
Hola Pembaca jangan lupa buat Rate 5, Like, dan Vote nya yah☻
Biar Dao semangat💪 buat upnya
Wokeh👍
Ig: dindao.18
.
.
.
.
Happy Reading❤
.
.
Tian, seorang Bartender yang bekerja di Club Night. Peracik minuman yang cukup handal di sana. Hingar bigar, alkohol, wanita, dunia malam, tak terlepas dari itu semua.
Tian, adalah salah satu orang yang cukup menerima takdir yang di tuliskan sang pencipta untuknya. Ada rasa sesak di hati Tian, bekerja di Club Night.
Omongan orang yang selalu negatif tentangnya, padahal dirinya bukan orang yang suka mabuk - mabukkan apalagi main perempuan.
Awal mula Tian bekerja di sana, karena ajakkan teman dan dirinya juga belum mempunyai pengalaman pekerjaan saat itu bahkan Tian cukup sulit untuk menyesuaikan diri. Terlebih lagi itu kali pertama Tian memasukki dunia malam.
Rasa tak nyaman sempat di rasakan Tian. Apalagi wanita - wanita yang berada di sana cukup genit, membuat Tian was - was dan harus pandai jaga diri.
Alasan Tian bertahan lama di sana tak lain adalah gajinya yang besar. Membuat Tian mempertahankannya bukan itu saja Boss pemilik Club itu baik padanya. Membuat Tian tak punya pilihan sama sekali untuk berhenti, apalagi saat sekarang cukup sulit mencari pekerjaan. Mau tak mau membuat Tian harus bertahan.
'' Tian, pesen minum kayak biasa. ''
Salah satu pelanggan tetap disana.
'' Siap.....Tumben sendiri . ''
Bukan tanpa sebab Tian bertanya, pelanggan satu ini biasanya selalu di temanni para wanita di dekatnya.
'' Gak...Males aja, pada matre '' ujarnya sambil meminum - minuman itu.
..............
Tian mulai bekerja dari jam 10 sampai jam 4 pagi, membuat tian seperti kelelawar. Sekarang waktunya Tian pulang, jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi.
Tian mulai menaruh pakainnya di loker miliknya dan mengganti kaos hitam panjang yang biasa Tian kenakan.
Jarak tempuh rumah Tian dari tempat kerja cukup jauh. Dengan motor gede berwarna hitam miliknya. Tian mulai menyusuri jalan raya, Tian cukup gebut mengendarai motornya. Karena badanya sudah lelah dan matanya sudah mulai memerah karena menahan kantuk.
Rumah milik Tian berada di salah satu komplek perumahan di salah satu kota.
..................
Pukul 4 sore.
Tian baru bangun dari tidurnya, jangan kaget karena itu termasuk cepat dirinya bangun, biasanya dirinya tidur sampai jam 7.
__ADS_1
Tapi hal itu tak akan terjadi, mau tahu kenapa? Mari Tian beritahu.
Tok...
Tok...
Tok...
Ketukkan pintu yang cukup kuat dan tak lupa teriakkan membahana dari orang itu.
'' ABANG...........BANGUNNNNN...... ''
'' BANG....BANG...BANG....BAANGUNNNN...''
Prangggg...
Prangg...
Tian selalu merasa di bangunkan oleh orang tawuran saja, lihat saja adiknya itu perempuan tapi kenapa tak ada feminimnya sama sekali, suka berteriak, makan banyak, dan suka berkelahi.
Dengan cepat Tian membuka pintu, melihat adiknya yang berada di luar.
Cklek...
Hal yang pertama di lihat Tian adalah panci serta kawan - kawannya berada di tangan sang adik. Tapi kenapa panci itu penyok di sisi kiri dan kanan.
'' Bunyi prang tadi itu panci yang kamu lempar ke lantai Tania.''
'' Oh ini, aku dari tadi teriak - teriak tapi Abang kayaknya pules banget, karena itu aku berinisiatif bawa ini '' Ucapnya polos.
'' Ya ampun, Tania itu panci kesayangan Ibu '' Ujar Tian frustasi.
'' Ya terus '' tanyanya.
Ibu Tian itu salah satu pengkoleksi panci, bermacam - macam, bahkan satu lemari khusus untuk koleksi Ibunya.
................
'' Tumben ini rumah sepi, pada tidur kayaknya. ''
Memasukki rumah, tapi saat ke arah dapur. Tanpa sengaja Ibu Desi, melihat beberapa perabotan dapur berserakkan di lantai.
'' Loh.....Kenapa pada jatuh semua '' Bingungnya.
Melihat - lihat sekeliling, sepertinya ada yang hilang di sana. Sampai beberapa saat Ibu Desi menggingatnya.
'' Eh...Kok panci pink yang di dapet dari arisan, kok gak ada ? '' Sebenarnya apa yang terjadi.
Lalu berjalan kedepan, sampai Ibu Desi melihat Tian dan Tania sedang memengang panci yang Ibu Desi sedang cari.
'' Astagfirullah.....Ini panci Ibuuuuu. ''
Tian dan Tania kompak menoleh, mendengar suara Ibunya, wajah Ibunya saat ini tampak marah dan hal itu tentu saja tak bagus bagi mereka.
Ibu Desi menatap mereka berdua dengan tajam.
'' Siapa yang punya ide ini '' Melihat pancinya yang penyok.
Mereka dengan cepat menunjuk satu sama lain, agar terhindar dari amarah sang Ibu.
__ADS_1
'' Oh... Bagus yah....Gak ada yang mau ngaku ? '' Dengan cepat Ibu Desi menarik telinga mereka berdua.
'' Awssss.....Bu....Sakit....''
'' Awsss....Bu....Telinga aku, bisa copot....''
Rintihan mereka berdua, lihat saja bahkan telinga mereka sudah memerah akibat jeweran maut yang Ibunya lakukan.
'' Kalian ini udah besar....Kenapa masih main masak - masakan hah ! '' Omel Bu Desi.
Pasrah sudah mereka, Ibunya itu tak akan puas marahnya jika di ganggu jadi lebih baik mereka diam saja dan menerima.
.............
'' Ini semua salah Abang....''
'' Apa kamu nyalahin Abang, jelas - jelas kamu yang asal ambil aja pancinya Ibu.''
'' Tapi kalo Abang gak kebo, aku juga gak mungkin kali ambil hal ekstrim itu. ''
Mereka berdua saat ini sedang berada di meja makan, sambil mengkompres telinga dengan es batu. Dan beradu argumen serta saling menyalahkan satu sama lain.
'' Bang....Aku berasa jadi kayak anak tiri aja... ''
'' Iya Abang setuju....Masak iya Ibu lebih sayang sama pancinya.... '' Setuju Tian.
'' Berasa kayak di sinetron gak sih bang ? '' Ujarnya.
'' Sinetron '' Ulangnya.
'' Iya..... Aku anak kandung yang di tirikan hanya karena panci pink '' Ucapnya pelan.
'' Iya.....Kita di tirikan hanya karena panci warna pink, yang biasanya di pake buat masak sayur, '' Ucapnya miris.
'' Sungguh.....Kejam..... '' Ucap Tania dramatis.
'' Kamu itu persis banget kayak Ibu...''
'' Sama gimana Bang? '' Tanyanya.
'' Aktif....Kalo kata anak jaman sekarang mah. Aktif yah Bun... ''
Mendengar kata itu terucap dari Tian, membuat Tania menatap horror sang Abang.
'' Demam nih kayaknya ..... '' Beranjak pergi meninggalkan Tian sendiri.
................
Sang matahari perlahan mulai tenggelam, langit - langit mulai di hiasi oleh bintang - bintang, pertanda malam tiba.
Malam yang telah tiba, mengharuskan Tian untuk bersiap pergi kerja, menjemput nafkah yang tengah menunggunya. Langkah kaki Tian, mulai melangkah ke luar rumah menuju motornya. Yang sudah terparkir di depan rumah. Bersiap berangkat. Membelah jalanan menuju tempat kerja.
Memakai jaket kulit berwarna coklat, untuk menghalau dinginnya udara malam. Malam adalah waktu bagi Tian untuk bekerja, Saat orang - orang beristirahat dari lelahnya aktivitas mereka. Sedangkan Tian. Ini adalah waktunya bekerja dan bukan bersantai bagi Tian. Setiap pekerjaan pasti ada resiko masing - masing yang harus di tanggung.
.
.
.
__ADS_1
.
Sampai jumpa di episode selanjutnya👋🏻