
...Dilarang memplagiat, menjiplak, atau pun mengcopy karya ini!!!...
...Happy Reading📖....
...Ini adalah lanjutan dari episode sebelumnya....
......................
Denara sama sekali tak percaya, jika Ares akan datang kemari hanya karena dirinya akan bertemu dengan Tian. Apakah ini benar-benar karena Ares tak suka pada Tian. Atau karena Ares punya maksud dan tujuan lain.
Bahkan semenjak 2 hari lalu, Ares tak pernah lagi berbicara atau pun menyuruhnya. Tapi sekarang, saat mendengar nama Tian saja. Ares harus jauh-jauh datang kemari dan berbicara padanya lagi hanya karena Tian saja.
''Tuan, saya ingin menanyakan sesuatu??''
Ares membalikkan badannya menatap ke arah Denara yang masih berdiri di belakangnya.
''Apa,'' ujar Ares datar.
''Apakah Tuan jauh-jauh datang kemari hanya untuk Tian saja?? Atau masalah lain??''
''Memangnya kenapa??''
''Saya hanya heran saja, bukanya ini sama saja membuang-buang waktu Tuan yang berharga hanya untuk seorang Tian saja atau...'' Ucap Denara menggantung.
''Apa???''
''Tuan ada maksud lain, selain masalah Tian.'' Sambungnya.
''Denara, Denara... Saya tak menyangka kalau kamu mempunyai kapasitas otak yang sekecil ini.'' Sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Membuat Denara melotot, sebenarnya ada hubungan apa antara otaknya dengan masalah ini.
''Kenapa Tuan berbicara tentang otak saya, lagi pula ini tak ada sangkutannya sama masalah ini.'' Jelas Denara dengan jengkel.
''Ada Denara, tentu saja ada.''
''Apa???''
Ares Menatap lekat wajah Denara yang berdiri di depannya, walaupun Ares harus menunduk menatap ke arah wajah Denara. Karena poisis tubuh tinggi Ares yang tinggi dari pada tubuh Denara.
''Jika otakmu lebih pintar sedikit saja, kau pasti akan mengerti kenapa saya melakukan hal ini.''
Setelah mengucapkan itu, Ares berjalan ke arah mobilnya dan pergi dari sana.
......................
Denara menaruh kantung-kantung belanjaannya di atas meja, Denar benar-benar tak menyangka jika Ares mengatakan kalau kapasitas otaknya kecil. Memangnya tahu apa Ares tentang otaknya, apa Ares Dokter, hingga berbicara seperti itu pikirnya.
''Kak Dena sudah pulang,'' Zion yang berjalan menghampiri Denara.
''Iya, Zion dari mana??'' Tanya Denara.
''Belakang rumah... Oh iya, tadi ada yang datang mencari Kak Denara.'' Zion mulai menceritakan tentang Tian yang tadi datang.
''Apakah namanya Tian??''
''Benar, apakah orang itu benar teman Kak Dena atau pacar Kak Dena.'' Ucap Zion dengan wajah lesu.
''Tian hanya teman Kak Dena bukan pacar.'' Jelas Tania.
''Sungguh, baguslah kalau begitu.'' Ucapnya ceria.
__ADS_1
'Jika Om itu bukan pacar Kak Dena tapi hanya temannya. Berarti Om Ares ada kesempatan.' Batin Zion senang.
''Hei, apa yang kamu pikirkan hingga tersenyum begini.'' Ujar Denara sambil mengelus kepala Zion dengan sayang.
''Tidak, Kak Dena lanjutkan saja menyusun sayur-sayuran ini. Aku akan kembali ke kamar.''
......................
Drtt...
Drtt...
Ponsel Tian bergetar di saku celana miliknya saat Tian hendak mengambil camilan yang ada di rak supermarket.
Membuat Tian lebih memilih mengambil ponselnya terlebih dulu.
''Halo Nara,'' Ucap Tian dengan senang.
''Ada apa mencariku Tian, apa ada masalah??''
''Tidak Nara, Aku hanya ingin mampir saja. Tapi kamu sedang tidak ada.'' Jelas Tian.
''Oh, begitu. Apakah kamu sibuk??''
''Tidak, ada apa... Kau ingin bertemu?''
''Iya, ada yang ingin ku bicarakan.'' Ujar Denara yang terdengar serius.
''Baiklah, aku akan mengirimkan mu alamatnya.'' sambung Denara.
''Aku tutup telponnya.'' Kata Denara.
''Baiklah, sampai bertemu Nara.''
......................
Ares melihat sosok yang cukup familiar di supermarket itu, lebih tepatnya di parkiran motor. Ares membelokkan arah mobilnya ke arah parkiran motor supermarket untuk menemui orang yang sibuk menyusun kantung belanjaan di di motornya.
Mobil Ares terhenti pas di belakang motor orang itu, membuat orang itu kini mengalihkan pandangannya ke arah Ares.
Senyum tak suka terukir dengan jelas di wajah Orang itu, membuat Ares menyambutnya dengan senyuman sinis.
''Ada apa kau tiba-tiba datang menghadang jalannku.'' Ucap Tian menunjuk mobil Ares yang terparkir.
''Saya hanya ingin berbicara sebentar.'' Jawab Ares yang saat ini memakai kaca mata serta masker yang berwarna hitam.
Ares hanya mengantisipasi saja, jika hal-hal yang terjadi di supermarker yang waktu itu. Tak terulang kembali.
''Apakah pembicaraan yang kau maksud itu adalah Denara??'' Tebak Tian.
''Ya, Benar. Saya ingin membicarakan masalah Denara.'' Jawab Ares
''Apakah kau merasa terganggu dengan ke hadiran ku yang datang ke rumahmu untuk menemuinya.'' Lanjut Tian.
''Ya, Saya sangat terganggu dengan hal itu. Terlebih lagi Saya sudah menyukainya.'' Ujar Ares dengan suara yang tegas.
''Huh... Ares, Ares.... Apakah kau pikir dengan mengatakan hal itu, aku akan menjauhi Denara?? Jangan berharap itu akan terjadi!!!'' Sahut Tian dengan serius.
''Hanya karena kau sudah mengakui dan tidak mengelak lagi tentang perasaanmu padanya, bukan berarti aku akan mundur begitu saja.'' Sambung Tian.
''Saya sangat tahu, jika kau tak akan mundur dengan mudah Tian. Saya hanya mengingatkan jika bukan hanya kau saja yang menyukainya tapi ada orang lain juga yang menyukainya.''
__ADS_1
''Maka dari itu, kita bersaing secara sehat untuk mendapatkannya.'' Jelas Ares dengan jelas.
......................
Denara harus benar-benar meluruskan semuanya, apalagi semenjak kejadian suap-suapan waktu itu Tian bertingkah aneh menurutnya. Tian lebih sering menghubunginya dan perlakuan Tian yang cukup membuat Denara canggung setelah mendengar perkataan Ares, bahwa Tian menyukainya.
Oleh Karena itulah Denara berniat bertemu dengan Tian sore ini dan meluruskan semuanya. Dan Denara berharap juga, jika yang di ucapkan oleh Ares. Sama sekali tak benar mengenai Tian menyukainya.
......................
Tian sudah menunggu Denara di tempat uang mereka janjikan, Tian tak henti-hentinya tersenyum karena senang akan hal ini dan bahkan Tian tak sabar bertemu dangan Denara.
Hingga matanya menatap ke arah Denara yang baru saja tiba menggunakan ojek online. Tian lalu bangkit dari duduknya yang masih menatap Denara dengan tersenyum.
''Apakah kamu sudah lama datang kemari??''
''Tidak Nara, aku baru saja datang.''
''Duduklah, apa yang ingin kamu bicarakan padaku??'' Tanya Tian.
Mereka berdua kini mulai duduk di bangku taman yang tersedia di sana.
''Tian, sebenarnya aku bingung ingin mengatakannya.'' Terlihat jelas dari wajah Denara saat mengatakannya.
''Apa ada masalah yang serius hingga kamu perlu bantuanku, atau ka--''
''Tidak Tian, ini bukan masalah yang seperti ini. Tapi ini masalah pertemanan kita.'' Potong Denara.
''Kenapa?? Apakah kau berniat memutuskan tali pertemanan ini.'' Ucap Tian yang mulai tak suka.
''Aku ingin bertanya, kita adalah temankan??'' Tanya Denara sambil menggengam tangannya erat.
''Tentu saja.'' Balas Tian.
''Jika begitu, bisakah kamu bersikap biasa saja.''
Suasana di antara mereka kini mulai tidak nyaman, membuat ke duanya terlihat serius saat berbicara.
''Kenapa, apakah kamu tidak nyaman berada di dekatku??'' Tanya Tian dengan wajah yang mulai tak bersahabat.
''Bukan, aku merasa tidak nyaman saja dengan perlakuanmu yang terlalu baik pada ku Tian.'' Jawab Denara menunduk.
''Bukannya berteman memang seperti itu Nara, jika kamu mulai tidak nyaman sebaiknya kita tidak usah berteman lagi saja.'' Ucap Tian yang mulai berdiri.
Membuat Denara kini mulai ikut berdiri, bahkan rasa tak enak pada Tian kini mulai muncul dalam diri Denara.
''Karena aku juga mulai tidak nyaman berteman denganmu Nara.'' Lanjut Tian dengan serius.
Bersambung....
......................
Hola Pembaca👋🏻.
Jangan lupa buat vote, like, komen, favorit dan rate 5. Makasih juga buat kalian yang sudah vote serta suka cerita ini🤗.
Karena dengan dukungan kalian, akan sangat membantu untuk Dao buat semangat nulis dan upnya😊.
IG : dindao.18
Sayonara👋🏻.
__ADS_1