
...Dilarang menjiplak, plagiat, atau pun mengcopy karya ini!!!...
...Happy reading🍃...
...Typo bertebaran....
Ares datang ke kantor polisi, usai melampirkan semua berkas mengenai kasus penculikan dan kekerasan yang di lakukan oleh Jesi pada Denara.
''Sudah lengkap semua Deni??'' Tanya Ares, sambil menunjuk berkas yang ada di tangannya.
''Sudah Pak, bukti visum dan rekaman cctv yang ada di depan gudang sudah saya lampirkan di sana.'' Jelas Deni pada Ares.
''Aku harap ini bisa membuat dia di hukum dan aku minta kau untuk menyelidiki...''
''Apa Pak???''
''Orang yang menerima suap dari Om Bima, aku ingin meminta semua daftarnya dan kirim pada emailku.'' Ungkapnya.
Deni tentu saja sudah melakukan hal itu, terlebih dulu. Deni tahu benar bagaimana Ares, bila menyangkut orang-orang yang di sayanginya.
Di sana, Ares bertemu dengan orang tua serta pengacara dari Jesi tentunya.
''Ares, kamu tidak ingin menjenguk atau membebaskan Jesi??'' Pertanyaan yang di lontarkan oleh Mamanya Jesi.
Sudah lama bagi Ares tidak bertemu dengan Mamanya Jesi dan hal itu cukup membuat Ares kaget. Tapi, dirinya bisa menyesuaikan diri.
''Maaf Tante, bukan Ares tidak ingin melakukan hal itu. Tapi, Jesi cukup keterlaluan dalam bersikap terlebih lagi, penculikan dan racun adalah hal yang cukup fatal menurutku.'' Papar Ares.
''Tapi hal itu di lakukan karena dia tidak sengaja Ares..'' Bela Mamanya Jesi.
''Sengaja Tante bilang?? Bagian mana yang tidak sengaja menurut Tante??''
''Penculikan berencana apakah hal yang tidak sengaja??''
''Atau melukai seseorang dengan pisau beracun adalah hal yang tidak sengaja begitu??'' Sambung Ares.
Bungkam, Orang tua Jesi diam tanpa kata saat mendengar hal itu. Ares tahu, sertiap orang pasti akan membela anaknya. Tapi jika sudah di luar batas wajar, apakah hal itu patut di toleransi??
''Sudahlah, kamu tidak ada gunanya berbicara hal ini padanya.'' Ujar Om Bima yang menununjukkan raut wajah tidak suka pada Ares.
__ADS_1
Ares hanya tersenyum saja, dia paham betul bagaimana watak dari Ayah Jesi yang tidak jauh berbeda dengan sang anak.
''Ares permisi Om, Tante...''
Diikuti oleh Deni yang berjalan mengiringi Ares sambil membawa beberapa berkas di tangannya.
......................
Rumah sakit memang ramai, banyak orang yang berlalu lalang. Terlebih lagi pasien, perawat dan dokter.
Ruang rawat Denara hari ini tampak ramai, bukan Ares atau pun temannya yang datang ke sini. Melainkan, orang tua Ares yang datang menjengguk.
Heran serta kaget dan rasa tidak percaya, bukannya Denara tidak senang. Hanya saja dirinya takut, jika kejadian beberapa bulan lalu terjadi lagi.
Bu Eni serta Pak Arlon yang tidak menyukainya, masih terekam jelas di ingatannya. Denara bahkan masih hafal betul kata-kata serta perlakuan kurang mengenakan yang pernah terjadi.
Yang datamg bersama orang tua Ares adalag Resa serta Zia. Sementara Suaminya dan Zion tidak bisa ikut karena mereka sedang bekerja dan sekolah.
''Resa tinggal bentar Mah, Pah... Zia sedikit rewel.'' Ucap Resa lalu keluar dari ruangan itu.
Orang tua Denara sudah pulang tadi pagi, karena sudah cukup lama mereka di kota mengurus Denara. Ibunya dan Ayahnya cukup kaget melihatnya dalam kondisi seperti itu.
Ares bilang, dia tidak menceritakan secara detail mengenai apa yang terjadi padanya. Bukan karena tidak ingin mengatakan yang sebenarnya, hanya saja Ares tidak mau menambah beban pikiran orang tua Denara. Terlebih lagi, Ares sudah cukup bisa mengatasi semuanya.
''Ekhmm... De-Denara, ada yang ingin saya bicarakan....'' Ucap Bu Eni canggung.
''Ada apa Nyonya...'' Denara cukup tahu diri, bila memanggil Bu Eni dengan sebutan Tante seperti Jesi.
''Saya tidak tahu haru berbicara dari mana, tapi saya ingin meminta maaf.'' Kata-kata yang tidak pernah terucap bagi Bu Eni.
Denara cukup kaget mendengarnya, entah apa yang terjadi selama dirinya belum sadarkan diri. Hingga membuat orang tua Ares seperti ini.
''Saya juga meminta maaf, atas perkataan serta perbuatan saya yang kurang baik padamu.'' Ungkap Pak Arlon.
''Saya cukup detail mengenai pasangan anak saya, termasuk Resa. Ares, sangat berbeda dari Resa yang cukup menurut pada kami, mengenai pasangan hidup.''
''Dan Resa juga, bisa mencari orang yang setara dengan orang tuanya. Hal inilah, yang membuat kami tidak terlalu khawatir padanya. Tapi Ares, itu sangat bertolak belakang dengan Resa.''
''Beberapa pacarnya, cukup membuatku serta Mamanya sangat menentang. Terlebih lagi, masalah Ares yang di manfaatkan oleh mantannya yang berprofesi sebagai model.''
__ADS_1
''Hal itu, membuat aku dan Istriku memutuskan untuk mencarikannya jodoh yang lebih baik. Dan pilihan itu jatuh pada Jesi, alasanya sederhana. Keluarga kami dan dia sudah kenal cukup lama, jadi kami tidak perlu khawatir lagi.''
''Tapi....'' Ucapan Pak Arlon mengantung, dia cukup sulit untul melanjutkan kata-kata.
''Ares cukup keras menentang hal itu, dia bahkan bertindak kasar dan mulai sesuka hatinya. Ares, benar menunjukan pemberontakan. Dia sangat mementang dan tidak menyukai perjodohan itu.''
''Hingga suatu hari, Ares mengirimkanku rekaman cctv.''
''Di situ aku mulai meragukan Jesi...'' Sambung Bu Eni.
''Resa menceritakan semua hal tentangmu, mengenai perlakukan baikmu pada Ares yang mungkin saja kami sulit untuk di lakukan.''
''Terima kasih dan maaf...''
......................
Ares sudah selesai memgurus semuanya dan sekarang waktunya untuk menjenguk Denara ke rumah sakit.
Diluar ruangan Denara, ada Resa dan Zia yang terlihat tertidur lelap di gendongan Ibunya.
''Kakak kenapa tidak masuk ke dalam??'' Tanya Ares heran.
''Di dalam ada Mamq dan Papa.'' Jawab Resa enteng.
''Apa?? Kenapa Kakak tidak mencengahnya, Kakak tahukan bagaimqna Mama dan Papa dan Kakak malah membiarkan saja??'' Ares tampak marahndan segera berjalan ke arah pintu ruang inap Denara.
''Ares, jangan buka pintu sekarang. Percaya sama Kakak, Denara baik-baik saja.'' Jelas Resa.
''Bagaimana Kakak bisa menjamin, sementara Kakak masih di sini?? Apa Kakak juga ikut bersekongkol bersama Mama dan Papa??'' Ares tampak kesal.
''Kamu ini benar-benar keras kepala seperti Mama. Kakak tidak akan membiarkan Denara kenapa Ares, Mama dan Papa datang ke sini hanya untuk meminta maaf itu saja...'' Kata Resa.
''Sungguh?? Mana mungkin??'' Ujar Ares tidak percaya.
''Percayq atau pun tidak, hal itu memang terjadi...''
''Sungguh Denara baik-baik saja?? Kakak yakin??'' Tanya Ares lagi.
''Ya ampun Ares, kamu ini kenapa cerewet sekali. Mama dan Papa tidak melakukan hal yang lain selain minta maaf pada Denara. Kenapa kamu ini cerewet, lagi pula jika Mama dan Papa melakukan hap yang tidak-tidak, Kakak akan terlebih dulu mencegahnya.'' Jelas Resa panjang lebar.
__ADS_1
Sementara Ares hanya mengacak rambutnya dengan pelan karena mendengar ocehan panjang lebar yang di lakukan oleh Resa.
...Bersambung.......