
...Dilarang plagiat, menjiplak, atau pun mengcopy karya ini!!!!...
...Happy Reading🍃....
Semenjak ke datangan Mamanya. Ares merasa, jika Denara mulai mengaja jarak dengannya dan terkesan menghindar dari Ares.
Hal itu terlihat jelas, saat Ares mencoba berdekatan dengan Denara. Tapi Denara malah menjauhinya dan itu sangat jelas Ares rasakan.
Hari ini, Ares memutuskan untuk bangun lebih pagi dari Denara. Bahkan Ares sudah menbuat alarm untuk jam 3 pagi.
Jam menunjukkan pukul 8 malam, Ares memutuskan untuk tidur lebih awal dari biasa yang dirinya lakukan.
......................
Kring......
Kringg.....
Kringg...
Suara alarm yang menggema di kamar Ares dan hal itu berhasil membuat Ares membuka matanya. Tangan Ares mulai mengapai jam weker yang ada di atas meja kecil di samping tempat tidurnya.
Ares mematikan alarm dan mulai berjalan ke kamar mandi, untuk membersihkan diri. Hal ini di lakukan Ares untuk menghilangkan rasa kantuk yang masih menyerangnya.
Selesai bersiap, Ares berjalan keluar kamar dan duduk di sofa sambil menunggu Denara bangun tidur. Tapi niat menunggu Ares ternyata membuatnya tanpa sadar tertidur di sofa dengan pulasnya.
......................
Aroma masakan yang khas, sedikit menggangu indra penciuman Ares. Perlahan-lahan Ares membuka matanya dan duduk sejenak di sofa. Dengan raut wajah yang masih mengantuk.
'Apakah aku tertidur??' Batinnya.
''Ada yang sedang memasak''
Ares mulai berjalan menuju dapur, di sana Ares melihat Denara yang sedang sibuk dengan pengorengan dan lainnya.
Ares menghentikan langkahnya sejenak sambil menatap punggung kecil Denara.
'Apa yang membuatmu menjauh dariku sebenarnya.' Batin Ares.
Pertanyaan itu terus mengusik dirinya selama beberapa hari ini. Dengan pelan Ares berjalan kembali. Hingga posisinya kini berdiri di belakang Denara, tapi Denara masih belum menyadari keberadaan Ares yang masih berdiri di belakangnya.
Tangan Ares perlahan-lahan teranggkat dan melingkarkan tangannya ke perut Denara. Hal itu sontak membuat Denara kaget.
''Ma-Mas...'' Gugup, itulah Denara rasakan.
''Ada apa sebenarnya denganmu?? Kenapa kamu menghindar dariku. Apakah aku membuat kesalahan.'' Dengan suara lirih.
Denara menggeleng dengan apa yang di katakan Ares.
''Lalu, kenapa kamu menjauh. Apakah ini ada kaiatannya dengan Mama?? Jika benar, tolong beritahu aku saja. Bukan malah menghindar seperti ini.'' Dengan posisi masih sama.
''Jangan begini,'' mencoba melepaskan pelukkan Ares.
''Aku gak bakalan lepasin sebelum kamu cerita semuanya.'' Ares malah mengeratkan pelukkannya pada Denara.
__ADS_1
''Baiklah kita bicara, tapi lepasin dulu pelukkannya.''
Ares menurut, perlahan-lahan tangannya mulai terlepas dari Denara. Denara mematikan kompornya dan menarik tangan Ares menuju ruang tamu.
Denara terlebih dulu duduk, lalu Ares menyusul duduk di samping Denara.
''Bicaralah,'' saat Denara akan melepaskan pegangan tangan, Ares dengan sigap menahannya.
''Biarkan seperti ini.'' Mengengam erat tangan Denara.
''Aku tidak tahu harus mulai dari mana,'' tanpa menatap Ares.
''Apa yang Mama bicarakan waktu itu padamu??''
Denara terlihat bimbang saat akan mengatakannya.
''Tidak ada, Mamamu hanya menayakan pekerjaanku saja.'' Sambil tersenyum palsu.
''Kamu tidak pandai berbohong Denara, jujurlah.'' Ares tahu benar, bila saat ini Denara berusaha menutupi sesuatu darinya.
......................
''Sepertinya Mama sudah tahu,'' Saat mendapatkan pesan dari anaknya, Zion waktu itu.
''Apakah kita perlu ke rumah Mama??'' Seakan tahu ke khawatiran sang istri terhadap adiknya.
''Gak usah. Kita ke rumah Ares saja.''
''Baiklah, kamu bersiap-siaplah.'' Mencium kening sang istri, lalu berjalan pergi.
......................
''Seharusnya kita tidak bersama Tuan.'' Kata itu tiba-tiba terucap begitu saja.
''Kamu ngomong apa sih!!!!'' Mulai terlihat marah.
''Aku harusnya sadar, jika kita sangat berbeda. Kamu dan aku adalah hal yang mustahil.'' Suara Denara terdengar gemetar saat mengatakan hal itu.
''Berhenti bicara yang tidak-tidak Denara, aku sungguh tidak menyukainya.'' Wajah Ares mulai memerah karena marah.
''Ini memang kenyataanya Tuan, seharusnya aku sadar akan hal ini dari sebelumnya.'' Menatap Ares dengan mata yang berkaca-kaca.
Ares terdiam melihat wajah Denara yang sedih, bahkan terdengar sakit saat mengatakan hal itu pada dirinya. Apakah tekanan yang Mamanya berikan pada Denara begitu besar, hingga membuat Denara seperti ini.
''Mama pasti melakukan sesiatukan padamu kan waktuitu, hingga kamu seperti ini.''
''Sebelum Mama datang, kita masih baik-baik saja. Tapi setelah Mama datang, kamu tampak berubah. Tolong Denara katakan padaku sebenarnya apa yang terjadi?? Jangan membuat aku seperti orang bodoh karena tidak tahu apa-apa.'' Ares tampak gelisah saat mengatakannya.
Air mata Denara tanpa sadar menetes dan jatuh membasahi pipinya, Denara sunggub tidak tega mengatakan hal yang akan membuat Ares dan juga dirinya terluka.
''A-aku ti-tidak bisa mengatakannya.'' Dengan tangis.
''Kenapa tidak bisa,'' mengusap air mata Denara dengan pelan.
''Hiksss... Hikss... I-itu akan me-melukaiku dan ka-kamu.''
__ADS_1
Ares lalu membawa Denara ke dalam pelukkannya, sungguh Ares tidak tega melihat Denara yang seperti ini. Sepertinya bukan waktu yang tempat untuknya bertanya paea Denara saat ini.
''Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi padamu.'' Mengusap rambut Denara dengan sayang.
'Tapi aku akan menanyakan hal ini secara langsung pada Mama.' Batin Ares.
......................
Zio sedang bermain bola di halaman depan rumah Ares. Berlari ke sana kemari, Zion mengiring bola dan membawanya ke gawang.
''Aku lelah.'' Menendang bolanya ke sembarang arah.
''Mami, Papi??'' Melihat mobil yang baru saja tiba.
Zion berlari ke arah mobil yang berhenti di garasi rumah Ares. Zion bisa melihat dari ke jauhan, Maminya yang menggendong Zia sedangkan Papinya membawakan tas yang Zion ketahui milik Zia.
''Mami, Papi....'' Teriak Zion.
''Kakak habis main??'' Melihat Zion yang penuh dengan keringat.
Zion mengangguk dengan semangat, lalu menghampiri Maminya yang sedang mengendong sang adik.
''Eh, Zion mau ngapain??'' Melihat Zion yang mendekat.
''Mau cium adek,'' ucapnya polos.
''Enggak, kamu mandi dulu sana.'' Perintah Maminya.
Zion malah cemberut dan mulai berjalan masuk, dengan diikuti oleh Mami dan Papinya.
......................
''Om Ares, ada Mami sama Papi.'' Sambil berlari masuk ke dalam rumah.
Ares dan Denara yang masih berpelukan, mulai menjauh dan berjalan mendekat ke arah pintu. Untuk menyambut ke datangan Kakaknya serta Kaka Iparnya.
''Kenapa dengan wajahmu??'' Melihat wajah adikknya yang tidak senang atas ke datangannya.
''Tidak apa,'' lalu mengambil Zia dari gendongannya dan membawa ke teras.
''Apakah terjadi sesuatu, kamu menganggis.'' Melihat Denara yang terlihat sebab.
Resa lalu merangkul Denara dan meminta Suaminya untuk berbicara dengan Ares. Denara hanya diam, mengikuti langkah Resa untuk duduk di sofa.
''Apakah ini ada hubungannya dengan Mamaku??''
Denara hanya diam, dia cukup canggung saat berbicara seperti ini dengan Resa.
''Tidak apa, ceritakan dengan pelan. Aku hanya ingin tahu apa yang telah terjadi.'' Ucapnya dengan lembut.
Denara memutuskan untuk menceritakan semuanya, mengenai apa yang terjadi waktu itu, pada Resa sevara perlahan dan mendetail.
Resa sudah menduganya, jika Mamanya akan menolak tegas hubungan Ares dan Denara saat ini.
''Sepertinya, ini akan menjadi masalah yang cukup sulit untuk kalian.'' Sambil merangkul Denara.
__ADS_1
...Bersambung.......