Cinta Untuk Tuan

Cinta Untuk Tuan
39 part 2


__ADS_3

...Dilarang plagiat, menjiplak, atau pun mengcopy karya ini!!...


...Happy Reading🍃...


Tania tidak berhenti menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 10 malam. Entah kenapa Tania merasa tidak enak mengenai Tian.


Tania bahkan sudah sejak tadi menghubungi ponsel Tian, tapi nomor Tian tidak aktif sama sekali.


''Apa aku telpon Kak Denara aja yah??? Siapa tahu dia tahu.''


''Tapi gak enak kalo nelpon jam segini, mungkin juga Kak Denara tidur,'' lanjut Tania.


Tapi Tania mengurungkan niatnya untuk menelpon Denara, Tania memilih menelpon tema-teman Tian yang lain. Tapi mereka sama sekali tidak tahu mrngenai keberadaan Tian.


''Bang ke mana sih???'' Khawatir Tania.


......................


Ares duduk di sofa sambil memegang ponsel Denara yang ada di tangannya, di layar ponsel Denara. Ares melihat salah satu nomor yang bernama Tian di sana.


Ares lalu menyalin nomor itu ke ponsel miliknya. Setelah menyalin, Ares kembali menaruh ponsel Denara di atas meja di samping ranjang.


Usai menanggis tadi, Denara tertidur karena lelah bahkan badan Denara sedikit hangat karena terkena hujan.


''Tidurlah yang nyenyak.'' Mengusap kepala Denara dengan sayang, lalu Ares keluar dari kamar.


......................


Tian pulang ke rumah tepat jam 12 malam, pakaiannya sudah basah kuyup karena air hujan yang membasahi tubuhnya.


''Ya ampun, Bang Tian.'' Tania segera menghampiri Tian.


''Abang kenapa bisa gini sih, Bang kenapa???''


Saat Tania memegang tangan Tian, Tania langsung berteriak memanggil Ibunya.


''IBUUUU.....''


Ibu Tania datamg dengan tergopoh-gopoh, melihat ke arah Tania yang kesuliatan menipang tubuh Tian yang besar hampir pingsan.


''Ya Allah Tian, kamu kenapa begini sih nak.'' Membantu Tania membaringkan Tian ke sofa ruang tamu.


''Kenapa Abang kamu???'' Bertanya dengan Tania dengan khawtir.


''Tania gak tahu Bu, Tania hanya melihat Bang Tian yabg pulang dengan keadaan seperti ini.'' Jelas Tania.


''Kamu tunggu Abang kamu di sini dulu, Ibu mau ambil kompresan sama obat.''


......................


Tian mulai membuka matanya yang terasa berat. Tian merasakan tubuhnya yang lemas tidak bertenaga.


''Aku di rumah,'' ucapnya tidak bertenaga.


Tian lalu mengambil handuk lecil yang ada di dahinya, Tian menoleh ke arah samping yang lebih tepatnya ke arah meja di samping ranjangnya. Di sana terdapat obat-obatan serta air kompresan.


''Apa yang terjadi sebenarnya???''


Tian menoleh ke arah pintu, di mana Tania yang sedang berdiri dengan tangan yang di lipat di depan dada.


''Tidak ada,'' jawab Tian lesu.


Tania mulai menghampiri Tian yang masih berbaring di ranjang tidurnya dan duduk di sisi ranjang lainnya.

__ADS_1


''Apa Abang pikir aku akan percaya??''


''Aku bukan anak kecil yang bisa Abang bohongi.'' Lanjut Tania.


Tian masih diam dan tidak menanggapi perkataan Tania sama sekali.


''Apakah ini ada kaitannya dengan Kak Denara.''


Ucapan itu membuat Tania mendapatkan jawaban dari Tian. Bagaimana tidak, saat Tania mengucapkan itu. Ekspresi Tian berubah drastis dari sebelumnya.


''Ternyata benar....''


Tania mulai bangkit dan membenarkan selimut Tian yang tersingkap.


''Semoga Abang lekas sehat.''


......................


Denara sedikit kesianggan pagi ini, ini adalah hari pertamanya terlambat bangun pagi.


Cklek...


''Kamu sudah bangun,'' Ares datang dengan membawa nampan yang berisi bubur, obat serta air minum.


''Maaf, aku terlambat bangun.'' Mulai duduk dan menyandarkan tubuhnya pada ranjang tidur.


''Tidak apa, sudah merasa baikkan.'' Meletakan nampan ke atas meja.


Denara memgangguk.


''Ini, makanlah setelah itu minum obatnya.'' Menyuapi Denara.


''Biar aku saja,'' menolak suapan Ares.


Denara tersenyum mendengar perkataan Ares saat dirinya menolak suapan Ares.


''Kenapa Tuan jadi berubah seperti ini.'' Ucap Denara lucu.


''Berhenti memanggilku dengan sebutan Tuan, aku merasa lebih tua darimu.'' Protes Ares dengan wajah yang cemberut.


''Tuan memang sudah tua,'' ujar Denara masih menyebut kata Tuan.


''Jika sekali lagi kamu mengucapkan kata Tuan, aku akan menghukummu.'' Anacam Ares serius.


''Baiklah aku tidak akan mengatakannya.''


Denara mulai menerima suapan yang Ares berikan padanya hingga bubur di dalam mangkuk habis di makannya, Ares kemudian memberikan obat pada Denara.


......................


Tian merasa tubuhnya sudah lebih mendingan dari pada pagi tadi. Tian tidak menyangka jika di tolak oleh seorang perempuan akan berakhir seperti ini.


''Huh, seharusnya aku tidak menyukainya.'' Jika mengingat penolakan yang Denara berikan padanya.


''Apakah sesakit itu Bang??'' Tania yang tiba-tiba sudah duduk di samping Tian.


''Kamu mau merasakannya juga,'' tawar Tian dengan nada bercanda.


''Sorry aja, Tania gak bakalan suka sama orang.'' Sombongnya.


''Mungkin kamu bisa bilang itu saat ini, tapi siapa tahu mungkin besok saja kamu bisa menyukai seseorang.'' Jelas Tian.


''Pegang kata-kata Tania, Tania gak bakalan kayak Abang saat ini.'' Lalu pergi meninggalkan Tian sendirian.

__ADS_1


......................


Semenjak berpacaran Dengan Denara, Ares selalu pulang cepat ke rumahnya. Hal itu membuat Deni sedikit aneh melihatnya, terlebih lagi Ares adalah orang yang suka bekerja.


''Akhir-akhiri ini, Pak Ares selalu pulang lebih awal dari biasanya.'' Deni yang berjalan beriringan dengan Ares.


''Ya begitulah,'' Dengan raut wajah senang.


''Wah apakah saya ketinggalan berita.''


Ares menoleh ke arah Deni sambil mengerutkan dahinya.


''Maksudnya??''


''Pak Ares sudah pacaran dengan Denarakan??''' Balasnya.


Ares tersenyum secara perlahan saat mendengar hal itu, membuat Deni tambah semangat menggoda Ares.


''Jika iya memang kenapa??'' Lalu melanjutkan langkahnya.


''Woohoooo..... Bucinnya terlalu ketara Pak Ares...'' Dengan sedikit berteriak.


......................


''Kak Denara mari kita menghitung bersama.'' Papar Zion.


''Menghitung untuk apa??'' Mulai ikut berdiri di samping Zion sambil menatap ke arah pintu rumah.


''Untuk Om Ares... Akhir-akhir ini Om Ares sering pulang cepat.'' Balas Zion.


Benar apa yang di katakan oleh Zion, ternyata bukan dirinya saja yang merasakan hal itu, akhir-akhir ini pikir Denara.


''Mungkin pekerjaanya sudah selesai, karena itu dia pulang cepat.'' Memberi Alasan pada Zion.


''Mustahil, Om Ares adalah orang tersibuk yang pernah kukenal setelah Papi dan Kakek.'' Jelasnya.


''1.....''


''2....'


''3....''


Setelah selesai menghitung, benar saja pintu rimah Ares terbuka lebar dan menampilkan sosok Ares yang masuk ke dalam rumah dengan pakaian kantor lengkap dengan tas yang ada di tangannya.


''Lihatkan Kak Dena, apa yang kukatankan mengenai Om Ares benar adanya.'' Bisik Zion pelan.


Ares melangkah lebar memdekati Denara dengan senyuman manis di wajahnya.


''Aku pulang,'' merentangkan tangannya di depan Denara.


Zion yang melihat itu tentu saja paham akan modus yang Ares lakukan untuk meminta di peluk oleh Denara.


Dengan sigap Zion berdiri di tengah-tengah Ares dan Denara sambil menatap Ares dengan tajam.


''Dilarang bermesraan di depan anak kecil.''


Ares yang mendengar ucapan Zion hanya bisa mengacak rambutnya karena malu. Sedangkan Denara hanya tersenyum melihat tingkah Arez yang menurutnya lucu.


...Bersambung....


......................


Hola pembaca, sebenarnya Author ada rencana buat bikim cerita untuk Tian. Tapi gak tahu kapan😅, soalnya itu masih rencana aja.

__ADS_1


Sayonara....


__ADS_2