Cinta Untuk Tuan

Cinta Untuk Tuan
37 part 1


__ADS_3

...Dilarang menjiplak, plagiat, atau pun memgcopy karya ini!!!!...


...Happy Reading🍃...


Zion berdiri di depan pintu kamar Denara, sambil mengetuk pintu dengan cukup kuat. Hingga membuat Denara dengan cepat membukanya, barulah Zion berhenti.


''Ada apa Zion??'' Tanya Denara melihat Zion yang sedikit ngos-ngossan.


''I-itu O-Om Ares...'' Ucapnya terbata-bata.


''Ada apa??''


''Om Ares berkelahi.'' Dengan satu kali tarikkan nafas.


''Hah???''


Zion yang melihat Denara yang kebinggung atas ucapannya, langsung saja menarik tangan Denara untuk mengikutinya ke arah pintu rumah.


Di sana, Denara melihat dengan jelas. Jika Ares dan Tian sedang berkelahi, bukan hanya itu saja. Wajah mereka bahkan sudah terlihat lebam-lebam akibat pukulan mereka masing-masing.


Zion kembali mempercepat langkah kakinya serta terus menarik tangan Denara untuk mengikutinya.


''APA YANG KALIAN LAKUKAN!!!!'' Teriakan Denara berhasil menghentikan perkelahian mereka.


Ares serta Tian, terlihat ngos-ngossan setelah berkelahi. Mereka mulai berdiri dengan jarak yang cukup jauh di antara mereka.


''Apakah kalian merasa masih anak-anak, hingga berkelahi seperti ini!!!'' Omel Denara dengan marah.


Mereka hanya menundukkan kepala, dan mendengarkan Denara yang marah tanpa menyela sedikit pun.


Awalnya, Zion ingin berjalan masuk ke kamarnya karena lelah habis bermain dari halaman belakang. Tapi saat Zion masuk ke dalam rumah untuk menuju kamarnya, Zion malah di kagetkan dengan Ares serta Tian yang berkelahi dengan hebat di depan sana.


Zion yang melihat itu tentu saja mencoba melerai, tapi sayangnya teriakkan Zion tidak berhasil membuat mereka berhenti.


Merasa usahanya tidak berguna, akhirnya Zion memilih untuk memanggil Denara untuk membantunya menghentikan perkelahian antara Ares dan Tian. Dan itu berhasil, seperti dugaannya.


''Ikut aku,'' perintah Denara pada mereka.


Ares dan Tian yang mendengar perintah itu langsung menuruti tanpa protes. Mereka mengikuti Denara seperti anak ayam yang mengikuti induknya.


''Duduk.''


Menyuruh ke duanya untuk duduk di sofa, setelah memastikan mereka benar-benar duduk dengan tenang. Denara mulai berjalan mendekat ke arah laci televisi, untuk mengambil kotak obat.


......................


Tania membeli beberapa keperluan dapur, seperti garam, merica, dan bumbu-bumbu lainnya. Sebenarnya Tania tidak ingin pergi ke warung di dekat rumahnya, bukan tanpa sebab.


Saat menuju warung yang ingin di tuju oleh Tania, jalan yang selalu di lewati olehnya cukup menakutkan.

__ADS_1


Tania harus melewati jalan yang terdapat anjing penjaga di sana, anjing itu cukup seram dengan bulu yang berwarna hitam yang pekat.


''Bissmilahirrohmanirrohim.'' Ucap Tania.


Tania berjalan dengam sangat hati-hati, matanya tidak lepas dari si anjing hitam yang duduk santai di sana.


Pelan-pelan tapi pasti Tania melewatinya. Sebenarnya Tania sangat takut terhadap anjing yang seperti ini. Tania memiliki kenangan yang kurang mengenakkan.


Di kejar oleh anjing adalah kenangan terburuk yang pernah di alami olehnya, saat kecil Tania sangat aktif dan suka sekali berlarian ke sana kemari.


Suatu hari, Ibunya menyuruhnya untuk pulang ke rumah karena hari sudah sore. Tapi Tania menolak saat itu, dan terus saja berlari ke sana ke mari tanpa henti.


Lari Tania yang riang, ternyata mengundang anjing yang kebetulan sedang bersembunyi di semak-semak.


Melihat Anjing yang mulai berlari mendekatinya, sontak saja Tania yang masih sangat kecil takut akan hal itu. Dengan kaki kecilnya, Tania berlari kencang yang dirinya bisa, bahkan Tania sampai menanggis karena ketakutan.


Tapi untung saja saat itu Tian menolongnya, dengan cara melemparkan batu pada anjing yang sedang mengejar Tania saat itu hingga pergi.


Dan semenjak itu pula, Tania selalu berhati-hati dan waspada setiap kali melihat anjing. Sungguh Tania tidak mau jika kejadian masa kecil akan kembali terulang.


''Huh, selamat.'' Legah Tania saat berhasil melewatinya.


......................


Denara dengan telaten serta hati-hati saat mengobati wajah Ares serta Tian secara bergantian. Mereka berdua hanya diam saja, dan tidak bersuara sama sekali saat Denara melalukannya.


Ares serta Tian kompak menoleh ke arah samping, untuk menghindari satu sama lain. Dan tindakkan itu, tidak luput dari pengawasan Denara tentunya.


''Sebenarnya apa yang membuat kalian bertengkar??'' Tanya Denara menatap ke arah mereka.


Ares dan Tian masih saja diam, tidak ada niat sama sekali dari mereka untuk memberitahu Denara soal pertengkaran mereka tadi.


''Ayo jawab...'' Ujar Denara sambil menatap tajam ke arah ke duanya.


''Kalian masih diam, baiklah... Begini saja.''


''Siapa yang memulai perkelahian tadi terlebih dulu??'' Tanya Denara.


Mereka berdua kompak menunjuk satu sama lain, membuat Denara yang melihatnya kesal.


''Jawab yang benar, siapa yang memulainya!!!'' Dengan penuh penekanan.


Mereka masih melakukan hal yang sama seperti sebelumnya.


''Tolong jawab menggunakan suara,'' ucap Denara.


''Dia!!'' Ucap Ares dan Tian dengan kompak.


Mereka lalu menoleh ke arah satu sama lain dan mulai berbicara.

__ADS_1


''Kau yang memulainya,'' kata Ares dengan tajam.


''Apakah kau tidak menyadari, jika semua ini berawal darimu!!!'' Balas Tian ketus.


''Bukan salahku, kau saja yang gampang terpancing.'' Jawab Ares tidak terima.


''Jika kau tidak memulainya, aku tidak akan mungkin meladeninya.'' Kata Tian ketus.


''Diam!!!!''


Suara Denara yang terdengar marah, membuat mereka diam seketika.


''Aku sudah pusing melihat kalian berdua yang terus menerus berdebat, selesaikan saja sendiri masalah kalian!!!.'' Ucap Denara lelah dan pergi.


......................


''Tania, kenapa lama sekali...'' Ucap Ibunya saat memerima kantung yang berisi belanjaan.


''Ibu tidak tahu saja, jika aku baru saja selamat dari sarang monster.'' Menarik gelas dan mulai mengisinya dengan air minum.


''Ada-ada aja kamu ini, sana mandi.'' Perintah Ibunya.


Tania hanya mengangguk dan berjalan pergi ke arah kamarnya untuk mandi serta bersih-bersih.


......................


Tian dan Denara duduk dengan canggung di teras rumah Ares, setelah kejadian tadi. Tian menghampiri Denara yang sedang menyusun bahan-bahan makanan ke dalam kulkas.


Mereka masih duduk dengan diam, membuat suasana bertambah canggung dan kaku.


''Ada apa Tian??'' Denara terlebih dulu bertanya.


''Sebenarnya... Aku ke sini ingin menanyakan sesuatu padamu,'' Ujar Tian.


''Apakah ini ada sangkutannya dengan pernyataanmu waktu itu??'' ucap Denara.


''Ya, mengenai soal itu dan juga hal lain....''


''Hal lain apa???'' mulai menoleh ke arah Tian.


''Aku sebenarnya canggung untuk bertemu denganmu saat ini, terlebih lagi setelah kejadian itu.'' Jelas Tian.


''Tapi, setelah mendengarkan perkatan Tania tadi. Entah kenapa hal itu membuatku kesal.'' Dengan raut wajah yang serius.


''Denara,'' Tian lalu menoleh ke arah Denara.


''Apakah, kamu saat ini berpacaran dengan Ares???'' Sambung Tian, dengan mata yang terus menatap ke arah Denara.


...Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2