
Ares akan pulang hari ini, Denara sudah sejak pagi sibuk dan tak henti-hentinya membereskan rumah, serta memasak makanan untuk Ares nantinya. Ares bilang jika sampai dirumah nanti, dirinya meminta tukang pijat langganan Ares agar datang kerumah.
Denara beranjak dari sofa menuju kearah meja telpon. Perlahan tangannya mulai menekan angka-angka yang ada disana, sambil mengingat nomor yang disebutkan Ares tadi saat menelponnya.
'' Sembilan apa enam yah,'' Denara sedikit lupa.
Dengan tidak yakin Denara menekan angka enam, menunggu sambunggan telpon terhubung.
'' Assalamualaikum.''
'' Iya ini siapa yah...''
'' Saya pembantu dirumah Tuan Ares, Pak. ''
'' Pak Ares?Ada apa yah Mbak.''
'' Tuan Ares hari ini minta dipijit Pak,bisa bapak kesini jam 5 sore.''
'' Iya bisa, bisa kasih alamatnya Mbak,'' Jawab orang itu.
' Aneh masa tidak ingat,' Batin Denara.
Lalu menyebutkan alamat rumah Ares.
Setelah selesai,Denara menyiapkan kamar tamu yang akan dipakai Ares untuk pijat nantinya.
Sembari menunggu Denara bersantai sedikit dengan menonton Youtube.
' Teng..teng.. Didepan orang tuamu. '
' Kau malukan diriku.'
' Kau bandingkan aku dengan dirinya.'
' Kau hina diriku kau sebut tentang harta.
'' Bwhaaaa hahha kenapa ini bocah gini amat nyanyinya,'' Tawa Denara menggema di ruang tamu, sampai-sampai ponsel di genggamanya terjatuh.
Entah mengapa saat menonton vidio itu mulut Denara juga ikut bergerak seperti dividio,
membuatnya geli sendiri.
Tanpa sadar jam sudah menujukkan pukul 4,yang artinya Ares akan pulang,tapi Denara masih sibuk menonton vidio tadi tanpa melihat jam.
Hingga...
Cklek...
Ares memasukki rumahnya,hal pertama yang dia dengar saat masuk kerumahnya adalah tawa seorang wanita.
'' Assalamualaikum.'' Ucap Ares.
Lalu melihat sekitar ruangan mencari sumber suara, Ares yakin jika suara yang dia dengar saat ini adalah suara Denara pembantu absurdnya itu, karena jika setan mana mungkin sore begini sudah muncul.
' Kau malukan diriku.'
' Kau bandingkan aku dengan dirinya......'
Sepertinya Denara ini sedang menonton konser dangdut, tapi kenapa seheboh ini sampai pembantunya ini tertawa.
'' Denara,'' Panggilnya pelan.
__ADS_1
Membuat Denara terkejut dan ponselnya terjatuh kelantai, dan barulah vidio itu mati beserta ponselnya.
'' Ya Allah, ponselnya belum lunas,'' Rutuknya Denara lalu mengangkat ponselnya dengan pelan.
Ares hanya melihat saja tanpa perduli lagian itu salah Denara sendiri yang begitu fokus menatap ponselnya.
'' Tuan, saya gak terima dikagetin seperti ini, lihat ponsel saya jadi korban. Harusnya Tuan salam dulu kalau mau masuk kerumah bukannya nyelong -nog gitu aja."
'' Denara, saya sudah dari tadi mengucapkan salam, tapi tak ada sahutan. Lagian ini rumah saya,suka-suka saya dong mau ngapain.'' Jawab Ares sewot.
'' Pokoknya Tuan harus ganti ponsel saya,'' Denara menatap Ares tajam.
'' Kamu berani melototin saya, iya!Lagian itu salah kamu sendiri, kenapa saya harus ganti!'' Ucap Ares tak terima.
'' Sungguh terlaluuuu..'' Ujar Denara bernada.
'' Bener gak sehat kamu,'' Lalu perlahan menjauh.
'' Ku menanggis...... '' Denara bernyanyi sambil melihat ponselnya yang sudah retak dan layarnya yang hitam, lalu perlahan berjalan ke arah kamarnya.
..............
Sekarang sudah jam 05.15 sore, saatnya Ares di pijat. tapi tukang pijatnya belum muncul-muncul juga dari tadi.
'' Denara kamu sudah telpon kan tukang pijatnya? '' Melihat Denara yang sedari tadi menelpon tukang pijat menggunakan telpon rumah.
'' Sudah Tuan, katanya otw,'' Jelasnya Denara.
Sampai 5 menit kemudian.
Barulah muncul 2 orang bapak-bapak. Satunya lebih tua dan satunya tampak muda. Denara langsung menghampirinya.
'' Bapak tukang pijatnya kan? '' Tanya Denara pada Bapak yang lebih muda.
'' Oh,maaf Pak saya gak tahu,ayo Pak.'' Ajaknya pada bapak yang lebih tua, tapi Bapak itu tak menyahuti ucapnya.
'' Bapak..'' Panggilnya lagi.
Tapi masih sama saja.
'' Maaf Mbak,Bapak saya Budek. Jadi saya disini sabagai penterjemah.''Jelas Bapak satunya.
Membuat Denara kaget,pantas saja dari tadi dirinya mengoceh tak ada sahutan.Ternyata Bapak ini Budek.
' Tuan Ares ini memang luar biasa,tukang pijatnya saja ada penerjemah. ' Batinya takjub.
'' Oh gitu Pak, ayo saya antar kekamarnya.''
Lalu Denara menuntun kekamar tamu. Dimana Ares sudah berbaring disana.
'' Ini Tuan tukang pijatnya sudah sampai,'' Jelas Denara.
Ares hanya menyahut dengan mata terpejam tanpa menoleh kebelakang, dan Bapak yang tadi sudah mulai memijat sedangkan Denara dan bapak satunya lagi menunggu di ruang tamu.
'' Kalo boleh tahu Bapak udah berapa lama ngurut Tuan Ares?'' Tanyanya pada anak tukang pijat itu.
'' Pertama kali Mbak, ''Ucapnya sopan.
'' Pertama kali?,Loh bukannya udah sering yah Pak?'' Bingung Denara.
'' Enggak Mbak ini pertama kalinya, Tuan yang tadi kakinya patah kan Mbak? '' Tanyanya.
__ADS_1
'' Tidak Pak,Tuan majikan saya sehat. Diakan cuman pijat biasa saja.'' Jelas Denara.
'' Lah saya pikir Tuan tadi patah tulang Mbak. Soalnya Bapak saya tukang pijat untuk orang yang patah tulang.'' Terangnya.
'' Astagaaaaaa... '' Denara langsung lari kearah kamar tamu diikuti oleh Bapak itu.
Dari luar kamar Denara mendengar teriakan membahana Ares.
'' ADUHHHHHH....SAKITTTTT, BEREHENTIII PAK....'' Teriak Ares.
'' Iya Pak saya terusin sabar,'' Jawab Bapak itu.
'' BERHENTIII PAK....BUKAN TERUSS... '' Jelas Ares sambil berteriak.
'' Iya saya tahu Pak,'' Bapak itu terus memijat.
'' DENARAAAAAAAA.... ''
Cklekk...
Pintu terbuka, Denara melihat badan Ares yang bergerak seperti cacing kepanasan, sedangkan Bapak itu dengan santai masih memijat Ares, tanpa perduli.
Dengan sigap anak dari tukang urut menarik tangan Bapaknya dari kaki Ares. Hingga barulah Ares berhenti bergerak, terlihat wajahnya memerah bahkan keringat di wajahnya sangat banyak, dan cap tangan bapak itu di kaki Ares, menjelaskan betapa kuatnya bapak itu memijat kaki Ares.
'' Siapa kalian, '' Dengan nafas yang terengah-engah melihat orang asing.
'' Tukang pijat patah tulang Pak, '' Ucap anaknya itu.
'' Pijat patah tulang?'' Ulang Ares.
'' Iya Pak,'' Jawabnya.
'' Bawa mereka keluar dari rumah saya sekarang Denara,'' Perintah Ares.
Lalu Denara membawa mereka keluar dari rumah Ares dan memberi uang upahnya, setelah mereka keluar.
'' Bukannya saya tadi menyuruhmu menelpon tukang pijat langanan saya Denara,'' Jelas Ares.
'' Iya Tuan, Saya sudah telpon,'' Jawabnya.
'' LALU KENAPA TUKANG PIJAT PATAH TULANG YANG DATANG DENARAAA,'' Bentak Ares.
'' Sa-ya... ga-k ta-hu Tu-an,'' Jawabnya gugup.
'' Sebutkan nomor yang saya kasih ke kamu,'' Tanya Ares sedikit sabar.
Dengan cepat Denara menyebutkan nomornya, saat nomor terakhir di sebut.
'' Astaghfirullah,'' Sebut Ares.
'' Saya tadi bilang ditelpon itu sembilan bukan enam Denara,'' Geram Ares.
'' Jadi saya salah nomor dong Tuan,'' Ucapnya.
'' SALAH, SANGAT SALAH,'' Marah Ares.
" Maaf Tuan saya gak sengaja," Sesal Denara.
" Tiada maaf bagimu,gaji kamu saya potong."
'' TIDAKKKKKKKK... '' Teriak Denara saat mendengar gajinya dipotong.
__ADS_1
................