapnya polos.


''Heh!! Zion, kecil-kecil kamu sudah memikirkan wanita, belajar yang benar. Masih piyik juga, sok-sok'an kamu.'' Ketus Ares.


''Siapa juga yang memikirkan wanita, yang ada nih yah Om. Mereka yang selalu memikirkan aku.'' Ujarnya sombong.


''Sudah, Om tetap tidak bisa.'' Ares mulai bangkit dari sofa.


Melihat itu, Zion mulai meletakan kamera yang di pegang olehnya. Dan mulai mengikuti langkah kaki Ares.


''Om benar-benar payah, masa melakukan hal semudah itu saja tidak bisa. Bagaimana jika bertemu langaung dengan Kak Dena. Mungkin Om, bakalan sembunyi.''


Mendengar perkataan Zion yang sombongnya minta ampun. Membuat Ares berhenti berjalan, lalu menatap Zion.


''Gitu dong, Om kan jadi kelihatan Keren.'' Ujarnya tersenyum senang.


......................


Tok....


Tok....


Tok...


''Assalamu'alaikum, Bu, Yah.... Nara pulang.''


Cklek...


Pintu terbuka, nampaklah wajah Ibu serta Ayahnya, yang sudah lama tak di lihatnya hampir setahun ini.


''Wa'alaikumsalam, ya Allah Denara, Ibu kangen banget sama kamu.'' Ibunya langsung memeluk erat tubuh Denara.


''Hiks..... Hiks.... Ibu, hiks.... Hiks.... Denara kangen banget sama Ibu.'' Memeluk tak kalah erat tubuh Ibunya.


Rasa rindu yang menumpuk di hatinya kini, terbayar sudah, Denara benar-benar merindukkan semua hal yang ada di sini.

__ADS_1


''Ibu juga Denara, Ibu kangen banget sama kamu.'' Balas Ibunya terharu.


''Sudah, tidak baik berdiri di depan pintu seperti ini, lebih baik kita masuk dulu ke dalam rumah.'' Ujar Ayahnya.


Membuat Denara serta Ibunya tertawa pelan, mendengar ocehan sang Ayah.


Saat memasukki rumah, tubuh Denara sedikit bergetar. Rasanya, sudah lama sekali, bagi dirinya tak pulang ke sini. Foto-foto yang tertempel di dinding, adalah tempat favorit baginya. Fotonya yang di tempel dari dirinya kecil, hingga dewasa terpajang rapih di sana.


Tanpa sadar air matanya menetes dengan sendirinya. Hingga usapan lembut di rambutnya membuat Denara berhenti menanggis.


''Anak gadis Ayah, kok nangis sih.'' Dengan masih mengusap rambut Denara pelan.


''Hiks... Hiks... Ayah.....'' Langsung memeluk tubuh Ayahnya dengan erat.


''Sudah.... Anak gadis ayah tidak boleh bersedih, nanti Ayah ikut menanggis.'' Balas ayahnya memeluk.


Mendengar itu, Denara dengan cepat mengusap air matanya yang masih jatuh dan menatap ayahnya sembari berkata. ''Ayah, jangan menanggis. Nara sudah tak bersedih lagi.''


......................


Zion menatap datar kearah Ares, sudah hampir sepuluh kali mereka melakukan perekaman vidio. Tapi hasilnya selalu jelek.


Di vidio pertama, Ares sama sekali tak berbicara. Di vidio kedua, Ares hanya berbicara sedikit dengan raut wajah datar serta kaku. Dan beberapa vidio yang mereka lakukan, hasilnya selalu saja jelek.


Membuat Zion yang merekam tentu saja kesal.


''Om, masa melakukan ini saja tidak bisa.'' Jengkel Zion.


''Zion... Om memang tak bisa melakukan hal ini, Kamu tahu sendiri. Om tak suka dengan yang namanya kamera dan hal-hal seperti ini.'' Jelas Ares.


''Ck, Om ini benar-benar payah. Pantas saja Kak Dena pergi,'' Ejek Zion.


''Sembarang kalau bicara, cepat ambil lagi vidionya.'' Ketus Ares.


''Baiklah, tapi berjanji pada Zion, jika vidio ini adalah vidio terakhir dan harus bagus. Mengerti Om.'' Jelas Zion.


''Hmmm...'' Jawab Ares.


''Baiklah, aku akan mulai. 1, 2, 3, action.'' Ucap Zion mulai merekam.


'Semangat Ares,' batinnya.


...~Bersambung.~...


Hola Pembaca😄.


Jangan lupa buat beri dukungan kalian berupa like, rate 5, favorit, vote dan share😊.


Karena dukungan kalian adalah semangat buat Dao up dan semangat nulisnya.

__ADS_1


IG : dindao.18


Terima kasih telah singgah dan membaca cerita ini❤.


__ADS_2