
...Dilarang keras menjiplak, plagiat, atau pun mengcopy karya ini!!!!...
Happy Reading❤.
Suasana canggung terlihat jelas dari dalam mobil biru gelap milik Ares. Bagaimana tidak, sebelum mereka masuk ke dalam mobil. Terjadi perdebatan besar dan kecil antara Ares dan Tian.
Flashback on.
Ares menatap Tian dengan raut wajah tak suka, begitu juga dengan Tian. Denara yang melihat itu, hanya bisa menundukkan kepalanya sedangkan Deni hanya bisa menatap tak percaya ke arah mereka.
"Ayo Denara ikut saya masuk mobil," Menarik tangan Denara.
Melihat itu, tentu saja Tian tak tinggal diam. Tian langsung saja menarik tangan Denara yang satunya.
"Tidak, Denara akan berjalan bersamaku." Ujar Tian menarik tangan Denara, membuat tubuh Denara ikut tertarik.
"Tiang dengar yah, berjalan kaki itu sangat melelahkan. Lebih baik naik mobil bersamaku kan Denara?" Tanya Ares, menarik tangan Denara.
Mendengar kata Tian yang di sebutkan oleh Ares menjadi Tiang, membuat Tian, Denara, dan Deni langsung menatap Ares.
"Tiang??" Ulang mereka kompak.
"Hei, Sombong.... Jangan seenaknya mengubah nama orang yah." Ujar Tian menatap tajam Ares.
"Bukankah benar namamu Tiang." Ejek Ares pada Tian.
"Oh begitu, baiklah Arisan." Balas Tian.
"Haha... Arisan, Ekhm..." Tawa Denara, tapi tak berlangsung lama karena Ares memplototinya.
Deni hanya menahan tawa saja, berharap Ares tak mendengarnya.
"Kau..." Tunjuk Ares pada Tian.
"Apa??? Kau mau berkelahi???" Jawab Tian.
Membuat Denara yang berada di tengah-tengah mereka, merasa jenuh dan ikut kesal tentunya.
"Cukup, jika kalian masih ingin berkelahi lanjutkan saja. Aku akan pulang sendiri." Ucap Denara.
"TIDAK...." Kompak Tian dan Ares.
Membuat Deni merasa canggung dengan situasi ini, dia masih tak menyangka jika seorang Ares Ananta akan berkelahi seperti anak kecil di depannya saat ini.
"Pak Ares, sebaiknya Tian ikut bersama kita saja. Biar semuanya sampai di rumah Denara secepatnya." Usul Deni.
Dengan terpaksa Ares menyetujui usul yang di berikan Deni padanya, dari pada berdebat terus di sini.
Tapi perdebatan mereka ternyata tak berhenti sampai di situ saja. Jika masalah tadi tentang berjalan kaki atau mobil, maka sekarang tentang tempat duduk.
"Hei Tiang!! Sebaiknya kau duduk di depan saja bersama Deni." Ucap Ares.
"Memangnya kenapa Arisan, jika aku duduk di belakang." Jawab Tian Jengkel.
"Terserah pada saya dong, inikan mobil punya saya. Jadi kamu harus patuh." Balas Ares.
"Ck... Dasar Arisan sombong, pokoknya saya tetap duduk di belakang." Jelas Tian.
"Kau...." Geram Ares.
Sementara mereka berdebat, Denara dan Deni sudah duduk manis di depan. Tanpa perduli perdebatan antara Ares dan Tian.
"Pak... Sebaiknya anda segera masuk ke dalam." Ucap Deni.
"Kamu juga Tian, cepatlah masuk ke dalam mobil." Ujar Denara dari dalam mobil.
Flashback Off.
Ares dan Tian berada di belakang, sedangkan Deni dan Denara berada di depan. Suasana dalam mobil bahkan sepi, tak ada diantara mereka yang bersuara.
__ADS_1
......................
Nero beserta Ayahnya baru saja pulang dari sekolah, di depan rumahnya cukup berantakan bahkan ada banyak orang yang berkumpul di teras rumah mereka.
''Nero, kenapa rumah kita ramai orang??'' Bingung Ayahnya.
Membuat Nero mengelengkan kepala, pertanda dia juga tak tahu sama seperti ayahnya.
''Nero juga gak tahu Yah,'' Jawab Nero.
Langkah kaki mereka mulai cepat, untuk memeriksa keadaan apa yang sedang terjadi di rumah mereka.
''IBUU.....'' Teriak Nero, saat melihat Ibunya yang duduk lemas di atas kursi. Bahkan kakinya terdapat luka.
''Astagfirullah, Dina...'' Ucap Santoso menghampiri istrinya.
''Kalian sudah pulang,'' Ucap Ibu Dina sembari tersenyum.
''Ibu Kenapa... Ini juga kenapa...'' Khawathir Nero, melihat kondisi Bu Dina.
''Apakah Kak Beni datang ke sini???'' Tanya Ayahnya langsung.
Membuat Bu Dina menganggukkan kepala dengan pelan. Melihat itu, Santoso hanya bisa menahan marah atas perbuatan sang Kakak pada keluarganya.
''Kak Nara mana Bu???'' Tanya Nero yang sejak tadi tak melihat Denara.
''Denara di bawa Kak Beni, Yah.... Hiks... Hiks..''
''APAAAA..... KETERLALUAN.'' Ucap Santoso geram.
''Ayah, Kak Nara....'' Ucap Nero sedih.
''Ini tak bisa di biarkan, Nero. Kamu jaga Ibu sebentar yah, Ayah akan pergi sebentar.''
Nero menganggukkan kepala pertanda paham dengan apa yang di katakan Ayahnya. Tapi baru beberapa langkah saja Ayahnya kan pergi, tiba-tiba ada mobil biru gelap yang berhenti persis di depan rumah mereka.
......................
''Kenapa ramai sekali di sini??'' Ucap Ares saat melihatnya melalui kaca mobil.
''Aku tak menyangka akan bertambah ramai.'' Ujar Tian.
''Aku akan turun terlebih dulu, kalian tetap di dalam. Terutama kau Tuan, jika mereka sampai melihat kau di sini. Tamatlah riwayat mu.'' Jelas Denara.
Membuat Ares mengingat sedikit tentang orang-orang yang mengejarnya di mall.
''Penakut.'' Sahut Tian.
Membuat Ares menoleh menatap Tian dengan tajam.
''Apa???'' Ucap Tian.
Ares langsung memalingkan wajahnya, meladeni Tian adalah hal yang merugikan untuknya.
''Akur-akurlah, dan jangan berkelahi.'' Pesan Denara.
......................
''Kak Nara...'' Ucap Nero tak percaya saat melihat Denara turun dari mobil itu.
Bahkan tetangga juga kaget, mereka bahkan masih ingat jika Denara tadi di seret oleh Pamannya tapi kenapa sekarang berada di sini dengan menggunakan mobil mewah.
''Ibu gak apa-apa???'' Tanya Denara, saat ada di depan Ibunya.
''Nak kamu gak apa-apa, Ibu tadi lihat kamu di bawa sama Paman Beni.'' Khawatirnya.
''Kamu tak apa-apakan Denara??? Maafkan ayah Denara.'' Sesal Ayahnya.
''Ibu, Ayah.... Denara baik-baik saja, tak ada yang luka.''
__ADS_1
Lalu Denara menghampiri Ayahnya yang saat ini masih berdiri di samping sang Ibu.
''Ayah, Denara baik-baik saja. Jangan salahkan diri Ayah seperti ini.''
''Terima kasih Denara, tapi siapa yang mengantarmu kemari???'' Tanya Ayahnya melihat mobil biru itu.
''Ayah, nanti saja kita bicarakan mereka. Lebih baik, Ayah membawa Ibu ke dalam saja.''
''Baiklah.''
......................
Melihat kondisi sudah aman, dan tetangga sekitar juga sudah mulai bubar dari rumahnya. Hingga merasa sudah saatnya mereka keluar. Denara lalu menghampiri mereka dan mengetuk kaca mobil.
Melihat itu, mereka langsung keluar dan mengikuti Denara masuk ke dalam rumah. Suasana di dalam rumah Denara cukup berantakkan dan cukup kacau, membuat Ares berpikir jika ini ada kaitannya dengan Denata yang tadi di seret oleh orang yang tak lain adalah Pamannya sendiri.
''Masuk silahkan duduk, maaf jika keadaan rumahnya cukup kacau.'' Ucap Ayah Denara.
''Tak apa-apa Pak, kami sangat memakluminya.'' Jawab Ares.
''Kalian teman Denara???'' Tanya Pak Santoso.
''Sebenarnya orang yang berjas berwarna biru itu mantan majikkan Nara yah dan yang pakai jas abu-abu itu asistennya, kalau yang memakai jaket itu baru teman Nara.'' Bisik Denara.
''Duduk saja dulu, saya mau mengantarkan makanan ini untuk Ibunya Nara.'' Karena sejak tadi Ayah Denara memegang nampan berisikan makanan.
......................
Denara mulai menjelaskan masalahnya pada mereka secara rinci, tentang kejadian yang terjadi hari ini. Ares dengan cepat paham apa yang di sebutkan oleh Denara.
Dan karena itulah dia ada di sini bersama Deni, atas permintaan tolong Denara padanya.
Setelah memahami semua situasi dan kondisinya, Ares, Deni dan Tian memutuskan untuk pulang, karena memang sebentar lagi akan malam.
Tian pulang terlebih dulu dari Ares dan Deni, membuat Denara sedikit heran. Bukannya tadi Ares bilang ingin pulang, lalu kenapa dia masih di sini?
''Tuan, bukannya mau pulang??'' Sebenarnya Denara masih sedikit sungkan dengan Ares, apalagi mengingat kejadian dirinya yang di pecat. Masih sangat membekas di hatinya.
''Deni, kamu masuk saja dulu ke dalam mobil. Saya ada perlu sebentar dengan Denara.'' Perintah Ares.
Membuat Deni segera pergi ke arah mobil yang terparkir di depan teras rumah Denara.
Melihat Deni suadh masuk ke dalam mobil, Ares lalu menoleh ke arah Denara.
''Maaf... Soal kata-kata saya waktu itu.''
Permintaan maaf yang Ares katakan saat ini, membuat Denara tak menyangka.
''Saya tahu, jika kata-kata saya sangat keterlaluan dan tak sepantasnya di ucapakan. Maaf karena tak mempercayaimu Denara.'' Ucap Ares sungguh-sungguh.
''T-Tuan... Harusnya tak perlu seperti ini, lagi pula itu sudah berlalu.'' Ujar Denara tak enak bahkan Denara tak berani menatap Ares balik.
''Harus, karena saya ingin kamu bekerja kembali ke rumah saya.''
Kata-kata itu membuat Denara yang tadinya menunduk, kini langsung menatap wajah Ares tak percaya.
'Apakah ini benar-benar Tuan Ares???' Batin Denara.
...Bersambung........
......................
Hai pembaca 😊.
Jangan lupa dukunganya yah, berupa like, vote, favorit, rate 5 dan share cerita ini.
Dukungan kalian adalah semangat Buat Dao nulis dan gercep buat upnya☻.
Terima kasih telah singgah, sayonara👋🏻.
__ADS_1