Cinta Untuk Tuan

Cinta Untuk Tuan
42 part 1


__ADS_3

...Dilarang menjiplak, plagiat, atau pun memgcopy karya ini!!!!...


...Happy Reading🍃....


Ares menghampiri Denara yang sedang membuat teh di dapur.


''Maaf, tidak memberitahumu terlebih dulu jika Mama datang. Aku sungguh kaget saat Mama datang tadi ke kantor.'' Jelas Ares sambil memegang tangan Denara.


Denara menoleh dan menatap ke arah Ares, sebenarnya Denara tidak menyalahkan Ares akan hal ini. Memang wajar menurut Denara jika orang tua Ares berkunjung ke sini.


Tapi karena ini terjadi secara mendadak, hal itu malah membuat Denara takut, gelisah serta gugup secara bersamaan. Mungkin hal itulah yang membuatnya lebih pendiam sejak tadi.


Mungkin pula Ares mengira jika pendiam dirinya saat ini adalah marah, pikir Denara.


Ares menatap balik Denara yang sedang menatapnya dengan diam tanpa bicara.


''Kamu marah banget yah soal ini...'' Ujar Ares.


''Huh... Aku tidak marah sama sekali soal ini. Aku hanya takut jika Mamamu kurang setuju dengan hubungan ini.'' Dan mulai menundukkan kepalanya saat berbicara.


Ares tahu atas ke khawatiran yang tengah Denara rasakan saat ini, karena hal itu juga di rasakan olehnya juga.


''Hei sayang, kamu gak usah khawatir. Aku juga akan mencoba mendapatkan restu Mama mengenai hubungan kita.'' Ares mengatakan itu, untuk menguatkan Denara. Bahwa saat ini bukan hanya Denara yang merasakanya, karena Ares juga merasakan hal yang sama saat ini.


Tangan Ares yang tadinya menggengam tangan Denara, kini berpindah ke pipi Denara sambil mengelus dengan sayang.


''Kamu gak sendirian, kita berjuang bersama.'' Kata Ares.


......................


Denara berjalan ke ruang tamu dengan membawa nampan yang berisi teh hangat dan camilan ringan.


Denara bisa melihat dengan jelas, jika saat ini Mamanya Ares sedang menatapnya dengan lekat. Setiap tindakan yang Denara lakukan.


Perlaha-lahan Denara menaruh teh hangat serta camilan dengan pelan, walau pun saat ini Denara merasakan gugup, takut dan gelisah.


''Duduklah,'' perintah Mama Ares pada Denara yang masih berdiri.


Denara dengan pelan duduk di sofa dengan posisi berhadapan dengan Mama Ares.


''Kamu pasti tahukan maksud saya untuk berbicara denganmu??'' Dengan nada yang serius.


''Iya Nyonya,'' masih menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Denara benar-benar takut dengan situasi ini. Ke datangan Mamanya Ares yang tiba-tiba saat ini, sungguh membuatnya tidak bisa berbicara bahkan saat mengeluarkan suara saja Denara sedikit bergetar.


''Tidak perlu takut, aku hanya akan mengajukkan beberapa pertanyaan saja padamu.'' Melihat raut wajah Denara yang takut, gugup serta gelisah saat ini.


''Apa tujuan kamu berpacaran dengan anak saya??'' Tanyanya dengan ketus.


''Tidak ada tujuan apa-apa Nyonya.'' Balas Denara yang mulai menatap Mamanya Ares.


''Sungguh, apakah kamu pikir saya akan percaya dengan kata-kata yang kamu ucapkan.''


''Saya bersungguh-sungguh Nyonya,'' Mulai menatap Mamanya Ares walaupun takut.


Mama Ares bisa melihat dengan jelas ketakutan dari mata Denara yang sedang menatap ke arahnya.


''Apakah kamu perlu uang?? Aku bisa memberinya.''


Apakah serendah itu dirinya, hingga Mama Ares berpikir jika dirinya adalah orang seperti itu. Pikir Denara.


''Saya bisa bekerja, tanpa harus meminta uang pada Tuan, Nyonya.'' Balas Denara.


Mamanya Ares hanya tersenyum sinis menanggapi perkataan Denara yang menurutnya terlalu naif.


''Kamu bilang jika kamu bisa bekerja dan menghasilkan uang tanpa bantuan anak saya. Tapi saat ini saja, kamu masih bekerja di rumah ini.'' Jelas Mamanya Ares.


Kata-kata pedas yang di ucapakan oleh Mama Ares sangat menyakitkan bagi Denara. Harusnya Denara menyadari jika hal ini akan terjadi, terlebih lagi perbedaan kasta yang jauh berbeda di antara mereka.


Denara harusnya bisa mengambil contoh dari Clarissa yang merupakan mantan Ares. Jika Clarissa yang merupakan model terkenal saja di tolak oleh Mama Ares, apalagi dirinya yang hanya pembantu yang bekerja di rumah Ares.


''Apakah ucapan saya benar, Denara??''


''Kenapa kamu diam...''


Denara merasa kehilangan kata-katanya saat berhadapan dengan Mamanya Ares, apalagi posisinya saat ini adalah pacar Ares.


......................


Ares benar-benar gelisah menunggu Denara, saat ini Ares berada di kamarnya. Sebenarnya tadi Ares juga ikut ingin ke ruang tamu. Bahkan Ares sudah menawarkan diri pada Denara untuk membawa nampan yang berupa teh hangat dan camilan ringan.


Tapi Denara menolak hal itu. Denara malah menyuruh Ares untuk istirahat di kamarnya dan tidak perlu untuk ikut bersamanya.


Ares sempat membantah, tapi Denara mengancam akan mendiaminya jika Ares menolak hal itu.


''Seharusnya aku ikut saja bersama Ara, dari pada di sini karena penasaran.''

__ADS_1


Ares sudah berapa kali mondar-mandir sambil memikirkan ke mungkinan jika terjadi sesuatu antara Denara dan Mamanya.


Ares hapal betul dengan sifat Mamanya yang cukup protektif terhadap dirinya, apalagi mengenai pasangan.


Ares benar-benar takut dengan apa yang akan di lakukan oleh Mamanya pada Denara.


''Aku berharap semuanya baik-baik saja.'' Guman Ares.


......................


Zion cukup kaget saat melihat Neneknya yang datang kemari, apalagi secara tiba-tiba.


Bukannya Zion tidak senang akan hal itu, hanya saja saat ini Zion sedang mengkhawatiran Denara yang sedang berbicara serius dengan Neneknya.


Bukan tanpa alasan Zion berkata seperti itu, Neneknya memiliki sifat yang sama persis dengan Maminya dan hal itu membuatnya cukup khawatir.


Zion bisa melihat dengan jelas, raut wajah tidak suka yang di tunjukkan pada Denara saat datang ke rumah tadi.


''Apa aku telpon Mami saja untuk datang ke sini dan bilang jika Nenek berkunjung kemari??'' Sambil menatap ponselnya.


......................


''Saya tahu kamu kaget dengan kehadiran saya yang tiba-tiba.'' Menyesap sedikit teh yang di sediakan oleh Denara untuknya.


Denara hanya diam dan mendengarkan saja, apa yang akan di katakan oleh Mamanya Ares kepada dirinya.


''Tapi saya ingin meminta satu hal padamu, Denara...'' Mulai meletakan cangkir teh yang tadi dirinya minum.


''A-apa Nyonya??''


Setelah sekian lama diam, akhirnya Denara menjawab juga. Tapi entah kenapa kali ini. Denara merasakan perasaannya mulai tidak enak dengan apa yang akan di minta oleh Mama Ares padanya.


Mamanya Ares mulai berdiri sambil menenteng tas, dan berpindah duduk ke samping Denara. Denara yang melihat itu hanya menundukkan kepalanya, karena aura Mama Ares benar-benar membuat Denara menjadi tidak berkutik.


Setelah duduk, Mama Ares menganggkat tangannya dan mengusap rambut Denara dengan pelan.


Denara yang merasakan hal itu hanya menutup matanya dengan posisi yang masih menunduk. Sungguh perasaannya benar-benar tidak enak atas perlakuan Mama Ares yang satu ini.


Tapi usapan kepala yang di berikan oleh Mama Ares hanya sebentar saja. Dan hal yang di terhenti setelah Mama Ares benar-benar mengatakan sesuatu yang membuat jantung Denara serasa terhenti saat mendengarkannya.


Deg..


''Putuskan hubunganmu dengan Ares saat ini, itu permintaanku padamu.....''

__ADS_1


...Bersambung.......


__ADS_2