Cinta Untuk Tuan

Cinta Untuk Tuan
14 part 1


__ADS_3

Hola pembaca, jangan lupa beri dukungannya yah😊.


Rate 5.


Vote.


Like.


Karena dukungan kalian adalah semangat buat nulis dan up☻.


Ig: dindao.18


Happy Reading ❤.....


Semenjak kejadian kemarin, Denara sedikit waspada terhadap Ares. Ares itu gerakannya selalu tak terbaca dan di luar ekspetasi.


Setiap Ares lewat di depannya, maka Denara akan menjauh. Saat Ares melangkah mendekat, Denara otomatis mundur untuk menghindar.


Tingkah laku Denara ini, membuat Ares sedikit bingung. Kenapa Denara seperti anti sekali padanya, memangnya ada yang salah dengan wajah Ares, penampilan Ares, atau aroma tubuh Ares.


Semenjak kejadian itu Denara seperti anti sekali padanya, Ares tak merasa sedih sedikit pun tentang hal ini. Hanya saja Area merasa aneh.


" Denara tolong ambilkan map warna biru di atas meja itu, " Tunjuk Ares.


Denara masih tak bergeming, bahkan menyahut pun tidak. Membuat Ares menoleh, melihat Denara di sudut sana.


'' Denara, Kamu dengar saya kan ? ''


Denara menggangukkan kepala.


'' Kenapa tak menjawab ? ''


'' Ini saya jawab, '' Lalu mengambil map yang tadi di suruh Ares padanya.


Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, Denara mulai melangkah.


'' Denara....Kamu berjalan kenapa seperti siput begitu ? '' Ujar Ares.


Ares mulai berdiri dan berjalan ke arah Denara, melihat Ares yang mulai mendekatinya. Membuat Denara siaga.


'' Kamu ini kenapa? Sebenarnya, '' Bingung Ares.


'' Gak apa - apa, cuman latihan jadi ninja di Negara Api aja, '' Jawab Denara tak nyambung.


Malas memdengar hal - hal aneh dari Denara, dengan sigap Ares menarik map dari Denara. Melihat itu membuat Denara langsung melepas mapnya dan berlari ke dapur.


..................


Entah kenapa Denara merasa jika berdekatan dengan Ares, seperti ada sengatan listrik yang mengaliri tubuhnya.


Seperti kemarin saat berdekatan dengan Ares, Denara merasa seperti terkena sengatan listrik, sebenarnya apa yang terjadi.


" Eh.... Ra pagi - pagi udah ngelamun aja kamu, " Tegur Mang Eko.


Yah saat ini Denara sedang berbelanja sayur, bahkan tadi saat keluar rumah Denara memilih pintu belakang yang ada di dekat dapur.


Denara takut jika melewati pintu depan akan bertemu dengan Ares.


" Tahu nih Ra....Gak kayak biasanya ? " Ujar Ijah sambil memilih sayur.


" Kalau dari aroma - aromanya nih yah....Kamu kayaknya lagi bingung yah Ra... "


Membuat Denara menoleh menatap Minah.


' Kok bisa tahu, ' Batinnya


" Benerkan ? " Tebaknya.


" Iya nih...Sebenernya aku bingung, kalian pernah gak sih kayak ke setrum gitu kalau gak sengaja pegang tangan orang...." Tanya Denara.


Tiba - tiba saja Neni memutar badan Denara ke kanan dan ke kiri, membuat Denara risih dan kesal.


'' Eh....Neni apaan sih, kamu kira aku es puter apa. Pake di puter segala lagi, '' Ucap Denara, sambil melepaskan tangan Neni.


'' Enggak Ra...Kan kata kamu tadi kesetrum. Makanya aku periksa kali aja ada yang gosongkan ? '' Kata Neni.

__ADS_1


'' Nah....Ini nih sih Neni....Udah ketularan Denara...Jadinya gini, '' Sambung Ijah.


'' Maksudnya itu bukan ke setrum beneran Ni.... '' Denara melihat Neni dengan geram.


'' Owwhhhh.... '' Ucapnya.


" Emang sejak kapan Ra....Kamu kalau nyentuh orang ke setrum ? " Tanya Minah.


" Kalau nyentuh kita nyetrum gak.... Nih," Ijah menyentuh tangan Denara.


" Enggak..... Tapi kalau sama dia kayak ada listriknya gitu, kok aneh yah. " Heran Denara.


" Berarti orang yang kamu maksud, pasti laki - laki dong. Bener gak ?" Tebak Minah lagi.


" Kok kamu bener terus si nebaknya? " Memandang Minah.


" Ooo jelas...Minah gitu loh. " Sombongnya.


" Paling juga kebetulan, " Cibir Mang Eko.


Benar ucap Minah, Semenjak kemarin sejak kejadian itu. Denara merasa jika berdekatan atau bersentuhan dengan Ares, seperti ada sengatan yang tak tahu datang dari mana.


' Apa jangan - jangan Ares itu manusia listrik, tapikan gak mungkin, ' Batin Denara


................


'' Achimm.... '' Bersin Ares.


'' Ini Pak...Tisunya, '' Menyerahkan tisu pada Ares.


'' Achimmm... '' Bersin lagi.


'' Bapak flu ? '' Tanyanya.


'' Enggak... ''


'' Alergi ? ''


'' Enggak juga, '' Jawab Ares.


'' Apa ? ''


'' Kalau kita bersin itu, tandanya ada yang ngomongin Bapak, '' Terang Deni.


'' Jangan suka aneh - aneh kamu. ''


Ares merasa jika Deni ini sebelas duabelas dengan Denara, gak ada bedanya. Cuman bedanya Denara perempuan sedangkan Deni laki - laki, itu saja.


'' Bener Pak....Saya gak bohong, '' Menyakinkan Ares.


'' Ngomong sekali lagi, saya potong gaji kamu, '' Ancam Ares pada Deni.


Deni yang mendengar itu, tentu saja tak mau jika sampai Ares benar - benar memotongnya. Bisa di kejar - kejar tukang kredit kalo gak bisa bayar cicilan. Masa iya orang ganteng sepertinya punya cicilan.


' Masa sih? Ada yang ngomongin saya. ' Batin Ares.


..............


Tok...


Tok....


Ting nung...


Ting nung...


Cklek...


'' Loh...Zion? '' Kaget Denara.


Zion hanya memamerkan senyum manis tak lupa dengan coklat yang banyak di tangannya bahkan ada yang sampai terjatuh.


'' Kak Dena....Zion kangen tahu.... '' Menaruh coklat di atas meja, lalu menghampiri Denara dan memeluknya.


Denara juga balas memeluk Zion erat.

__ADS_1


'' Kamu ke sini di anter supirkan ? '' Tanya Denara.


'' Iya dong...Udah Izin juga sama Mami Papi. Buat nginep di sini, karena besok minggu.'' Terangnya.


'' Udah bilang sama Om ? ''


'' Oh... Iya lupa, '' Menepuk jidatnya pelan lalu mengeluarkan ponsel mahal miliknya. Untuj menelpon Ares.


Tutt....


'' Halo...Om...''


'' Iya, Zion ada apa. Om saat ini sedang sibuk ''


'' Zion mau nginep di rumah Om, satu hari ajak kok, '' Jelasnya.


'' Udah izin ? ''


'' Udah dong...Bolehkan Om. ''


'' Iya...Boleh, Denara ada di sana ? ''


'' Ada kok Om, Kak Dena di samping Zion. Om mau ngomong ? ''


'' Iya...''


Lalu menyerahkan ponselnya pada Denara.


'' Halo...Tuan, '' Ucap Denara.


'' Kamu bersihin kamar tamu, terus suruh Zion makan dan minum susu. Jaga Zion sampai saya pulang. ''


'' Baik Tuan ''


'' Hmm... ''


Tutt...


Sambungan telpon terputus, Denara kembali menyerahkan ponsel Zion padanya.


'' Om, bilang apa Kak Dena. '' Keponya.


'' Kata...kamu jangan nakal, kalau nakal nanti di karungin '' Goda Denara.


Mendengar itu, Zion cemberut. Pipi yang di kembungkan serta bibir yang mengerucut, membuat Denara yang mrlihatnya ngemas.


'' Ihhh....Lucu banget sih kamu, '' Mencubit pipi Zion gemas.


'' Kak Dena jangan nakal....Nanti Zion marah, '' Ngambeknya pada Denara.


" Hahaha....Iya adik manis.....Kakak gak nakal kok sama adik, "


" Ihhhhh Kak Dena..." Melihat Denara yang sudah berlari, lalu Zion mulai mengejar.


Kejar - kejaran antara berdua tak terelakkan, suara tawa mereka bahkan menggema di ruangan itu. Zion sangat menyukai jika bermain bersama Denara itu menyenangkan dan mengasyikkan, walaupun terkadang Denara suka mengusillinya, atau bahkan menggodanya.


Denara merasa setiap melihat Zion. Denara selalu teringat dengan Nero, adiknya yang ada di kampung. Karena Denara juga sering melakukan ini padanya. Setidaknya Zion bisa mengobati rindunya pada adiknya di kampung.


.


.


.


.


.


.


.


.


Deni Ardiansyah

__ADS_1



__ADS_2