Cinta Untuk Tuan

Cinta Untuk Tuan
51 part 1


__ADS_3

...Dilarang menjiplak, plagiat, atau pun mengcopy karya ini!!!...


...Happy reading....


...Typo bertebaran....


Peringatan terdapat adegan kekerasan dan kata-kata kasar, jika tidak suka bisa di lewatkan saja.


Ares benar-benar tidak menyangka, jika Jesi akan melakukan jal nekat seperti ini. Hanya karena firinya memutiskan hubungannya dan mrnvulik Denara untuk melampiaskan semuanya.


''Bagaimana aku bisa percaya?? Jika kamu akan menyetujuinya.'' Tanya Jesi, yang masih belum memindahkan pisau itu dari leher Denara.


Anak buah Jesi sudah di amankan, tapi Jesi cukup sulit di ajak kompromi. Hal inilah yang membuat Ares harus memutar otak. Agar dia bisa membebaskan Denara.


''Aku akan menuruti permintaanmu tadi.''


''Baiklah, majulah beberapa langkah. Tanpa satu pun yang maju, kecuali kamu.'' Perintahnya.


Ares mulai maju secara perlahan, matanya menatap Denara dengan rasa marah. Sungguh Ares benar-benar ingin melakukan hal yang sama dengan apa yang di lakukan Jesi padanya.


Wajah Denara bahkan terlihat pucat, bajunya kini sudah compang-camping dan di penuhi oleh darah. Sungguh Ares benar-benar tidak tega melihat Denara dalam kondisi ini.


Hati Ares benar-benar merasa sakit.


''Aku sudah maju, lepaskan dia.''


Jesi menurut, dia juga ikut maju ke depan seperti Ares. Saat satu langkah lagi Jesi dan Ares berhadapan, entah kenapa tiba-tiba saja Jesi berhitung.


''1....''


''2...''


''3...'' Dengan posisi memgahadap Ares, hal itu tentu saja membuat orang di sana bingung menatapnya.


BRUKHH...


......................


Denara merasakan, jika tubuhnya saat ini melemah. Matanya terus saja ingin tidur. Rasa sakit di kepala serta leher mulai di rasakannya. Tangannya yang terluka, bahkan sudah tidak lahi Denara rasakan.


''Aku benar-benar lelah...'' Batinnya.


Denara melihat ke arah depan, di mana orang- orang berkumpul. Denara sudah tidak jelas lagi menatap ke arah sana, marena rasa pusing yang menyerangnya.


BRUKKH....


Tubuh Denara ambruk ke lantai yang kotor bersamaan dengan matanya yang tertutup.


''DENARAAAA......'' Ares sudah tidak peduli lagi, dengan cepat dia berlari menghampiri Denara dan mendoring Jesi dengan kasar.


Ares segera memangku kepala Denara, tangan Arrs bergetar saat mendapati Denara dengan kondisi seperti ini.


Andai saja, dia bisa lebih cepat mungkin Denara tidak akan seperti ini. Andai saja Denara tidak bertemu dengannya, mungkin hidup Denara tidak akan serumit ini. Mungkin pula Denara akan bahagia.


''Ra... De-Denara....'' Mengusap pipi Denara dengan pelan. Wajah Denara benar-benar pucat.


''Ma-maaf, Ka-re-na... Ber-te-mu... De-denganku.... Hi-dupmu menderita...'' Ucap Ares bersalah. Dengan nada yang sendu.


Ares menoleh ke belakang, menatap ke arah Jesi yang sudah di borgol. Tapi Jesi sama sekali, tidak merasa bersalah sedikit pun.


Dengan langkah lebar Ares menghampirinya dan langsung mencengkram leher Jesi dengan kuat.

__ADS_1


''PAK ARES HENTIKAN....''


''JANGAN LAKUKAN HAL INI PAK, BIAR KAMI YANG MENGURUSNYA....''


Ares seolah-olah tidak perduli, dirinya benar-benar di kuasai rasa amarah saat ini.


''Wanita iblis sepertimu, yang harusnya berada di posisi Denara saat ini.'' Cengkraman leher semakin kuat.


''Akh.... Akh... Akhu... Thak. ... Bi-bisa....'' Jesi memcoba melepaskan tangan Ares, tapi itu sangat sulit di lakukan.


''Kenapa?? Kau sulit untuk bernafas?? Itu tidak sebanding dengan apa yang Denara rasakan.''


''Aku akan membalaskan dua kali lipat yang di rasakan oleh Denara saat ini, akibat dirimu.''


''ARES HENTIKAN, DETAK JANTUNG DENARA SUDAH MELEMAH....'' Teriakan Tian berhasil membuat Ares berhenti.


DEG...


Cengkraman yang semula kuat, perlahan-lahan mulai terlepas. Jesi sudah tampak bernafas seperti biasanya.


''Baguslah racunnya sudah bekerja, jika aku tidak bisa bersamamu. Maka pembantu kampung itu juga tidak bisa. Satu-satunya cara yang bisa kulakukan adalah....'' Menggantungkan ucapannya.


''Meracuninya dan membuatnya lenyap...'' Dengan senyum di bibirnya.


''Aku akan benar-benar mengirimmu ke penjara dan akan kupastikan. Jika kau akan membusuk selamanya di penjara.''


Ares berlari ke arah Denara yang tergeletak di sana, di sampingnya ada Tian yang tadi memanggilnya. Dengan cepat Tian berlari terlebih dulu ke mobil.


Tian dengan sigap membuka pintu mobil, untuk mempersilahkan Ares serta Denara masuk.


''Tian, cepatlah ke rumah sakit. Aku tidak mau jika dia pergi.'' Takut Ares.


Sementara Deni, dia masih tetap tinggal dan menggurus Jesi serta anak buahnya ke polisi.


......................


''SUSTER.... SUSTER TOLONG....'' Teriak Ares dengan Denara yang ada di gendongannya.


Tian yang melihat itu, langsung saja mengambil bangkar secara asal. Karena suster yang mereka panggil sejak tadi tidak kunjung muncul.


''BRENGSEK, AKAN KU TUNTUT KALIAN SEMUA....'' Marah Ares.


''Ma-maaf Pak....'' Ucap salah satu suster yang ikut membantu mendorong bangkar milik Denara.


Area benar-benar takut, jika hal yang tidak diinginkannya terjadi. Sungguh Ares benar-benar takut.


''Maaf Pak, anda tidak bisa masuk ke dalam.'' Cegah Dokter UGD itu.


''KENAPA??''


''Ares, hentikan. Kau membuat Dokter ini, semakin lama menolong Denara.''


Usai mengatakan itu, pintu UGD tertutup. Sementara Ares masih berdiri di depan sana.


''Duduklah Ares, jangan seperti itu.'' Ujar Tian.


''Harusnya dia tidak boleh menyukaiku...''


''Harusnya dia tidak boleh bertemu denganku..''


''Harusnya dia memilihmu Tian bukan aku...''

__ADS_1


''Harusnya dia---''


BUGHH...


''APA YANG KAU PIKIRKAN ARES, HENTIKAN OCEHAN MU YANG TIDAK BERGUNA ITU.....''


Ares terjatuh kelantai akibat pukulan keras yang di layangkan Tian.


''Sadarlah Ares, ini bukan kesalahanmu. Ini memang sudah takdirnya. Jadi berhenti melakukan hal yang tidak berguna, lebih baik kau berdoa untuk kesembuhannya.''


''Dengar Ares, bukan kau saja yang merasakan hal ini. Semua orang yang dekat dengan Denara ikut merasakannya.''


Benar apa yang Tian katakan, Ares harusnya menjadi kuat bukannya lemah seperti ini.


''Kau ingin menghubungi keluarga Denara atau aku saja??'' Tanya Tian.


''Tidak biar aku saja,''


......................


''Ibu, ada telpon dari Kak Denara......'' Teriak Nero.


''Bentar Ibu cuci tangan dulu...'' Sahutnya dari dapur.


''Ini Bu...''


''Halo Denara, gimana kabar kamu??''


''Ibu, ini saya Ares. Saya ingin memberitahu pada Ibu.''


''Apa Ares??'' Ibu Denara mulai merasakan hal yang tidak enak sejak tadi.


''Denara...''


''Kenapa Ares, katakanlah...''


''Denara saat ini di UGD.''


''Astaghfirullahallazim... Denara....''


Ponsel yang ada di tangannya sampai terjatuh kelantai, Nero yang melihat iru tentu saja kaget. Ibunya bahkan hampir terjatuh kelantai.


Jika saja Nero tak menahannya.


''Bu... Ada apa... Kenapa Kak Nara??''


''AYAH.... IBU....YAH... IBU...'' Teriak Nero.


''Ada apa Nero, Ya Allah Ibu...''


Memegang pundak istrinya yang tampak lemas.


''Ada apa ini Nero, Ibu kenapa??''


''Nero tak tahu Yah, tadi Ibu baru saja menganggkat telpon Kak Nara. Tiba-tiba saja, Ibu menjatuhkannya dan hampir jatuh seperti ini.''


''Bu ada apa?? Bilang sama Ayah...''


''Na-Nara yah... Na-Nara.... Di-dia ada di UGD saat ini.'' Ucapnya bergetar.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2