Cinta Untuk Tuan

Cinta Untuk Tuan
22 part 2


__ADS_3

...''Yang bersalah yang bertanggung jawab.'' Ares Ananta....


Ares mulai melajukkan motornya kembali menuju satu rumah yang besar dan megah, penjaga mulai berjaga di sana. Melihat Ares datang, dengan sigap mereka membuka gerbang.


Ares mulai mermarkirkan motor di garasi, usai memarkirkan motornya, Ares mulai melangkah kearah pintu rumah.


Tangan Ares mulai menekan-nekan bel dengan cukup kuat, tanpa perduli pemilik rumah akan terganggu dengan tingkah lakunya.


Ting nung....


Ting nung....


Ting nung...


Ting nung...


Ares berulang-ulang kali menekan bel, sampai pintu rumah terbuka.


''Aduhh, sabar dong. Jangan ka...... Ares.'' Ucap pemilik rumah.


......................


Denara hanya termenung dan melamun, di dalam bus, Denara juga tak menyangka hal ini akan terjadi. Denara masih merasakan sakit atas apa yang di ucapkan oleh Ares padanya. Bahkan Denara tidak menyangka jika Jesi akan memfitnahnya dengan cara seperti itu, andai saja saat itu dirinya ikut keluar dan tak diam di kamar Ares sembari memegang amplop itu. Pasti hal seperti ini tak akan terjadi.


Bagaimana pun juga, itu sudah terjadi. Denara hanya bisa pasrah dengan keadaan, mungkin juga ini sudah tulis takdir untuknya. Denara juga sangat khawatir dengan keadaan keluarganya di kampung.


Denara tadi sempat menelpon Ibunya, menanyakan masalah yang terjadi di sana. Ibunya bilang jika ada seseorang yang mengaku sebagai paman jauhnya, bawah sawah milik ayahnya yang ada dibkampung adalah warisan keluarga. Dan dia meminta jika sawah milik Ayahnya harus di jual segera, agar bisa di bagi hasilnya dengan rata.


Padahal selama ini, setahu Denara, jika warisan keluarga Ayahnya sudah di bagi rata dan mendapatkan bagiannya masing-masing, lalu kenapa tiba-tiba pamannya melakukan hal ini.


Denara hanya bisa beeharap semoga Allah memberikan jalan untuknya mau pun keluarganya dalam setiap masalah yang sedang mereka hadapi.


......................


''Ares, kamu ngapain kesini? Tumben.'' Ucap Jesi sembari membawakan kopi.


Ares hanya diam tanpa menjawab, matanya masih menatap wajah Jesi yang tak terlihat jika sudah melakukan kesalahan.


Jesi mulai duduk berhadapan dengan Ares. Jesi juga meresa jika sejak tadi Ares menatapnya tanpa henti.


''Apakah ada yang ingin kau jelaskan pada ku Jesi??'' Ujar Ares setelah lama diam.


Jesi menatap Ares, dengan raut wajah bingung. Sebenarnya apa yang Ares saat ini bicarakan.


''Tunggu, sebenarnya apa yang ingin kamu maksud di sini.'' Jawab Jesi tak tahu.


Mendengar jawaban Jesi, dengan cepat Ares bangkit dari tempat duduknya. Lalu mulai mengambil ponsel miliknya, untuk menunjukkan sesuatu kepada Jesi.

__ADS_1


Melihat Ares yang menyodorkan ponsel padanya, dengan cepat Jesi menyambut uluran tangan Ares.


Ponsel Ares kini sudah berpindah tangan padanya, di sana terdapat satu vidio, Jesi menatap sejenak Ares.


''Putar Vidionya.'' Perintah Ares.


Memdapat persetujuaan dari sang pemilik ponsel, dengan cepat Jesi memplay vidio itu. Hingga matanya menatap terkejut apa yang di lihatnya saat ini.


Di vidio itu terlihat dengan jelas, jika dirinya yang menyuruh Denara untuk tetap berada di sana sembari memegang amplop milik Ares.


''Apa ini yang di maksud Denara kemari, meminta kau untuk menjelaskannya??'' Sinis Ares tajam.


Jesi tertegun mendengar nada bicara Ares yang terkesan marah serta tegas secara bersamaan.


''Ares, ini gak seperti apa yang kamu bayangkan.'' Mencoba menjelaskan.


''Ini pasti sabotase yang di lakukan oleh Denara untuk menjebakku Ares, percayalah..'' Memcoba menyentuh tangan Ares.


Dengan cepat Ares menangkis tangan Jesi, lalu mencengkramnya dengan erat.


''Apa aku begitu bodoh, hingga bisa kau bodohi seperti ini.'' desis Ares marah.


''Bu-bukan se-seperti i--tu maksud ku Ares.'' Ucapnya meringgis menahan sakit akibat cengkraman tangan Ares.


''LALU APA.... JESIII!!!'' Emosinya tak tertahan lagi.


''Hiks.... Vidio ini tak benar Ares....'' Jesi masih tak mau mengakuinya.


''Kau, orang yang licik Jesi. Sebenarnya apa yang terjadi dengan mu....'' Tangan Ares mulai melepaskan cengkramannya.


''Kau membuatku menjadi seperti orang bodoh, menuduh orang yang sebenarnya tak bersalah. Dan membela penjahat yang sebenarnya.... APA YANG ADA DI PIKIRAN MU HAH!!!!..'' Ares mengusap wajahnya dengan kasar.


Jesi yang melihat itu tentu saja takut, Ares sudah benar-benar marah padanya. Padahal baru saja dia merasa senang atas kepergian Denara, tapi kenapa saat Denara sudah pergi bayang-bayangnya selalu ada.


''HIKSS... AKU... TAK HIKSSS.... MENYUKAI DIA DEKAT DENGANMU.....'' Jerit Jesi sembari menanggis.


Mendengar ucapan Jesi, membuat Ares tertegun. Apa yang di ucapakan Jesi, menambah emosi Ares beetambah.


Pyar.....


''AAAAAA.....'' Teriak Jesi menatap tak percaya ke arah Ares.


Gelas kopi yang berada di atas meja pecah begitu saja akibat, Ares melemparnya ke arah lantai, melampiaskan amarahnya.


Membuat Jesi bertambah takut. Bahkan dirinya sempat berteriak saat melihat Ares melemparkan gelas itu ke lantai.


''Kau, wanita yang tak tahu diri. Apa kau pikir dengan menyingkirkan Denara dengan cara seperti ini akan membuat aku suka padamu.'' Menatap Jesi sembari menunduk menatap mata Jesi dengan tajam.

__ADS_1


''Ingat ini baik-baik, aku masih membiarkan mu berkeliaran di sekitarku. Hanya karena kau adalah sahabat kecilku saja. Dan saat ini aku minta padamu untuk menjauh sejauh-jauhnya dari pandangan mu. Mengerti.'' Menarik tubuhnya menjauh dari Jesi.


''Dan juga, aku tak akan pernah menyukai wanita gila sepertimu. Camkan itu di otakmu.''


''Aku juga berharap kau mengakui, kesalahanmu dan meminta maaf pada Denara.'' Setelah mengatakan itu dengan cepat Ares melangkah meninggalkan Jesi yang masih terus menanggis.


Melihat Ares yang pergi, dengan cepat Jesi bangkit dan mulai mendekati meja yang berada di ruang tamu. Dengan kasar Jesi mendorong guci yang tersusun cantik di sana, hingga terjatuh.


Pyar....


Pyar...


Pyar...


Suara guci yang pecah terdengar nyaring di ruang tamu.


''Hiks.... Hiks.... Wanita sialan..... Meminta maaf katanya?? Jangan harap aku melakukan hal bodoh seperti itu.'' Ucap Jesi sembari menatap kaca yang memang di taruh di sana.


''Aku, akan membuatmu menyesal atas apa yang kau lakukan padaku. Pembantu sialan.'' Ungkap Jesi dengan marah.


......................


Bus yang di tumpangi Denara, kini sudah sampai di tempat tujuan. Denara masih harus menaiki ojek ataupun angkutan umum untuk benar-benar sampi di kampungnya.


Denara mulai mengistirahatkan tubuhnya sejenak, di sebuah warung makan. Sembari mengisi perut yang juga sudah mulai lapar.


Denara hanya memilih lauk sederhana untuk makan siangnya. Soto ayam yang panas menjadi pilihnya serta es teh manis sebagai pelengkap.


Denara mulai memakan, makanannya dengan dengan lahap. Sampai seseorang memanggil namanya.


''Nara, Kau di sini??'' Ucap orang itu kaget.


Denara yang menoleh dan melihat pun juga nampak kaget dengan apa yang di lihatnya sekarang.


''Tian....'' Ucapnya tak kalah kaget.


Denara benar-benar tak menyangka jika dirinya akan bertemu dengan Tian di sini.


...~Bersambung.~...


Hola pembaca😄.


Makasih telah singgah ke sini.


Jangan lupa dukungannya yah. Berupa like, favorit, rate 5, votenya.


Karena dukungan kalian adalah semangat buat Dao nulis dan upnya.

__ADS_1


Sayonara👋🏻.


__ADS_2