Cinta Untuk Tuan

Cinta Untuk Tuan
39 part 1


__ADS_3

...Dilarang plagiat, menjiplak atau pun mengcopy karya ini!!!...


...Happy Reading🍃...


Ares sejak pagi memasang wajah cemberut pada Denara, setelah mereka resmi berpacaran, mereka sempat berdebat kecil pagi ini.


Masalah perdebatan di antara mereka adalah jaket hitam milik Tian yang kemarin di kenakan oleh Denara.


''Kamu beneran mau ketemu sama Tian hari ini???'' Ucap Ares yang memegang tangan kanan Denara yang sedang menaruh piring di atas meja makan.


Denara sedikit terkejut dengan tingkah Ares yang berbeda pagi ini, jika biasanya Ares akan berperilaku dingin dan suka marah-marah.


Sekarang Ares benar-benar berubah, bahkan saat Denara meminta izin ingin bertemu dengan Tian bermaksud memgembalikam jaket serta memberikan jawaban atas pernyataan Tian.


Tapi Ares tidak mengizinkan Denara untuk pergi sendirian, bahkan Ares berniat untuk tidak berangkat kerja pagi, ini hanya untuk menemani Denara agar tidak pergi sendirian dan berduaan dengan Tian.


''Aku hanya sebentar saja,'' balas Denara.


Zion yang sejak tadi melihat drama yang di lakukan Ares pada Denara membuat Zion yang menatapnya jengah. Apakah ini benar Omnya?? Pikir Zion.


''Om, Kak Dena gak bakalan hilang. Lagi pula, Kak Dena pergi menemui Om Tian hanya untuk menjelaskan jika Kak Dena sudah memilih Om. Begitukan Kak Dena??'' Menoleh pada Denara.


''Iya, Zian aja paham.''


Ares yang sudah terpojok oleh mereka pun, akhirnya memilih mengalah dan dengan berat hati menyetujui hal itu.


''Baiklah, aku izinkan.'' Dengan muka yang masih cemberut.


Sedang Zion serta Denara hanya tersenyum senang melihat tingkah Ares yang menurut mereka lucu.


......................


Denara.


Tian, bisa bertemu di taman kemarin??


^^^Bisa.^^^


Tian keluar dari kamar menuju teras rumahnya, di sana sudah ada Tania yang duduk di motor miliknya.


''Bang, ayo anter Tania sekolah.''


''Tumben gak di jemput Budi sama Gandi,'' mulai menaikki motornya.


''Lagi musuhan.'' Balasnya.


''Ada-ada aja kamu ini, pegangan nanti jatuh.''


Tania mulai memegang pundak Tian seperti tukang ojek.


''Dek, Abang berasa tukang ojek.'' Celetuknya.


''Lah kan emang iya,'' jawabnya dengan tawa.


......................


Ares tidak berhenti menatap ke arah ponsel yabg ada di atas meja kerjanya. Ares benar-benar tidak fokus dengan kerjaannya karena Denara yang akan bertemu dengan Tian.


''Apakah mereka berdua saja??''


''Siapa yang berdua saja, Pak??'' Menaruh gelas yang berisi kopi di atas meja Ares.


''Bukan siapa-siapa,'' jawab Ares.

__ADS_1


Deni lalu kembali menuju meja kerjanya, tapi tidak sampai l8ma menit Deni duduk. Bel yang ada di ayas mejanya berbunyi, hal itu adalah tanda jika Ares sedang memanggilnya.


Cklekk...


''Ada apa Pak?? Anda memerlukan sesuatu?'' Setelah berdiri di depan Ares.


''Deni, saya ada pekerjaan untukmu kali ini''


......................


''Sudah lama??'' Tanya Tian yang membawa botol air mineral di tangannya.


''Tidak, aku juga baru saja tiba.'' Balas Denara yang sudah duduk di bangku taman.


''Ini.'' Menyerahkan botol air pada Denara.


''Terima kasih,'' menyambut botol air yang di berikan oleh Tian.


''Ada apa?? Kamu ingin mengobrol lagi??'' Ucap Tian.


''Ini, aku ingin mengembalikan jaketmu.'' Memberikan jaket pada Tian.


''Seharusnya tidak perlu Nara, kamu bisa menyimpannya.'' Mengambil jaket itu.


''Tidak, itu milikmu.'' Balas Denara.


Hening tidak ada pembicaraan setelah itu, hingga Denara mulai membuka pembicaraan terlebih dulu.


''Aku juga ingin membicarkan soal pernyataanmu waktu itu padaku.'' Menundukan kepalanya sembari menggengam erat botol air yang ada di tangannya.


''Kamu sudah mendapatkan jawabannya??''


Tian mulai merasa takut dengan apa yang akan di katakan oleh Denara padanya. Bahkan jantung Tian berdegup kencang saat ini.


''Aku tidak tahu harus mulai dari mana, tapi sebelumnya aku ingin meminta maaf pada mu terlebih dulu.'' Mulai mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Tian.


Tian terdiam, sungguh hatinya merasakan sakit saat ini atas ucapan Denara. Bahkan Tian merasakan ada yang mengores hatinya.


''Maaf Tian, aku sungguh lebih nyaman berteman dari pada menjadikanmu sebagai pasangan.'' Lanjut Denara.


''Jadi, kamu memilih Ares.'' Dengan suara yang terdengar sedih.


''Maaf Tian, maaf...'' Ucap Denara.


Tian memalingkan wajahnya dari Denara, bahkan matanya saat ini berkaca-kaca. Tian sungguh tidak menyangka akan hal ini.


Jawaban yang Denara berikan padanya sungguh menyakitkan. Tian mulai berdiri dari posisi duduknya dengan membelakangi Denara.


''Aku tidak tahu lagi harus berbicara apa.'' Suara Tian terdengar pelan.


Denara menatap punggung Tian yang lebar sedikit bergetar saat mengatakan hal itu, sungguh Denara tidak bermaksud untuk menyakiti Tian.


''Maaf Tian, maafkan aku yang tidak bisa memilihmu.'' Guman Denara berulang.


''Kamu tidak salah Denara, perasaan memang tidak bisa di paksakan. Aku harus pergi sekarang.'' Setelah mengatakan Itu, Tian mulai berjalan menjauh dan meninggalkan Denara sendiri di bangku taman itu.


......................


Deni merekam semua apa yang terjadi di taman itu, Deni berada di balik pohon yang tidak jauh dari tempat Denara dan Tian berbicara.


''Pasti sangat sakit.'' Saat mendengar semua percakapan antara Tian dan Denara.


Deni dengan segera mengirimkan video itu pada Ares. Setelah video terkirim, Ares tiba-tiba menelponnya.

__ADS_1


''Halo Pak??''


''Apakah dia sendirian sekarang??'' Tanya Ares.


''Benar Pak, wajah sangat sedih saat ini.'' Papar Deni memberitahu kondisi Denara.


''Huh.... Awasi dia sampai benar-benar pergi dari sana.'' Suara Ares yang terdengar khawatir.


''Baik, Pak.''


Tut...


......................


Tian membawa motor dengan ugal-ugalan, banyaj pengendara yang bertiak serta memakinya atas aksi yang di lakukan Tian.


Tapi Tian tidak perduli, saat ini suasana hatinya benar-benar buruk. Bahkan kecepatan motornya sedikit menggila, perkataan Denara terus tergiang di kepalanya.


'Kenapa kamu memilihnya Denara.' Batin Tian.


......................


Denara masih duduk di taman itu, botol air yang di berikan oleh Tian mengingatkannya akan ucapan Tian yabg terdengar sedih serta terluka atas jawabannya.


'Maafkan aku Tian, sungguh aku tidak bermaksud melukai perasaanmu.' Batinya yang merasa bersalah.


Tetesan air hujan mengenai tangannya, membuat Denara memutuskan pergi dari taman.


......................


Hujan mulai membasahi pakaian Tian, tapi Tian tidak perduli. Bahkan Tian tidak berteduh sama sekali untuk menghindari hujan.


Motor miliknya terus melaju melewati jalan raya tanpa arah tujuan.


......................


Ares benar-benar khawatir dengan keadaan Denara, setelah melihat video yang di kirimkan oleh Deni padanya.


Drttt...


Ponselnya bergetar, dengan cepat Ares mengambil dan membukanya.


Deni Asisten.


Denara sudah pergi dari taman, Pak.


Pesan yang di kirimkan oleh Deni.


Ares mengambil kunci mobilnya yang satunya, karena mobilnya yang lain di gunakan oleh Deni.


''Aku harus pulang.'' Berjalan keluar ruang kerjanya.


......................


Denara memasukki rumah dengan pelan, bajunya sedikit basah karena terkena hujan. Setelah menutup pintu, Denara melihat Ares yang berdiri di sana seakan-akan menyambut ke datangannya.


Dengan sedikit berlari Denara mengahampiri Ares dan memeluk tubuh Ares dengan erat.


Ares mulai merasakan pakaiannya basah, dengan sedikit menundukkan kepala melihat Denara yang ada di pelukannya sedang menanggis.


''Hikss..... Hikss.... Ak-aku me-menyakitinya.'' Ucapnya dengan terbata-bata karena menanggis


Ares yang mendengarkan itu, hanya bisa menepuk-nepuk punggung Denara untuk menenangkan Denara yang sedang sedih saat ini.

__ADS_1


...Bersambung......


......................


__ADS_2