
...Dilarang mengcopy, plagiat atau pun menjiplak karya ini!!!...
...Typo bertebaran....
...Happy Reading🍃....
Ares sudah mengumpulkan bukti-bukti yabg di perlukan untuk mejerat Jesi agar tidak bisa lolos dari hukuman yang sudah di tetapkan.
''Bagaimana rasanya berada di balik tahanan??'' Ujar Ares menusuk.
''Aku benar-benar membenci kalian. Jika kamu pikur si pembantu kampung itu akan bertahan, maka kamu salah.''
''Mungkin saja kini dia sudah pergi!!!''
''JESII!!!''
''Kau tidak akan pernah bebas dari sini. Aku sendiri yang akan memastikannya.''
......................
Resa tahu, jika sebenarnya Mamanya ini adalah orang baik. Hanya saja, dia memang cukup protektif pada sang Adik dan juga dirinya.
Resa, Zion serta Mamanya. Melewati lorong-lorong rumah sakit. Zia serta Suaminya, tidak ikut. Bukan karena Resa tidak memperbolehkan, hanya saja Zia memang cukup aktif. Jika ikut bersama mereka.
Karena itu, Zia. Resa tinggalkan bersama Suaminya yang kebetulan libur.
''Sus, saya mau tanya. Pasien yang namanya Denara Emilia nomor kamar berapa yah??''
''Sebentar yah Bu...''
''Kamar no. 5 mawar. di lantai 2.'' Jelasnya.
''Makasih suster.''
Mereka lalu berjalan menuju lift, karena rumah sakut ini menyediakan lift. Meskipun kota kecil, rumah sakit yang di tempati Denara saat ini terbilang mewah karena fasilitas serta pelayanannya yang cukup memadai.
......................
Ares sudah selesai mengurus semua berkas-berkas yang di perlukan untuk menjerat Jeai agar tidak bisa lolos dengan mudah.
Ares tahu benar, bagaimana oramg tua Jesi yang akan membantu dengan segala cara agar Jesi bisa lolos dari jeratan hukum. Termasuk melakukan suap.
Tapi Ares tidak akan mrmbiarkannya, karena bagi Ares. Karena keadilan memang harus di tegakkan.
''Pak, ada Pak Bima di lobi kantor.'' Ujar Deni.
''Saya sibuk, bilang saja begitu.'' Jawab Ares tanpa melihat Deni.
Deni segera beranjak pergi menemui Bima yang saat ini menunggu Ares, tapi belum sampai satu jam. Deni sudah mengentuk pintu ruangan Ares kembali.
Tok....
Tok....
Tok...
''Masuk...''
''Beliau ingin bertemu dengan anda bahkan di mencoba masuk sekarang.'' Ucap Deni yang bingung.
__ADS_1
Ares menaruh ponselnya dan menatap Deni.
''Suruh masuk saja.''
Deni segera berjalan ke arah pintu dan membukanya, lalu mempersilahkan Bima masuk ke dalam ruangan.
''Ares, apakah kamu tidak bisa membebaskan Jesi saja.''
''Apa Om sedang melakukan penawaran padaku??''
Bima lalu duduk di kursi depan meja Ares.
''Ares, bukankah kalian teman. Bahkan keluarga kita sudah kenal dekat. Apakah kamu tidak bisa menolong teman masa kecilmu.''
''Om, pertemanan dan keadilan adalah hal yang berbeda.''
''Jadi aku tidak ingin mengotori ke dua hal itu...'' Jelas Ares.
Brakk...
Bima memmukul meja dengan keras, sedangkan Ares sama sekali tidak bergeming akan hal itu. Bima bahkan berdiri dan mendorong kursi dengan kasar.
''Kau terlalu angkuh Ares, aku bahkan rela menurunkan kehormatanku padamu. Hanya untuk memohon, tapi kamu sama sekali tidak perduli.'' Marah Bima.
''Kesombonganmu ini akan membuatmu terpuruk.''
''Apakah Om tidak berkaca, jika Om juga sombong sepertiku bahkan mungkin saja lebih.''
''Tapi, bukankan orang sombong memang harus di lawan dengan orang sombong pula.''
''KAU AKAN MENYESAL ARES.... INGAT ITU.'' Dengan menunjuk Ares tepat di wajahnya.
......................
''Kenapa harus Resa dulu,'' Menatap Mamanya.
''Biar Zion aja dulu, Nenek. Soalnya Zion kangen banget sama Kak Dena.''
Mereka srmua kompak mengangguk.
Cklek...
Perlahan Zion masuk, tapi dirinya cukup trauma jika berada di dalam rumah sakit. Bukan tanpa sebab, Zion memiliki kenangan yang buruk tentang rumah sakit.
Tangan Zion kecil bahkan sedikit gemetar karena masih merasakan takutnya.
''Zion harus bisa, demi Kak Dena.''
Kakinya mulai berjalan perlahan, hingga dirinya sampai di depan bangkar tempat Denara berbaring.
''Kak Dena, Zion kangen tahu...''
''Kita udah lama banget enggak ketemu, coba aja waktu itu Zion bisa cegah Nenek. Pasti saat ini Kak Dena masih sama Zion.''
''Kak Dena, Zion mau cerita. Sebenarnya, Zion takut banget ke sini. Tapi Kak Dena jangan kasih tahu siapa-siapa yah... Ini rahasia kita berdua aja.''
Zion menceritakan semuanya pada Denara, meskipun tidak ada respon sama sekali dari Denara. Setelah merasa sudah cukup, Xion lalu turun dari kursi dan mendekatkan wajahnya pada Denara.
Cup.
__ADS_1
Kecupan kecil di pipi Denara di berikan oleh Zion.
''Kak Dena cepet sembuh yah, Zion kangen...''
......................
Kini giliran Resa yang masuk terlebih dulu setelah Zion.
''Hai Denara, lama tidak bertemu. Maaf yah, karena Ares kamu seperti ini.'' Ujar Resa mulai bercerita.
''Kamu tahu Denara, saya awalanya cukup tidak suka padamu. Tapi seiring berjalannya waktu, saya mulai merasakan betapa tulus serta lembutnya kamu.''
''Maafkan Mama serta Papa saya yang selalu membuat kamu tertekan.''
''Maafkan saya yang tidak bisa menolong kamu.'' Ungkap Resa.
......................
Orang terakhir yang masuk ke dalam kamar Denara saat ini, adalah Bu Eni. Bu Eni cukup ragu masuk ke dalam, sampai dirinya mulai melangkah.
Di sana, terbaring lemah seorang yang cukup di bencinya. Alat-alat yang terpasang di tubuhnya benat-benar membuat Bi Eni kaget.
''Saya cukup kaget melihat mu di sini.''
''Say tahu, jika saya cukup salah menilai kamu. Untuk pertama kali dalam hidup saya.''
''Saya meminta maaf, atas apa yang saya lakukan serta perkataan kasar saya yang selalu layangkan padamu.''
''Saya tidak membencimu Denara, hanya saja saya cukup protektif pada anak saya.''
''Ares dan Resa cukup memiliki perbedaan yang sangat besar.''
''Ares yang ingin mandiri sejak kecil sementara Resa yang cukup manja meskipun dia anak pertama.''
''Ares yang tutup serta sudah mendari sejak kecil membuat saya sedikit protektif lebih ke Ares.''
''Bahkan sejak kecil, Ares tidak cukup banyak memiliki teman. Selain Jesi.''
''Saya menjodohkan Ares dan Jesi, bukan karena dia kaya. Tapi karena Jesi adalah teman masa kecilnya yang pastinya tahu benar bagaimana sifat Ares.''
''Tapi seperti yabg Resa bilang, sifat manusia pasti akan berubah sering waktu.''
''Dan hal itu terjadi, kamu yang selalu saya benci tapi kamu masih saja memikirkan Ares.''
''Saya mungkin banyak bicara saat kamu sedang tertidur. Tapi, jika bangun nanti, saya tidak tahu. Apakah saya bisa berbicara langsung nantinya padamu.''
''Saya ucapkan terima kasih, selalu ada di samping Ares, selalu mengingatkan Ares bahkan selalu menjaga Ares.''
''Maaf, jika saya selalu berbuat tidak sopan atau lebih cenderung kasar padamu.''
Bu Eni mulai berdiri dari kursi dan berjalan keluar tapi sebelum sampai di depan pintu. Bu Eni berbalik sedikit dan menatap Denara.
''Saya harap, kamu bisa segera sadar dan kita bisa bicara Denara.''
''Cepat sembuh... Denara.''
...Bersambung........
......................
__ADS_1