Cinta Untuk Tuan

Cinta Untuk Tuan
43 part 1


__ADS_3

...Dilarang plagiat, menjiplak, atau pun mengcopy karya ini!!!!...


...Happy Reading🍃....


Zia tampak tenang di pangkuan Ares, padahal Zia cukup rewel jika sedang di pangku. Tapi dengan Ares, Zia tampak nyaman.


''Zia sepertinya sangat menyukaimu.'' Dion mulai duduk di kursi samping Ares.


''Benar, anak Kakak yang satu ini adalah keponakan kesayanganku.'' Mengelus rambut Zia yang terlihat akan tertidur.


''Kamu baik-baik saja Ares??''


''Entahlah, aku tidak bisa mengatakan jika saat ini aku baik-baik saja.'' Terliebih lagi, ketika Ares mengingat wajah sedih Denara tadi.


''Beberapa hari belakangan ini, Aku merasa jika Denara cukup menjauhiku. Hal ini terjadi setelah Mama datang kemari.'' Cerita Ares.


''Aku tahu, pasti Mama tidak menyukainya. Tapi Denara cukup berbeda jauh dari pada Clarissa.''


Dion bisa melihat itu dari raut wajah Ares, yang terlihat sungguh menyanyanggi Denara. Dan Denara cukup membuat Ares tampak berbeda dari yang Dion lihat saat ini.


''Kamu bahkan banyak berubah.'' Timpal Dion.


''Berubah??'' Menatap Kakak Iparnya.


''Kamu pasti tahukan, bagaimana Kakakmu yang cukup rewel padamu. Dia meminta Deni untuk memata-mataimu dan melaporkan semuanya tentangmu.'' Jelas Dion dan hal itu tentu saja membuat Ares terkejut.


''Deni ini benar-benar tidak dapat di percaya.'' Kesalnya.


''Hahaha... Tapi Resa sangat berterima kasih pada Deni. Deni memberitahu, semenjak kamu putus dengan Clarissa. Kamu cukup kacau dan bahkan kamu sampai datang ke Club malam. Hal yang tidak pernah kamu lakukan sebelumnya.'' Papar Dion secara rinci.


''Deni bilang, jika akhir-akhir ini kamu sering tersenyum dan bertingkah aneh. Dan sampai hari itu, Deni mengetahui hal yang bisa membuat kamu beeubah seperti itu ternyata Denara.''


Ares ingat betul bagaimana, kacaunya saat dirinya tahu jika Clarissa hanya memanfaatkannya. Ares mulai suka marah-marah dan sering bersikap ketus serta seenaknya saja.


Tapi semenjak Ares menyukai Denara, semua itu perlahan-lahan mulai berubah dan mulai menjadi orang yang lebih baik.


''Benar, Denara cukup berhasil membuatku jadi lebih baik.'' Menyetujui perkataan Dion.


''Tapi sebelum itu, aku pernah menyakitinya hanya karena kesalah pahaman saja. Bahkan hal itu membuatnya pergi.'' Ingatan tentang dirinya, yang membentak serta menghina Denara karena ulah Jesi. Hal itu masih Ares sesali saat ini.


''Benarkah, tapi sekarang Denara sudah kembali bersamamu bahkan kalian sudah berpacaran.''


''Benar Kak. Aku tidak ingin Denara pergi seperti itu lagi, hanya karena masalah ini.'' Sedih Ares.


''Kakak akan membantu sebisanya.'' Menepuk pundak Ares pelan.

__ADS_1


''Terima kasih, Kakak.''


......................


''Papa..'' Panggil Bu Eni pada suaminya.


''Ada apa Mah,'' yang sibuk menatap laptopnya.


''Mama ingin bicara soal Ares.''


Hal itu berhasil membuat Arlon menoleh pada istrinya.


''Apa Ares buat masalah??'' Jarang sekali bagi Arlon, ketika Istrinya berbicara mengenai Ares. Jika bukan masalah yang penting, terlebih lagi Ares cukup mandiri.


''Ya sangat Pah, bahkan ketika Papa mendengarnya, mungkin akan langsung emosi.''


''Apa masalahnya??'' Bertanya pada Istrinya.


''Ares berpacaran dengan pembantunya sendiri, itu benar-benar memalukan.'' Geram Eni, ketika mengatakan hal itu.


''APA!!'' Arlon terlihat emosi saat mendengar hal itu.


''Apa yang Mama lakukan??'' Arlon tahu, istrinya pasti tidak akan tinggal diam mengenai hal ini. Apa lagi ini menyangkut anaknya.


''Mama sudah minta pada pembantu itu memutuskan hubungannya dengan Ares, tapi sepeetinya pembantu itu menghiraukan permintaan Mama.''


......................


''Kakak akan membantu sebisanya, kamu hanya perlu membuktikan pada Mama jika pilihan kamu kali ini tepat. Dan Kakak harap, Mama belum memberitahu masalah ini pada Papa.'' Cemas Resa.


Ares tahu benar sifat Papanya yang tidak akan menerima orang yang tidak setara dengan mereka, teelepas dari sikapnya yang baik dan suka berbagi pada orang.


''Aku harap begitu Kak. Menghadapi Mama aku saja sudah tidak bisa mengatasinya, apalagi mengahadapi Papa.'' Keluh Ares.


''Mi kata Papi mobilnya udah siap.'' Menghapiri Maminya yabg masih mengobrol dengan Ares di teras.


''Iya, Res Kakak pulang dulu. Assalamualaikum.'' Pamit Resa.


''Wa'alaikumsalam, hati-hati Kak.''


''Zion jangan nakal sama Om, kalo ada apa-apa langsung telpon Mami atau Papi.'' Pesan Resa pada Zion.


''Oke Mami, bye-bye....''


......................

__ADS_1


Ares mengajak Zion dan Denara untuk berbelanja ke supermarket, sebenarnya ini hanya trik yang di lakukan Ares dan juga Zion untuk mengajak Denara keluar rumah.


Cukup sulit membujuk Denara yang terlihat tidak bersemangat untuk pergi, alhasil Ares meminta bantuan dari Zion. Dan bantuan itu tentu saja tidak gratis sama sekali.


Zion meminta Ares untuk membelikannya sepatu bermerek dari salah satu brand ternama dan hal itu tentu saja langsung di sanggup oleh Ares.


"Kamu mau es krim??" Menawari Denara yang sejak tadi tampak melamun.


"Enggak, aku nemenin kalian aja." Tolak Denara secara halus.


"Kak Dena jangan sedih dong, nanti Zion ikutan sedih juga." Paparnya dengan wajah memelas.


"Baiklah, Kakak akan mengamnbil Es krim rasa coklat saja."


Ares memang tidak salah dalam memilih patner kerja sama, Zion benar-benar bisa di andalkan. Hanya saja, Ares perlu merongoh kocek yang dalam untuk membayar jasanya terlebih lagi Zion sangat menyukai hal-hal yang berbau mahal dari segi harga.


Membeli beberapa camilan serta es krim dan sedikit bermain-main. Hal itu ternyata bisa membuat Denara sedikit ceria dan melupakan sejwnak masalah yang sedang mereka hadapi.


"Sudah sore, sebaiknya kita pulang." Melirik jam tangannya.


"Yah padahal Zion masih mau main."


"Lain kali kita ke sini lagi dan Zion bisa main sepuasnya." Memberi pengertian pada Zion.


"Baiklah, aku akan menuruti Kak Dena. Ayo Om, kita pulang." Menarik tangan Denara dan Ares.


Jika di lihat, mereka tampak seperti keluarga kecil yang bahagia. Bahkan beberapa orang tampak melirik ke arah mereka sambil tersenyum.


Di perjalanan pulang, mereka terlihat senang. Bahkan Zion terlihat asik bernyanyi dan bergoyang kecil, saat mendengar lagu yang cukup membuat mereka bersemangat.


Saat mobil Ares akan terparkir di garasi, Ares melihat salah satu mobil yang cukup mencolok dan sangat berbeda sekali dari mobil-mobilnya yang lain.


"Om, itu mobil Kakekkan??" Melihat mobil yang sejak tadi Ares lihat.


Mereka turun dari mobil dan berjalan ke arah pintu depan. Ares berjalan terlebih dulu sementara Denara di belakang bersama Zion yang menggandeng tangan Denara.


Di sofa ruangan tamu, Ares melihat Mama dan Papanya yang duduk dengan raut wajah yang terlihat marah.


"Sudah jalan-jalannya Ares??" Papa Ares tampak berdiri dan berjlan mendekat ke arah anaknya.


Arlon melihat ke arah belakang Ares, di mana Denara yang berdiri dan terlihat menunduk.


Arlon mengulurkan tangannya pada Denara, dan hal itu membuat Denara mulai melihat ke arah Arlon yang berdiri di depannya saat ini.


"Saya Arlon, Papanya Ares."

__ADS_1


...Bersambung.......


__ADS_2