Cinta Untuk Tuan

Cinta Untuk Tuan
48 part 1


__ADS_3

...Dilarang plagiat, menjiplak, atau pun mengcopy karya ini!!!...


...Happy reading🍃....


Selama tinggal bersama Inem, Denara sudah bekerja di salah satu kafe yang baru saja di buka. Denara sudah bekerja di sana selama satu bulan.


Rumah Inem sebenarnya di kota, tapi tidak di kota yang cukup besar seperti tempat Ares yang merupakan kota besar.


Meskipun begitu, Denara sangat bersyukur. Setidaknya dirinya tidak perlu takut untuk bertrmu dengan mereka, karena jaraknya sukup jauh.


''Hari ini sangat ramai.'' Keluhnya, usai mengelap meja-meja kafe.


''Denara apakah sudah semua??'' Tanya Lili, yang merupakan rekan kerjanya.


''Sebentar lagi, aku akan segera ke sana.'' Sahut Denara.


Kafe ini cukup ramai, semenjak resmi di buka. Banyak orang yang datang ke sini untuk berfoto dan mengisi perut mereka.


Kafe ini cukup strategi, karena letaknya di sebelah kantor dan juga sekolah. Hal inilah uang membuat kafe akan ramai dan padat saat makan siang.


Kafe tempatnya bekerja, buka jam 8 pagi sampai jam 10 malam. Dan jarak kafe dan kostan Inem cukup dekat, hingga Denara tidak perlu mengeluarkan biaya uang besar untuk transportasi.


Sekarang jam 12.00 siang, kafe mulai ramai oleh orang-orang. Hari ini, Denara menjadi kasir karena harus mengantikan temannya yang berhalangan hadir.


''Mbak, saya boleh tanya??''


Denara lalu menatap ke arah orang yang sedang memanggilnya saat ini.


''Ada apa??''


''Apa nama Mbak benar Denara??''


''Iya, benar. Ada apa??''


''Tidak, saya hanya mengingat seseorang saja.'' Lalu menyerahkan uangnya dan pergi.


Denara menatap aneh kepada orang itu, memakai jaket serta topi dan wajahnya yang tertutyp masker.


''Denara??'' Ucap Lili, sambil menepuk pundaknya.


''I-iya...''


''Kamu baik-baik saja??''


''Tentu...''


''Sepertinya tidak, sebaiknya aku saja yang mengantikanmu. Istirahatlah sebentar.''


Lili benar, Denara akhir-akhir ini terlalu memaksakan dirinya untuk bekerja bahkan dirinya terkadang harus bekerja double setiap hari untuk membantunya. Hal itu benar-benar melelahkan.


''Baiklah, aku pergi ke belakang dulu.''


Lili lalu melanjutka pelerjaan Denara yang sempat tertunda tadi.

__ADS_1


......................


Jesi datang ke kantor, tempat Ares bekerja sambil membawa beberapa makanan yang ada di tangannya. Hal ini sering di lakukan oleh Jesi sejak mereka resmi menerima perjodohan.


Karyawan Ares sudah hapal betul dengan Jesi yang akan selalu datang kemari untuk membawakan bekal dan memberikannya pda Ares.


''Ares ada di dalam??'' Tanya Jesi pada Deni yang berjaga di depan pintu.


''Tidak ada, Bu. Pak Ares baru saja pergi..'' Balas Deni.


''Saya tidak bodoh, untuk kamu bodohi Deni. Menyingkir dari sana.'' Jengkel Jesi.


Benar apa yabg Jesi katakan, Ares memang ada di kantornya dan memerintahkan Deni untuk berjaga dan melarang Jesi masuk ke dalam sana.


''Menyingkir...''


Deni masih saja berdiri di depan pintu, untuk menghalangi jalan Jesi. Merasa di hiraukan, Jesi menelpon seseorang. Tak berselang lama, beberapa orang memakai pakaian hitam muncul.


Tiga orang pria berbadan besar bedriri di belakang Jesi. Jesi lalu memerintahkan mereka untuk menyingkirkan Deni dari sana.


Deni yang di tarik paksa tentu saja berontak, walau pun Deni tahu hasilnya percuma. Badannya memang besar, tapi dirinya cukup kewalahan melawan 3 orang sekaligus seperti ini.


Jesi yang melihat itu, langsung mengambil kesempatan. Saat Deni yang sibuk melawan penjaga-penjaga yang dirinya sewa.


......................


Cklek...


Suara Jeai beehasil membuat Ares menatap ke arahnya.


''Siapa yang menyuruhmu masuk ke sini??'' Ujar Ares menatap tajam Jesi.


''Tidak ada yang melarangku, kecuali Deni.''


Jesi lalu menaruh makanan yang dirinya bawa di atas meja. Ares yang melihat itu, langsung merampas dan melamparkan kotak makan itu ke lantai.


Hal ini adalah hal yang biasa di dapat oleh Jesi. Meskipun begitu, Jesi selalu menghiraukannya. Sakit pasti dirinya rasa, terlebih lagi orang yang melakukannya adalah orang yabg dirinya suka.


''Pergi dari sini dan jangan pernah datang lagi.'' Sinis Ares.


Jesi menatap ke arah kotak makan yang dirinya bawa. Kotak makanan itu berserakkan di lantai. Apakah sebegitu tidak berharganya usaha yang dirinya lakukan untuk membuat Ares menyukainya??


''Kenapa kamu selalu begini padaku Ares?? Apakah tidak bisa kamu menerimanya saja!!'' Ujar Jesi yang mulai menanggis.


Sementara Ares hanya menatap Jesi datar, melihat Jesi menanggis bukanlah hal yang penting untuk Ares perhatikan.


''Kenapa kamu sama sekali tidak memandangku Ares!! Kenapa!!!'' Pekik Jesi.


''Apa kurangnya aku dari pembantu kampung yang pergi meninggalkanmu, apa lebihnya dia??''


''Kamu sama sekali tidak ada bandingannya, kamu bahkan lebih rendah darinya. Meskipun dirinya hanya seorang pembantu.''


Perkatan Ares benar-benar melukainya. Rasa benci Jesi tentu saja semakin bertambah pada Denara. Dengan wajah yang masih berlinang air mata, Jeai pergi dari ruangan Ares.

__ADS_1


Deni yang berhasil melepaskan diri dari penjaga Jesi, langsung saja masuk ke dalam ruangan Ares.


'Terjadi lagi??' Batin Deni, saat menatap lantai ruangan Ares yang kotor karena makanan yang berserakkan.


''Sudah melihatnya?? Jika iya, cepat bersihkan dengan segera.'' Perintah Ares dan melanjutkan lagi pekerjaannya.


......................


Jesi memukul setirnya dengan kesal.


''Hiks.... Hiks... Apa lebihnya pembantu kampung itu, dia bahkan lebih rendah levelnya dari pada diriku.''


''Tapi kenapa Ares selalu saja memikirkannya, kenapa... KENAPA!!!'' Tangan Jesi bahkan sudah memerah karena memukul stir mobil terlalu keras.


Tinnnn....


Tinnnn....


Mobil di belakang Jesi mulai memberi klakson pad Jesi yang belum juga berjalan.


Mendengar itu, Jesi dengan segera menginjak dan melajukan mobilnya dengan cepat dan menerobos jalan.


''Aku akan membalas semua ini, lihat saja.'' Guman Jesi.


......................


Ares berdiri di depan mobilnya, sambil menatap ke arah danau yang beberapa belakangan ini selalu dirinya kunjungi.


''Aku ingin melupakanmu...''


''Aku inging menghapus kenangan bersamamu...''


''Tapi kenapa rasanya sulit, bahkan saat kamu pergi pun. Aku masih saja memikirkanmu.''


Suara deru motor terdengar jelas di telinga Ares, membuatnya menoleh menatap ke arah sumber berada.


''Kau selalu datang ke sini...'' Ucap orang itu.


''Sudah tahu kau masih bertanya???''


Orang itu lalu menghampiri Ares dan duduk di atas kap mobil milik Ares sambil memberikan minuman kaleng pada Ares.


''Kenapa kau di sini??'' Menerima minuman itu.


''Ku dengar dari seseorang kau sedang ada masalah bahkan hari ini kau baru saja bertengkar. Bukankah sebentar lagi akan bertunangan??"


''Berhenti Tian, kau sangat menggangu.'' Ketus Ares.


Benar orang yang baru saja tiba adalah Tian, mungkin kalian tidak menyangka jika Ares akan beeteman dengan Tian sekarang. Terlebih lagi mereka dulu bukanlah orang yang cukup dekat untuk bisa di katakan teman.


Mungkin dulu adalah musuh tapi siapa yang tahu jika mereka akhirnya akan jadi teman seperti ini.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2