Cinta Untuk Tuan

Cinta Untuk Tuan
38 part 2


__ADS_3

...Dilarang plagiat, mengcopy, atau pun menjiplak karya ini!!!...


...Happy Reading🍃...


Tian pulang ke rumah dengan baju serta celana yang basah karena menerobos hujan. Pakaiaannya yang basah membuat lantai rumahnya ikut-ikutan basah juga.


''Bang, basah semua lantainya. Diem di situ.'' Omel Tania yang melihat Tian.


Tian hanya tersenyum saja, sebenarnya Tian ingin menunggu diluar saja dan memanggil Tania. Rapi karena hujannya sudah berserta kilat, akhirnya Tian memutuskan untuk masuk saja ke dalam rumah.


''Tunggu di luar kan bisa Bang.'' Menaruh lap serta memberikan handuk pada Tian.


''Ada kilat Dek, makanya Abang masuk ke dalam rumah.'' Jelasnya.


''Gimana Bang jalan sama Kak Denaranya, lancarkan??'' Keponya.


''Ya gitu deh,'' ucapnya sambil tersenyum.


''Aisshhh jangan gitu dong bang, ayo kasih tahu Tania.'' menggoyang-goyangkan tangan Tian.


''Jangan kepo deh Dek,'' lalu berjalan masuk ke kamarnya.


''ABANGGGGG.....''


Dummm....


''Astaghfirullah,'' kagetnya saat mendengar suara kilat yang menyambar.


......................


Hujan kini bertambah deras di sertai dengan kilat dan juga petir, hal itu ternyata mengusik Zion yang sedang tertidur pulas di ranjangnya.


Perlahan-lahan matanya terbuka, Zion mulai bangun dari tidurnya dan berjalan keluar kamarnya.


Zion terlebih dulu ke arah meja makan untuk makan sejenak, setelah perut terisi. Zion mulai berjalan ke arah kamar Denara untuk mengecek apakah Denara sudah pulang.


Tok....


Tok...


Tok...


Cklek...


''Tidak terkunci??'' Zion melangkah masuk ke kamar Denara dan melihat-melihat ke dalam kamar.


''Kak Dena....''


''Kak Dena....''


''Kak Dena...''


''Sepertinya Kak Dena juga tidak ada di kamar mandi..''


Zion akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar Denara dan menutup pintunya kembali. Zion mulai berjalan ke depan, hingga matanya menatap ke arah Ares dan Denara yang sedang berbicara di sana.


Tapi ada yang aneh, kenapa Denara memegang Tangan Ares. Apakah pembicaraannya sungguh serius, pikirnya.

__ADS_1


Zion mulai berjalan mendekat ke arah mereka. Tapi Zion berubah pikiran, akhirnya Zion memutuskan untuk mengintip di balik sofa dengan berjalan pelan.


......................


Ares mulai berjalan menjauh setelah mengatakan itu, tapi Denara tidak membiarkan Ares pergi begitu saja.


Denara mulai berjalan mendekati Ares dengan sedikit mempercepat langkah kakinya dan menarik tangan Ares, hal itu berhasil menghentikan langkah kaki Ares.


''Kenapa bisa Tuan berbicara seperti itu??'' membalas ucapan Ares.


''Aku sudah bisa melihat perlakuanmu yang beda padanya Denara, bahkan sekarang kamu pergi berdua dengannya.'' Ares mulai marah.


''Kenapa Tuan bisa menyimpulkannya seperti ini.'' Ujar Denara.


''Sudah, aku sudah tahu jawabanmu mengenai pernyataanku.'' Memalingkan wajahnya dari tatapan Denara.


''Alasan aku pergi bersama Tian hari ini, itu karena aku ingin mengenali perasaanku sendiri. Saat aku berjalan bersamanya, jujur saja.'' Ucapnya menggantung.


Ares ingin menarik tangannya tapi Denara menahannya dan melanjutkan perkataannya.


''Aku sama sekali tidak merasakan debar-debar jantung seperti aku bersama Tuan. Aku sudah terlanjur nyaman dengan rasa nyaman serta sayang sebagai teman pada Tian.''


''Tapi hal itu berbeda saat bersama Tuan, aku merasakan degup jantung yang menggila hanya karena berdekatan atau pun melihat senyun Tuan.''


''Dan karena hari ini pula, aku mendapatkan jawabannya. Sepertinya aku juga menyukai Tuan.'' Menatap Ares dengan Intens.


''Itulah jawabanku untuk Tuan.''


Ares sungguh tidak percaya akan hal yang di ucapkan oleh Denara, sungguh Ares benar-bebar bahagia mendengarnya. Bahkan senyumannya mulai merekah saking senangnya.


Ucapan Denara terhenti akibat pelukan erat Ares, bahkan sekarang Denara bisa mendengar dengan jelas degup jantung Ares karena pelukkan ini.


''Sungguh aku bahagia mendengarnya, Denara.''


......................


Zion yang sejak tadi melihat serta mendengar dengan jelas apa yang Denara serta Ares bicarakan refleks menutup mulutnya, agar tidak menjerit.


Apalagi melihat Ares serta Denara yang sedang berpelukkan, tapi karena hal itu pula, Zion tidak bisa menahan Teriakkannya.


''AAAAA SO SWEEETTT....''


Teriakkan Zion berhasil membuat Ares serta Denara melepaskan pelukkannya dan menoleh ke arah Zion yang ada di sana.


''Apa yang kamu lakukan di situ.'' Pertanyaan itu di ucapkan oleh Ares dan Denara dengan kompak.


''Acieeeee nanya kompak...'' Balas Zion.


''Apakah Kak Dena dan Om sudah resmi berpacaran??''


Hal itu tanpa sadar membuat Ares serta Denara saling tatap. Dengan pelan Denara menggelengkan kepalanya secara perlahan.


Membuat Ares menunduk karena malu.


''Ihh Om gimana sih, masa belum pacaran udah langsung peluk aja. Gak boleh itu.'' Protes Zion.


''Baiklah-baiklah, kamu ini cerewet sekali Zion.'' Menoleh pada Zion.

__ADS_1


Ares mulai memengang tangan Denara dan mengarahkan badannya persis berdiri di hadapan Denara.


Hal itu tentu saja membuat Denara gugup serta malu. Atas perlakuan Ares padanya.


''Denara, dengarkan si pemarah ini berbicara.'' Mulai menatap Denara dengan intens.


''Aku benar-benar tidak menyangka akan menyukaimu saat ini, aku bahkan masih tidak percaya akan hal ini. Terlebih lagi tingkah lakumu yang absurd terkadang membuatku kesal serta terhibur secara bersamaan. Hingga hari itu tiba, saat kamu pergi meninggalkan rumah ini.''


''Aku mulai merasakan sepi serta kehilangan saat itu, hingga aku menyadari. Jika rasa itu hadir karena rasa suka ku padamu telah tumbuh di hati.''


''Maaf perlakuanku terkadang membuatmu kesal apalagi saat aku marah.''


Denara tidak berkedip sama sekali saat melihat Ares yang berbicara serius padanya. Denara bisa melihat Ares, jika Ares yang sekarang berbicara padanya terlihat berbeda dari biasanya.


''Aku tidak bisa berbicara banyak lagi, Denara aku Ares Ananta sangat menyukaimu. Maukah kau menjadi pacarku??''


Walaupun Ares sudah tahu jawaban yang akan di katakan Denara padanya, tetap saja Ares gugup.


''Terima.... Terima.... Terima...'' Ujar Zion beserta tepukkan tangan.


Denara menundukkan kepalanya secara perlahan, bukan apa-apa, Denar menunduk karena pipinya sudah bersemu merah seperti tomat.


Membuat Ares yang tadinya gugup, kini tersenyum lebar saat melihat Denara yang sedang malu.


''Aku mau.'' Dengan suara pelan.


''Apa???Aku gak kedengaran,'' ucap Ares dengan jahil.


''Ayo dong Kak Dena, katakan dengan jelas serta keras.'' Zion yang ikut-ikutan menjahili Denara.


''Biar Zion juga ikut kedengaran.'' Lanjut Zion.


Merasa di pojokkan oleh Ares dan juga Zion, Denara mulai berkata dengan keras.


''AKU MENERIMANYA.'' Denara langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Melihat itu, Ares gemas sekali dengan spontan Ares menarik Denara kepelukkannya dan menyembunyikan wajah Denara di dada bidangnya.


Sementara Zion yang melihat itu hanya membalikan tubuhnya sambil berkata.


''Aku tidak melihat kalian.'' Ucapnya.


Denara dan Ares hanya tersenyum mendengar perkataan Zion yang mereka anggap lucu.


''Sekarang kita sudah berpacaran,'' ucap Ares sambil berbisik di telinga Denara, dengan posisi Denara yang masih berada di pelukkan Ares.


...Bersambung........


......................


Hola pembaca👋🏻.


Gimana part ini🤣???? Ada yang senyum-senyum.


Jangan lupa berikan dukungannya berupa like, vote, komen, rate 5 dan favoritnya biar Author semangat nulis dan gaspol buat upnya.


Sayonara....

__ADS_1


__ADS_2