Cinta Untuk Tuan

Cinta Untuk Tuan
34 part 1.


__ADS_3

...Dilarang memplagiat, menjiplak, meniru atau pun mengcopy karya ini!!!...


...Happy Reading🍃...


Denara yang tadinya menunduk kini mulai mengadahkan kepalanya ke atas, untuk melihat ke arah Tian.


Denara benar-benar tidak menyangka dengan apa yang di katakan oleh Tian padanya, apakah Denara seburuk itu hingga Tian tak mau lagi berteman dengannya.


''T-Tian, a-apa maksudmu??'' Tanya Denara dengan pelan.


Tian bisa melihat jelas, raut wajah kecewa pada Denara. Tian memalingkan wajahnya sejenak dari Denara. Rasanya oksigen di sekitar Tian kini mulai perlahan-lahan menghilang dan membuat dadanya terasa sesak.


Dengan menghirup nafas yang panjang Tian kini mulai menatap kembali Denara.


''Denara, aku menyukaimu bukan seperti teman, tapi aku menyukaimu seperti pasangan.'' Tian mengucapkannya dengan satu tarikkan nafas. Matanya menatap ke arah Denara tanpa berkefdip sedikit pun.


Perlahan-lahan kaki Denara mulai berjalan mundur beberapa langkah. Denara sangat terkejut dengan apa yang Tian katakan padanya. Sungguh Denara tidak menyangka akan mendengarnya secara langsung dari mulut Tian.


Benar apa yang di katakan Ares padanya, tapi kenapa Tian bisa suka padanya. Padahal Denara hanya orang biasa dan tak sebanding dengan Tian.


Denara juga sudah nyaman dengan hubungan pertemanan ini, Denara benar-benar tidak ingin merusaknya. Denara memang menyukai Tian, karena di baik dan tidak perduli Denara berasal dari kalangan mana. Dan itulah yang membuat Denara nyama dekat dengan Tian sebagai seorang teman.


''T-Tian j-jangan bercanda. Pasti kamu bohongkan mana mungkin kamu menyukaiku Tian.'' Ucap Denara dengan kelu seperti tidak percaya dengan keadaan yang terjadi saat ini.


''Ini memang benar adanya Denara, aku benar-benar menyukaimu melebihi seorang teman.'' Bahkan Tian kini sudah berjalan maju dan memegang bahu Denara.


''Aku sungguh-sungguh menyukaimu.'' Sambung Tian.


''Tian, aku sungguh merasa tidak nyaman dengan situasi saat ini. Biarkan aku sendiri sejenak, untuk memikirkan semua yang terjadi hari ini.'' Balas Denara.


Tangan Tian kini mulai menjauh dari bahu Denara dan mundur satu langkah dari tempat Denara berdiri.


''Baiklah, aku menunggu jawabanmu, Nara.'' Ucap Tian dan beranjak pergi dari taman meninggalkan Denara sendiri di sana.


......................


Angin yang menerpa wajah Denara, karena kaca jendela bis memang sengaja di buka oleh Denara. Rasanya angin yang menerpa ini saja tidak cukup untuk membuat rasa sedih, kecewa, dan terkejut menghilang darinya.


Kata-kata Tian masih membayangginya. Denara merasa bingung dengan situasi yang terjadi padanya. Denara bahkan tidak tahu lagi, bagaimana nantinya Denara akan bersikap pada Tian.


......................


Zion menunggu Denara yang sejak tadi belum juga pulang, bahkan hari sebentar lagi akan malam. Tapi Denara belum juga pulang ke rumah.


Ting nung.....


Ting nung....


Suara bel yang menggema terdengar dengan jelas oleh Zion, membuatnya berlari dengan cepat ke arah pintu.


Tangan kecil Zion bahkan menarik peganggan pintu rumah dengan semangat, karena tidak sabar untuk mengetahui siapa yang akan pulang.


''Kenapa wajahmu terlihat murung....'' Sapa orang itu pertama kali.

__ADS_1


''Aku pikir tadi Kak Dena yang pulang.'' Ucap Zion dengan malas.


''Dia belum juga pulang??'' Tanya Ares yang sudah masuk ke dalam rumah.


''Belum Om, padahalkan ini sudah hampir malam.'' Cerocosnya.


''Hmmm..'' Ujar Ares.


'Kemana sebenarnya dia,' batin Ares.


......................


Denara akhirnya tiba di rumah tepat jam 7 malam. Langkah kakinya yang pelan berjalan masuk ke dalam rumah Ares. Rumah Ares tampak sepi dari luar, Denara lalu mendorong pelan pintu hingga terbuka.


''Dari mana kamu??''


''Hah!!!''


Denara benar-benar kaget saat berbalik, Ares sudah berdiri di belakangnya dengan posisi berdiri tegap menatap ke arahnya.


''Saya habis bertemu Tian Tuan.'' Ucap Denara jujur pada Ares.


''Oh...'' Respon yang di tunjukkan oleh Ares saat mendengar nama Tian.


Melihat Ares tidak berniat berbicara lagi padanya, Denara memutuskan untuk melanjutkan langkahnya menuju kamar.


''Tunggu, apakah ada masalah??''


''Sungguh, tapi kenapa wajahmu terlihat murung setelah bertemu dengannya.'' Balas Ares.


''Aku baik-baik saja, Tuan tidak perlu memikirkannya.'' Jawab Denara lesu.


......................


''Om, apakah dengan memperhatikan pintu kamar Kak Dena akan membuatnya keluar dari kamar.'' Celetuk Zion yang duduk di ruang makan bersama Ares.


''Tidak, siapa juga yang memperhatikannya.'' Ares kembali menatap piringnya dan melanjutkan makan.


''Padahal aku melihatnya dengan jelas, tapi Om terus saja mengelak.'' Balas Zion.


''Di larang berbicara saat makan Zion.'' Tegur Ares.


Zion langsung berhenti dan melanjutkan makannya yang sempat tertunda. Sedangkan Ares yang melihat itu tersenyum tipis, setidaknya bocah nakal itu tidak lagi bertanya padanya.


......................


Setelah masak dan menghidangkan makanan di atas meja makan, Denara sama sekali tidak keluar kamar. Entah kenapa selera makannya menghilang, setiap kata-kata Tian terlintas di pikirannya.


Tok...


Tok...


Tok..

__ADS_1


Ketukan pintu yang terdengar, membuat Denara bangkit dari tidurnya dan mulai membuka pintu kamar.


Zion yang berdiri di depan kamarnya sambil membawa sepiring makanan beserta lauk-pauknya.


''Ini untuk Kak Dena.'' Menyodorkan piring makanan itu pada Denara.


Denara dengan cepat mengambilnya, melihat Zion yang cukup kesulitan ketika memegangnya.


''Makasih Zion,'' Setelah piring berada di tangannya.


''Sama-sama, apakah Zion boleh masuk.'' Meminta Izin pada Denara.


''Tentu boleh,'' jawab Denara.


......................


Ares melihat dari kejauhan saat bocah nakal itu berhasil membuat Denara membuka pintunya. Tapi Ares sedikit penasaran dengan apa yang terjadi di dalam.


Sebab Ares hanya memerintahkan Zion untuk mengantarkan makanan saja setelah itu kembali ke kamarnya. Tapi kenapa sekarang malah Zion ikut masuk ke dalam kamar Denara.


Sebenarnya apa yang akan mereka bicarakan h8ngga menutup pintu segala, pikir Ares.


Melihat suasana yang sepi, Ares perlahan-lahan mulai berjalan mendekat ke arah kamar Denara.


Satu langkah.


Dua langkah.


Tiga langkah.


Hingga beberapa langkah kemudian, Ares benar-benar berdiri depan pintu kamar Denara. Perlahan Ares mulai menempelkan telinganya hingga persis di pintu kamar Denara.


'Kenapa tidak ada suara sama sekali.' Batin Ares.


......................


''Yeay habis,'' ucap Zion dengan riang saat melihat piring makanan yang di bawa olehnya telah habis di makan oleh Denara.


Denara hanya tersenyum, karena saat melihat tingkah Zion yang lucu. Denara mulai berdiri dan berjalan keluar kamarnya. Karena Zion tadi tidak membawa air minum oleh sebab itulah Denara harus keluar kamar untuk mengambil serta meletakkan piring makannya.


Zion pun mulai ikut berdiri dan mengikuti Denara dari belakang. Tapi saat pintu kamar di buka oleh Denara.


Brugghhh...


Ares terjatuh di lantai dengan posisi duduk, Denara serta Zion tentu saja kaget melihat Ares yang tiba-tiba saja terjatuh saar pintu di buka.


...Bersambung.......


......................


Jangan lupa dukungannya yah, dengan cara vote, like, komen, favorit dan rate 5👍🏻.


Sayonara.....

__ADS_1


__ADS_2