
Happy Reading❤.
Denara saat ini sedang berada di ruang tamu bersama Ayah dan Ibunya, kebetulan Nero sedang pergi ke sekolah. Jadi mereka sedikit leluasa untuk berbicara masalah kemarin malam.
“Ibu.. Ayah, sebenarnya apa yang terjadi kalian, selama Nara tak ada di rumah??” Denara menatap Ayah serta Ibunya.
Ayahnya serta Ibunya terlihat gusar dan gelisah. Membuat Denara yang melihatnya tak tega.
“Sebenarnya.....”
Flashback On.
“Santoso, aku datang ke sini ingin menangih hakku.” Ucap Beni Kakaknya.
Melihat kedatangan Beni ke rumahnya tentu saja Santoso terkejut. Setelah sekian lama, semenjak orang tuanya meninggal. Beni seolah-olah menghilang di telan bumi.
“Kakak... Kau selama ini ke mana saja??” Ujar Santoso.
Melihat raut wajah terkejut dari Santoso, tak membuat Beni kaget. Karena Beni sudah memprediksikan hal ini akan terjadi.
“Kau terkejut dengan kedatanganku untuk menagih hakku kan.” Kata Beni angkuh.
“Kak.. Apa maksudnya, bukankah harta bapak sudah di bagi rata.” Jelas Santoso.
“Hah!! Apa yang kau maksud bagi rata, jika bagian mu lebih besar dari pada aku dan risa.” Papar Beni sinis.
“Kak, warisan itu sudah di bagi sesuai wasiat bapak. Dan aku sama sekali tak tahu jika bagian ku lebih banyak Kak.” Ucap Santoso menatap Beni sendu.
“Jangan sombong kamu Santoso, mentang-mentang kau yang menjadi anak kesayangan dari Bapak dan Ibu. Kau pikir bisa membodohi kami berdua.” Tunjuk Beni pada Santoso.
“Kakak... Apa maksudnya membodohi di sini???” Tanyanya tak mengerti.
“Oh... Kamu pura-pura bodoh sekarang!! Aku minta padamu segera jual tanah itu.” Ucapnya sinis.
“Maaf Kak, aku tak bisa menjualnya. Itu harta milik keluargaku.”
“Oh.. Sudah lupa kamu, memangnya aku ini bukan keluargamu..” Balas Beni.
“Bukan begitu maksudku Kak----“
“Halah.. Jangan banyak omong kamu, jual saja tanahnya dan bagi rata, bereskan.” Ucap Beni mendesak Santoso agar menjual tanahnya.
“Aku tak bisa Kak, maaf.” Ucap Santoso.
Membuat Beni langsung memukul wajah Santoso, dan membuat beberapa warga yang sejak tadi melihat langsung menghampiri dan mencoba melerai. Dan untung saja berhasil.
“Dengar Santoso, jika cara baik-baik saja kamu tak mendengar maka aku akan melakukan hal yang lain, agar kamu mau menjual tanah itu.” Ucap Beni.
Dan semenjak hari itu, tak henti-hentinya Beni datang ke rumah untuk menuntut tanah itu agar dijual.
__ADS_1
Flashback Off.
Denara bahkan baru mengetahui jika orang yang kemarin adalah Pamannya, dia hanya tahu jika Bibi Risa saja. Pantas saja saat dirinya melihat foto lama milik ayahnya, terdapat satu laki-laki yang berciri persis di samping neneknya. Ternyata orang itu adalah Pamannya.
“Lalu, bukankah kata Ayah warisan sudah di bagi sesuai wasiat Kakek. Tapi kenapa Paman masih saja menuntut bagian yang bukan haknya?” Tanya Denara.
“Kamu pasti tahu Denara, jika Bibimu itu sangat tak menyukai keluarga kita dan pasti kamu sudah bisa menduga siapa yang menyuruh Pamanmu datang ke sini.” Ujar Ibunya sedih.
Memang benar seperti yang Ibunya katakan, jika Bibi Risa sangat tak suka dengan mereka. Bahkan Denara baru mengetahui jika alasan Bibinya tak pernah suka dengan mereka hanya karena harta yang di dapatkan olehnya tak sama dengan Ayahnya.
......................
Tania sejak tadi, sudah 2 kali putaran berkeliling kampung. Menurut Tania, suasana di kampung memang benar-benar bersih dari polusi. Membuat Tania sedikit betah tinggal di sini. Pemandangan sawah yang hijau membuat mata yang melihatnya menjadi nyaman.
Lari Tania seketika terhenti, matanya menatap sekumpulan anak kecil yang sedang melakukan hal yang membuat Tania yang menatapnya geram.
“Ho... Ho...Ho... APAKAH KALIAN SEDANG BERMAIN??” Teriak Tania.
Membuat anak-anak itu terhenti, lalu mulai menatap Tania.
“Kami tidak ada urusan sama Kakak.” Ucap anak berkaca mata itu.
“Cih.. Kecil-kecil saja sudah jadi preman. Mau jadi apa besarnya? Mau jadi bandit iya?” Balas Tania, mulai berjalan mendekat.
“Jangan ganggu kami Kakak.” Ucap anak yang memakai tas robot.
“Oh baiklah, jika begitu. Kakak tak akan ganggu kalian, tapi lepaskan anak itu.” Tunjuk Tania pada anak laki-laki yang bajunya sudah basah dan kotor oleh lumpur.
“Jika kalian tak lepaskan, maka kalian akan mendapatkan hadiah dari Kakak.” Ucap Tania menyeringai.
......................
Ares sudah beberapa kali bolak-balik ke kamar mandi, karena sejak tadi dirinya tak sengaja memakan sereal yang sudah kadaluwarsa karena terburu-buru untuk pergi bekerja. Alhasil membuat perutnya menjadi bermasalah. Dan saat ini Ares sedang berada di rumah sakit saat ini mengurusi masalah perutnya. Bahkan Ares sampai lupa membawa ponselnya, karena panik dengan perutnya yang sejak tadi sakit.
“Saya harap Pak Ares memperhatikan dengan benar makanan yang akan di konsumsi.” Jelas Dokter itu.
Membuat Ares yang mendengarkannya hanya bisa mengusap rambutnya pelan, mendengar ucapan Dokter itu padanya.
“Ini resep obatnya, Pak Ares bisa ambil di tempat pengambilan obatnya.” Menyodorkan kertas berisi resep.
“Terima Kasih, Dok.” Ares mulai bangkit dari tempat duduknya menuju tempat pengambilan obat.
......................
Denara saat ini sedang bingung, posisi Ayahnya saat ini sedang terpojok. Oleh ulah Bibi serta Pamanya. Bahkan saat tadi mereka ke sawah, tiba-tiba di sana sudah ada Pamannya dan preman yang di sewa oleh Pamannya. Untuk memperingatkan Ayahnya supaya menjual tanahnya, bahkan Preman itu sempat memukul Ayahnya yang berontak karena sawahnya akan diobrak-abrik.
“Huh! Aku harus melakukan sesuatu, supaya Paman tak bisa berlaku seenaknya pada Ayah.”
Mata Denara tiba-tiba tertuju pada ponsel miliknya, yang sejak kemarin belum di aktifkan. Karena mengisi daya ponselnya.
__ADS_1
Sampai matanya menatap satu pesan yang membuatnya sedikit mendapatkan solusi dari masalah yang sedang di hadapi oleh Ayahnya.
“Tapi... Apakah dia akan membantu?” Ucap Denara.
“Bagaimana jika dia menolak, atau dia akan marah-marah padaku bagaimana??”
“Tapi jika tak di coba, aku tak akan tahu hasilnya bagaimana?”
‘Baiklah Denara, coba saja dulu.’ Batinya.
Tangannya mulai mengetik sesuatu di ponsel miliknya. Setelah selesai, Denara mulai mengirimkannya ke seseorang.
......................
“Apakah kalian masih melakukan hal ini.” Ucap Tania, pada ke tiga anak yang menangis.
“Tidak Kakak.” Jawab mereka kompak.
“Bagus, nah anak baik. Sekarang kau pulanglah, biar mereka Kakak yang urus.” Ucapnya pada anak yang bernama Riski.
“Terima kasih Kakak, aku pamit dulu.” Ucapnya.
“Hati-hati yah..”
“Nah anak nakal, bagaimana hadiah yang Kakak berikan. Apakah kalian suka?” Tanya Tania sembari tersenyum tanpa rasa bersalah sedikit pun.
“Hiks... Hiks.. Kami janji tak akan nakal lagi.” Ucap Mereka kompak.
Tania melakukan hal yang sama apa yang mereka lakukan pada Riski, mereka melakukan lemparan lumpur ke tubuh Riski sembari tertawa, sedangkan Riski menangis kesakitan akibat lemparan mereka.
Dan itulah yang dia lakukan, dan mereka sudah langsung menangis.
“Dengar yah anak nakal, jika kalian tak ingin di perlakukan buruk oleh orang lain, maka berbuat baiklah, tapi jika kalian memperlakukan orang dengan buruk. Maka balasan itu jugalah yang akan kalian dapat. Mengerti.” Ucap Tania.
Mereka mengangguk patuh.
“Nah karena kalian sudah dapat hadiahnya, kalian boleh pergi.”
Mendengar itu mereka langsung berlari sekencang-kencangnya berharap Tania tak mengejar mereka.
Tania yang menatap itu hanya tersenyum geli, sembari berkata. “Kau sudah melakukan hal yang baik Tania.” Ujarnya lalu melangkah pergi.
Bersambung.....
Hola pembaca 👋🏻 jangan lupa buat like, vote, favorit, rate 5 dan share.
Karena itu adalah semangat buat Dao nulis dan gaspol buat up😊.
Jangan lupa dukungannya🐣.
__ADS_1
Sayonara👋🏻.