Cinta Untuk Tuan

Cinta Untuk Tuan
10 part 1


__ADS_3

Hai pembaca, jangan lupa buat vote, like dan rate 5 😊


Biar Dao semangat upnya, wokeh🐣


.


.


Happy Reading❤


.


.


.


...''Jika Milea rindu pada Dilan, maka Denara akan rindu Pada ibu dan ayah " ~ Denara...


Sudah lebih dari 5 bulan, Denara hidup di kota. Merantau ke kota besar sendirian bukanlah hal yang mudah, jauh dari keluarga, rumah dan susana yang ada di sana. Sebenarnya orang tuanya tak setuju dengan keputusan Denara, untuk pergi merantau ke kota.


Tapi Denara ingin membahagiakan kedua orang tuanya, ingin menganggkat derajat mereka agar tak dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang jauh berada di atasnya. Apalagi dirinya adalah anak pertama. Jika dirinya bekerja setidaknya adiknya bisa bersekolah tinggi, Denara juga ingin melanjutkan sekolah, bahkan sebagian gajinya sudah dirinya sisihkan.


Jika orang-orang setelah gajian akan menghabiskan dengan berbelanja, maka dirinya akan memilih menabung, dan sebagian lagi diberikan pada orang tuanya dikampung.


Ibunya berpesan padanya jika ada uang lebih baik di simpan, dari pada di belanjakan. Karena uang akan berguna kapan saja, dari pada barang-barang seperti baju dan lainnya.


Setiap Denara menelpon orang tuanya, dirinya akan selalu menanggis, ketika mendengar suara ibu dan ayahnya dari telpon.


Denara bukan seperti anak lain yang bisa mengekspresikan kasih sayang pada ibu, dengan mudah. Yang mengucapkkan kata-kata sayang setiap hari. Denara bukan orang seperti itu.


Dirinya cukup sulit mengatakan kalimat sederhana seperti ini '' Ibu, Ayah aku sayang kalian '' kata-kata itu tak keluar dari mulutnya dengan mudah, seakan sulit sekali mengatakannya dengan kata-kata.


'' Ibu, Denara kangen banget sama rumah, sama Ayah sama Nero juga, Denara rindu '' mengusap foto keluarga yang dirinya bawa

__ADS_1


Bahkan air matanya sudah membasahi pipinya, melihat foto keluarga yang dirindukkannya, di foto itu terdapat dirinya yang memakai seragam Sma dan adiknya yang baru masuk Sd dengan ibu dan ayahnya yang berdiri dibelakang mereka seakan memeluk mereka, dengan senyum manis menatap kamera. Foto itu di ambil saat dirinya dinyatakan lulus dari Sma


' Harta yang paling berharga, adalah keluarga '


' Istana yang paling indah, adalah keluarga '


' Puisi yang paling bermakna, adalah keluarga '


' Mutiara tiada tara adalah....Keluargaaaa '


Musik yang terputar diponsel milik Denara, membuatnya menanggis sembari mengingat Ibunya yang akan membangunkannya saat pagi, ayahnya yang akan mengajaknya kesawah bersama dan Nero yang akan menanggis jika dirinya menjahilinya. Denara rindu semua itu.


Apalagi saat mereka makan di sawah bersama-sama. Di atas pondokkan dengan angin yang berhembus sejuk menerpa mereka, becanda bersama, dengan pemandangan sawah yang ada didepannya.


Walaupun hanya ikan asin, sambal dan sayur singkong Makan sederhana yang selalu mereka santap bersama, tapi Denara bahagia, setidaknya dirinya masih bisa makan bersama keluarga walaupun seadaya.


Pernah waktu itu saat ayahnya mengalami gagal panen dan adiknya sakit, ibunya sama sekali tak memegang uang saat itu. Akhirnya ibunya memutuskan untuk meminjam uang pada tetangganya.


'' Bu saya mau pinjam uang, saat ayahnya panen bulan depan akan di ganti '' ucapnya memohon


'' Maaf yah bu, uang saya ada dibank semua '' ujarnya ogah


Padahal saat itu Denara tahu, orang itu memiliki uang yang cukup, ibunya seharian menanggis, ayahnya bahkan sampai meminjam uang pada Rentenir di kampung, Nero yang sakit DBD saat itu harus segera di bawa kerumah sakit.


Awal bulan Ayahnya cukup membayar, tapi bulan berikutnya ayahnya tak sanggup membayar karena bungannya terus membesar, sampai Akhirnya Ayahnya mengadaikan sawah milik mereka.


Kejadian yang tak akan pernah dirinya lupa, meminta belas kasihan pada orang lain membuat hatinya miris saat ibu dan ayahnya memohon pada orang lain, dengan teganya mereka menolak.


Hal itu jugalah yang mendorongnya beranikan diri untuk merantau, jika bukan dirinya siapa lagi yang akan menolong keluarganya pikir Denara.


'' Assalamualaikum '' ucap Denara pada ibunya sambil menahan tangis


'' Wa'alaikumsalam, kak Nara sehat disana ? '' tanya Ibunya

__ADS_1


'' Hikss...I-bbu....De-Na-ra... Hiksss.... '' rasanya sulit sekali mengucapkannya


'' Loh kak kenapa, jangan nanggis kak. Ibu gak ada disana buat peluk kakak '' jawab Ibunya khawatir


Pecah sudah tangis Denara, mendengar ibunya bicara seperti itu.


'' Hu...Hu..Hikss...Hiks...De-na-ra...Hikss...Ri-ndu....Rumah '' sambil menanggis kencang


'' Hikss...Ya Allah nak...Ibu juga rindu, setiap sholat. Ibu selalu mendoakan Nara...Supaya sehat-sehat saja '' Ibunya pun juga menanggis


'' Loh, Bu kok nanggis ? '' tanya Ayahnya


Kembali Denara menanggis


'' Ayah....Kakak Rindu..Hikss..Hiks...Ayah dan Ibu.....Hu..Hu....Hiks.... '' ucapnya, bahkan matanya sudah membengkak karena menanggis


'' Ayah juga rindu, anak gadis ayah...Sehat-sehat nak...kalau ada waktu pulang kerumah yah...Ibu dan Ayah kangen sama kakak Nara '' balas Ayahnya dengan suara serak menahan tangis


'' Ibu...Hikss...Maafkan Nara hikss..Jika selama ini Nara belum bisa banggain ayah sama ibu...Maafin Nara yang suka nggak nurut sama ayah dan ibu...Hikss...Maaf ''


'' Enggak...Hkss....Nara anak baik. Ibu...Hiks dan Ayah bangga..Hiks..Maafkan ibu sama ayah yang belum bisa jadi orang tua yang baik bagi Nara '' jelas Ibunya


'' Ayah bangga sama Nara, Terima kasih sudah jadi Anak ayah dan ibu, Walaupun Nara jauh dari ibu dan ayah. Ayah selalu meminta pada Allah untuk menjaga Nara disana '' suara Ayah bergetar saat mengucapkan itu


'' Assalamualaikum ''


'' Walaikumsalam '' jawab mereka


Tut...


Telpon terputus, Tanggis Denara sudah berhenti walaupun masih tersedu-sedu.


Perlahan tangannya mulai menuliskan sesuatu didalam buku kecil miliknya, buku yang selalu menerima keluh kesahnya tanpa pamrih, dan yang selalu ada saat-saat seperti ini.

__ADS_1


'' Ibu Ayah terima kasih sudah menjadi orang tua Nara, terima kasih selalu menyemangati Nara, terima kasih selalu mendahulukan kepentingan Nara, walau ibu dan ayah tak punya uang, bahkan rela mencari pinjaman untuk Nara agar bisa mengambil Ijazah sekolah. Terima kasih Nara ucapkan beribu-ribu kali, Maafkan Nara yang belum bisa mengajak ibu,ayah dan Nero jalan-jalan seperti orang-orang, yang belum bisa mengajak kalian untuk makan enak seperti yang lain, maaf...Denara ucapakan, Denara akan berusaha agar Ayah tak perlu lagi meminjam uang kesana kemari, dan ibu tak perlu lagi mencuci pakaian keliling lagi. Sekarang saatnya biarkan Denara yang berbakti, dengan mengantikan peran kalian mencari uang. Sungguh Denara sangat menyayangi kalian ''


Tulis Denara pada bukunya, air matanya mulai turun kembali beriringan dengan dirinya menulis, mengungkapkan segala perasaannya yang tak pernah dirinya ungkapkan pada Ibu dan Ayahnya.


__ADS_2