Cinta Untuk Tuan

Cinta Untuk Tuan
20 part 1


__ADS_3

Tok...


Tok...


'' Tuan...Tuan... '' Panggil Denara yang memgetuk pintu kamar Ares.


Tapi tak ada sahutan, tumben sekali jam 7 Ares belum juga bangun. Biasanya Ares sudah siap ke kantor tapi hari ini berbeda tak seperti biasanya.


Tok...


Tok..


Denara kembali mengetuk pintu tapi masih saja tak ada sahutan. Saat Denara akan melangkah tiba-tiba pintu kamar terbuka.


Cklek...


Nampaklah wajah Ares yang pucat pasi serta keringat yang membasahi wajahnya. Melihat itu tentu saja Denara kaget.


'' Ya ampun Tuan, Tuan sakit. '' Tangan Denara dengan sigap memeriksa dahi Ares.


' Panas ' Batin Denara.


Ares perlahan mulai menjauhkan tangan Denara yang berada di dahinya.


'' Saya gak apa-apa, '' Jawab Ares dengan suara serak.


Denara tentu saja tak percaya, wajah Ares bahkan sudah pucat pasi serta suhu tubuh yang panas. Sudah tergambar jelas sekali jika Ares sedang sakit.


'' Jangan banyak alasan deh Tuan, ayo ke rumah sakit, '' Menarik tangan Ares, bahkan Denara bisa merasakan panasnya suhu tubuh Ares hanya dengan memengang tangannya saja.


'' Saya tidak apa-apa, hanya perlu istirahat. '' Tolak Ares sembari menarik tangannya.


Ares lalu berbalik dan mulai berjalan masuk ke kamar, tapi saat beberapa langkah berjalan. Tubuh Ares hampir saja terjatuh, dengan cepat Denara menahan tubuh Ares agar tak mengenai lantai. Memapah tubuh Ares hingga sampai tempat tidur.


Setelah itu Denara dengan sigap ke arah dapur, mengambil air kompresan untuk Ares, serta obat demam yang di taruh di kotak P3K.


Denara kembali ke kamar Ares dengan membawa baskom kecil serta handuk, dan juga obat-obatan untuk Ares.


Denara melihat wajah Ares yang tertidur, karena sakit. Apalagi pucat pasi, membuat Denara tak tega tentunya.


Perlahan-lahan Denara meletakkan handuk kecil di dahi Ares, berharap agar panasnya turun. Setelah itu Denara kembali ke dapur untuk memasak bubur untuk Ares.


Memang cukup lama jika memasak bubur, lalu Denara kembali mengecek keadaan Ares dan memeras kembali handuk untuk di letakkan di kepala Ares. Karena handuk yang Denara letakkan tadi sudah kering.


.................


Jesi sejak tadi menghubungi ponsel Ares, tapi tak di jawab sama sekali, membuat Jesi khawatir. Karena sesibuk apapun Ares biasanya akan menghubunginya kembali jika tidak di telpon pasti melalui pesan.

__ADS_1


'' Ares ke mana sih dari tadi di hubungi tidak bisa, '' Keluh Jesi menatap ponselnya.


'' Apa aku ke rumah Ares aja yah, kayaknya harus deh. '' Sambungnya lalu beranjak dari tempat tidur bergegas membersihkan diri untuk pergi ke rumah Ares.


.................


Denara membawa nampan yang berisi air putih serta bubur yang masih hangat ke kamar Ares.


Meletakan nampan di dekat meja kecil yang berada di samping tempat tidur Ares.


'' Tuan.....Tuan....Bangun, makan dulu. '' Mengguncang tubuh Ares pelan.


'' Egh....Saya tidak lapar... '' Dengan masih memejamkan mata.


'' Tuan harus makan dulu terus minum obat. Kalo Tuan bandel penyakitnya gak sembuh-sembuh. '' Denara mengomeli Ares seperti Ibu yang memarahi anak kecil.


'' Kamu ini cerewet sekali, '' Ucap Ares mulai membuka matanya.


'' Makanya makan, kalau gak mau di omeli, '' Mulai mengangkat mangkuk bubur yang sudah mulai dingin.


Ares mulai bangkit dari tempat tidur dengan posisi duduk sembari bersandar.


'' Aaaaaa.... Pesawat datang... '' Ujar Denara.


Ares hanya menatap datar Denara lalu mulai membuka mulutnya.


Saat merasakan bubur itu masuk ke mulutnya, rasa yang tak terlalu kuat dan juga aroma bubur yang sedap menambah Ares bersemangat menghabiskannya, apalagi di suapi seperti ini.


Beberapa suap sudah Ares makan bahkan bubur di mangkuk sudah habis, jika biasanya orang sakit akan makan beberapa suap saja. Tapi jika Denara lihat Ares ini nafsu makannya sama saja tak ada yang beda, mau sakit ataupun sehat, makan aja pokoknya.


Saat Denara menaruh mangkuk di atas meja, tiba-tiba Ares bersuara.


'' Buburnya habis? '' Tanya Ares.


'' Iya Tuan, kenapa mau nambah lagi ? '' Tanya Denara menatap Ares.


'' Tidak. '' Tolak Ares.


Denara hanya mengangguk-anggukkan kepala saja, lalu mengambil obat penurun panas serta pusing. Karena Ares tadi sempat mengeluhkan kepalanya yang sakit.


'' Ini minum obatnya. '' Menyodorkan obat pada Ares.


Melihat obat itu Ares langsung menolehkan kepalanya ke arah samping. '' Saya tidak mau ... ''


'' Loh, jangan suka aneh-aneh deh Tuan. '' Omel Denara.


'' Saya gak mau, obatnya pahit. '' Kata Ares.

__ADS_1


'' Namanya juga obat Tuan, masak gulali. Makan obatnya. '' Sembari melotot ke arah Ares.


'' Ck...Berasa Ibu tiri kamu. '' Ketus Ares, lalu mulai mengambil obat dan dengan cepat menelan dan meminum air sebanyak-banyaknya agar pahit yang masih di rasakan hilang.


'' Ini makan biar pahitnya hilang. '' Denara menyodorkan permen stroberi pada Ares, permen ini adalah permen kesukaan Denara. Dan selalu berada di saku celana, karena Denara cukup suka makan permen.


Ares mengambil permen yang berada di tangan Denara.


Denara lalu menempelkan tanganya ke dahi Ares, membuat Ares kaget tentu saja. Apalagi jarak sedekat ini, Ares bisa melihat dengan jarak dekat wajah Denara yang ada di depan matanya.


'' Panasnya sudah redah.. '' Ucap Denara.


Deg...


' Panas memang redah, tapi jantung saya yang mulai bereaksi. ' Batin Ares berharap Denara tak mendengar debar jantungnya.


..............


Jesi melangkah masuk ke rumah Ares, Jesi berhenti sejenak melihat sekeliling berharap ada Ares di salah satu ruangan. Berjalan perlahan sampai matanya melihat kamar Ares yang terbuka.


Dengan cepat Jesi melangkah ke arah sana, sampai matanya melihat kaget kearah kamar.


'' Eh...Ngapain kamu sentuh-sentuh Ares, jangan kurang ajar '' Jesi menepis tangan Denara yang berada di dahi Ares.


Ares dan Denara tentu saja kaget melihat Jesi yang tiba-tiba saja ada di sini.


' Loh kok setan nampak udah nonggol aja pagi-pagi. ' Batin Denara heran.


'' Jesi kamu ngapain ke sini ? '' Tanya Ares.


'' Aku tuh khawatir sama kamu, kamu sakit. '' Tiba-tiba Jesi menarik tangan Denara agar tak berada di dekat Ares.


Denara yang merasakan tarikan itu tentu kaget, Jesi ini sudah seperti jelangkung saja, tiba-tiba muncul tanpa di undang.


'' Santai dong Non, nanti saya bales balik Non oleng lagi. '' Ujar Denara sewot lalu melepas tangan Jesi yang masih memengang tangannya.


'' Pergi sana. '' Usir Jesi.


' Mulai nih nenek sihir berulah.' Batin Denara mulai kesal.


'' Kamu sebaiknya bawa nampan ini ke dapur saja Denara. '' Ucap Ares.


Dengan patuh Denara membawa dan mulai melangkah pergi, Jesi yang melihat itu tentu saja senang.


'' Kamu juga Jesi, aku mau istirahat. Sebaiknya kamu keluar saja. '' Lalu mulai menarik selimut dan tidur dengan berbalik membalakangi Jesi.


...~ Bersambung.~...

__ADS_1


Jangan lupa dukunganya yah😊.


__ADS_2