Cinta Untuk Tuan

Cinta Untuk Tuan
50 part 2


__ADS_3

...Dilarang menjiplak, plagiat, atau pun mengcopy karya ini!!!...


...Happy reading....


...Typo bertebaran....


Peringatan : Terdapat beberapa kekerasan serta kata-kata kasar. Jika tidak suka silahkan lewatkan saja.


Denara membuka matanya secara perlahan, Denara merasakan jika saat ini tubuhnya terasa seperti terikat. Tubuhnya benar-benar tidak bisa bergerak.


Debu serta gelap yang saat ini, di rasakan oleh Denara. Ruangan itu benar-benar gelap dan sulit baginya untuk bergerak karena ikatan tali di tubuhnya.


''Hmmm..... Hemmmmm....'' Dengan tubuh yang meronta-ronta.


Denara tidak bisa melihat dengan jelas, kondisi do ruangan ini. Dirinya benar-benar sulit untuk melihat.


''Sudah bangun rupanya,'' Suara yang terdengar dari belakang.


Denara bahkan bisa mendengar suara itu mulai mendekat ke arahnya. Takut dan gelisah, itulah yang Denara rasakan saat ini.


Pemikiran negatif, mulai menyerangnya. Bagaimana jika dirinya di jual, bagamaina jika dirinya tidak selamat dan hal-hal lainnya.


Orang itu berjalan mendekat ke arahnya dan mencoba membuka lakban yang menutupi mulut Denara dengan cara menariknya paksa.


Srett...


''Auwsss.....'' Ringgis Denara.


''Kau cukup cantik, tapi kenapa Bos ingin melukaimu.'' Ucap laki-laki di depan Denara saat ini.


''Hei jangan sentuh dia, kau sudah ingatkan apa yang Bos katakan.'' Ucap lainnya.


''Si-siapa B-Bos kalian..'' Tanya Denara takut.


''Oh manis, kami tidak bisa memberitahumu sekarang. Karena Bos melarangnya. Tenang saja, dia sebentar lagi datang dan kau akan melihatnya sendiri.''


......................


Ares menyewa beberapa detektif serta polisi untuk melacak dan mencari keberadaan Denara. Setelah mendapatkan hal itu, Ares langsung bergerak cepat.


Ares benar-benar merindukannya, wajahnya tampak pucat serta tubuhnya yang sedikit mengurus dari sebelumnya.


''Aku pasti menemukanmu, Denara.'' Batin Ares.


......................


Pintu gudang tua itu terbuka, suara sepatu mulai terdengar dari arah luar ke dalam ruangan. Denara mulai menatap ke arah orang yang baru sqja datang. Wajah Denara tampak terkejut, melihat orang yang sudah menyewa beberapa preman untuk menculiknya.


''Denara, kau ingat hari kau mengancamku.'' Jesi mulai berjalan memutar, mengelilingi Denara yang duduk di kursi dengan kondisi terikat.


''Aku sangat membencinya, berani-beraninya pembantu kampung sepertimu mengancamku.'' Mulai menjambak rambut Denara cukup kuat.


Sungguh, ini benar-benar menyakitkan. Denara benar-benar merasakan tarikan rambut yang di lakukan oleh Jesi padanya, sangat menyakitkan.


''Kenapa sakit?? Oh iya, mulutnyakan di tutup. Biar aku buka yah...'' Ucap Jesi lembut, demgan tarikan kasar. Lakban berhasil terbuka.


''Akhh... M-mbak... Ini sa-sakit...'' Rintih Denara.


''Oh sakit?? Tapi rasa ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang ku alami karena kau!!!!'' Marah Jesi dengan menambah kuat menarik rambut Denara.


''Akhh... Ak-aku... Su-sungguh ti-tidak tahu Mbak...''


''Asal kau tahu, Ares benar-benar tidak bisa melupakanmu dan selalu membanding-bandikan pembantu kampung sepertimu dengan aku yang levelnya jauh di atasmu.'' Pekik Jesi.


''Mb-mbak.... Le-pas-kan.....''


''Oh oke.'''


Dengan kadar Jesi mendorongnya, hingga kursi yang di tempati Denara terjatuh ke lantai yang penuh dengan debu.


''Uhukk... Uhuk....''


''Aku benar-benar muak padamu...'' Jesi mulai menginjak tubuh Denara dengan kuat.


''Sa-sakit... Hentikannn....''


''Aku juga ingin menghentikan semuanya, dengan cara melenyapkanmu. Itulah tujuanku.''

__ADS_1


Denara langsung menggeleng, dirinya benar-benar takut dengan Jesi yang kali ini. Jesi yang kali ini, lebih menakutkan dari Jesi yang biasanya Denara hadapi.


''Inilah kenapa hama harus di musnahkan.''


Jesi terus saja meninjak Denara dengan sesuka hatinya. Seolah-olab Denara adalah boneka yang tidak memiliki rasa sakit serta terluka.


''Kau pasti belum makankan?? Aku memang sengaja, meminta anak buahku untuk tidak memberimu makan. Karena itu hanya membuang uangku saja.'' Ujarnya enteng.


......................


Setelah Jesi keluar, Denara mulai melihat sekitarnya. Dirinya benar-benar harud keluar dari sini, jika tidak Denara bisa-bisa mati.


Denara melihat ada kaca yang ada di belakangnya, kondisi Denara sungguh sulit. Bergerak sedikit saja, ikatan itu serasa menggores tanganya seperti pisau.


''Tahan rasa sakitnya Denara, kamu pasti bisa.'' Memyemangati dirinya sendiri.


Denara mulai bergerak, dengan cara mendorong badanyanya ke belakang. Sulit untuk di lakukan, tapi Denara tidak menyerah begitu saja.


Perlahan tapi pasti, Denara mulai bergerak. Meskipun begitu Denara tetap waspada. Kaca itu merupakan kaca jendela yang tidak lagi terpakai.


Sebelum menggukannya, Denara harus memecahkannya terlebih dulu. Untuk bisa di gunakan.


Setelah sudah berada di depan kaca, Denara mulai mendorong kusrsinya. Agar bisa memecahkannya.


''Ayo.... Pecahlah...''


Berulang-ulang Denara mencoba, tapi ini sangatlah sulit. Denara sempat menyerah sebelum akhirnya dan mencoba lagi.


Dorongan terakhir yang Denara lakukan, barusan berhasil memecahkan kacanya meski retakkan saja. Denara melakukannya sekali lagi, hingga kacanya pecah.


''Awsss...'' Tangan Denara terluka karena pecahan kaca.


Denara mencoba menggapai salah satu pecahkan kaca yang ada di dekatnya. Setelah mengengamnya, Denara mulai mengarahkanny ke ikatakan yang mengikatnya.


Tangan Denara tampak mengeluarkan darah karena menggengam kaca.


Usahanya benar-benar tidak sia-sia, Denara benar-benar bisa melepaskan ikatan tangannya meskipun tangan serta tubuhnya harus terluka.


Saat Denara akan melepaskan ikatan kakinya, pintu gudang tiba-tiba terbuka. Membuat Denara harus berpura-pura pingsan.


''Padahalkan sayang, lebih baik di berikan pada kita saja.''


Jantung Denara benar-benar berpacu kencang, Denara benar-benar takut.


''Kau ingin Bos memenggal kita...''


''Tentu saja tidak, ayo keluar. Di tidak mungkin lolos karena terluka seperti itu.''


Cklek...


Denara membuka matanya kembali, dan mulai melepaskan ikatan kakinya. Setelah bebas, Denara mencoba berdiri. Meskipun badanya cukup sulit di kendalikan.


''Awss.. Ini benar-benar menyakitkan.'' Secara perlahan Denara berjalan mencari jalan keluar.


Mustahil saja bagi Denara, jika dirinya lewat di depan. Maka sudah di pastikan Denara akan tertangkap.


Cukup lama Denara menatap sekeliling, hingga matanya menatap satu jendela yabg cukup kecil serta tinggi di ujung sana.


......................


Jesi berjalan mendekati ruangan Denara, entah kenapa dirinya merasa ada yang tidak beres.


''Kalian audah mengeceknya??''


''Sudah Bos, dia pingsan dan terluka.''


''Buka pintunya, aku ingin melihatnya.''


Pintu itu mulai terbuka, dan mata Jesi langsung melotot saat melihat Denara yang tidak ada di sana.


''BODOH.... DIA KABUR CEPAT TANGKAP....'' Marah Jesi pada anak buahnya.


......................


Denara berhasil keluar, meskipun harus terjatuh. Makinya bahkan terkilir. Membuatnya cukup lambat berjalan karena menahan sakit.


Tenanganya bahkan sudah benar-benar tudak ada lagi karena lemas.

__ADS_1


''Itu dia tangkap....''


Salah satu anak buah Jesi melihatnya, sungguh Denara benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menyerah.


......................


Ares memacu mobil miliknya dengan kecepatan penuh, setelah mendapatkan likasinya. Ares langsung bergerak, di ikuti oleh mobil polisi serta detektif di belakangnya.


......................


''Lepaskan.... Tolong....''


''Ikut... Jangan membantah.'' Anak buah Jesi menarik dirinya paksa.


Seretan paksa benar-benar di lakukan olehnya pada Denara agar kembali masuk ke dalam gudang.


Plak...


Plak...


Dua tamparan terasa di pipinya, Jesi menampar dengan kuat Denara.


''Kau tidak akan lolos, sebelum mati Denara.''


Brukh...


''Ambilkan aku gunting, aku ingin merubahnya menjadi cantik.''


Rambut serta pakaian Denara di potong asal oleh Jesi. berontak tentu saja di lakukan oleh Denara. Tapi semuanya percuma.


Denara persis orang gila saar ini. Baju kotor, luka di seluruh tubuh dan rasa sakit di peeutnta karena belum makan sama sekali.


''Kumohon, selamatkan aku....'' Batin Denara.


BRAKKK.....


''Angkat tangan, jika tidak saya tidak akan segan menembak kalian.''


Jesi melihat itu tentu saja kaget, beberapa polisi dan detektif berkumpul di sini hanya untuk menyelamatkan Denara.


''Sebegitu pentingkah dia untukmu Ares.'' Menekankan pisau yang entah sejak kapan berada di tangan Jesi.


''JESIIII.... JANGAN MACAM-MACAM...'' Teriak Ares.


''Kenapa?? Aku hanya ingin dia tidak menganggu kita lagi. Kenapa kamu marah??''


''JESI SADARLAH, AKU TIDAK MENYUKAIMU....''


''TAPI AKU MENYUKAIMU, AKU MENYUKAIMU...''


''Shhh....''


Tes...


Tes...


Tes...


Darah yang menetes dari leher Denara, akibat goresan pisau.


''JESIII.....''


''Turuti kata-kataku, baru aku lepaskan dia.''


''Baik, aku akan menurut. Katakan.''


''Aku ingin kita bertunangan di sini, setelah itu. Baru aku lepaskan dia.''


''Kau gila, aku tidak bisa.''


Ares benar-benar tidak menyangka, jika Jesi melKykan hal sejauh ini.


''Baiklah jangan salahkan aku, jika di mati.''


''Baiklah kita bertunagan.''


...Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2